
Nio mengucapkan terima kasih kepada Denna yang mau menghiburnya. Denna mengatakan jika dia senang bisa berkenalan dengan Nio.
"Nio, sekarang kamu istirahat sebentar, ya? Tante dokter mau keluar sebentar untuk memeriksa teman-teman Nio lainnya yang juga sedang sakit."
Pria kecil itu mengangguk beberapa kali. Denna perlahan mendekat pada Nio dan dia dengan lembut mengecup dahi pria kecil itu. Nio tampak tersenyum mendapat kecupan dari Denna. Denna sendiri entah kenapa? Dia merasa sangat sedih mendengarkan apa yang tadi Nio ceritakan padanya.
"Denna, aku minta maaf."
"Kek, tidak perlu meminta maaf padaku karena kakek tidak ada salah sama sekali denganku."
"Terima kasih sudah sangat baik pada Nio, padahal aku sudah meminta hal yang sangat tidak masuk akan sama kamu. Aku benar-benar tidak dapat berpikir dengan baik."
"Aku memaklumi apa yang kakek Inginkan. Kakek hanya manusia biasa yang memiliki batas perasaan.". Tangan Denna mengusap lengan tangan kakek Rayhan dengan lembut.
Tidak lama ponsel Denna berdering dan itu dari mamanya. Seketika jantung Denna berdetak dengan cukup cepat. Dia menduga jika ada sesuatu hal yang terjadi dengan suaminya.
"Halo, ada apa, Ma?"
"Denna, keadaan Dimas sedang kritis. Kamu secepatnya ke sini," suara Nara terdengar bergetar dan cemas.
"Apa? Dimas kritis? Iya, Ma, aku akan segera ke sana."
"Ada apa, Denna?" tanya Kakek Rayhan terdengar ikut cemas.
"Dimas kritis, Kek, dan aku harus segera ke rumah sakit."
"Kakek akan mengantar kamu ke sana. Yaya, kamu tolong jaga Nio di sini. Kalau ada apa-apa, kamu langsung menghubungiku."
Denna dan kakek Rayhan segera ke rumah sakit untuk melihat keadaan Dimas. Di dalam mobil Denna yang duduk di belakang tampak cemas, dan kakek Rayhan yang juga duduk di belakang menemani Denna menggenggam tangan Denna untuk menghilangkan rasa cemasnya.
__ADS_1
Sesampai di rumah sakit, mereka segera menuju ke ruangan di mana Dimas di rawat. Dokter menyuruh Denna masuk karena Dimas menyebut namanya terus.
"Dimas sudah sadar?"
Dokter tidak menjawab, dia hanya menyuruh Denna masuk ke ruangan itu. Denna masuk dan melihat Dimas dengan tangan yang memegang penutup oksigennya yang terlepas dari hidung Dimas. Dimas menatap wanita yang dia cintai dengan menahan sesuatu.
"Dimas!" Denna memeluk suaminya dengan menangis.
"Den-na, I Love You." Seketika Denna mendengar suara tut yang panjang dari monitor yang selama ini menunjukkan suara detak jantung Dimas.
Denna menarik kepalanya melihat wajah suaminya yang memejamkan kedua matanya dengan wajah tersenyum.
"Tidak, jangan lakukan hal ini padaku, Dimas. Jangan tinggalkan aku sendiri di sini, Dimas. Dimas...!" teriak Denna membuat keluarganya yang menunggu di luar tampak terkejut dan tidak lama terdengar suara tangisan Denna pecah memenuhi ruangan khusus di mana Dimas dirawat.
Nara yang sudah bisa menebak apa yang terjadi dengan Dimas menangis dalam pelukan Jaden. Nenek Miranti yang ada di sana juga ikut menangis.
Semua orang yang ada di luar masuk ke dalam ruangan itu. Nara melihat Denna menangis dengan keras di atas jasad suaminya. Nara mencoba memeluk putrinya yang terlihat sangat terpukul dengan apa yang baru saja terjadi.
"Kenapa Dimas malah pergi meninggalkan aku, Ma? Dia mengatakan akan selalu ada di sampingku untuk menjaga dan melindungiku, tapi kenapa dia malah pergi meninggalkan aku?" Denna menangis dengan tersenggal.
