
Denna agak terkejut dengan cerita Nio. Ternyata Nio marah pada anak itu karena mengatakan jika Nio memiliki mommy yang tidak bisa berjalan.
"Dia mengejekku beberapa kali. Katanya mommyku tidak berguna kalau tidak punya kaki, aku sudah mendiamkannya, tapi dia kemudian menjewer telingaku dan mengatakan mommyku tidak berguna tepat di telingaku."
"Lalu, kamu memukulnya?"
"Aku mendorongnya hingga jatuh dan aku menindihnya serta memukulnya. Aku bilang agar dia menjaga mulutnya."
Denna melirik pada Dane dan memberi isyarat agar dia meminta maaf pada Nio.
Dane masih terdiam di tempatnya. Denna terlihat kesal pada Dane. Dia seharusnya meminta maaf pada putranya karena sudah memarahinya tanpa mau mengajak bicara dulu.
"Sayang, aku minta maaf karena sudah tadi kesal sama Nio. Nio tidak salah jika memukulnya karena dia sudah melukai Nio lebih dulu."
"Nio sebenarnya tidak mau memukulnya, tapi dia sudah keterlaluan."
"Setiap orang itu memang punya batas kesabaran sendiri-sendiri. Nio juga sudah cukup bersabar. Oh ya! Ada yang ingin minta maaf juga pada Nio." Denna tiba-tiba menarik tangan Dane yang membuat pria itu terkejut.
"Daddy." Nio melihat ada daddynya.
Dane melihat pada Dena dan lagi-lagi Denna memberi isyarat agar Dane meminta maaf pada putranya.
Dane duduk berjongkok mensejajarkan dirinya dengan putranya.
"Jagoan, Daddy minta maaf sudah memarahimu seperti itu."
"Aku bukan anak nakal atau berandalan seperti yang dikatakan ibu itu. Aku tidak memukulnya walaupun dia menghinaku, tapi aku akan memukulnya jika dia menyakitiku. Itu yang Tante Dokter katakan padaku."
Dane seketika melihat pada Denna. Denna langsung mengalihkan perhatiannya.
"Daddy yang salah sebenaranya dalam hal ini sama Arsen. Daddy memang jarang sekali memperhatikan Arsen, dan mengajak kamu berbicara. Daddy berjanji, jika mulai sekarang, Daddy akan sering mengajak kamu berkomunikasi dengan baik."
"Aku sayang sama Daddy." Tangan bocah kecil itu memeluk leher Dane dengan erat.
"Daddy juga sayang dengan kamu, Jagoan."
Dena tampak terharu melihat kedekatan dua pria beda usia itu. "Dane, mau mengantar kita ke cafe dekat sini, tidak?"
"Di sana itu?" Tunjuk Dane yang melihat dari tempatnya ada cafe yang tampak tidak begitu ramai.
"Iya, di sana ada ice cream dan aku mau membelikan untuk si jagoan yang pemberani yang sudah membelaku."
"Aku akan antarkan."
"Nio, kamu pasti capek, kalau begitu kamu duduk di sini dan biar Daddy kamu yang mendorong kita."
__ADS_1
"Apa nanti kaki Tante Dokter tidak sakit?"
"Tidak, kakiku baik- baik saja. Mereka saja yang melebih-lebihkan."
Denna menyuruh Nio duduk dipangkuannya dan Dane akhirnya mendorong mereka.
"Seru sekali!"
"Apa kamu senang?" Denna menggelitik Nio sampai bocah itu kegelian. Dane merasa jika pemandangan dua orang itu begitu manis.
Mereka masuk ke dalam cafe itu dan si pemilik yang mengenal Denna langsung menghampiri Denna.
"Kamu kenapa?"
"Tidak kenapa-napa hanya ada insiden kecil."
"Lalu, mereka siapa?"
"Ini Nio dan ayahnya. Dia pasienku waktu itu."
"Oh ... tampan juga." Wanita yang lebih pantas menjadi kakak Denna itu melihat Danne dan atas sampai bawah. Dia kemudian menunduk dan berbisik pada Denna. "Kalian pas sekali, terlihat seperti sebuah keluarga," bisiknya diiringi dengan kekehan kecil.
