
Denna sudah selesai dengan pekerjaannya. Dia izin pulang, dan saat berjalan di lorong rumah sakit ada dokter muda yang bernama sama dengan nama mendiang suami Denna.
"Dok, aku minta maaf, tidak seharusnya tadi bertanya di mana suami dokter yang tidak mengantar jemput dokter."
"Tidak apa-apa, Dimas, aku sama sekali tidak marah sama kamu."
"Tetap saja aku salah sudah mengungkit mendingan suami Dokter Denna."
Denna tersenyum kecil. "Kamu tenang saja. Ya sudah! Aku mau pergi dulu karena aku mau ke makam suamiku karena hari ini dia berulang tahun.
"Oh." Wajah Dimas muda tampak terkejut dan merasa sedih.
Denna berjalan dengan riangnya, dan hal itu membuat Dimas muda tampak salut dengan ketegaran hati Denna.
Denna sebelum ke makam Dimas, dia membelikan bunga untuk dibawa ke makam Dimas.
"Selamat ulang tahun, Sayang. Aku sangat merindukanmu, apa kamu di sana juga merindukanku?" Denna mengusap air matanya, dia meletakkan bunga yang dia beli tepat di atas makam Dimas.
Denna duduk di samping makam suaminya itu dan banyak bercerita tentang apa yang dia alami beberapa hari ini.
Setelah selesai merayakan hari ulang tahun suaminya, Denna pergi dari sana, tapi sebelum pulang dia menuju pasar tradisional untuk membeli bahan masakan yang akan dia buat besok dengan Nio.
"Besok aku akan banyak menghabiskan hari liburku dengan bocah kecil yang tampan dan lucu itu. Andai aku dan Dimas memiliki anak seperti Nio, aku akan memiliki alasan untuk tetap kuat menjalani semua ini." Denna kembali menangis di dalam mobilnya.
Denna ini sebenarnya hancur di dalamnya, tapi dia masih mencoba bertahan dan bertahan. Dia selalu menunjukan bahwa dia kuat, tapi kadang dia berpikir untuk apa dia di dunia ini tanpa pria yang sangat dia cintai? Kadang dia berpikir jika dia memiliki seorang anak, mungkin anaknya lah yang bisa membuat dia memiliki semangat untuk tetap hidup.
Sampai di rumah, Denna segera memasukkan barang belanjaannya dia kemudian beristirahat.
Malam itu, di kamarnya Dane sedang duduk di atas ranjangnya sambil melihat ke arah luar jendela. Dane melihat suasana malam yang terasa aneh baginya, dia benar-benar seolah ada hal yang membuat hatinya merasakan sesuatu yang dia sendiri tidak tau apa itu? Tangan Dane memegang tepat pada jantung barunya.
"Siapa Denna? Kenapa aku malah memanggil namanya?"
Tidak lama pria tua yang sudah dia anggap ayahnya sendiri masuk ke dalam kamar dengan membawa goodie bag berwarna hitam.
"Tuan Muda Dane, ini barang-barang yang kamu minta paman bawakan."
__ADS_1
Dane melihat ke dalam goodie bag itu guna memeriksa apa barang yang dia minta ada semua di sana.
"Terima kasih, Paman. Kakek apa tidak datang ke sini?"
"Kakek Tuan Muda berada di rumah menemani putramu karena putramu itu ingin menceritakan bagaimana beraninya dia mengikuti lomba di sekolahnya, dan dia memenangkan juara satu atas lomba bercerita di depan semua teman-teman satu sekolahnya dan para guru."
"Benarkah? Dia memang anak yang pemberani."
"Karena dia adalah putramu. Tuan Muda, kakek pasti akan marah jika tau aku membawakan ponsel dan laptop milikmu karena kakek ingin kamu lebih banyak beristirahat dulu dan jangan memikirkan pekerjaanmu dulu."
"Kakekku tidak akan marah, karena ada hal yang harus aku lakukan. Aku sudah lama tertidur dan tidak melakukan apapun Paman."
Pria tua yang berdiri di samping Dane itu hanya bisa menghela napasnya pendek.
