Stay Beside You

Stay Beside You
Kekecewaan Denna part 2


__ADS_3

Nara dan Jaden serta nenek yang ada di sana melihat ada mobil berhenti dan Denna keluar dari dalam mobil itu.


"Kenapa bukan Dane yang mengantar Denna pulang?" Nara yang heran keluar untuk bertanya pada putrinya.


"Denna, kenapa kamu pulang tidak bersama dengan Dane? Dan kenapa kamu menangis?" Nara melihat mata putrinya basah karena air mata.


"Ma, aku mau sendiri dulu. Tolong jangan bertanya apa-apa dulu." Denna berlari dengan menjinjing sepatunya naik ke lantai atas.


Nara tidak bisa berkata apa-apa, yang dia tau jika putrinya sedang ada masalah dengan Dane. Nara berjalan menuju ruang tamu menemui suami dan nenek Miranti.


"Ada apa, Sayang?"


"Dia pulang menangis dan langsung naik ke lantai kamarnya, tidak mau bicara apa-apa dulu."


"Apa? Menangis?" Jaden beranjak dari tempatnya. Ini, ayah satu ini sudah panik saja mengetahui anaknya pulang menangis.


"Sayang, kamu mau apa?"


"Aku ingin tau apa yang dilakukan oleh Dane sampai membuat putriku menangis?"


"Jaden, mereka sudah dewasa. Biarkan Denna dan Dane menyelesaikan masalahnya sendiri," ungkap nenek pelan.


"Dane pasti menyakiti putriku, Nek. Aku sudah percaya pada pria itu untuk menjaga Denna, tapi kenapa dia malah membuat Denna menangis?"


"Sayang, biarkan saja dulu, nanti setelah dia tenang, Denna pasti mengatakan kepada kita ada apa dia dengan Dane."


Tidak lama mobil pria yang sedang mereka bicarakan datang ke sana. Denna tidak mengetahui Dane datang ke rumahnya karena dia sibuk menangis di dalam kamarnya.


"Selamat malam semua," sapa Dane sopan.


"Malam, Dane."


"Tante, apa Denna sudah sampai rumah?"


Dane sebenarnya tadi mengejar Denna, tapi wanita itu sudah terburu pergi dari sana, dan Dane memutuskan menyusul Denna yang pastinya pulang ke rumah. Dane ingin memastikan Denna selamat tiba di rumahnya.


"Denna sudah sampai barusan dan dia menangis." Dane terdiam. "Dane, kami tidak mau ikut campur dengan apa yang terjadi antara kamu dan Denna, kalian sudah sama-sama dewasa dan pastinya bisa menyelesaikan semua ini dengan baik."


"Sebenarnya aku tidak mau ikut campur, tapi aku tidak suka saja ada orang yang menyakiti hati putriku. Kamu sebagai ayah juga pasti marah jika anakmu disakiti seseorang," suara Jaden terdengar tegas.


"Aku memang sudah menyakiti Denna dengan tidak jujur padanya tentang siapa aku. Mungkin Denna butuh menenangkan dirinya, kalau begitu aku permisi dulu."


"Hati-hati, Dane."


Mereka bertiga saling melihat, dan mereka sudah tau apa masalah yang membuat Denna seperti ini.

__ADS_1


"Kasihan Dane, dia sepertinya sangat mencintai putriku, tapi Denna mungkin tidak bisa menerima kenyataan tentang Dane." Nara memeluk suaminya.


Tangan wanit tua itu mengusap-usap lengan tangan cucu menantunya. "Kita serahkan saja pada mereka berdua. Apapun nanti yang terjadi terhadap hubungan mereka, kita hanya bisa menghormatinya."


Malam ini Dane seperti biasa, setelah memastikan putranya tidur dia pergi keluar untuk berada di luar rumah Denna.


Namun, malam ini kamar Denna tampak gelap dan sepertinya Denna tidak akan terbangun dan duduk di dekat jendela.


Dane tidak tau jika wanita itu ada di sana sedang melihatnya dari balik tirai.


Denna menangis menatap dari kejauhan pria yang tadi mengajaknya makan malam romantis, bahkan ciuman Dane pun masih terasa di bibirnya.


"Aku harus melupakan kamu, Dane. Aku membenci orang yang membohongiku.


Dane mencoba menghubungi Denna, tapi wanita itu tidak mau menerima panggilan Dane.


Dane mengirim pesan meminta maaf pada Denna, tapi Denna membalas lain. Dia bilang akan mengembalikan cincin pemberian Dane dan mengakhiri semua yang sudah terjadi. Denna mengatakan jika dia sangat kecewa dengan Dane.


