Stay Beside You

Stay Beside You
Aku Jatuh Cinta


__ADS_3

Dane mengatakan jika dia tau betul Zia menyukainya, bahkan Dane tau jika Zia menyuruh Denna agar tidak menjadi penghalang untuknya.


"Kamu tidak cemburu, kan, sama Zia?"


"Kenapa aku harus cemburu? Kamu pria bebas dan berhak ingin bersama siapa. Aku tidak peduli, Dane."


"Bagus kalau begitu."


"Kenapa dia bilang bagus?" gerutu Denna lirih.


"Apa kamu mengatakan sesuatu?"


"Aku tidak mengatakan apa-apa. Dane, aku lupa ingin mengatakan sesuatu sama kamu."


"Sesuatu tentang apa?"


Denna menengok ke belakang dan bingung apa dia perlu mengatakan tentang Zia atau tidak.


"Kamu mau mengatakan apa?"


"Aku bingung, apa hal ini perlu aku katakan atau tidak, ya? Ini tentang Zia."


"Zia? Kenapa? Apa kamu ingin aku menikahinya karena dia sangat mencintaiku?"


"Jangan menikah dengan Zia, Dane!" seru Denna cepat.


Denna lantas terdiam setelah mengatakan hal itu karena dia seolah cemburu pada Zia.


Dane mengulas senyum kecilnya. Denna membalikkan tubuhnya kembali membelakangi Dane.


"Dane, aku tidak cemburu, hanya saja aku ingin mengatakan jika aku pernah mendengar Zia dan tantenya bicara jika dia ingin menikah denganmu, tapi dia tidak suka pada Nio. Dia hanya ingin menjadi gadis kaya raya karena menikah dengan duda kaya sepertimu."


"Aku sudah tau jika dia tidak tulus sayang pada Arsen," jawab Dane lagi-lagi dengan entengnya.


Denna kembali membalikkan tubuhnya melihat pada Dane. "Jadi, kamu sudah tau kalau dia hanya berpura-pura sayang pada Nio?"


"Tentu saja. Kalau dia benar tulus sayang pada Arsen, malam itu, aku tidak mungkin melamarmu."


"Darimana kamu tau?"


Dane pernah bertanya pada putranya tentang Zia. Arsen bilang jika dia baru-baru ini saja dekat dengan gurunya itu setelah Arsen pernah menunjukan foto Dane di sekolah dan bilang jika dia ingin daddynya menikah lagi.

__ADS_1


"Arsen juga mengatakan jika Zia berubah baik, dahal Nio pernah melihat Zia membentak dengan kasar salah satu teman Nio yang mengotak atik keyboard komputer pada saat jam istirahat.


"Dia memang pintar bermain peran."


"Aku juga sudah bisa melihat mana wanita yang tulus mencintaiku dan tidak." Wajah Dane dia dekatkan pada wajah Denna. Wanita itu tampak tersipu malu dilihat Dane seperti itu.


Mereka sudah sampai dan Dane membantu Denna turun dari punggung gajah.


"Seru sekali, Daddy. Kapan-kapan aku mau naik gajah lagi!" Nio tampak sangat senang.


"Iya, Jagoan, kapan-kapan kita akan jalan-jalan bertiga lagi dengan Tante Denna." Dane melirik pada Denna yang juga sedang meliriknya.


"Benar ya, Tante Denna?" Nio melihat Denna dengan berbinar.


"Iya, Nio."


"Sekarang kita melihat pertunjukan sirkus para hewan yang ada di sini, setelah itu kita pulang, supaya Nio tidak terlalu capek karena besok sekolah."


"Iya, Tante." Denna menggandeng tangan Nio dan mereka berdua berjalan di depan Dane.


Mereka bertiga mengantri saat akan masuk ke gedung pertunjukan sirkus para hewan. Nio digendong oleh Dane seperti tadi, dan Dane pun tidak melepaskan gandengan tangannya pada Denna.


"Iya, tidak apa-apa." Denna mencoba tersenyum, dahal sebenarnya Denna agak sebal dengan dua remaja itu yang dari tadi bercanda, tapi cenderung mengganggu orang lain.