"Sebenarnya kamu bisa memintaku menyelesaikan pekerjaanmu, tidak perlu kamu yang melakukannya."
Dane melirik pada paman Sam. "Apa Paman Sam mau mengatakan siapa orang yang mentransplantasikan jantungnya padaku?"
Paman Sam agak kaget dengan pertanyaan Dane. "Aku sudah tau jika Paman tidak akan pernah mengatakannya karena Paman Sam sama dengan kakekku."
"Tuan Muda, kenapa sangat memaksa untuk mengetahui siapa pendonor jantung itu? Kenapa Tuan Muda membuat kakek menjadi bingung dengan hal ini."
Dane mengambil ponselnya dan dia menghubungi seseorang. Paman Sam yang mengetahui siapa Dane yakin jika pria ini pasti bisa menemukan hal yang sedang dia cari.
Paman Sam pasti nanti akan menceritakan masalah ini pada kakek Rayhan.
"Memangnya apa yang akan Tuan Muda lakukan jika mengetahui siapa yang mendonorkan jantung itu?"
"Setidaknya aku bisa mengucapkan terima kasih dan berbuat sesuatu hal yang pantas untuk keluarganya karena aku orang yang tau balas budi."
"Kalau dia tidak mau menerima semua balas budimu karena dia ikhlas menerimanya jantung orang yang dia sayangi, bagaimana?"
"Dia? Maksud Paman?" Kedua alis tebal Dane mengkerut.
"Sudahlah! Ini sudah malam sebaiknya kamu beristirahat karena aku mau menghubungi seseorang untuk menanyakan tentang masalah uang perusahaan yang sudah disabotase oleh pegawai kakekmu."
__ADS_1
"Apa? Salah satu pegawai kakek berani mencari masalah dengan kakek?" Dane tersenyum miring.
"Mungkin dia melihat kakek kamu orang yang terlihat kalem dan sabar, tapi dia tidak tau siapa kakekmu, dan Paman akan mendapat tugas yang lebih berat lagi setelah ini." Pria tua itu berjalan keluar kamar Dane.
Dane kembali menatap pemandangan malam yang tampak cerah ini karena banyak sekali bintang bertaburan di atas langit malam ini.
Di tempatnya, Denna yang juga sedang duduk di dekat jendela kamarnya melihat ke atas langit dengan tersenyum, dia seolah membayangkan melihat wajah Dimas tersenyum padanya.
"Dimas," ucapnya lirih.
"Denna," ucap Dane dari tempatnya.
Pagi itu, Nio yang bangun pagi sekali karena dia semangat ingin pergi ke rumah Denna, berlari menuju kamar kakeknya.
"Kakek, ayo berangkat sekarang!" serunya senang.
"Iya, Nio, kamu sabar dulu karena kakek masih memakai baju."
"Kakek lama sekali, nanti Dokter Cantik sudah menunggu Nio."
Pria itu mengusap kepala Nio. "Kamu tenang saja, Dokter cantik akan sabar menunggu Nio datang."
Nio akan ke rumah Denna dengan diantar oleh kakek Rayhan karena kakek Rayhan juga ingin bertemu dengan Denna.
Di dalam mobil Nio sudah tidak sabar bertemu dengan Denna. Dia tampak sangat bahagia sampai menanyakan apa masih lama sampainya?
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan rumah Denna, dan ternyata Denna sedang berada di depan halaman rumahnya sedang menyiram tanamannya.
"Pagi Dokter Cantik!" sapa Nio yang baru turun dari mobil.
"Nio? Pagi sekali datangnya? Aku kira masih nanti agak siangan."
"Nio tidak sabar ingin main ke rumah Dokter Cantik. Dokter Cantik sedang apa?" Bocah kecil itu berjalan mendekati Denna.
Kakek juga turun dan menyapa Denna.
__ADS_1
"Pagi juga, Kek. Terima kasih sudah mengizinkan Nio ke sini."
"Aku yang berterima kasih kamu sudah mau direpotkan nantinya sama Nio."