
Denna menceritakan saat dia bertemu dengan Dane di restoran dan di sana dia dicium pertama kali. Malamnya, tepatnya lewat tengah malam, Dane datang ke rumahnya dan dia pun mencium Denna lagi, bahkan mengatakan dia ingin menikah Denna. Diaz mendengarkan cerita Denna dengan serius.
"Fix, dia itu memang diam-diam jatuh cinta sama kamu."
"Jatuh cinta dari mana? Aku rasa dia ada niat lain mengajakku menikah." Denna tampak duduk dengan malas.
"Niat apa? Dia tidak memiliki dendam masa lalu sama kamu, dan dia terlihat serius. Dane tidak mungkin hanya ingin mempermainkan kamu."
Denna tampak bingung sekarang, dan entah kenapa dia merasa senang jika memang Dane jatuh cinta dengannya, tapi juga dia tetap tanda tanya tentang maksud Dane.
"Denna, kamu belum menjawabnya?" Denna menggeleng. "Kenapa belum dijawab? Kamu jangan menyesal jika nanti Dane menikah dengan orang lain. Apa lagi menikah dengan si Zia itu, dan kamu bisa-bisa diketawain oleh gadis itu."
"Aku tidak peduli kalau dia mau menikah dengan Zia. Mereka cocok." Ekspresi Denna tidak tampak ikhlas mengatakan hal itu.
"Denna, kamu yakin Zia itu akan tulus pada Nio jika dia sudah menikah dengan Dane?"
Denna beranjak dari tempatnya dan tampak gelisah. Tangannya meraih gelas minumnya yang ada di dekat Diaz.
"Kamu jangan berpikiran buruk dulu sama seseorang."
"Bukan berpikiran buruk, tapi dari ceritamu, kenapa aku merasa dia seolah terlalu memaksa ingin bersama dengan Dane? Seharusnya dia seperti kamu saja. Jodoh ditangan Tuhan, dan dia tidak perlu terlalu memaksa, tapi aku salut sih sama dia karena dia ingin berjuang mendapatkan orang yang dia cintai."
"Iya, dan sekarang aku merasa bersalah sama dia saat Dane ingin mengajakku menikah."
Diaz malah mencubit Denna dengan kesal, sehingga wanita yang menjadi sahabatnya sejak mereka kuliah itu kesakitan sembari mengusap-usap tangannya.
"Bangun, Denna sayang, kamu itu manusia biasa, tidak perlu bersikap seperti seorang bidadari yang selalu baik hati memikirkan orang lain. Sekali-kali pikirkan tentang diri kamu sendiri."
"Kejam sekali aku dicubit." Bibir wanita itu mengerucut.
"Biar saja. Biar kamu sadar kalau kamu tidak perlu memikirkan tentang orang lain atau Zia itu. Dane mengajakmu menikah karena dia ingin serius denganmu. Jadi, kamu tidak perlu memikirkan Zia. Kamu terima Dane dan kalian akan bahagia. Dari feeling aku, Dane itu pria yang baik dan kamu akan menyesal melepaskan pria seperti dia."
Denna tampak terdiam mendengarkan sahabatnya nyerocos ngomel padanya.
__ADS_1
"Aku belum bisa menerima dia sampai aku mengetahui maksud sebenarnya dia ingin menikah denganku."
Tangan Diaz memegang kedua lengan Denna, dia menatap Denna dengan serius. "Kamu sebenarnya ada perasaan cinta tidak dengan Dane, Denna?"
"Apa? Aku? Tentu saja aku tidak memiliki perasaan apapun padanya."
"Serius? Kalau tidak kenapa kamu tidak menampar Dane saat dia menciummu. Dua kali malah."
"Soal itu, aku--." Denna terlihat gelisah lagi.
Diaz beranjak dari tempatnya. "Jangan suka membohongi perasaanmu. Kamu berhak jatuh cinta lagi sama siapapun karena itu hal setiap orang. Denna, aku harap kamu benar-benar mencintai Dane tulus, tanpa membawa nama Dimas di dalamnya Karena walaupun jantung Dimas ada pada diri Dane, tetapi tetap saja mereka berdua itu berbeda."
