Stay Beside You

Stay Beside You
Pilihanku


__ADS_3

Dane sudah mengantarkan Denna pulang. Dia juga bertemu dengan keluarga Denna.


Nara tidak sabar mendengar cerita Denna tentang hari ini apa saja yang dia dan Dane serta Nio lakukan.


Denna menceritakan semua dan dia bilang dia bahagia hari ini, tapi juga sedih karena baru saja kehilangan salah satu pasiennya yang sedang berjuang melawan penyakit kankernya.


Denna kembali menangis mengingat hal itu. "Jangan bersedih, Nak. Semua sudah ada yang mengaturnya. Jadi, kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri atau siapapun."


Jaden yang baru saja dari belakang mengambil kopinya kaget melihat putrinya menangis dalam pelukan istrinya.


"Ada apa ini? Apa Dane sudah menyakitimu, Denna?" tanya Jaden dengan wajah sudah kesal saja.


"Dane itu tidak mungkin menyakiti putrimu. Kamu ini kenapa malah langsung berpikir buruk pada calon menantuku itu?"


"Mama, aku belum memutuskan untuk menerima Dane. Masih banyak yang harus aku pikirkan untuk menerimanya atau tidak."


"Iya. Awalnya aku setuju dengan Dane, tapi kalau dia menyakiti putriku, aku juga akan memikirkannya lagi untuk menerimanya atau tidak." Pria yang sedang membawa cangkir kopinya itu duduk di sebelah putrinya.


"Dane itu sudah menjadi pilihan yang terbaik bagiku karena feeling seorang ibu tidak akan pernah salah."


"Tapi kenapa aku selalu merasa jika ada hal yang masih di sembunyikan Dane dariku?" Denna tampak berpikir.


Nara melihat pada Jaden. "Nak, kalau kamu memang belum sepenuhnya percaya dan yakin pada Dane. Ayah tidak akan memaksamu karena semua yang menjalaninya adalah kamu sendiri, dan yang lainnya juga tidak akan aku perbolehkan memaksamu."


"Iya, Yah." Nara dan nenek yang ada di sana mendengarkan apa yang Jaden katakan dan tidak berani berkata apapun.


Denna izin naik ke atas kamarnya karena dia mau istirahat sejenak.


"Denna, kamu jangan lupa untuk mengembalikan cincin pemberian Dane jika kamu memang tidak yakin menikah dengannya."


Denna mengangguk perlahan, dan dia berjalan dari sana. Denna membaringkan tubuhnya pada kasur empuknya dan menarik napasnya panjang.


"Dane, kenapa aku seolah masih belum sepenuhnya yakin sama kamu? Aku juga merasa kamu pria yang penuh dengan tanda tanya." Denna menutup kepalanya dengan bantal.


Malam itu Denna tidak dapat tidur dengan nyenyak, dan seperti biasa dia terbangun di jam yang seharusnya semua orang sudah tidur.


Denna menyalakan lampu kamarnya. "Aku bermimpi tentang gadis kecil itu. Aku pasti merindukan suaranya memanggilku dokter baik, dahal aku tidak sebaik itu." Denna duduk di atas tempat tidurnya dengan menekuk kedua lututnya."


Ponselnya tidak lama berbunyi, Denna segera meraih ponselnya dan dia melihat ada nama Dane di sana.


"Dane? Apa dia ada di depan rumahku lagi?"


Denna dengan cepat beringsut turun dari tempat tidurnya dan membuka jendela kamarnya.

__ADS_1


Seketika terlukis senyum manis pada bibir Denna, tapi dia berusaha menyembunyikan dari pria yang sedang menatapnya dari luar rumahnya.


"Halo, Denna."


"Dane, kenapa kamu berada di sini lagi? Bukannya tadi kita sudah bertemu?"


"Kalau aku bilang hal ini sudah menjadi kebiasaanku, apa kamu akan takut padaku?"


"Em ...!" Denna tampak berpikir sejenak. "Kalau aku bilang, aku takut, apa kamu akan tidak melakukannya lagi?"


"Aku tidak akan melakukannya lagi."


"Aku tidak takut sama kamu, Dane."


Sekarang gantian Dane mengulas senyumnya dan Denna dapat melihat hal itu dari tempatnya.


