
Kakek Rayhan izin pulang dan nanti dia akan mengirimkan baju seragam Nio. Kakek mengatakan jika Nio membuat Denna kerepotan, dia boleh menghubungi kakek jam berapa pun. Nanti supirnya akan menjemput Nio.
"Aku sama sekali tidak merasa kerepotan, biar Nio di sini saja dan besok aku yang akan mengantar jemput dia, Kek. Kakek percaya padaku, kan?"
"Kakek percaya sama kamu, Denna. Ya sudah kalau begitu kakek mau pulang dulu. Titip salamku pada Nio."
Denna mengantar kakek Rayhan sampai di depan mobilnya dan setelah pria tua itu pergi dari rumah Denna, Denna menyiram tanamannya. Denna tampak senang karena Nio menginap di rumahnya, di merasa seolah tinggal dengan putranya sendiri.
Sore itu Denna sedang berada di dapur menyiapkan makan malam untuknya dan Nio. Nio yang baru bangun berjala mencari Denna. Aroma penciumannya menuju ke arah dapur. Denna tersenyum melihat Nio yang berjalan ke arahnya dengan mengucek kedua matanya.
"Sudah bangun? Bagaimana tidurnya?"
"Tidurku sangat nyenyak, padahal aku tidak pernah tidur siang. Bibi kepala pelayan selalu menyuruhnya tidur siang, tapi aku selalu berpura-pura tidur, dan saat dia keluar kamarku, aku malah main di dalam kamar."
"Itu hal yang tidak baik, Nio. Tidur siang itu sangat penting untuk menjaga kesehatan. Apa lagi anak kecil seperti kamu. Kamu kenapa tidak mau tidur siang?"
"Aku kalau tidur siang nanti malamnya aku pasti tidak bisa tidur, Dokter Cantik. Aku takut kalau bangun sendirian malam hari di dalam kamar, apa lagi daddy tidak ada di rumah, makannya aku jarang tidur siang. Sekarang saja kadang kakek buyut mau menemani aku.
Pria kecil itu duduk di kursi pantry dan tepat Denna berada di depannya. "Kalau kamu tidak bisa tidur, minta tolong bibi pelayan untuk membuatkan coklat hangat, nanti setelah minum kamu pasti akan merasa mengantuk."
"Oh begitu. Kalau begitu aku akan meminta tolong bibi pelayan untuk menyiapkannya. Dokter Cantik masak apa? Baunya harus sekali."
"Gurame asam manis. Nio pasti suka."
"Gurame? Itu ikan, ya?"
"Iya, ikan. Ika. Banyak sekali manfaatnya bagi tubuh, terutama untuk anak seusia Nio."
"Tapi aku tidak suka ikan. Apa tidak ada ayam goreng atau telur ceplok saja?"
Denna menggeleng. "Nio harus makan ikan dan ada tumis kangkung di sini. Nio makan sayuran juga."
Muka bocah kecil itu langsung mengerut. "Kangkung? Nio tidak mau."
Denna mematikan kompornya dan membawa piring yang sudah berisi masak buatannya ke atas meja makan. "Nio mandi dulu dan kemudian kita makan bersama, atau Nio mau menonton televisi dulu setelah mandi?"
__ADS_1
"Kalau Nio bilang tidak mau makan malam bagaimana?"
"Tidak apa-apa kalau tidak mau, tapi saat ini juga Nio akan dokter antar ke rumah kamu, nanti dokter bilang saja pada kakek buyut jika Nio tidak jadi menginap karena tidak mau makan malam, dan besok aku tidak mau mengantar Nio ke sekolah."
"Nio menginap? Memangnya Nio boleh menginap di sini?"
"Tentu saja boleh, tadi kakek buyut Nio ke sini untuk mengajak Nio pulang, tapi aku sudah mengatakan agar Nio menginap di sini saja.
"Lalu, kakek buyut jawab apa, Dokter?"
"Kakek buyut memperbolehkan, bahkan nanti seragam kamu akan dikirim oleh supir kakek."
"Hore...!" Nio tampak berjingkrak senang. "Aku akan menginap di sini."
