
Mereka mengantar Denna pulang dan Denna mengucapkan banyak terima kasih untuk malam ini.
"Denna, nanti hubungi aku ya kalau kamu ada waktu."
"Iya, nanti kalau aku ada waktu, aku kabari kamu."
"Yes, call me."
"Memangnya kamu tau jalanan menuju griya karya itu? Kamu, kan, sudah lama tidak di sini?"
"Ada Denna. Denna pasti tau." Fabio berbicara dengan menekankan satu persatu kata-katanya.
"Terima kasih, sekali lagi."
Mereka pergi dan Denna masuk ke dalam rumahnya. Dia melihat suasana di dalam rumahnya, dan kembali dia teringat dengan Dimas.
"Sebaiknya, aku tidur saja dan besok aku bisa bangun lebih pagi untuk berolahraga sebentar. Denna berganti baju dan pergi tidur.
Pagi itu, Denna bangun pagi sekali karena dia ingin berolahraga.
Denna berlari pagi sendiri di taman dekat rumahnya. Denna memutari taman di sana sambil mendengarkan musik menggunakan earphone. Denna benar-benar ingin membuat suasana hatinya lebih baik.
"Ups! Sorry."
"Aduh!" Denna memegangi lengannya yang ditabrak seseorang dengan sengaja.
Denna mematikan musik yang sedang di dengarnya. "Hai, boleh kenalan tidak?"
Denna melihat pria dengan penampilan yang tidak rapinya sedang menatap Denna dengan pandangan yang Denna tidak suka.
"Maaf, aku sudah menikah dan aku tidak bisa berkenalan dengan seorang pria seenaknya."
"Tunggu!" Tangan Denna tiba-tiba ditahan oleh pria yang ternyata mulutnya bau minuman.
"Lepaskan! Jangan kurang ajar, ya!" Denna berusaha melepaskan pegangan tangan pria itu.
"Dasar! Gadis Sombong, sok cantik." Pria itu mendorong Denna sampai wanita itu jatuh ke tanah.
"Denna!"
"Dane, kamu kenapa?" Kakek Rayhan yang sedang duduk melihat pada notebook di depannya tampak terkejut mendengar teriakan cucunya.
"Kek, kenapa aku melihat seorang wanita dan kenapa aku seolah mengenalnya?"
"Kakek tadi mendengar kamu berteriak memanggil nama seseorang."
"Denna." Dane melihat ke arah kakeknya dan dia tampak bingung.
Kakek Rayhan terkejut mendengar nama yang baru saja Dane sebutkan.
__ADS_1
"Kamu sebaiknya istirahat saja dan tidak perlu memikirkan hal itu." Tangan pria tua itu mengusap lembut kepala cucunya.
"Kek, kenapa aku seolah mengenal nama wanita itu? Apa kakek kenal dengan nama yang aku sebutkan? Karena aku merasa tidak mengenal nama itu."
"Dane, kakek tidak mengenal nama wanita yang kamu sebutkan itu. Sebaiknya kamu istirahat saja lagi karena hal itu bisa membuat kesembuhan kamu lebih cepat pulih."
Kakek Rayhan sangat merasa bersalah sebenarnya pada cucunya itu, dia malah berbohong dengan mengatakan tidak mengenal nama Denna, padahal Denna adalah wanita yang sangat berjasa untuk hidup cucunya.
Di tempat Denna, pria yang berani membuat Denna sampai sikutnya terluka itu di bawa orang-orang di sana yang menolong Denna ke pihak berwajib.
Denna tampak menangis melihat sikutnya yang terluka. Dia lalu berjalan pulang ke rumahnya. Denna mengobati luka pada sikutnya sendiri dan dia teringat dengan suaminya.
Jika saja ada Dimas, maka pria itu tidak akan bisa menyakitinya. Tidak lama bel pintu di rumahnya berbunyi, dia membuka pintu dan ternyata ada kedua orang tuanya berada di sana.
"Sayang, kamu kenapa?" Nara langsung cemas melihat Denna yang terlihat baru menangis.
"Aku tidak apa-apa, Ma."
"Sayang, ada apa? Apa kamu ada masalah? Katakan pada ayah."
"Tidak ada, Yah."
Nara melihat pada sikutnya Denna yang luka. "Ini kenapa?" Nara memeriksa sikut Denna.
