Stay Beside You

Stay Beside You
Keputusan Terbaik part 1


__ADS_3

Denna duduk termenung di ruangannya setelah dia visit ke kamar ruang rawat inap anak-anak pasiennya. Diaz yang datang dengan Sita melihat sahabatnya itu heran karena beberapa hari ini Denna tampak ceria, tapi kenapa hari ini dia merenung seperti itu?


"Putus sama Dane ya, kamu?"


"Diaz! Jangan menggangguku." Denna berpindah posisi membelakangi sahabatnya itu.


"Hem beneran putus ini anak sepertinya. Kamu kenapa, Sih? Cerita sama aku, Denna, jangan malah membelakangi aku seperti ini?" Diaz menarik tubuh sahabatnya agar menoleh padanya.


"Aku sedang tidak ingin membahas masalah Dane. Aku tidak mau bicara soal dia?"


"Oh ... jadi ini soal Dane? Kalian bertengkar?"


"Dia pembohong, dan aku membencinya, Diaz."


"Berbohong soal apa? Apa dia memiliki wanita lain?"


"Bukan soal wanita lain, tapi ada hal yang lebih menyakitkan bagiku."


"Soal apa? Setahuku wanita lain dalam kehidupan percintaan atau rumah tangga itu sangat menyakitkan, Denna," ucap Diaz lirih.


Denna mengerti yang di maksud oleh Diaz. "Diaz, maaf." Denna memeluk Diaz.


"Bunda, bunda kenapa?"


"Bunda tidak apa-apa, Sayang, kamu main saja." Tangan Diaz mengusap perlahan pucuk kepala Sita.


"Bunda? Kamu dipanggil Sita dengan sebutan Bunda?"


Diaz mengangguk. "Sita tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, dan aku juga ingin sekali memiliki anak. Jadi, kita saling melengkapi. Aku sangat bersyukur akan kehadiran Sita dalam hidupku. Aku seolah memiliki kekuatan untuk menghadapi semua ini."


"Menyenangkan sekali jika ada yang memanggil kita dengan. sebutan itu ya, Diaz." Denna sekarang yang gantian terlihat sedih.


"Kenapa kamu bersedih?"


"Aku mencintai Dane, Diaz." Sekarang Denna malah menangis dipelukan Diaz.


"Kalau kamu mencintai dia, kenapa menangis? Tidak salah jika kamu jatuh cinta lagi sama orang lain."


"Tapi aku tidak bisa bersama Dane, dia tidak tau arti kepercyaan. Dia membohongiku."

__ADS_1


"Membohongi soal apa? Denna, kita juga pernah berbuat salah, tapi jika mau berubah apa salahnya kita memaafkan?"


"Dia seorang mafia yang memiliki banyak bisnis gelap dan selalu berhubungan dengan hal yang berbahaya. Waktu dia di luar negeri, aku menghubunginya dan dia sedang dirawat di sebuah rumah sakit. Saat aku bertanya dia kenapa, dia bilang perutnya baru saja ditusuk oleh pencuri yang mau merampok saat dia di minimarket, tapi ternyata dia berbohong. Dia hampir saja terbunuh oleh musuhnya dan banyak sekali luka yang dia alami. Dia pembohong, Diaz."


"Oh Tuhan! Dia bukan orang baik kalau begitu. Mafia itu sangat kejam dan suka saling bunuh dengan lawan bisnisnya. Aku benar-benar tidak. menyangka jika Dane orang yang seperti itu."


"Aku tidak akan mungkin bisa bersamanya, Diaz. Aku tidak mungkin memilih pria seperti itu untuk menjadi suamiku. Aku bukannya takut siapa dia, tapi aku takut akan kehilangan orang yang aku cintai. Hidupnya tiap hari akan selalu dipenuhi dengan hal yang buruk."


"Iya juga, sih! Aku jadi bingung kalau begini. Kamu sangat mencintainya, tapi kalau kamu sama dia yang ada hidupmu akan tidak tenang selalu memikirkan dia dalam bahaya, bahkan kamu juga."


"Apa aku harus melupakan dia?" Denna menundukkan kepalanya dia atas meja melihat ke bawah kakinya.


"Aduh! Pusing juga kalau begini."


"Aku membencimu, Dane. Benci, sangat benci," ujarnya kesal.


Diaz menarik tubuh Denna agar mau melihatnya. "Denna, menurutku kamu harus ikuti saja apa kata hatimu. Dengarkan apa yang hatimu tuntun, dan kalau kamu memang sangat mencintai Dane, kenapa tidak mencoba saja menjalin hubungan dengannya dan biarkan waktu yang menjawab semua ketakutan yang kamu pikirkan."