"Itu kalau Nio mau makan, kalau tidak Nio pulang," terang Denna santai.
Nio yang tadinya bahagia seketika berubah sedih. "Sepertinya aku yang salah mencari tempat menginap," gerutunya.
"Maksud kamu apa, Nio?"
"Aku salah memilih menginap di rumah seorang dokter, apa lagi dokter anak. Pasti segala hal dan makanannya diatur."
"Bukan begitu
"Jadi... mau mandi lalu makan atau mau pulang?"
Nio berjalan menuduk menuju ke arah kamar mandi dengan malas. Denna tersenyum melihat kelakuan lucu Nio. Dia kemudian menyiapkan baju ganti untuk Nio yang dia beli di sebuah toko baju yang ada di seberang jalan saat Nio masih tidur.
"Bajunya ternyata pas sekali sama kamu, Nio."
"Iya, bajunya bagus, aku suka warna hitam soalnya."
Denna ingat jika warna hitam adalah juga warna kesukaan Dimas. "Sekarang kita makan bersama, aku sudah sangat lapar. Ikan gurame ini rasanya sangat enak."
"Apa benar seenak itu?"
__ADS_1
"Cobalah." Denna dengan tangannya menyodorkan makanan pada Nio. Nio melihat dan dengan gerakan perlahan Nio mendekat dan membuka mulutnya.
Nio mengunyah perlahan makanan itu dan seketika wajahnya berubah senang. "Enak, aku mau lagi!" serunya.
Denna tampak senang dia akhirnya menyuapi Nio sampai makanan di piring Denna habis. "Enak, kan?"
"Iya, aku kira tidak enak, makannya tiap hari aku hanya mau makan ayam goreng dan telur saja."
"Itu karena kamu tidak diperkenalkan ikan dan lauk lainnya selain ayam. Mungkin karena kamu tuan muda kecil. Jadi, mereka tidak berani membantahmu."
"Nanti aku akan meminta pada kakek agar dibelikan ikan seperti ini yang sangat banyak."
Tidak lama supir kakek Rayhan datang membawa tas sekolah, buku dan seragam Nio. Denna membantu Nio belajar untuk pelajaran besok. Mereka berdua tampak bak ibu dan anak.
"Iya, halo."
"Dok, maaf saya mengganggu. Apa Dokter Denna bisa datang ke rumah sakit sekarang."
"Ada apa memangnya, Dilla? Bukannya hari ini aku tidak ada jadwal praktek malam?" Denna melihat di jam tangannya menunjukkan pukul setengah delapan malam.
"Ada pasien yang ibunya ingin Dokter Denna yang memeriksanya dan dia memaksa ingin dokter Denna karena katanya dokter Denna yang selalu memeriksa putrinya jika sedang sakit."
Denna tampak berpikir sejenak. "Bukannya Dokter Dony juga bisa memeriksanya? Memangnya, siapa nama pasien anak itu?"
"Kinan, dia gadis kecil berusia sepuluh tahun. Dia memang pasien dokter Denna, tapi ini anaknya merasakan sakit lagi, tapi hari ini bukan jadwal Dokter, hanya saja ibunya memaksa menghubungi Dokter Denna. Ibunya memohon sampai sujud di lantai, Dok," bisik suster yang di panggil Dilla.
Denna melihat pada Nio. Lalu, dia mengatakan akan segera ke rumah sakit secepatnya.
Denna tidak mungkin meninggalkan Nio seorang diri di sana. Denna mengajak Nio pergi ke rumah sakit.
"Siapa yang sakit, Dokter Cantik?"
"Seorang anak perempuan bernama Kinan. Dia sudah sering berobat di rumah sakit di mana aku bekerja, Nio."
"Kasihan sekali, memangnya dia sakit apa?"
__ADS_1
"Aku sudah menduga dari awal jika putrinya itu terkena usus buntu, dan lebih baik melakukan operasi pemotongan usus buntunya, tapi ibunya tidak mau anaknya dioperasi karena takut banyak hal. Sekarang pasti semakin parah."
Denna menghubungi seseorang dan kembali fokus mengemudi. Denna berharap segera bisa sampai di rumah sakit.