
Dane seolah menyadari sesuatu dan dia berlari turun ke lantai bawah ingin mengejar Denna.
"Denna! Sakit," rintih Dane dengan tangan memegang dadanya.
Denna yang mendengar suara pria yang membuat hatinya tidak nyaman segera menoleh dan benar dia melihat Dane merintih dengan memegang dadanya.
"Dane, kamu kenapa?" Denna membopong Dane duduk di sofa panjang yang ada di ruang tengah. Denna segar mengambil air yang ada di atas meja dan memberikan pada Dane.
Setelah minum sedikit Dane mencoba membuat rileks tubuhnya, dia mengambil napas secara perlahan-lahan.
"Terima kasih."
"Kamu kenapa? Apa kita ke dokter saja?" Raut wajah wanita itu tampak cemas.
"Aku sendiri tidak tau kenapa seperti ini." Tatapan nanar Dane membuat Denna seolah enggan pergi dari sana.
"Apa mau aku antar ke dokter? Kamu harus memeriksakan dirimu, Dane."
"Tidak apa-apa, ini sudah lebih baik." beberapa menit Dane menatap wanita di depannya. "Jangan pergi, kamu di sini saja. Mau, kan?" tanya Dane dengan masih menatap Denna lekat.
Denna ingin saja mengangguk dengan cepat, tapi yang keluar dari bibirnya malah lain. "Tapi di sini ada Zia. Dia akan membantumu, Dane."
"Tapi aku ingin kamu di sini."
Entah kenapa Denna seolah senang sekali mendengar kata-kata Dane dan akhirnya dia mengangguk perlahan.
"Loh, Mba Denna belum pulang?"
Denna dan Dane kaget mendengar suara Zia. Mereka menoleh dan melihat Zia menggendong Nio.
"Tante Denna, kata Bu Guru Zia tadi Tante sudah pulang."
"Iya, tadi Tante mau pulang, tapi--." Denna melihat ke arah Dane.
"Daddy yang menyuruhnya tetap di sini karena tadi Daddy juga minta diperiksa oleh Tante Denna kamu. Dada Daddy terasa sakit."
"Memangnya Daddy anak kecil minta diperiksa oleh Tante Denna? Tante Denna, kan, dokter anak-anak "
__ADS_1
"Tentu saja bisa. Tante Denna dokter yang pintar, bukannya Arsen sendiri yang bilang."
"Iya, ya. Kalau begitu Tante Denna berikan saja resep obat yang sangat pahit untuk Daddyku."
Bocah kecil itu tertawa lucu dan Dane beranjak dari duduknya untuk gantian menggendong putranya.
"Memangnya Arsen mau Tante Denna pulang?"
"Tentu saja tidak, aku malah senang Tante Denna ada di sini kalau perlu menginap di sini."
"Tidak bisa, Sayang. Kamu saja yang kapan-kapan menginap di rumahku, nanti setelah aku pindah ke rumahku yang dulu. Jadi, kita bebas utuk melakukan apa saja, bahkan membuat dapurku kotor." Denna mencubit hidung Nio.
"Okay! Aku mau!" seru bocah itu senang.
"Kamu mau kembali ke rumahmu yang dulu?" tanya Dane kaget. .
"Iya, aku mau kembali ke sana."
"Kenapa? Apa kamu tidak takut dengan kejadian waktu itu? Denna, sebaiknya jangan tinggal di sana sendirian karena tidak akan baik untuk wanita sendiri seperti kamu. Apa lagi di sana juga penjagaannya tidak terlalu ketat."
"Kamu tenang saja karena aku akan meminta ayahku untuk memberikan satu pengawal kepercayaannya menjaga di rumahku."
"Nanti apa?"
"Sampai nanti kamu menikah dan ada yang melindungimu."
"Aku masih belum memikirkan hal itu, Dane. Aku memutuskan tinggal di sana lagi karena aku tidak mau merepotkan kedua orang tuaku. Aku harus bertanggung jawab dengan hidupku sendiri."
