Stay Beside You

Stay Beside You
Pergi Bersama part 2


__ADS_3

Dane membawa Denna kembali ke dalam mobil. Dane memberikan botol air minumnya pada Denna.


"Minumlah dulu supaya kamu lebih baik."


"Terima kasih, Dane."


"Kita pulang sekarang saja karena langit mulai gelap, sepertinya hujan akan turun." Denna mengangguk perlahan.


Dane menjalankan mobilnya. Tiba-tiba hujan turun dengan begitu derasnya. Tepat di depan mereka terlihat banyak mobil berhenti, sepertinya ada kemacetan yang terjadi.


"Ada apa di depan? Biasanya jalan ini tidak pernah macet?"


"Mungkin ada pohon tumbang karena hujan sangat lebat."


"Kita tunggu saja kalau begitu, dan semoga tidak lama."


Mereka berdua terpaksa menunggu di dalam mobil sampai jalanan bisa lancar lagi.


"Denna, bagaimana kamu mengenal Dimas?"


"Dia sebenarnya bodyguardku, tapi kita malah jatuh cinta, dan ternyata dia dulu pernah menolong mamaku waktu mamaku diculik. Ayahku memberikan orang tua asuh pada Dimas yang katanya dulu dia diculik oleh seseorang dan dibuang jauh dari keluarganya. Bahkan kakaknya saja di jual ke luar negeri."


"Dimas diculik?"


"Iya, dia pernah diculik oleh seseorang dan kakaknya dijual ke luar negeri, tapi dia dibuang jauh dan hidup dengan anak berandalan di pasar. Di sana dia bertemu dengan mamaku."


"Aku tidak menyangka jika hidup Dimas begitu menderita. Kita dulu berteman masih sangat kecil, mungkin masih berumur sekitar enam tahun, tapi aku masih mengingatnya, hanya saja kita tidak ditakdirkan bertemu lagi."


"Mungkin, memang jalannya harus seperti ini."


Hampir setengah jam mereka menunggu, dan kemacetan yang ada di depannya tidak ada tanda-tanda mobil bergerak sedikit pun.


Tidak lama Dane melihat ada seorang ibu keluar dari dalam mobil dengan membawa bayi dan payung. Dia tampak panik. Denna yang juga melihatnya tampak khawatir.


"Kenapa dia malah membawa keluar bayinya di tengah hujan begini?"


"Denna, aku akan ke sana."


Dane segera keluar dan Denna tampak melihat Dane sedang berbicara dengan ibu itu.


Ibu itu dan Dane berjalan menuju mobil di mana Denna berada.


"Denna, bayi ibu itu panas dan dia mau ke rumah sakit, tapi mobilnya terjebak macet."


"Bawa dia masuk ke sini." Denna mengambil tas yang dia bawa.


Dane menyuruh ibu itu masuk dan dia memegangi payung ibu itu.

__ADS_1


"Maaf aku merepotkan kalian. Kata suamimu tadi kalau kamu seorang dokter."


Denna agak kaget dengan apa yang diucapkan oleh ibu itu.


"Iya, aku seorang dokter anak, biar aku periksa dulu anakmu. Bayi perempuan yang cantik. Berapa usianya?"


"Sekitar tiga bulan."


"Berapa berat badannya?"


"Empat kilo, Dok."


Denna memeriksa bayi itu. Ternyata di dalam tas Denna ada alat medis yang biasa dia bawa. Dia juga menjepitkan alat pengukur kadar oksigen pada jari kecil bayi itu walaupun sedikit sulit. Dia juga mengukur suhu tubuh bayi itu dengan termometer yang dia tempelkan pada dahi.


"Sudah berapa lama panasnya?"


"Baru tadi pagi, Dok."


"Dia panas, tiga puluh sembilan. Aku akan memberikan obat lewat belakang dan nanti tunggu reaksi obatnya. Tetap tenang dan beri dia terus asimu agar tidak sampai dehidrasi." Denna juga tidak lupa memeriksa apa bayi itu dehidrasi atau tidak.


"Dok, apa dia baik-baik saja?"