Diaz berjalan pergi dari sana. Denna masih di dalam ruangan kerjanya. Dia bingung bagaimana nasib cincin berlian itu? Apa lagi Dane juga tidak mau menerimanya kalau Denna tidak mau membawanya.
Dia melihat pada layar ponselnya dan entah kenapa dia mengharapkan Dane menghubunginya walau hanya sekadar say hello.
***
Nara meminta tolong Denna untuk pergi ke toko kue mengambil pesanan mamanya.
Denna pun pergi ke toko kue langganan mamanya yang agak jauh jaraknya dari rumah sakit di mana dia bekerja.
Denna mengendarai mobilnya sambil melamun, teringat apa yang Dane malam itu katakan.
Denna kembali melihat kotak kecil yang dia letakkan di depan dasboard mobilnya.
"Aku sudah menjawabnya, tapi kenapa dia malah bilang agar aku memikirkannya dulu?"
Mobil Denna sudah sampai di toko kue dan salah satu pelayan di sana menyuruh Denna menunggu sebentar karena pesanan kuenya masih dalam oven dan menunggu sekitar lima belas menit lagi selesai.
Denna mengedarkan pandangannya melihat sekitar toko roti yang ternyata di sebelahnya ada cafe yang memang menyambung dengan toko roti itu. "Sudah lama aku tidak ke sini dan ternyata tempat ini semakin besar."
Pandangan Denna tiba-tiba menangkap sesuatu yang membuatnya agak kaget. Dia melihat ada seorang gadis yang dia kenal sedang makan di cafe milik toko roti itu. Gadis itu duduk dan di depannya ada seorang wanita paruh baya sedang bicara dengannya.
__ADS_1
"Itu Zia, kan? Dia bersama siapa?" Denna ingin menyapanya, tapi langkahnya berhenti saat dia mendengar kata berpura-pura menyayangi anaknya.
"Kamu itu, kalau mau sama bapaknya, juga harus sayang anaknya. Jangan berpura-pura karena anak kecil itu lebih peka orang yang benar-benar sayang dengannya dan yang hanya berpura-pura saja."
"Tante tenang saja, aku bisa mengatasi hal itu. Aku memang senang dengan anak-anak itu, tapi untuk menjadi ibu dari seorang anak yang bukan darah dagingku, tentu saja aku tidak mau."
"Lantas, bagaimana jika nanti Dane akhirnya menikahimu?"
"Aku akan mengajaknya pindah rumah dan nanti Nio akan aku buat seolah-oalah dia anak yang nakal dan akhirnya dia akan dikirim tinggal ke asrama yang ada di luar negri. Aku tinggal memberi Dane anak sendiri."
"Hidupmu pasti akan dipenuhi kebahagiaan jika menikah dengan duda kaya dan ganteng itu."
"Tentu saja." Zia tampak berseri sambil menyeruput jus semangkanya.
Denna tercengang mendengar apa yang Zia dan wanita paruh baya itu bicarakan.
"Lalu, bagaimana dengan kekasihmu itu?"
"Siapa? Ricky? Aku akan tetep bersamanya walaupun aku menikah dengan mas Dane karena dia cinta pertamaku, Tante."
"Dasar, kamu!"
"Aku mencintai Ricky, hanya saja dia tidak memiliki uang sebanyak, Mas Dane. Namun, tidak dapat dipungkiri jika pesona Mas Dane itu begitu kuat, dan bisa saja aku nanti jatuh cinta sama dia."
"Lebih baik lupakan saja kekasihmu yang orang biasa itu karena lebih baik kamu fokuskan untuk mengejarnya Dane sampai kalian menikah."
Tangan gadis bernama Zia itu memutar putar sedotan yang ada di dalam gelas minumannya.
"Akan lebih mudah jika si dokter itu tidak selalu hadir di tengah-tengah rencana yang sudah aku buat." Muka Zia seketika menjadi sebal dengan bibir manyun.
"Oh, dokter yang kamu ceritakan itu, kah?"
"Iya, dia itu lain di mulut, lain di hati."
__ADS_1