Stay Beside You

Stay Beside You
Perasaan yang Sulit Dijelaskan


__ADS_3

Denna membalikkan badan dan melihat ada kotak kecil berwarna hitam di bawah kakinya yang Dane tadi ingin berikan.


Denna mengambilnya dan membuka kotak itu. Air mata tiba-tiba saja jatuh meluncur dengan tanpa permisi tatkala Denna melihat apa yang ada di dalam kotak itu.


Sebuah cincin berlian berbentuk bulat kecil, terlihat sangat manis. Denna menarik napasnya panjang, dan menghelanya perlahan mencoba menenangkan hatinya yang tidak karuan sekarang rasanya.


"Dia ternyata memang serius. Kenapa dia tiba-tiba ingin menikah denganku? Aku tidak bisa menikah dengannya. Tidak bisa." Denna membawa cincin yang niatnya akan dia kembalikan pada Dane.


Denna masuk ke dalam rumah, dan saat dia sampai di depan pintu kamarnya. Denna terkejut melihat ada mamanya berdiri di sana.


"Kamu dari mana?"


"Mama? Aku tadi keluar sebentar karena--."


"Ada Dane di luar?"


"Mama tau dia ke sini?"


"Mama tau dan melihat semua." Nara tersenyum dan mendekat ke arah putri semata wayangnya.


Denna menganga mendengar apa yang baru saja mamanya katanya. "Jadi, Mama tadi melihat aku dan Dane sedang--."


"Mama lihat semuanya, Sayang." Nara mencubit kecil hidung putrinya. "Sekarang coba kamu jelaskan pada mama apa yang sedang dia lakukan tengah malam begini?"


"Tidak ada apa-apa, Ma. Ma, ini sudah malam, sebaiknya kita tidur saja." Denna berjalan melewati mamanya masuk ke dalam kamar.


Nara pun ikut masuk karena tidak mungkin tidak ada apa-apa. Nara juga ingin tau arti ciuman mereka itu.


"Denna, kalau tidak mau cerita, nanti Mama tanya langsung pada Dane. Kalau perlu malam ini juga mama hubungi Dane.


"Jangan, Ma! Ya ampun, Mama!" Denna bingung apa dia harus mengatakan jika Dane mengajaknya menikah?


"Denna!" Nara melihat dengan mata mendelik pada putrinya.


Denna menunjukkan kotak pemberian dari Danne. "Dia ingin memberiku kado ulang tahun, Ma."


"Tengah malam begini?" Kedua alis Nara hampir menyatu.

__ADS_1


"Iya, Ma karena besok pagi dia harus pergi ke suatu tempat dan tidak tau kapan kembalinya."


"Oh ... Lalu, soal ciuman itu apa? Apa kamu diam-diam sebenarnya menjalin hubungan dengan Dane? Benar, Denna?" Sekarang wajah Nara tampak bersemangat.


Denna menggeleng perlahan. "Aku tidak menjalin hubungan apapun dengannya, dan dengan siapapun."


"Lalu, ciuman itu apa maksudnya?"


"Dia saja yang sukanya main cium orang, dan ini dia menciumku dua kali."


"Apa?" Nara jadi teringat akan dirinya dan Jaden dulu. "Kamu bilang tidak ada hubungan dengan Dane, tapi dia menciummu dua kali. Denna, kamu harus memperjelas semua ini. Apa Dane pernah menyatakan cinta sama kamu?" Denna menggeleng. "Lalu, kenapa dia menciummu?"


"Tidak tau, Ma."


"Denna, kamu dan Dane itu bukan remaja lagi yang memiliki hubungan hanya sekadar main-main, berpacaran tidak jelas. Kalian sudah sama-sama pernah menikah, apa lagi Dane memiliki seorang anak. Mama tidak mau dia main-main sama kamu."


"Dia tidak main-main, Ma."


"Kalau seperti itu namanya main-main, Denna. Mama akan bicarakan ini sama ayahmu, dan nanti biar ayah kamu yang bicara serius sama Dane."


"Apa? Dia melamarmu?" Nara semakin terkejut. Denna mengangguk perlahan. "Kapan?"


"Tadi, Ma. Baru saja, dan ini dia memberiku cincin ini sebagai bentuk jawaban dariku."