Remaja putri itu bolak balik menyibakkan rambut panjangnya yang membuat Denna sampai reflek mundur ke belakang, atau kalau tidak dia bercanda dengan kekasihnya dengan tiba-tiba mundur ke belakang dan hampir mengenai Denna. Denna pun reflek mundur ke belakang.


Tidak hanya itu. Remaja laki-laki itupun merokok dengan seenaknya, dahal ada tulisan dilarang merokok saat berada di area itu. Nio sampai menutupi hidungnya.


"Aduh!" Dane merintih sakit karena perutnya malah terkena tangan remaja laki-laki di depannya. Dane sudah berusaha menyembunyikan luka itu dari Nio, tapi remaja laki-laki itu malah seperti itu.


"Dane, tidak apa-apa?" tanya Denna yang tau tentang perut Dane.


Dane hanya menggeleng pelan. Dua remaja di depannya itu tampak melihat santai pada Dane dan Denna.


"Maaf, ya," ucapnya santai seolah tidak terjadi apa-apa, dan kembali bercanda dengan kekasihnya.


Denna rasanya ingin meledak saja, apa lagi melihat wajah Dane yang seperti menahan sakit. Dane sebenarnya juga kesal pada dua remaja di depannya, tapi dia tidak ingin terlihat emosi di depan putranya.


"Hei! Kalian berdua!" Denna tiba-tiba menarik pundak remaja laki-laki itu agar melihat ke belakang. "Aku dari tadi sudah menahan kesal melihat kelakuan kalian berdua."


"Memangnya kami kenapa?"

__ADS_1


"Kalian berdua itu menyebalkan! Apa kalian berdua tau jika dari tadi tingkah kalian itu sudah mengganggu orang lain? Kamu sudah melukai perut suamiku yang lukanya belum sembuh."


"Aku tidak--."


"Jangan bilang tidak sengaja!" Potong Denna cepat. "Dari tadi aku sudah menahan kesal dengan kalian. Kalian pasti bisa baca, kan? Di larang merokok, tapi kenapa kamu seenak jidatnya masih merokok, dahal di sini banyak anak kecil, dan asapnya itu bisa mengganggu kesehatan mereka."


Namanya juga dokter, jadi Denna tau betul akan hal itu.


Denna mengambil beberapa lembar uang dari tasnya. Memberikan pada tangan salah satu remaja itu.


"Apa ini? Aku tidak butuh uangmu."


Denna menambahkan lagi. "Jangan bilang tidak butuh. Aku membayar uang ganti rugi tiket masuk kamu ke sini. Kalian lebih baik pergi dari hadapanku!" Denna terlihat mendelik marah dengan mereka berdua.


Beberapa orang yang mengantri di sana juga mendukung sikap Denna karena mereka juga mengetahui tingkah menyebalkan dua remaja itu.


Mereka berdua akhirnya pergi dari sana karena merasa orang-orang di sana juga sebal melihat mereka.


Denna mencoba mengatur napasnya karena dia tidak pernah marah seperti itu sebelumnya.


"Tante Denna hebat." Nio yang duduk di pundak Dane menunjukan jempolnya pada Denna.


"Terima kasih, Sayang."


Dane yang melihat tersenyum pada Denna. "Kenapa tersenyum? Ada yang lucu?" Sepertinya kesal Denna belum sepenuhnya menghilang.


Dane mendekat dan memberikan kecupan pada kening wanita itu. Denna langsung mingkem karena hal Itu.


Nio terkekeh lucu sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan kecilnya.


"Ayo kita masuk!"


Dane mengajak Denna masuk ke dalam gedung pertunjukan, dia sana sudah sangat ramai.


Mereka duduk di barisan nomor sepuluh dari bawah. Nio tampak sangat tidak sabar menunggu acara di mulai.


"Dane, jangan menciumku seenaknya, apa lagi di depan anak kecil seperti Nio," Wanita yang berada di antara Daddy dan putranya itu berbisik pada Dane.


"Kalau begitu nanti aku menciumnya pas kita di kamar kita saja."


Denna langsung cemberut mendengar apa yang Dane katakan. Pria itu senang sekali menggoda wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta itu.

__ADS_1


__ADS_2