Dokter yang menangani Dimas juga berada di sana dan dia menjelaskan jika Dimas sepertinya yang memilih untuk tidak membuat keluarganya sedih dengan keadaannya. Dimas tiba-tiba sadar dan melepas selang oksigennya. Ini seperti hal yang tidak bisa dipercaya, tapi hal itu terjadi.
"Sayang, Dimas sudah tidak merasakan sakit lagi. Dia sudah tenang di sana, dan mama yakin dia akan tetap selalu bersama kamu walaupun kamu tidak bisa melihatnya."
Denna menangis dalam pelukan mamanya. Jaden sangat terpukul melihat kesedihan mendalam di wajah putri semata wayangnya karena dia juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan menantunya.
Tidak lama dokter datang ke dalam kamar di mana keluarga Denna sedang bersedih meratapi kepergian Dimas.
"Kakek Rayhan, saya ingin memberitahukan jika keadaan Dane sedang tidak baik. Apa Kakek bisa ikut denganku sekarang."
__ADS_1
"Apa? Dane?" Wajah kakek tua itu seketika pucat.
"Kakek silakan ikut denganku."
Kakek tua itu segera berjalan keluar diikuti oleh paman San yang juga terkejut mendengar apa yang dokter itu katakan. Miranti, Jaden serta Nara melihat satu sama lain. Mereka berpikir apa dua sahabat masa kecil itu akan pergi bersama hari ini?
Di ruangan dokter, mereka mengatakan jika keadaan Dane benar-benar tidak baik dan Dane sepertinya tidak akan bisa melewati esok hari jika dia tidak segera mendapatkan donor jantung.
"Lalu, dari mana aku akan dapat transplantasi jantung yang cocok dengan Dane saat ini juga?"
"Kek, kami juga sudah berusaha sangat keras agar nyawa Dane bisa terselamatkan, tapi sepertinya takdir sudah memiliki rencana sendiri."
"Sam, apa yang harus aku katakan kepada cicitku kenapa daddynya tidak bisa pulang untuk selamanya?" Kakek tua itu yang sebenarnya orang yang memiliki hati bagai batu karang akhirnya merasa dia telah kalah dan menyerah.
"Aku sendiri tidak tau, Kek. Dane, bertahanlah untuk putramu," Paman Sam berdialog sendiri.
"Dok, apa jantung Dimas masih bisa menyelamatkan Dane?"
Tiba-tiba semua orang yang ada di ruangan itu menoleh ke arah suara seorang wanita yang berdiri di depan pintu ruangan dokter yang tidak tertutup rapat. Denna ternyata mengikuti kakek Rayhan dan mendengarkan apa yang dokter itu katakan.
"Denna, apa yang kamu katakan itu apa serius?" tanya Kakek Rayhan tidak percaya.
"Aku sangat serius, setidaknya hari ini tidak ada lagi yang pergi karena kehilangan orang yang sangat kita cintai itu sangat menyakitkan, dan Dane harus segera pulang sebab ada Nio yang sedang menunggu daddynya mengajaknya bermain." Denna seketika menangis dengan menutup mulutnya agar tangisannya tidak terdengar ke ruangan lainnya.
Kakek tua itu seketika beranjak dari tempatnya dan memeluk Denna dengan erat. "Kakek tidak tau apa yang harus kakek katakan sama kamu, bahkan ucapan terima kasih saja belum cukup kakek berikan untuk kamu, Nak."
"Kek, tidak ada yang perlu kakek lakukan atau ucapkan untukku. Mungkin Dimas ingin pergi karena dia ingin memenuhi janjinya pada sahabat masa kecilnya, dan Tuhan masih ingin melihat Nio tumbuh dewasa ditemani oleh ayahnya."
Denna teringat apa yang tadi Nio katakan padanya. Nio bilang jika daddynya tidak kembali dan malah pergi menyusul mommynya ke surga, maka dia akan meminta tolong kakek buyutnya untuk mengantarkan dia ke surga juga menemui daddy dan mommynya.
__ADS_1
"