
"Apa? Berdansa? Di sini? Kamu serius?" Mata cantik itu tampak mendelik.
"Iya, memangnya kenapa kalau kita berdansa di sini?"
Denna melihat sekitarnya, dia juga melihat pada meja Dane. "Malu, V, kenapa memakai acara berdansa?"
"Tidak apa-apa." V berdiri dari tempatnya dan tangannya menjulur menarik tangan Denna agar mau berdansa.
"V, kamu ini bisa membuat aku malu," ucap Denna dengan menekankan.
"Tenang, kamu tidak akan mendapat malu, malahan kamu akan menjadi pusat perhatian di sini."
Denna memutar bola matanya jengah. "Tentu saja menjadi pusat perhatian karena mereka melihat aneh pada kita."
V hanya tersenyum mendengar ucapan Denna, tapi dia tetap mengajak Denna berdansa.
"Kamu benaran serius, ya ini?"
"Menurutmu?"
Denna yang tidak ingin mengecewakan V karena sudah sangat baik padanya, akhirnya mau berdansa dengan V.
Pria itu merangkulkan salah satu tangannya pada pinggang Denna dan satunya menggenggam tangan Denna.
Mereka mulai berdansa dengan diiringi musik dari biola yang sedang dimainkan.
Denna terlihat sangat bahagia, terlihat dari senyum yang menghiasi bibirnya.
"Wow! Mereka pasangan yang sangat manis. Dia tau sekali membuat hati kekasihnya bahagia."
"Mereka bukan pasangan kekasih. Pria itu adalah adik ipar dari wanita yang sedang tertawa," ucap Dane dengan tidak melepaskan pandangannya dari Denna.
"Kamu mengenalnya?" Lihat Flow penasaran.
Dane tidak menjawab. Dia berdiri dari tempatnya dan berjalan mendekat pada dua orang yang masih berdansa itu.
"Ups!"
Denna terkejut saat tubuhnya yang tadi sedang berputar malah menabrak seseorang, bahkan dia dalam dekapan orang itu.
"Dane?" Sekali lagi kedua pasang mata itu saling melihat lekat.
"Denna, kamu tidak apa-apa?"
__ADS_1
Denna yang kembali menginjakkan kakinya ke bumi karena suara V langsung mundur dari pelukan Dane.
"Aku tidak apa-apa."
"Selamat malam Denna, dan kamu pasti V?"
V melihat heran pada Dane. "Iya, tapi bagaimana kamu bisa mengetahui namaku?"
Dane melihat ke arah Denna. "V, dia Dane-- orang yang mendapat donor jantung dari kakak kamu."
Seketika kedua bola mata V mendelik kaget. "Jadi, dia pria itu?" melihat Dane dari atas sampai bawah. "Jadi, kamu teman masa kecil dari kakakku?"
"Iya. V, senang berkenalan denganmu." Tangan Dane menjulur mengajak V berjabatan tangan.
V pun dengan ramah menerima jabatan tangan dari Dane. "Kenapa kamu bisa kenal dengan Denna? Bukannya Denna bilang dia tidak akan memberitahu orang yang mendapat donor jantung Dimas, bahkan tidak mau mengenalnya dan menganggap seolah hal itu tidak pernah terjadi."
Dane melihat pada Denna. Wanita itu pun tampak bingung harus mengatakan apa, tapi memang yang dikatakan V benar adanya.
"Aku mencari tau sendiri karena aku bukan orang yang tidak tau balas budi, dan ternyata kakekku adalah teman baik dari kakek buyut Denna."
"Wow! Kebetulan yang tidak terduga."
"Iya, aku juga tidak menyangka. V, kita lanjutkan makan malamnya lalu kita pulang." Denna tidak ingin berlama-lama dekat dengan Dane.
"Dia sedang makan malam dengan kekasihnya, V, dan sebaiknya kita tidak perlu mengganggu."
"Oh ...! Aku minta maaf kalau begitu."
Denna melirik pada Dane. Dane tau jika Denna tidak ingin dekat dengannya. Dane minta izin kembali ke mejanya.
Dane berjalan dengan gagahnya kembali ke mejanya. Wajahnya seolah menunjukan jika dia senang Denna sudah tidak berdansa dengan adik iparnya.
