Stay Beside You

Stay Beside You
Menghabiskan Waktu Bersama part 1


__ADS_3

Di rumahnya Denna sedang mencuci tangan pada wastafel sebelum mereka membuat sarapan pagi.


Denna tampak mengajari Nio mencuci tangan dengan benar, dan Nio memperhatikan dengan baik. Setelah mencuci tangan Denna mengeluarkan beberapa bahan masakan yang akan dia buat.


"Nio mau makan apa untuk sarapan pagi?"


"Terserah Dokter Cantik mau membuatkan aku sarapan pagi apa, aku akan tetap memakannya karena pasti enak sekali masakan buatan Dokter Cantik."


Denna berpikir sebentar, dia kemudian mengambil sayuran dan beberapa telur. "Mau omelete? Ini pasti Nio suka karena aku sudah diajari bagaimana membuat omelete yang enak dan kamu pasti suka."


"Okay! Aku di rumah juga tidak pernah dibuatkan omelete sama Bibi juru masak."


"Baiklah, kita buat itu saja. Nio mau membantu mencuci sayurnya?"


"Tentu saja aku mau."


Nio mencuci sayurannya dan Denna mulai dengan memecahkan beberapa telurnya. Nio dan Denna dapat bekerja sama dengan baik dan mereka saling membantu, tidak lupa bercanda juga.


Setelah beberapa menit mereka berkutat dengan alat dapur akhirnya jadi Juga omelete yang terlihat sangat cantik bentuknya.


"Bentuknya mirip sekali dengan wajahku, ya Dokter Cantik?"


Denna seketika tertawa mendengar ucapan Nio. "Kamu bisa saja, wajah kamu lebih tampan dari omelete ini."


"Aku memang tampan seperti daddyku."


Denna tersenyum karena dia sama sekali belum pernah melihat wajah Dane ayah Nio. Denna mengajak Nio ke meja makan untuk menikmati omeletenya.


"Bagaimana rasanya, enak tidak?"


"Rasanya enak sekali, aku dulu pernah dibelikan omelete sama kakek buyut, tapi tidak seenak ini." Kedua mata Nio tampak berbinar senang. Dia segera menghabiskan omeletenya dengan cepat. "Dokter Cantik, aku mau lagi."


Denna tampak senang Nio menyukai masakan buatannya dan dia mengambilkan lagi untuk Nio. "Habiskan." Denna tampak memperhatikan Nio yang sedang makan, dan dia sesekali mengusap mulut Nio yang belepotan.


"Dokter Cantik aku suapi ya?" Denna mengangguk dan Nio menyuapi Denna. Mereka berdua benar-benar seperti ibu dan anak.

__ADS_1


"Pelan-pelan makannya Nio."


"Sudah habis. Dokter Cantik pandai sekali membuatnya."


"Aku diajari oleh mendiang suamiku, Nio. Dia selain jago bela diri, dia juga jago memasak."


Nio yang mau mengambil gelas minumnya seketika terhenti, dia melihat ke arah Denna dengan pandangan yang serius. "Maksud Dokter Cantik? Dokter sudah memiliki suami?"


"Iya, tapi dia baru saja meninggal dunia."


Seketika wajah Nio tampak sedih. "Jadi, suami Dokter Cantik berada di surga seperti mommy Nio? Dan tidak akan bisa pulang lagi?"


Denna mengangguk. "Dia berada di tempat yang indah yang sama dengan mommy Nio."


"Dokter Cantik jangan bersedih karena di sini ada Nio dan nanti ada daddy Nio yang tidak jadi ke surga." Nio memeluk Denna, dia melingkarkan kedua tangan kecilnya pada leher Denna.


Denna mengusap lembut punggung Nio. "Terima kasih karena kamu sudah membuatku bisa melupakan kesedihanku, Nio. Sekarang minum dulu air putih kamu dan aku akan mencuci peralatan makan kita. Nio bisa duduk di ruang tengah karena di sana ada hadiah untuk Nio."


"Hadiah?"


"Dokter Cantik sangat baik. Apa Dokter Cantik sayang pada Nio?"


"Tentu saja aku sangat sayang sama Nio. Memangnya kenapa?"


"Dokter Cantik mau tidak menjadi mommy Nio yang baru? Nio ingin memiliki mommy baru agar Nio tidak sendirian di rumah saat daddy dan kakek buyut pergi bekerja. Nio juga tidak mendapat ejekan dari teman sekolah Nio karena tidak memiliki seorang mommy."


