Stay Beside You

Stay Beside You
Perasaan Tidak Ikhlas


__ADS_3

Denna sudah izin pada Dane dia harus pergi karena ada urusan di rumah sakit. Denna pun terpaksa harus berbohong pada Dane agar pria itu membiarkan dia pergi dari sana.


Denna tidak ingin berlama-lama di sana dan seolah dia merasa menjadi penghalang antara Zia dan Dane, mungkin juga Denna juga tidak akan mau menemui Dane lagi.


"Denna, tunggu!" Tangan pria itu sekali lagi menahan lengan tangan Denna yang sudah sampai di depan pintu utama rumahnya.


"Ada apa, Dane?"


"Kamu akan pulang dengan siapa? Biar aku yang mengantarkan kamu."


"Tidak perlu Dane, aku bisa pulang dengan naik mobil online, aku akan menghubunginya sekarang."


"Denna, kamu datang ke sini bersamaku. Jadi, biar aku yang mengantarkan kamu."


"Tidak apa-apa, apa lagi Nio sekarang lebih membutuhkan kamu tidak enak kalau kamu tinggal untuk mengantarkanku, aku bisa pulang sendiri."


"Denna, apa ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan dariku?" Dane merasa jika Denna seolah-olah terburu-buru ingin pergi dari sana.


"Tidak ada yang ak sembunyikan darimu, Denna, aku benar-benar mendapatkan pesan yang penting dari rumah sakit dan aku harus segera ke sana. Kamu tahu, kan, aku memiliki kewajiban yang besar di rumah sakit itu jika ada yang membutuhkanku."


"Biar Paman saja yang mengantarkan kamu Denna."


Tiba-tiba suara Paman Sam terdengar di sana. Pria paruh baya itu sudah membawa kunci mobil dan dia yang akan mengantarkan Denna ke rumah sakit.


"Tidak perlu, Paman, aku akan memesan mobil saja yang bisa mengantarkanku, kalian di sini saja. Kasihan Nio nanti."


Dane mengambil kunci mobilnya dan dia berjalan masuk ke dalam rumah.


Ternyata Dane meminta izin pada Nio, jika dia akan mengantar Denna ke rumah sakit. Nio tentu saja mengizinkan karena dia juga tidak mau Tante dokternya itu sampai ada apa-apa.


"Tapi Nio, kan sedang sakit, Mas Dane."


Dane melihat pada putranya. "Arsen apa ingin Daddy di rumah?"


Bocah itu menggeleng. "Ada Bu Guru Zia dan paman Sam. Daddy antarkan saja dulu Tante Denna. Aku baik-baik saja."


"Daddy bangga padamu, Jagoan."

__ADS_1


Dane berjalan pergi dari sana dan dia mengajak Denna masuk ke dalam mobil. "Dane, kenapa kamu memaksa sekali? Nio sedang sakit, kamu sebaiknya menemaninya."


"Arsen baik-baik saja dan dia sendiri yang menyuruhku mengantarkan kamu karena dia khawatir kalau kamu pulang sendiri."


"Kamu itu ayah yang bagaimana, Sih? Tidak bertanggung jawab. Seharusnya tidak seperti ini!" Denna tampak kesal.


"Justru aku sangat bertanggung jawab, dan Arsen juga berbuat hal yang dinamakan tanggung jawab pada tante Dennanya."


Dane menjalankan mobilnya. Sepanjang perjalanan Denna hanya duduk terdiam. Dia sedang berpikir jika Zia pasti kesal padanya karena Dane tidak berada di rumah malah mengantarkan Denna pulang.


Denna tampak kaget saat ponsel miliknya berdering. Denna tampak bahagia melihat nama Seseorang yang dia kenal sedang memanggilnya.


"Halo, V!" serunya semangat.


"Denna, aku ingin memberimu kejutan."


"Kejutan apa?"


"Tiga hari lagi aku akan pulang."


"Tiga hari lagi? Kenapa cepat sekali?"


"Ulang tahunku? Aku saja lupa tanggal ulang tahunku," ucap Denna lirih.


Pria yang ada di sebelah Denna melirik sekilas dan kemudian dia kembali lagi melihat pada jalanan.