"Apa sih?" Denna menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan wanita itu.
Denna kemudian memesana dua cup ice cream vanilla dan satu coklat stroberi.
Dane tau jika dari tadi mobil hitam itu mengawasi keberadaanya. Tidak lama ponselnya berdering dan dia tau siapa yang menghubunginya.
"Aku senang melihat kamu sudah jauh lebih baik."
"Apa maumu?"
"Tidak ada, aku hanya ingin mengingatkan jika apa yang terjadi pada adikku adalah kesalahanmu dan jangan begitu mudah kamu melupakan hal itu dengan cara mendekati dokter cantik itu."
"Jangan bicara sembarangan. Kalau kamu tidak tau apa-apa, lebih baik diam."
Denna yang mendengar pembicaraan Dane melihat heran pada Dane.
Dane kemudian menutup panggilannya dan mobil itu pergi dari sana.
Denna tidak berani bertanya pada Dane karena dia juga tidak mau mencampuri urusan orang lain.
Tidak lama ice cream mereka datang, tapi ice cream vanilla hanya ada satu.
"Denna, mau ganti coklat tidak? Aku minta maaf jika vanillanya sudah habis, hanya ada coklat, stroberi dan durian."
__ADS_1
"Kalau begitu tidak usah, aku sedang tidak ingin rasa lainnya."
"Kalau begitu kamu ambil saja punyaku." Dane memberikan ice cream miliknya.
"Tidak, Dane. Kamu makan saja punya kamu dan aku tidak masalah kalau tidak makan ice cream."
"Begini saja biar adil." Wanita pemilik cafe itu mengambil sesuatu dari dalam kantong apronnya dia memberikan dua sendok ice cream pada Denna dan Dane.
"Apa ini?" tanya Denna heran.
"Sendok ice cream dan kalian bisa berbagi ice cream vanilla yang hanya ada satu itu. Adil, kan?
Wanita itu pergi dari sana, dan keduanya malah saling memandang. "Kamu habiskan saja, Denna."
"Kamu saja, Dane."
Di atas meja malah ada adegan saling dorong mendorong cup ice cream.
"Kalau kalian tidak mau, biar aku saja yang menghabiskan. Kasihan ice cream itu pusing nanti," kata Nio.
Mereka berdua malah saling melihat. "Nio, tidak boleh makan ice cream terlalu banyak."
"Lalu, apa ice cream yang hampir meleleh itu mau dibuang, Tante Dokter?"
"Tidak dibuang, biar Daddy kamu yang menghabiskan."
Denna melihat pada Dane dengan meringis. "Kita habiskan berdua. Bagaimana?"
Dane tidak menunggu Denna menjawab. Dia menyendokkan ice cream dan menyodorkan pada Denna. Denna hanya diam melihat sendok ice cream yang ada di depannya.
"Tante Dokter ayo makan, nanti leleh ice creamnya."
"I-iya." Denna akhirnya mau makan ice cream dari suapan yang diberikan oleh Dane. Dane pun tidak merasa jijik memakai sendok yang dia suapkan pada Denna.
Nio tiba-tiba menempelkan ice creamnya pada pipi Denna sehingga wanita itu terkejut dan dia membalasnya. Dua orang itu bercanda meninggalkan Dane yang hanya bisa menyaksikan pemandangan manis itu sekali lagi.
Beberapa menit kemudian. Ice cream mereka sudah habis, dan Denna menyuruh Nio untuk minum air putih lebih banyak.
"Aku sudah minum air yang banyak. Jadi, aku tidak akan batuk, kan, Dokter Cantik?"
Denna tersenyum mendengar Nio kembali memanggilnya dokter cantik.
"Nio, panggil aku Tante Denna saja. Aku jadi malu jika kamu memanggil dokter cantik."
"Tante Dokter, oh maksud aku, Tante Denna memang cantik. Andai aku sebesar Daddy, aku mau jadi pacar Tante Denna."
__ADS_1
"Kamu itu masih kecil, jangan berbicara tentang hal orang dewasa. Berpacaran itu untuk orang yang sudah dewasa. Kalau masih kecil namanya bersahabat."