Zia berdiri tepat di samping Dane. "Benar apa kata Mas Dane, Mba. Mba Denna harus segera mencari pasangan lagi dan tinggal di rumah impian kalian. Apa mau aku bantu carikan? Teman-teman guruku sangat banyak. Mereka juga termasuk para guru yang baik dan berprestasi membawa anak muridnya menjadi juara di bidang mata pelajaran masing-masing."
"Terima kasih, Zia, tapi aku belum memikirkan hal itu." Denna tersenyum kecil.
"Mba Denna jangan bilang begitu. Nanti kalian pasti cocok karena satu Dokter dan seorang guru. Perpaduan yang unik." Zia terekek senang.
Denna melihat pada Dane yang wajahnya tampak datar saja, bahkan terkesan dingin.
"Terima kasih sekali lagi, Zia, tapi menikah itu tidak sekedar mengucapkan sebuah janji suci. Banyak hal yang masih perlu dipikirkan. Apa lagi aku masih sangat mencintai mendiang suamiku."
__ADS_1
"Memang sulit melupakan orang yang sangat kita cintai. Apa lagi dia orang pertama yang membuat kita jatuh cinta." Zia melihat pada Dane.
***
Dane terlihat bahagia karena keadaan Nio sudah lebih baik saat ini. Nio sedang bermain dengan Denna, sedangkan Zia berada di dapur untuk menyiapkan kue yang dia beli.
Paman Sam yang melihat hal itu hanya bisa menghela napasnya panjang karena paman Sam bisa melihat jika Zia seperti menyukai Dane, tapi tuan mudanya itu sepertinya tidak memiliki perasaan apapun pada Zia, malahan Dane seperti lebih memperhatikan wanita cantik yang selama ini tulus dekat dengan anaknya, yaitu Denna.
"Nio, aku ambilkan minum dulu. Denna seketika beranjak dari tempatnya karena Nio tiba-tiba terbatuk.
Danne di sana sedang menerima telepon dari rekan bisnisnya. Denna berdiri di samping Zia yang sedang memotong kecil kue yang dia beli.
"Mba Denna tidak mencintai Mas Dane, kan?"
Denna melihat datar pada Zia. "Aku dan Dane tidak ada hubungan apa-apa."
"Tapi kenapa aku melihat Mba Denna seolah ingin sekali dekat dengan Mas Dane?" Zia menghentikan pandanganya dan melihat menelisik pada Denna.
Denna lama-lama sebal dengan gadis di depannya ini. "Kamu mencintai Dane, kan? Silakan buat dia jatuh cinta sama kamu, dan aku tidak akan menghalangi itu karena memang aku tidak peduli."
"Kalau memang seperti itu, Mba Denna jangan seolah menjadi perusak niatku untuk mendekati Mas Dane. Aku sangat tulus mencintai Mas Dane dan Nio. Sejak pertama Nio menunjukkan foto ayahnya itu aku sudah jatuh cinta, dan saat bisa bertemu dengannya aku sangat senang. Aku merasa menemukan cinta sejatinya pada diri Mas Dane, dan aku ingin bisa menjadi bagian dari hidupnya."
Denna menarik napasnya panjang seolah dadanya terasa sesak mendengar semua itu.
"Jika cinta kamu tulus, aku yakin kamu akan bisa mendapatkannya."
"Bisa dengan mudah jika tidak ada penghalang di jalanku." Gadis itu memberikan tatapan tajam pada Denna seolah menegaskan jika Dennalah penghalangnya.
Denna berjalan pergi dari sana. Setelah memberikan obat pada Nio dia mengambil ponselnya dan berpura-pura menghubungi seseorang.
"Nio, Tante Denna harus pergi karena baru saja aku mendapat pesan dari rumah sakit. Nio tidak apa, kan, kalau di sini dengan Bu guru Zia."
"Apa ada anak yang sakit seperti waktu itu?"
Denna mengangguk, dia terpaksa berbohong pada Nio. "Kamu jangan lupa minum obat teratur supaya cepat sembuh.
"Apa nanti Tante Denna akan kembali ke sini?"
__ADS_1
"Sepertinya tidak, Nio, aku mungkin langsung pulang karena pasti akan malam aku selesainya."