"Dia baik, kadar oksigennya juga normal. Beri terus asimu dan kamu bisa mengompresnya dengan air hangat. Jangan berikan dia baju yang terlalu tebal nanti saat sampai di rumah. Aku akan menuliskan resep yang bisa kamu beli dan berikan padanya. Jika dalam tiga hari dia masih panas. Segera bawa ke rumah sakit terdekat agar bisa dilakukan pemeriksaan lebih lanjut."


Denna mengambil obat berbentuk peluru dan memakai sarung tangan. Dia membalikkan perlahan bayi yang dari tadi dia gendong dan memberikan obat pada bagian belakang. Bayi itu masih tidur dan terlihat tenang.


"Aku bekerja di rumah sakit Dekapan Bunda, tapi untuk saat ini aku masih cuti karena kakiku mengalami cidera."


"Terima kasih, Dokter--.


"Denna, namaku Denna."


"Terima kasih, Dokter Denna, dan berapa aku harus membayarnya?"


"Tidak perlu. Semoga bayimu cepat sembuh. Dia bayi kecil yang manis."


"Apa dokter sudah memiliki anak?"


"Em ... sudah, dia laki-laki."


"Pasti dia sangat tampan karena memiliki perpaduan wajah suamimu yang tampan dan dokter yang cantik."


"Terima kasih." Denna tersenyum manis.


"Kalau begitu aku permisi dulu karena di mobil juga ada ibuku. Oh ya, suamimu juga sangat baik, Dok."


Denna sekarang tersenyum aneh mendengar Dane disebut sebagai suami Denna.

__ADS_1


"Apa sudah selesai?"


"Sudah, terima kasih karena sudah mau membantuku. Istrimu juga sangat baik. Semoga kalian selalu harmonis."


Dane tersenyum, dan dia kemudian mengantar ibu itu kembali ke mobilnya.


"Apa keadaan bayi ibu itu tidak apa-apa?"


"Aku sudah memeriksanya dan keadaannya baik, hanya saja tetap harus terus waspada jika bayi itu masih panas. Aku sudah memberikan resep obat, dan memberitahu apa saja yang dilakukan untuk bayinya."


"Dia tadi tampak panik, mungkin itu anak pertamanya, jadi dia sepanik itu."


"Mungkin saja."


Tidak lama terdengar suara bersin dari Dane. Denna langsung melihat pada Dane.


"Baju kamu basah, Dane. Kamu bisa flu nantinya."


"Iya, tadi karena aku kasihan melihat ibu itu jadinya aku tidak membawa payung."


"Kamu harus berganti baju. Apa kamu tidak menyiapkan baju ganti di sini?"


"Aku membawa kemeja lagi, tapi apa tidak apa-apa aku berganti baju di sini?" Dane melihat serius pada Denna.


Denna tampak terdiam sejenak. Dia juga tidak mau Dane sampai sakit. "Kamu ganti saja dan aku tidak akan melihat ke arahmu." Denna membuang mukanya melihat ke arah jendela.


Dane mengambil kemeja putih dan celana berwarna hitam di sana.


Dia melepas kemejanya yang basah dan segera memakai kemeja yang keringat.


Denna tertegun melihat tubuh Dane yang ternyata terpantul pada kaca jendela mobil. Denna tertegun bukan karena tubuh atletis Dane, melainkan pada bekas jahitan di mana ada jantung suaminya di sana.


Saat Dane membuka celananya. Denna langsung memejamkan kedua matanya karena tidak ingin melihat hal itu.


"Sudah selesai Denna." Dan lagi-lagi Denna mendengar suara bersin Dane.


"Kamu pasti flu." Denna reflek memegang dahi Dane. Pria itu terdiam merasakan sentuhan tangan Denna.


"Apa kamu juga akan memeriksaku? Tapi aku bukan anak kecil, Denna."


Denna menarik tangannya dari dahi Danne. "Setelah sampai rumah, sebaiknya kamu mandi dengan air hangat dan minum segelas air hangat agar tidak sampai sakit."


"Siap, Bu Dokter."


"Dane, kenapa tadi kamu bilang jika aku istrimu?"


"Aku tadi langsung reflek saja mengatakan jika istriku seorang dokter dan siapa tau dia bisa membantu." Dane menatap Denna datar. Denna hanya mengangguk perlahan.

__ADS_1


__ADS_2