"Ini tadi jatuh saat aku berlari pagi." Denna terpaksa berbohong karena dia tidak mau kalau sampai ayahnya marah dan pria itu pasti tidak akan selamat di tangan ayahnya.
"Bisa saja, Yah. Aku tadi melamun dan tersandung sampai jatuh." Denna memeluk ayahnya.
Jaden meminta tolong Nara mengambilkan kotak obat dan dia yang mengobati luka pada sikut putrinya.
"Sayang, kamu kenapa tidak mau tinggal saja dengan ayah dan mama?"
Denna menggeleng. "Aku tidak apa-apa tinggal di sini sendirian, Yah. Ayah dan Mama tidak perlu khawatir."
"Kamu itu susah sekali kalau diberitahu. Keras kepala."
"Seperti mama, ya?" Denna melirik pada mamanya.
"Iya, kamu mirip sekali dengan mama kamu."
"Hem! Kenapa yang jelek-jelek selalu aku dibawa-bawa?"
Mereka berdua malah tersenyum bersama. Nara ke sana membawakan makanan untuk Denna yang dia masak sendiri.
Hari ini dia ingin makan bersama dengan putri dan suaminya. Denna tampak senang melihat ada kedua orang tuanya di sana.
"Denna, apa mama boleh bertanya sesuatu?"
"Tanya apa, Ma?"
__ADS_1
"Apa kamu dan V memiliki hubungan khusus?"
"V?" Denna agak terkejut mendengar pertanyaan mamanya.
"Iya, V, adiknya Dimas. Mama melihat kamu dan dia sangat akrab. Apa kalian ada hubungan spesial?"
"Maksud Mamamu, apa kamu berpacaran dengan V itu? Jujur saja ayah tidak terlalu setuju kalau kamu sama V."
"Hm! Kamu kenapa bicaranya tidak difilter dulu? Kalau tidak suka, jangan langsung bicara seperti itu."
"Kamu tau kalau aku tidak suka basa basi."
"Kata siapa? Buktinya dulu basa basi sekali kalau cinta sama aku."
Jaden malah tertawa senang diingatkan oleh istrinya tentang masa lalunya.
Denna senang melihat kedua orang tuanya seperti itu. Dia ingin sekali seperti kedua orang tuanya jika Dimas masih bersamanya.
"Denna, kamu sebaiknya segera mencari pasangan hidup lainnya agar tidak kesepian tinggal di sini sendiri."
"Mama, aku masih belum memikirkan tentang hal itu. Aku masih belum bisa melupakan suamiku." Denna tampak tertunduk sedih.
"Nara, biarkan saja dia. Nanti kalau dia sudah siap menjalin hubungan dengan seseorang pasti dia akan menjalaninya, tapi jangan lupa nanti kenalkan pada ayah dan biar ayah yang menyeleksinya dulu."
"Ayah, tidak usa ikut campur."
"Harus, Sayang, aku tidak mau anakku menikah dengan orang yang salah nantinya."
"Tidak akan salah. Denna pasti bisa memilih jodohnya."
Setelah selesai makan pagi bersama Denna izin pergi ke tempat di mana dia ada pertemuan dengan para dokter muda.
Nara dan Jaden pulang ke rumah mereka.
Di tempat pertemuan Denna dengan telaten dan sabar menjelaskan serta menjawab semua pertanyaan yang mereka tanyakan.
"Dok, boleh bertanya hal yang sangat penting tidak?" ucap salah satu dokter muda. Pria dengan tubuh jangkung dan putih itu tersenyum pada Denna.
"Tentu saja boleh. Kamu mau bertanya apa?"
"Apa Dokter Denna sudah menikah?"
Seketika suasana di sana yang tadinya tenang menjadi riuh karena dokter muda lainnya malah tertawa mendengar pertanyaan dokter muda yang bisa dibilang tampan itu.
"Aku sudah menikah, Dimas, dan nama suamiku sama dengan nama kamu."
Semua sekarang kembali bersorak menertawakan pria yang bernama Dimas juga. Mereka mengusap punggung Dimas muda seolah merasa kasihan dengan pria itu.
"Ya ... aku patah hati kalau begini," celetuknya, dan kembali susana menjadi riuh.
__ADS_1