"Dane, kamu kenapa ke sana? Hal romantis mereka jadinya terganggu gara-gara kamu," ucap kesal wanita bernama Flow itu.
Dane melihat tanpa ekspresi dan malah terkesan dingin. "Rencanaku berhasil. Bersulang." Dane dengan santai mengangkat gelas dengan kaki panjang rampingnya ke atas mengajak wanita di depannya minum bersama.
Flow tercengang dengan ucapan Dane. Dia kemudian melihat pada meja Denna.
"Jadi, dia wanita itu?" Wajah Flow masih belum bisa percaya.
V pergi ke rumah Denna untuk bertemu dengan kedua orang tua Denna. Nara senang melihat V ada di sana.
"Jadi, kalian baru saja makan malam?"
__ADS_1
"Iya, Tante. Ini salah satu kejutan yang aku janjikan pada Denna saat datang ke sini. Aku ingin merayakan ulang tahun Denna dengan mengajak makan malam."
"Kamu romantis sekali." Nara menepuk pundak V.
"Hanya makan makan malam biasa, Tante."
"Oh ya, V, kamu berapa hari di sini?"
"Kurang lebih satu Minggu, Om, tapi nanti aku bisa ke sini lagi setelah menyelesaikan semua surat-surat kepindahan Aku ke sebuah desa terpencil."
"Denna pernah menceritakan tentang hal itu."
"Sebenarnya ini juga salah satu impian dari mendiang kak Dimas. Dia ingin suatu hari aku menjadi seorang dokter yang mau membantu semua yang membutuhkan jasaku tanpa memilih, dan waktu itu Kak Dimas pernah pergi ke suatu tempat saat dia ditugaskan menjaga seorang pejabat yang pergi ke suatu kota kecil dan di sana rumah sakitnya masih belum memadai, apa lagi tenaga dokternya. Banyak pasien yang akhirnya tidak tertolong karena penyakit yang sedang mewabah di sana, dahal penyakit itu dapat disembuhkan jika mendapat perawatan dan penanganan yang cepat dan tepat."
"Mulia sekali memang pekerjaan kalian, apa lagi jika dilakukan dengan hati dan niat untuk membantu sesama."
"V, kalau mau kamu boleh tinggal di sini sampai nanti kamu kembali ke negaramu."
"Terima kasih, Om, aku tinggal saja di rumahku dan Dimas yang dulu. Jujur aku merindukan sosoknya, dan tadi saat bertemu dengan Dane, aku seolah melihat kakakku ada di depanku.
"Dane? Kalian bertemu dengan Dane?"
"Iya, tadi kami bertemu dengan Dane. Dia sedang makan malam dengan kekasihnya di restoran itu."
"Apa? Kekasihnya?" Nara yang terkejut melihat pada putrinya. Wajah Denna tampak biasa saja, seolah dia tidak peduli.
"Tante dan Om. Aku permisi dulu kalau begitu karena ini juga sudah malam."
V izin pergi dari sana, dan Jaden menyuruh supir pribadinya mengantar V pulang. Jaden sebenaranya menyuruh V membawa salah satu mobilnya, tapi V tidak mau karena di bisa menggunakan motornya yang ada di rumahnya dulu yang masih bisa dia gunakan.
"Ayah, Mama, aku ke kamar dulu karena aku sangat mengantuk."
"Iya kamu tidur saja supaya besok kamu tidak kelelahan," celetuk Jaden yang langsung mendapat cubitan dari istrinya.
"Memangnya besok kenapa?"
"Ayah kamu ini bicara apa sih? Mama juga heran dan gemas dengan kata-kata ayahmu." Nara berjalan pergi dari sana.
"Ayah ada apa?"
"Tidak ada apa-apa. Sebentar, ya, ayah mau mengejar mama kamu dulu, kalau tidak nanti ayah bisa-bisa tidur di luar." Jaden mengecup cepat kening putrinya dan berjalan pergi dari sana.
Denna pun yang memang sudah sangat capek tidak mau tau lagi. Dia naik ke lantai kamarnya dan berbaring di atas tempat tidurnya sejenak.
__ADS_1