"Dane, apa yang kamu lakukan jika aku tidak terbangun di jam seperti saat ini? Apa kamu akan trus di sini melihati jendela kamarku?"


"Mungkin saja."


"Kenapa harus melakukan hal seperti itu? Kamu lebih baik pulang dan beristirahat di rumah."


"Kamu lupa jika aku sudah pernah tertidur lama dan itu sangat menakutkan, Denna."


"Nanti, setelah kamu bersamaku, aku tidak akan melalukan hal ini lagi karena kamu sudah aman bersamaku.".


"Aman? Memangnya ada apa denganku?"


"Entah kenapa aku lebih tenang saat bisa melihatmu, bahkan saat kamu di dekatku, Denna."


Denna ini sebenarnya tidak percaya jika seorang Dane yang terlihat sangat dingin dan cuek, ternyata bisa berkata hal yang bisa membuat hatinya kebat-kebit.


"Kalau begitu kamu harus mulai belajar untuk tetap merasa tenang juga jika nanti aku menolak tawaran pernikahanmu."


"Aku akan mencobanya."


"Dane, aku mulai mengantuk lagi. Sebaiknya kamu pulang dan selamat malam."


"Selamat malam, Denna."


Denna masuk ke dalam kamarnya dan dia menutup jendelanya. Denna kembali duduk di atas tempat tidurnya. Dia sedang melamun.


***

__ADS_1


Pagi itu seperti biasa Denna melakukan aktivitasnya. Dia pergi ke rumah sakit, dan hari ini dia pergi minta diantar oleh Jaden karena dia malas membawa mobil. Lalu nanti pulangnya dia bisa bersama dengan Diaz.


Denna yang baru datang melihat dia


sana ternyata Diaz sudah datang dengan wajah cerianya, tidak seperti beberapa hari yang lalu.


"Bagaimana jalan-jalannya kemarin bersama dengan calon suami?"


Denna duduk dan melihat heran pada Diaz. "Bagaimana kamu tau kalau kemarin aku pergi bersama dengan Dane juga?"


"Mama kamu yang bercerita sama aku. Mamamu sangat senang kelihatannya saat bercerita hal itu, Denna."


"Hem! Mamaku memang sangat ingin menjodohkan aku dengan Dane, tapi aku tidak mau mengambil keputusan yang salah karena pernikahan itu bukan permainan."


"Kamu menyindirku, Denna?" Diaz langsung bibirnya mengerucut.


"Tentu saja tidak, kamu itu kasusnya beda, tapi bisa saja sama jika aku menikah dan belum memiliki keturunan. Semua hal bisa terjadi dalam pernikahan."


"Iya juga, tapi sekarang aku tidak mau memikirkan itu, Denna karena yang ada pasti sakit. Aku akan menikmati hari-hariku sambil menunggu sidang ceraiku di laksanakan."


"Diaz, semoga kamu akan selalu menjadi wanita kuat."


"Kamu juga." Mereka saling berpelukan.


Diaz dan Denna keluar dari ruangan kerjanya, dan Denna amat terkejut saat melihat ada pria yang semalam baru saja ada di luar rumahnya.


"Dane?"


"Hai, Dane!" sapa Diaz.


"Hai, Diaz, bagaimana kabarmu?"


"Mencoba untuk baik-baik saja karena hidup harus tetap berjalan."


"Benar apa yang kamu katakan."


"Dane, kamu mau menjemput Denna, kan? Dia hari ini tidak membawa mobil, katanya sih sedang malas, tapi kalau melihatmu di sini, aku rasa dia hanya berpura-pura mencari alasan malas menyetir mobil." Diaz melirik pada Denna.


Mulut Denna sampai menganga tidak percaya mendengar apa yang baru saja sahabatnya itu katakan.


"Diaz! Aku benaran sedang malas menyetir. Kenapa kamu malah bicara seperti itu? Mau membuat aku malu di depan Dane?" Denna melotot kesal.


"Kamu tenang saja, aku percaya jika kamu memang sedang malas menyetir. Kalaupun tadi kamu membawa mobil sendiri, aku akan menyuruh supirku untuk membawa mobilmu dan kamu bisa ikut bersamaku karena aku ingin mengajakmu ke sekolah Arsen."

__ADS_1


"Memangnya ada apa dengan Nio, Dane?" tanya Denna cemas.


__ADS_2