
Dane memeriksa jari Denna yang sakit, tapi kemudian Denna langsung menarik jarinya dengan kasar dan menunjukkan wajah marahnya.
"Kamu jangan sok perhatian padaku. Dane, aku hanya ingin tau siapa pria itu? Dan kenapa dia terlihat tidak suka denganku saat aku bersama kamu?"
"Pria itu tidak penting, Denna dan kamu tidak perlu tau pria itu."
"Aku perlu tau karena dia seolah-olah ingin menggangguku, padahal aku tidak tau salahku di mana?"
"Dia tidak akan mengganggumu. Kita pulang sekarang saja."
"Baiklah! Kalau kamu tetap tidak ingin menjelaskan, setelah acara ini aku tidak ingin bertemu bahkan berkenalan denganmu lagi. Aku datang ke sini hanya karena janjiku pada Nio. Setelah ini mungkin Nio tidak akan mengingat aku lagi karena dia memiliki guru yang perhatian dan baik itu. Aku senang akan hal itu."
Denna mendorong kursi rodanya berjalan menuju tempat di mana Nio dan gurunya masih bercengkrama.
Dane tampak mengeraskan rahangnya. "Apakah aku harus melenyapkannya?" Dane berjalan mengikuti Denna.
Di mobil ternyata Zia juga ikut pulang karena Nio mengajaknya untuk ikut ke dalam mobilnya. Dane pun tidak keberatan karena itu permintaan putranya. Nio duduk di samping ayahnya dan Zia duduk di belakang bersama dengan Denna.
Dane menggendong Denna masuk ke dalam mobil dan dia kemudian melipat kursi roda Denna.
"Daddynya Nio sangat perhatian ya sama mba Denna?"
"Tidak juga, aku dan daddynya Nio tidak ada hubungan apa-apa."
"Jadi, Mba sama Daddynya Nio hanya berteman?" Denna mengangguk. "Wah! Padahal daddynya Nio orang yang tampan dan dia pasti idaman banyak wanita, termasuk aku. Aku tidak mau berbohong dalam hal ini."
"Kami cocok sama dia, kamu gadis yang lembut dan sangat perhatian dengan anak kecil."
Dane masuk ke dalam mobil dan membawa mereka pulang ke rumah. Dane mengantar Denna lebih dulu.
Mobil Dane yang berhenti di depan rumah utama langsung di sambut oleh mamanya, tapi Nara agak kaget melihat ada seorang gadis juga di dalam sana.
"Sore Tante Nara," ucap Dane.
"Sore, Dane. Acaranya sudah selesai, ya?"
"Sudah, Ma. Ma apa ayah belum pulang?"
"Belum, memangnya kenapa?"
"Aku mau ke kamar, aku mau istirahat, atau minta tolong bapak penjaga membawaku ke kamar."
Nara tampak heran dan di melihat pada Dane. "Aku akan membawamu ke kamarmu."
__ADS_1
"Tidak perlu! Lebih baik kamu segera antarkan Zia dan pulang karena Nio sudah mengantuk."
"Aku tidak apa-apa membawa kamu ke kamar agar kamu bisa istirahat."
"Tidak perlu, Dane. Jangan memaksa." Denna mendorong kursi rodanya masuk ke dalam rumah.
Nara semakin tidak enak pada Dane. "Maafkan sikap Denna, ya Dane."
"Tidak apa-apa, Tante."
"Dane, apa tadi terjadi sesuatu antara kalian?"
"Hanya ada sedikit masalah, Tante. Tante, kalau begitu aku permisi dulu."
"Sampaikan salamku pada Nio."
Dane berjalan pergi dari sana dan dia kembali ke dalam mobil. Dane agak kaget melihat Zia sudah duduk di depan dengan memangku Nio yang tengah tertidur.
"Maaf, aku pangku dia karena kasihan kalau tidur dengan kepala seperti itu."
"Tidak apa-apa. Aku akan mengantarmu pulang."
Nara masuk ke dalam rumah dan dia mencari di mana Denna berada. Ternyata Denna sedang duduk di ruang tengah dengan muka yang kesal.