"Pokoknya, aku akan mengajak kamu makan malam berdua. Tunggu aku pulang ya, Denna."


"Iya, V, aku akan menunggu kamu datang." Denna mengakhiri panggilan teleponnya.


Suasana kembali tenang dan Denna masih tetap saja tidak mengajak Dane berbicara sampai akhirnya mereka sampai di depan rumah sakit di mana Denna berkerja.


Denna segera melepaskan sabuk pengamannya. "Dane, terima kasih dan aku permisi dulu."


Hanya anggukan kecil dari Dane sebagai balasan ucapan terima kasih Denna. Denna keluar dari mobil dan masuk ke dalam bangunan rumah sakit itu.


Dane yang masih di sana sedang melepaskan kekesalan kecilnya dengan mencengkeram stir kemudi mobilnya sampai akhirnya dia pergi dari sana.

__ADS_1


Denna berjalan masuk menuju ruang kerjanya malah bertemu dengan Diaz. "Denna, sedang apa kamu di sini?"


"Aku iseng saja."


"Iseng?" Diaz melihat aneh pada sahabatnya itu. "Iseng kok di rumah sakit, apa tidak ada tempat lainnya?"


Denna hanya menghela napas panjangnya. "Aku bingung mencari alasan agar bisa keluar dari rumah Dane." Denna masuk ke dalam ruang kerjanya dan diikuti oleh Diaz


"Rumah Dane? Maksud kamu apa, Sih?"


Denna dan Diaz sekarang duduk saling berhadapan. Wanita dengan badan agak tambunnya itu penasaran gara-gara Denna mengatakan tentang rumah Dane.


"Denna, kamu memangnya dari rumah Dane? Kok bisa? Apa hubungan kalian sudah sangat serius dan aku sebagai sahabat tidak mau kamu beritahu, ya?" Sekali lagi Diaz melirik penasaran.


"Hubungan apa? Aku dan Dane tidak ada hubungan apa-apa. Bahkan mungkin sebentar lagi aku akan sangat jauh dari mereka."


"Memangnya ada apa?"


Denna menceritakan jika tadi pagi Dane menyusul ke rumahnya karena Nio sakit dan Denna merawatnya di sana. Sampai akhirnya ada Zia dan Zia seolah menyebut Denna sebagai penghalang niatnya untuk bisa dekat dengan Dane.


"Gadis itu lagi? Oh, Tuhan! Dia itu kenapa sok percaya diri jika dia bisa menaklukkan hati pria pemilik wajah dingin seperti Dane itu?"


"Bisa saja Zia memang akan membuat Dane jatuh cinta juga dengannya dan sampai akhirnya Dane akan menikah dengannya. Zia gadis yang tepat juga menjadi mommy barunya Nio."


"Memangnya kamu tidak mau menjadi mommy barunya Nio? Aku lihat kamu dan Nio partner yang cocok, apa lagi kalau sampai jadi ibu dan anak."


"Tidak cocok," jawab Denna cepat sambil melengos. " Aku mau ke kamar mandi dulu dan nanti saja ceritanya aku lanjutkan." Denna beranjak dari kursinya.


Dia hanya tersenyum kecil melihat ekspresi wajah sahabatnya itu.


Denna tampak terdiam sejenak di depan kaca besar toilet di dalam kamar mandi rumah sakit.


"Aku ini kenapa sih? Kenapa seolah aku tidak rela Dane berada bersama di rumahnya bersama dengan gadis itu?" Denna kembali mencuci mukanya dengan air di wastafel.


Setelah di rasa sudah lebih tenang dari hati kebat-kebit yang Denna rasakan dari tadi. Denna keluar dan meminta untuk mengunjungi anak-anak pasiennya yang dirawat inap di lantai empat rumah sakit itu.


Denna tadi keluar sebentar dan membeli beberapa mainan yang dia bisa berikan untuk pasiennya sebagai ganti dia sebenarnya tidak ada jadwal kunjungan, tapi ingin menghibur mereka.

__ADS_1


Denna memang terkenal sosok dokter anak yang beda dari lainnya.


__ADS_2