Stay Beside You

Stay Beside You
Tidak Mau Mengenal Lagi part 2


__ADS_3

Gadis dengan tubuh agak tambun itu menceritakan tentang masalah yang sedang di hadapi.


Mertua Diaz ingin sekali memiliki cucu, tapi sudah hampir dua tahun pernikahan Diaz, Diaz belum juga menunjukkan tanda-tanda hamil. Tentu saja hal itu menjadi beban buat Diaz.


"Suami kamu bagaimana? Apa dia juga menuntut kamu terus?"


"Dia sebenarnya tidak mau terlalu menuntutku, tapi karena desakan kedua orang tuanya, dia juga berharap agar aku segera hamil."


Denna tampak terdiam mendengar apa yang sahabat baiknya itu ceritakan.


"Diaz, bukannya kamu tidak ingin memiliki anak, tapi Tuhan juga belum memberikan kalian kepercayaan, kalau seperti itu juga kamu tidak bisa salahkan."


"Aku sudah pernah berkonsultasi dengan Dokter Ratna, dan dia menyuruhku melakukan beberapa tes, dan aku sudah melakukannya, bahkan Mas Rio juga."


"Lalu, hasilnya?" potong Denna cepat karena penasaran.


"Aku dan Mas Rio baik-baik saja, kami berdua tidak ada masalah dengan hal itu."


"Apa sudah kamu jelaskan kepada ayah dan ibu mertuamu?"


Wanita yang sedang menangis dalam pelukan Denna itu mengangguk perlahan. "Mereka bilang kalau tidak ada masalah, kenapa aku belum hamil? Aku harus bagaimana sekarang, Denna?" Tangan Diaz mencoba menghapus air matanya.


"Aku sendiri jadi bingung kalau begini."


Denna membiarkan sahabatnya itu supaya menangis agar merasa lebih legi hatinya. Diaz menceritakan banyak sekali kehidupannya setelah dia menikah dalam satu tahun ini.


"Diaz, kalian, kan menikah juga masih dua tahun, kenapa ibu mertuamu sudah menuntut anak seperti ini?"


"Katanya karena mas Rio anak kesayangannya dan mereka ingin menimang cucu dari Mas Rio. Kamu tau sendiri kalau kakak perempuannya mas Rio itu anak angkat mereka, walaupun kakaknya sudah punya anak, tetap saja mereka ingin cucu dari anak kandungnya."


"Huft! Mamaku sendiri juga bilang ingin aku agar segera menikah karena ingin menimang cucu. Mereka tidak tau apa yang dirasakan oleh anak-anaknya?"


"Karena kamu anak satu-satunya seperti mas Rio."


"Tapi aku belum memikirkan untuk menikah lagi, Diaz." Denna memutar putar sedotan minumannya. "Diaz, aku mau ke belakang dulu ya? Kebelet ini, tapi aku masih menunggu kamu bercerita dulu."


"Hm! Iya sana."


Denna segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari sana. Dia berlari kecil menuju toilet yang tempatnya agak jauh dari mereka duduk.


Denna tidak sengaja menabrak tubuh seseorang dan orang itu melihat pada Denna. "Maaf, aku tidak sengaja."


Pria itu melihat Denna dengan senyum miringnya. "Kamu baik-baik saja, kan?" tanya pria itu sembari mendekat pada Denna.


Denna terlihat reflek mundur selangkah ke belakang. "Aku baik, kamu sendiri tidak apa-apa, kan?"

__ADS_1


"Aku baik."


"Kalau begitu aku permisi dulu. Sekali lagi aku minta maaf."


Denna segera berjalan menuju toilet dan dia segera masuk ke dalam karena kebetulan ada yang kosong.


Setelah selesai, Denna keluar dan mencuci tangannya di wastafel. Saat melihat ke arah kaca besar di depannya, dia agak kaget melihat gadis yang dia kenal.


"Kamu Zia, kan?"


"Mba Denna? Mba Denna, kenapa ada di sini juga?"


"Aku sedang makan bersama sahabatku. Kamu sendiri sama siapa?"


"Aku sama Nio dan Mas Dane."


Denna sekali lagi dibuat terkejut, tapi dia mencoba tidak memperlihatkan keterkejutannya itu.


"Oh! Jadi, Nio ada di sini?"