Denna tampak kaget sekaligus hatinya seolah ingin menangis mendengar apa yang dikatakan oleh bocah kecil di depannya.


"Nio, aku tidak bisa menjadi mommy baru kamu."


"Kenapa? Daddyku tampan dan kaya raya, Dokter Cantik pasti akan menyukai daddyku. Banyak wanita yang menyukainya, tapi daddyku tidak suka, katanya para wanita itu tidak akan tulus mencintai Nio juga, tapi dokter cantik menyayangi Nio."


Denna bingung harus menjelaskan bagaimana pada Nio. "Nio, aku tidak bisa menjadi mommy Nio, tapi aku akan menjadi sahabat baik Nio dan sayang pada Nio."


"Begitu ya? Padahal kata paman Sam, Dokter Cantik sangat cocok jika menjadi mommy Nio."

__ADS_1


"Nio, menjadi mommy Nio tidak semudah hanya cocok, tapi banyak hal yang perlu dipikirkan, dan Nio masih kecil belum tau akan hal itu. Nio paham maksudku, kan?"


"Tidak terlalu paham, tapi ya sudah, Nio sudah senang bisa mendapat sahabat yang baik seperti Dokter Cantik. Kita sahabat, kan sekarang?" Nio menunjukkan jari kelingkingnya dan Denna juga menunjukkan jari kelingkingnya. Nio menautkan jari mereka. "Kita sahabat sekarang."


Denna tersenyum. "Kita adalah sahabat sekarang dan selamanya. Sekarang kamu ke ruang tengah dan lihat hadiah kamu, aku mau mencuci peralatan makan kita."


"Dokter Cantik, aku bantu untuk mencucinya."


"Tidak perlu, Sayang, biar aku yang mencucinya sendiri, kamu bermainlah di ruang tengah, nanti kalau aku sudah selesai, aku akan menyusulmu."


Nio akhirnya menurut dan dia pergi ke ruang tengah. Saat sampai di ruang tengah, Nio sangat terkejut melihat apa yang ada di sana. Satu set peralatan untuk mewarnai dan ada bola sepak di sana.


"Wah! Ini semua untuk Nio?" Nio tampak tidak percaya. Dia mendekat dan membuka alat mewarnainya dan mulai mewarnai buku gambar yang sudah terdapat berbagai macam bentuk mulai dari pemandangan pantai, gunung dan bermacam bentuk hewan.


Nio mulai asik dengan kegiatannya. Denna yang sudah mencuci semua alat dapur menghampiri Nio dan dia melihat hasil gambar yang diwarnai oleh Nio.


"Bagus sekali, kamu memang anak yang pandai, dan karena hasil mewarnai kamu bagus, aku akan mentraktir kamu makan es cream."


"Serius, Dokter Cantik?" Kedua mata Nio berbinar.


"Tentu saja aku serius, dan sekali kita bermain sepak bola di tanah lapang yang ada di dekat sini."


"Aku mau!"


"Tapi kita selesaikan dulu mewarnainnya agar gambar ini terlihat bagus."


"Siap!" seru Nio senang.


Di rumah sakit, Dane ditemani oleh kakeknya. Kakek Rayhan melihat Dane yang sibuk dengan laptopnya dan dia tampak serius.


"Dane, jangan bekerja terlalu keras karena akan membuat kamu nanti sakit. Tidak lama lagi lagi kamu diperbolehkan pulang ke rumah, jadi benar-benar jaga kesehatan kamu. Pekerjaan kamu bisa diurus oleh paman Sam."


"Kasihan paman Sam kalau dibebani oleh banyak pekerjaan. Kakek jangan khawatir karena aku baik-baik saja, bahkan sangat baik."


"Dasar cucu keras kepala, sifatmu itu jadi ditiru oleh putra semata wayangmu itu."

__ADS_1


Dane menghentikan jarinya menekan tombol yang ada di laptopnya. "Kek, apa bisa Kakek menghubungi Nio melalui video call? Nanti aku akan diam-diam melihatnya. Jujur saja aku kangen dengannya, tidak cukup jika aku melihat fotonya saja. Dia sekarang libur sekolah dan ada di rumah, kan?"


__ADS_2