Dane mencoba menghubungi Denna lagi dan sekarang wanita itu menjawab panggilan Dane.


"Denna,"


"Aku tidak mau bicara lagi sama kamu, Dane. Sudah cukup semua kebohongan yang kamu ciptakan. Cincin itu akan aku kirim ke rumahmu."


"Buang saja kalau kamu memang tidak menginginkannya."


"Denna, apa kita bisa bicara?"


"Dane, kekecewaan yang kamu berikan terlalu besar bagiku. Dane kita akhiri semuanya dan mulai hari ini anggap saja kita tidak pernah mengenal bahkan aku akan melupakan semua hal yang pernah terjadi. Selamat malam." Denna langsung menutup panggilannya.


Dane terdiam sekali lagi di tempatnya. Dia akhirnya memilih pulang.


"Nak," suara panggilan itu Dane sangat kenali.


"Kakek belum tidur? Apa kaki Kakek sakit?"


"Kakek baik-baik saja. Dane, kakek sudah mendengar apa yang terjadi antara kamu dan Denna saat makan malam. Miranti yang menceritakan semua pada Kakek."


"Denna mungkin memang shock mengetahui tentang siapa dirimu. Dia saja sampai sekarang belum juga tau tentang masa lalu ayahnya dan mereka memang tidak memberitahunya."


"Aku akan tetap berusaha menjelaskan pada Denna. Aku sangat mencintainya, Kek."


Tangan pria tua itu menepuk pundak Dane beberapa kali. "Kakek bisa melihat cinta yang kamu rasakan pada Denna, dirimu mirip sekali seperti ayahmu."


"Kek, aku mau beristirahat di kamar Arsen. Kakek juga sebaiknya tidur." Dane memeluk kakeknya, dan kemudian dia berjalan menuju kamar putranya. Dane tidur memeluk putra semata wayangnya itu.

__ADS_1


Pagi itu Denna yang sudah bangun tidak langsung turun ke lantai bawah seperti biasanya karena dia tau, pasti mamanya akan bertanya ada apa dengan dirinya dan Dane.


Denna duduk di balkon rumahnya memandang suasana di luar pagi ini.


Air mata kembali menetes perlahan membasahi pipinya. Dia teringat pada Dane dan juga Nio. "Aku pasti akan merindukan Nio.


Denna masih di sana beberapa menit sampai akhirnya dia melihat ke arah jam dinding. Denna bersiap-siap untuk turun, tapi dia tidak ingin sarapan pagi hari ini.


"Aku berangkat dulu, ya?" Denna seperti biasa mencium pipi kedua orang tuanya dan nenek Miranti.


"Denna, kamu benar tidak mau sarapan dulu?"


"Tidak, Ma. Aku nanti makan bersama anak-anak karena aku mau ke rumah sakit khusus penderita kanker."


"Tapi mama sudah membuatkan makanan kesukaanmu. Sedikit saja."


"Terima kasih, Ma. Nanti saja pulangnya aku akan makan."


Ponsel Denna berbunyi dan dia segera menjawab panggilannya.


"Apa sudah selesai semuanya?"


"Iya, Non Denna. Semua sudah saya kerjakan seperti apa yang Nona Denna minta. Sekarang rumah itu sudah siap untuk Nona Denna tinggali."


"Terima kasih kalau begitu."


"Kalau masih ada yang Nona butuhkan bisa menghubungiku."


"Iya." Denna mengakhiri panggilannya. "Ma, besok aku akan tinggal di rumahku sendiri, aku sudah menyuruh orang memasang beberapa CCTV dan alarm di sana. Paman pengawal juga sudah aku beritahu dan ada ruangan yang bisa paman pengawal tinggali selama di sana."


"Jadi, sudah selesai semuanya?"


"Iya, Ma."


"Denna apa tidak mau berubah pikiran?"


Denna menggeleng. "Aku sudah harus memikirkan kehidupanku, Ma. Bagaimanapun juga aku harus bisa mandiri. Aku sudah melupakan semua kejadian buruk yang pernah menimpaku di sana. Aku tidak mau mengenang hal buruk itu terus."


"Ya sudah kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Kamu tetap harus berhati-hati."


"Iya, Ma. Pasti. Kalau begitu aku pergi dulu semua."


"Denna, kamu hati-hati bawa mobilnya."


"Nak, apa tidak mau diantar supir saja, atau ayah?

__ADS_1


Denna menggeleng, dan berjalan pergi dari sana."


"Kasihan sekali putriku. Dia baru saja membuka lagi perasaannya pada Dane, tapi malah kecewa. Dia pasti setelah ini akan benar-benar menutup hatinya," ujar Jaden.


__ADS_2