"Iya, aku mengajaknya makan siang setelah dia pulang sekolah dan Mas Dane juga ikut."


"Kalian makan di mana?"


"Di food court, Mba Denna sendiri di mana?"


"Oh." Wajah Zia seketika menunjukan seolah dia tidak suka mendengar Denna juga makan di sana.


"Kalian di sebelah mananya? Aku mau menyapa Nio." Sebenarnya walaupun dia tidak ingin berhubungan lagi dengan Dane, tapi jujur saja jika Denna merindukan si kecil Nio."


"Mba, apa aku bisa minta tolong sama Mba Denna?" Nada bicara Zia terdengar serius.


Denna mematikan kran di wastafel dan melihat pada Zia yang berdiri tepat di depannya.


"Minta tolong apa?"


"Mba Denna, benar, kan tidak ada hubungan dengan Mas Dane?"


Denna terdiam sesaat dan setelah itu dia menggeleng pelan. "Aku tidak ada hubungan dengannya. Memangnya kenapa?"


"Aku menyukai Mas Dane dan aku ingin bisa lebih dekat lagi dengannya. Aku tidak masalah jika harus menjadi ibu sambung bagi Nio. Aku menyayangi Nio bukan karena dia anak mas Dane, tapi karena aku juga kenal dengan Nio. Dia anak yang baik dan pintar."


Entah kenapa di dalam hati Denna ada rasa yang tidak nyaman saat mendengar apa yang dikatakan oleh Zia.


"Mba, minta tolong kalau nanti melihat Nio di sana tidak perlu menyapanya karena aku tidak mau kebersamaanku dengan Nio terganggu oleh Mba Denna."

__ADS_1


"Maksudmu, aku bersikap pura-pura tidak mengetahui kalian di sana?" Lihat Denna mencoba menegaskan maksud Zia.


"Ya ... seperti itu, Mba. Aku bisa minta tolong, kan?"


Denna mengangguk beberapa kali dan kemudian di keluar dari kamar mandi.


Denna berjalan, tapi matanya mengedar ke setiap meja untuk mencari tau di mana Nio duduk.


"Dia di sana." Nio ternyata duduk agak jauh dari meja Denna. Apa lagi ada di tembok penyangga besar yang menghalangi jarak mereka.


Denna hanya bisa melihat Nio dari jauh. Bukannya ini yang dia inginkan agar tidak terlalu dekat dengan Dane, tapi bukan Nio sebenarnya.


"Kamu lama sekali, apa tadi mengantri?"


Denna menggeleng perlahan sambil duduk. Tangan Denna mengambil sedotan minumnya dan memutar putar lagi dengan pandangan entah ke mana?


"Denna, kamu ini kenapa? Apa tadi bertemu hantu di kamar mandi? Kenapa berubah aneh begini?" Diaz sekarang malah bingung sama Denna.


"Aku bertemu hantu wanita, dan dia ternyata tidak menyukaiku," celetuk Denna sembari bibirnya mengerucut kecil.


Diaz sampai terbatuk mendengar apa yang baru saja Denna katakan. "Hah? Ha-hantu wanita? Kamu serius?" Denna tidak merespon sampai Diaz menepuk pipi Denna.


"Aduh, Diaz! Apa sih?"


"Huft! Kamu itu yang kenapa?"


"Aku tidak apa-apa." Denna malah santai minum orange jus yang dia pesan.


"Dia ini kenapa sih? Aku yang ada masalah, tapi dia yang aneh." Diaz menggelengkan kepalanya heran.


Beberapa saat kemudian, Diaz melihat ada seorang pria mendekat ke arah meja mereka.


"Hai, kamu yang tadi bertemu denganku di kamar mandi, Kan?" Pria itu menunduk dan tersenyum pada Denna.


Denna mendongak melihat ke arah pria yang tepat berada di depannya.


"Oh, kamu yang tadi itu?"


"Iya, perkenalkan namaku Rico, kamu siapa?"


"Aku Denna. Ini temanku Diaz."


"Kalian hanya berdua? Aku juga hanya berdua dengan temanku di sana. Bagaimana kalau kalian bergabung saja di mejaku dan kita bisa mengobrol lebih nyaman?"


"Maaf, aku tidak bisa karena aku sudah menikah."

__ADS_1


"Iya, kami minta maaf karena aku dan temanku mau pulang, kami dari tadi di sini."


__ADS_2