"Dia calon istrinya Dane, Ma."
"Apa? Calon istrinya? Calon istri dari mana?" Nara langsung duduk di samping Denna.
"Dia gurunya Nio dan dia menyukai Dane."
"Tau dari mana?"
"Dia mengatakan sendiri menyukai sosok daddynya Nio. Dia juga pantas jadi Ibunya Nio karena dia sangat baik dan perhatian pada Nio."
Nara melirik pada putrinya. "Jadi karena itu kamu marah pada Dane? Kamu cemburu, ya?"
"Mama! Siapa yang cemburu?"
"Kamu itu cemburu karena ada yang menyukai Dane. Salah sendiri, dijodohkan dengan pria tampan itu tidak mau. Walaupun Dane itu seorang duda anak satu dan usianya di atas kamu, tapi dia itu masih terlihat muda dan kehidupannya juga mapan. Siapa coba yang tidak mau sama dia."
"Mama ini bicara apa, sih? Aku tidak cemburu! Aku marah karena tadi ada seorang pria yang menghampiriku dan dia sepertinya kenal baik sama Dane, tapi Dane tidak mau mengatakan siapa pria menyebalkan itu."
"Seorang pria?"
__ADS_1
Denna menceritakan tentang pria misterius yang Dane tidak mau mengatakan siapa dia, tapi Denna benar-benar ingin tau karena sudah dua kali pria itu seolah menakutinya.
"Mungkin Dane memiliki alasan kenapa dia tidak ingin kamu tau tentangnya. Apa pria itu menyakitimu?"
Denna menggeleng. "Dia tidak menyakitiku, hanya seperti menakuti saja."
"Mungkin nanti Dane akan menjelaskan saat waktunya tepat."
"Aku tidak butuh penjelasan darinya karena aku sudah tidak mau kenal atau berbicara pada Dane. Aku dan Danne akan seolah-olah tidak saling kenal.
Nara agak kaget mengetahui hal itu tapi dia juga tidak mau memaksa apapun pada Denna.
***
Hampir sebulan berlalu. Denna dan Dane bahkan dengan Nio tidak bertemu. Dane pun mencari alasan saat Nio ingin bertemu dengan Denna.
"Denna, kaki kamu beneran sudah baikkan?"
"Tentu saja, aku bahkan bisa mengajak kamu lomba lari kalau mau." Mereka berdua tertawa dengan bahagianya.
"Denna, pulang dari sini kita jalan-jalan ke mall mau tidak? Sudah lama kita tidak jalan-jalan berdua. Aku ingin kita makan sama-sama dan nonton bioskop kalau perlu."
"Tapi aku tidak mau nonton film romantis."
"Aku juga tidak ingin melihat film romantis. Aku mau melihat film action atau horor kalau perlu." Muka Denna seperti sedang kesal.
"Kamu kenapa? Apa ada masalah?"
"Kita jalan ke mall sekarang saja, aku mau makan yang banyak di sana."
"Masalah kamu pasti berat, ya?" Diaz mengangguk. Denna kemudian beranjak dari tempatnya dan mereka naik mobilnya Diaz pergi ke mall di mana mereka biasanya makan dan jalan-jalan.
Sesampai di sana mereka memilih makan di food court lantai paling atas yang menjual berbagai macam makanan. Diaz memesan ada sekitar lima macam menu makanan dari lima stand makana yang ada di sana.
"Diaz, apa kamu memesan makanan tidak terlalu banyak? Aku saja hanya dua macam dan salah satunya salad sayur."
"Aku, kan, sudah bilang kalau mau makan yang banyak hari ini. Aku mau menghilangkan stres aku, Denna."
"Ada apa sih sebenarnya, Diaz?"
Diaz tiba-tiba menangis. Denna yang melihat hal itu agak kaget dan dia langsung memeluk sahabat baiknya itu.
"Diaz, kamu kenapa? Apa masalah kamu sangat berat? Kamu tidak akan sampai menangis seperti ini jika masalah kamu tidak berat." Diaz masih saja menangis.
__ADS_1