Nara mengambil cincin itu. "Cantik sekali cincin ini, Nak. Jadi, kamu sudah menerima ajakan menikah Dane? Mama senang sekali, Denna." Nara memeluk putrinya.


"Belum, Ma," jawab Nara pelan.


"Apa? Kenapa kamu tidak menerimanya?"


"Ma, aku dan Dane memang tidak memiliki hubungan apa-apa, dan dia tiba-tiba mengatakan ingin menikah denganku. A-aku tentu saja tidak bisa menerima begitu saja, Ma, aku harus tau maksud Dane."


"Mungkin, dia diam-diam mencintaimu, Denna."


Denna duduk di atas tempat tidurnya, dan wajahnya tampak sedang berpikir. "Dia mencintaiku? Bagaimana mungkin? Dia tidak pernah mengatakan bahwa dia mencintaiku."


Nara pun ikut duduk di sebelah Denna dan mengusap perlahan pucuk kepala putrinya. "Pria itu ada yang tipenya tidak mudah mengatakan cinta pada seorang wanita, ada juga yang dengan mudah mengatakan cinta pada setiap wanita. Dane itu tipenya seperti ayahmu dulu."

__ADS_1


"Memang ayah seperti itu?"


"Tentu saja, oleh karena itu mama sangat mencintai ayahmu karena dia tipe pria yang tidak perlu mengatakan dia mencintai mama, tapi mama tau dia mencintai mama. Kebanyakan pria yang seperti itu setia dan hanya mencintai satu wanita."


"Seperti Dimas," sekali lagi ucap Denna sedih.


"Ehem! Kalian sedang arisan apa tengah malam begini?"


Ibu dan anak itu kaget melihat Jaden tiba-tiba ada di depan pintu kamar Denna dengan muka kesalnya.


"Ayah." Denna mendekat dan memeluk ayahnya.


Seketika wajah kesal Jaden hilang saat mendapat pelukan dari putrinya.


"Kamu memang paling bisa membuat mood ayah kembali baik. Kalian ini sedang bicara apa? Kenapa tidak besok pagi saja? Apa tidak mengantuk?"


Denna melihat pada mamanya. Nara beranjak dari tempatnya dan mengajak Jaden kembali ke kamar, dan besok dia akan menceritakan apa yang dirinya dan Denna bicarakan.


Denna tampak berbaring di atas tempat tidurnya dan dia melihat terus pada cincin pemberian Dane.


"Apa sebenarnya maksudmu mengajakku menikah? Kamu diam-diam mencintaiku atau kamu hanya ingin sosok seorang istri saja yang bisa menjaga Nio? Kalau seperti itu kenapa tidak menikah dengan Zia saja?"


Sekarang Denna juga teringat akan Zia. Bagaimana perasaan Zia saat tau dirinya diajak menikah oleh Dane?


Denna yang merasa bingung akhirnya mencoba memejamkan kedua matanya agar dia dapat tidur sebentar.


Di rumahnya, Dane yang sedang berada di dalam kamar Nio. Dia berbaring tepat di sebelah putranya. Dane menatap sembari mengusap perlahan wajah bocah kecil yang tengah tertidur itu.


"Aku yakin jika keputusan yang aku ambil ini benar adanya. Denna wanita yang tepat yang bisa mendampingiku dan entah kenapa aku seolah tidak ingin dia jauh dariku?" Dane memegang dadanya. "Dimas, ini bukan karena jantungmu ada padaku? Tapi ini benar perasaan yang aku rasakan pada Denna. Aku mencintai Denna, dan aku jatuh cinta padanya," Dane berdialog sendiri.


Tidak lama terdengar suara pintu kamar Nio diketuk oleh seseorang. Dane menyuruh orang masuk.


"Tuan Muda, semua sudah disiapka. dan Anda bisa segera berangkat."


"Terima kasih, Paman Sam. Kakek akan segera pulang dan aku minta tolong untuk menjaga Arsen dengan baik di sini. Aku sudah memberi pengertian pada Arsen jika aku akan pergi dalam beberapa hari untuk suatu pekerjaan yang penting. Jadi, dia tidak perlu mencariku karena nanti aku yang akan sering menghubunginya."


"Nanti Paman juga akan mencoba membuatnya tidak merasa kesepian."

__ADS_1


__ADS_2