"Aku takut masih ada lagi yang dia sembunyikan dariku, aku takut salah memilih seseorang, aku takut jatuh cinta pada orang yang salah."


"Aku tidak menyalahkanmu jika kamu memiliki ketakutan itu. Apa lagi prinsip hidupmu dan dia pasti banyak bedanya."


"Aku tidak tau, Diaz. Sebaiknya aku pulang saja, aku mau menenangkan diriku di rumah."


Denna sedang merapikan baju-baju yang ada di dalam lemarinya. "Andai aku bisa bertemu dengan Nio, akan aku ajak dia menginap di sini."


Denna sangat merindukan bocah kecil yang adalah putra dari Dane.


Pintu rumah Denna diketuk oleh seseorang, Denna yang melamun tampak teesadar dan segera keluar melihat siapa yang ada di rumahnya.


"Selamat malam, Sayang!"


"Mama, ayah? Kalian datang ke sini!" Denna dengan cepat memeluk kedua orang tuanya itu.


"Mama dan ayah tadi jalan-jalan dan ingat dengan kue kesukaanmu. Jadi, mama dan ayah bawakan kue ini untuk kamu."


"Kalian dari mana? Pacaran terus." Denna mengerucutkan bibirnya.


"Mama minta tolong ayah pergi ke pusat perbelanjaan karena mau membeli beberapa batang yang dibutuhkan untuk besok bawa ke Villa. Kamu lupa kalau besok kita akan pergi ke villa itu?"

__ADS_1


Denna sedikit terkejut. Dia memang lupa akan hal itu. "Villa?" Denna ingat jika di villa itu Dane akan menunggu jawaban dari Denna.


"Ma, aku tidak mau ikut ke Villa." Denna duduk dengan malas di atas sofa panjang miliknya.


"Loh, kenapa tidak mau ikut? Besok itu selain kita berlibur juga ada acara penting, Nak."


"Tapi aku benaran lagi malas untuk ke mana-mana. Aku mau di rumah saja sekalian mau mendekorasi rooftop baruku, Ma."


"Jangan bicara seperti itu, Nak. Kamu mau nenek kecewa?"


"Iya, Denna, kasihan nenek. Apa kamu tidak mau datang karena masalah kamu dan Dane?"


"Jangan sangkut pautkan hal ini dengan masalah kalian karena kita sudah merencanakan ini sebelum kamu dan Dane ada masalah. Nio pun pasti akan bertanya jika kamu tidak datang."


"Ma, aku benar-benar tidak bisa ikut."


Nara dan Jaden saling melihat. Mereka sepertinya tidak dapat memaksa Denna.


"Sayang, kami akan menghormati keputusan kamu. Nanti mama akan coba bicara pada Nenek."


"Terima kasih, Ma. Ma, bagaimana kalau kita makan kuenya bersama di sini. Kalian, kan, tidak pernah makan bersama di sini."


"Iya, ayo kita makan!"


Denna mengambilkan piring kecil dan garpu untuk kedua orang tuanya.


"Denna, rumah sebelah itu sudah ada yang menempati, ya? Tadi mama lihat ada beberapa orang menurunkan barang-barang di sana."


"Tidak tau, Ma. Dulu memang ada orang yang menempatinya, tapi mereka pergi ke luar negeri lama, mungkin mereka sudah kembali atau memang sudah dibeli oleh orang lain."


"Kalau semakin banyak tetangganya akan semakin ramai dan lebih aman saja."


"Iya, Ma. Sejak kejadian di rumahku waktu itu, keamanan di sini semakin diperketat, dan aku juga merasa tidak takut sekarang karena ada pengawal ayah yang sangat hebat."


"Kamu juga harus tetap berhati-hati dan waspada. Semprotan bawang juga jangan sampai jauh dari kamu."


"Siap, Ayah."


Malam itu mereka bertiga tampak senang. Denna juga terlihat bahagia meskipun di dalam hatinya dia masih memikirkan tentang Dane dan besok apa dia sebaiknya datang atau tidak perlu.

__ADS_1


Mungkin sebaiknya dirinya datang dan membuat jelas jika dia dan Dane memang tidak bisa bersama, tapi Denna juga tidak ingin bertemu Dane dulu. Jika dia tidak datang, itu sama artinya sudah jelas juga, bahwa Denna menolak menikah dengan Dane.


"Sayang, kami pulang dulu. Kamu jaga baik-baik dirimu selama kita pergi ke villa. Sayang, apa tidak mau memikirkannya lagi?"


__ADS_2