Stay Beside You

Stay Beside You
Berkenalan part 2


__ADS_3

Di dalam sana, dua orang yang baru saja berkenalan itu malah tertawa dengan bahagianya melihat film kartu yang lucu, beda dengan sepasang suami istri itu yang tampak bosan dengan film yang mereka lihat. Niatnya mereka ingin melihat film romanti agar nanti malam mereka yang ingin berusaha lagi memiliki momongan jadi semangat, tapi malah disuguhi film lucu.


Setelah film selesai diputar, mereka pergi untuk makan malam bersama karena Diaz sudah kelaparan. "Filmnya tadi menyenangkan, kamu pandai sekali memilih tontonan yang baik."


"Thanks. When do you want me to see art in a gallery of works."


"Melihat acara kesenia? Boleh, aku juga tidak pernah ke acara seperti itu."


"Kalian cepat sekali akrab ya?" Diaz melirik dengan alias naik turun melihat pada Denna.


"Memiliki banyak teman itu menyenangkan, Diaz."


"Iya, Diaz, nanti aku juga ingin belajar bicara bahasa Indonesia."


"Makannya, kamu pindah saja ke sini. Gadis di sini baik-baik dan cantik-cantik, salah satunya sahabat aku ini." Diaz menunjuk pada Denna.


"Apa sih? Sudah! Kita makan lalu aku mau segera pulang karena besok pagi aku ada pertemuan dengan para dokter muda itu."

__ADS_1


"Iya-iya, kamu memang suka sekali menyibukkan diri, seharusnya kamu tidak perlu mengambil jadwal yang buka waktu kamu, hal itu bisa diisi yang lainnya."


"Tidak apa-apa, anggap saja aku mengingat kenangan kita dulu saat menjadi seperti mereka."


"Denna, when are you off?"


"Lusa dia libur. Apa kamu mau mengajak dia pergi?" tanya Diaz cepat.


"Yes. Maksud aku iya. Apa mau pergi ke galeri karya?"


Denna terdiam sejenak, dia ingat ada janji dengan si kecil Nio. "Denna, kamu terima saja, bukannya kamu belum pernah berkencan ke tempat yang beda. Kalau sama seorang guru begitu ya kencannya di tempat yang berhubungan dengan pendidikan."


"Iya, baiklah, bukan kencan, hanya jalan-jalan biasa. Benarkan?"


"Fabio, aku minta maaf karena aku sudah ada janji dengan seseorang besok lusa. Aku dan dia mau memasak bersama di rumahku."


Tidak lama terdengar suara batuk dari Diaz. "Kamu sudah punya kekasih, Denna? Siapa?" Diaz tampak mendelik.

__ADS_1


"Bukan kekasih. Lebih tepatnya dia sahabat kecilku. Anaknya Dane."


"Oh...! Bocah kecil yang namanya Nio itu?"


"Iya, dia ingin bermain ke rumahku dan aku sudah berjanji akan mengajak dia membuat kue bersama dan dia terlihat sangat senang. Aku kasihan karena dia selalu mencari ayahnya yang kamu tau sendiri masih terbaring penyembuhan di rumah sakit."


"Kamu memang cocok sekali dengan Fabio. Sama-sama pencinta anak-anak. Aku juga sih sebenarnya, tapi kalian ini beda."


"Dia anak yang baik dan sangat pandai, hanya saja kehidupannya sangat kasihan, sudah dari kecil dia kehilangan ibunya dan sekarang harus berjauhan dengan ayahnya dalam waktu yang lama."


"Denna," bisik Diaz. Denna mendekatkan telinganya pada Diaz. "Aku sekarang jadi bingung."


"Bingung kenapa?" Denna juga membalas dengan berbisik.


"Bingung, aku seharusnya menjodohkan kamu dengan Fabio apa ayahnya Nio?"


Denna seketika menarik wajahnya dan melihat dengan kesal pada Diaz. Denna kira Diaz mau berbisik apa, tapi ternyata hal yang tidak penting.

__ADS_1


"Kamu itu tidak perlu menjodohkan aku dengan siapa-siapa karena aku hanya memilih Dimas, meskipun dia sudah tidak ada."


"Dia ada, Denna. Dia sekarang hidup pada tubuh Dane. Sumpah ya, Denna! Aku benar-benar penasaran bagaimana wajah Dane itu?"


__ADS_2