
Denna berbincang cukup lama dengan sahabatnya itu. "Kamu harus kuat, Diaz, dan kalau kamu membutuhkan sesuatu, kamu jangan sungkan bilang padaku karena aku akan pasti dengan senang hati menolongmu.'
"Terima kasih, Denna." Diaz memeluk sahabatnya itu. Diaz tampak menangis dipelukan Denna. Pun Denna juga.
"Kamu pokoknya nanti kalau sudah siap harus memberitahu tentang kehamilanmu ini pada mantan suamimu."
Diaz mengangguk. Diaz memang belum memberitahu pada Mas Rio karena dia masih sakit hati pada mantan suaminya dan juga keluarganya.
Denna izin pulang dari rumah Diaz. Denna mengendarai mobilnya sendiri menuju ke arah rumahnya.
"Loh! Kenapa banyak sekali bunganya?" Denna agak terkejut melihat di rumahnya banyak buket dan karangan bunga di sana.
"Tuan Dane yang mengirimkan ini semua, Nona Denna."
"Dane?" Denna tersenyum sendirian. "Dia itu kenapa selalu berbuat hal yang kadang membuat marah dan tersenyum.
Denna menghubungi calon suaminya itu. Dane mengatakan dia sedang ada meeting penting dan nanti dia akan menjemput Denna untuk dia ajak makan malam bertiga dengan Nio.
"Terima kasih atas kejutannya dan nanti aku akan menunggu kamu, Dane."
Nio yang pulang sekolah berada di rumah kakek Rayhan. Dane pun di sana sampai nanti akan menjemput Denna untuk makan malam.
__ADS_1
Dua pria yang berbeda generasi itu tampak rapi dan gagah dengan setelan kemeja hitamnya.
"Aku tampan sekali ya, Daddy?"
"Iya, kamu tampan sekali."
"Sayang aku masih kecil, kalau aku sebesar Daddy, Tante Denna pasti lebih suka sama aku daripada sama Daddy soalnya aku kata Tante Denna sangat menggemaskan."
Dane tersenyum simpul mendengar celotehan putra kecilnya.
"Nanti kalau kamu sudah dewasa, pasti akan bisa mendapatkan wanita secantik dan sebaik Tante Denna."
"Kamu pria yang baik, dan pasti akan mendapatkan kekasih yang baik. Sekarang kita menjemput Tante Denna kamu untuk makan malam."
Dane menggandeng tangan putranya dan mereka bersiap menuju ke rumah Denna.
Wanita dengan gaun hitam dan dengan panjang menutupi lutut itu tampak sudah menunggu di depan pintu. Dia tidak sabar ingin segera melihat calon suami dan anaknya menjemputnya.
Tidak lama ponselnya berbunyi dan dia melihat nama Diaz di sana. Denna tampak tersenyum melihat siapa yang menghubunginya.
"Halo, Diaz, ada apa?"
__ADS_1
"Tante Denna." Terdengar suara gadis kecil menangis di seberang telepon.
"Sayang, ada apa?" Wajah Denna seketika cemas mendengar tangisan putri angkat Diaz.
"Mama Diazku Tante ...." Gadis itu terdengar menangis dengan kencang.
"Sayang, kamu jangan menangis terus, ceritakan dulu sama Tante, ada apa dengan mama Diaz kamu?" Denna sudah tidak karuan saja rasanya.
"Nak Denna, ini nenek. Nak Denna, sekarang Diaz ada di rumah sakit. Dia baru saja terjatuh dan keadaannya masih belum nenek ketahui."
"Oh Tuhan! Di rumah sakit mana sekarang kalian?"
"Kami di rumah sakit di mana kalian bekerja."
"Ya sudah kalau begitu aku akan segera ke sana. Nenek tolong jaga Diaz di sana dan kabari aku lagi jika sudah mengetahui kabar keadaan Diaz."
Denna segera berlari ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobil dan segera membawa mobilnya sendiri ke rumah sakit di mana Diaz di rawat.
Dane yang baru saja datang tidak mengetahui jika Denna tidak ada di rumah, tapi penjaga rumah Denna mengatakan jika tadi Non Dennanya terlihat terburu-buru pergi membawa mobil, tapi tidak tau ke mana.
Denna yang memang sudah panik tidak memberitahu pada Dane.
__ADS_1