Stay Beside You

Stay Beside You
Perasaan yang Aneh


__ADS_3

Denna di dalam mobil tampak melamun. Entah kenapa dia seolah melihat sosok Dimas pada diri Dane.


"Denna, are you okay?"


"Iya, aku baik." Denna seketika kaget mendapat teguran dari Fabio. "Kita pulang sekarang."


"Kalau kamu tidak baik, kita pergi ke suatu tempat untuk kamu makan atau minum sesuatu."


"Tidak perlu, Fabio. Kita pulang saja sekarang, lagi pula aku juga sudah lelah."


"Ya sudah kalau begitu." Denna menjalankan mobilnya dan mereka pergi dari sana.


Di sepanjang perjalanan, Denna tampak masih memikirkan tentang Dane. Hingga dia hampir saja menabrak batu yang ada di tengah jalan jika Fabio tidak menyadarkan Denna.


"Denna, sebaiknya aku saja yang mengemudi, dari sini aku tau jalan ke rumahku. Kamu perlu bersantai saja karena sepertinya ada yang sedang mengganggu pikiranmu."


Denna akhirnya setuju dan dia tukar tempat duduk dengan Fabio.


Fabio menyuruh Denna bersantai dan membiarkan Fabio mengemudi dengan perlahan-lahan karena bagaimanapun Fabio tidak terlalu tau arah jalannya.


Fabio sampai di depan rumahnya dan dia menyuruh Denna masuk dulu.


"Denna, kamu kenapa?"


"Diaz, aku baik-baik saja."


Fabio menjelaskan dengan bahasa Indonesia dicampur bahasa Inggris yang membuat Diaz bingung.


"Sudah cukup. Aku yang tadinya paham maksud kamu jadi bingung sekarang."


"Aku akan mengambilkan kamu minum Denna."


"Terima kasih, Fabio."


Fabio berjalan masuk dan Diaz tampak mendekat ke arah Denna. "Katakan padaku, kamu kenapa?"


"Aku tadi bertemu dengan daddynya Nio."


"Daddynya Nio? Si pangeran tidur itu?"


"Iya, Dane sudah sehat dan dia tampak tidak terlihat seperti orang yang baru saja dirawat beberapa bulan di rumah sakit."


"Eh, bagaimana tampangnya? Ganteng, tidak? Aku melihat wajah Nio saja tau kalau bapaknya pasti ganteng."


"Aku melihat sosok Dimas pada Dane."

__ADS_1


"Apa? Oh Tuhan, Denna! Kenapa malah ke Dimas lagi? Kamu itu seharusnya jangan menyamakan Dane dengan Dimas walaupun mereka memakai jantung yang sama, tapi tetap saja Dane bukan Dimas," Diaz menekankan kata-katanya.


"Kamu belum melihatnya. Jadi, kamu tidak tau."


"Tetap saja. Kamu tau? Meskipun ada dua orang kembar, tetap saja mereka itu tidak sama. Paling hanya mau disamakan wajahnya saja."


Denna terdiam sejenak dan tidak lama Fabio datang di segala air minum. Dia memberikan pada Denna dan Denna langsung menghabiskan air minumnya.


"Denna, kalau masih belum baikkan sebaiknya kamu beristirahat saja di sini sampai mas Rio nanti datang dan kita bisa mengantarkan kamu."


"Tidak perlu, Diaz. Aku sudah baikkan dan aku bisa pulangan sendiri."


"Kamu yakin? Atau aku hubungi ayah kamu agar beliau yang menjemputmu ke sini?"


Denna menggeleng. Dia tidak mau jika ayahnya nanti khawatir akan keadaan Denna.


Denna akhirnya pulang dengan mengemudi sendirian. Dia ingat ucapan Diaz agar mengemudi dalam keadaan hati-hati.


Denna yang telah sampai di rumahnya melihat ada buku Nio di atas meja ruang tamunya.


"Pasti Nio kelupaan membawanya saat belajar di sini." Denna membawanya dan memasukkan ke dalam tasnya.


Dia berjalan menuju kamarnya dan ingin sekali membaringkan sejenak tubuhnya yang hari ini rasanya seluruh sendinya lemas, apa lagi saat mengetahui jika Dane sudah sembuh.


***


Di rumah nant besar dan megah itu, terdengar suara tawa dan riuh dari dua orang yang baru saja bertemu lagi.


"Kamu jangan curang ya, Nio."


"Siapa yang curang, Daddy. Daddy kelamaan pergi jadi lupa cara mainnya."


"Enak saja bilang Daddy lupa cara mainnya." Mereka berdua tampak bergulat satu sama lainnya.


Kakek Rayhan yang baru saja dikabari jika Dane sudah keluar dari rumah sakit atas keinginannya sendiri langsung menuju rumahnya dan dia wajahnya sudah khawatir saja dengan Dane.


"Dane. Oh Tuhan! Apa yang kamu lakukan, Nak?"


Kakek tua yang tampak khawatir itu memeluk cucunya dengan erat. "Jangan khawatir berlebih, Kek."


"Bagaimana tidak khawatir, Dane? Jantung itu sudah susah payah bisa berada pada tubuhmu. Kakek dan Paman Sam tiap hari berdoa agar kamu dapat melihat dunia kembali. Kita dapat melihat Dane lagi, Dane yang gagah dan tidak takut apapun."


"Kakek, aku masih tetap sama seperti yang dulu, tidak akan berubah sedikitpun."


"Tapi kakek benar-benar khawatir sama kamu, Nak. Kenapa kamu tidak mau menurut apa kata dokter? Kamu jangan membuat kakek jantungan, Nak."

__ADS_1


Dane memeluk erat kakeknya. "Aku akan membuat kakek tersenyum mulai hari ini."


"Kamu harta berharga kakek satu-satunya, Dane."


"Aku tau. Kek, selama ini kakek selalu menuruti apa permintaanku. Apa aku boleh meminta sesuatu pada kakek?"


"Tentu saja kamu boleh meminta padaku karena sudah lama kakek tidak mendengar permintaanmu, walaupun kamu hanya meminta dibelikan miniatur pesawat terbang."


Terdengar tawa Dane seketika. Dane memang suka mengkoleksi miniatur pesawat terbang dan dari kecil kakek Rayhan selalu membawakannya setiap dia berkunjung di suatu negara.


"Aku sudah lama tidak berburu benda itu lagi."


"Kamu harus berhati-hati menyimpannya, kalau tidak jagoan kecilmu itu akan membuat berantakan." Kakek dan Dane melihat pada Nio yang sibuk bermain sendiri.


"Kek, apa kakek mengenal baik wanita bernama Denna?" Dane seketika melihat serius pada kakeknya.


"Kamu pasti sudah bertemu dengan Dokter Denna."


"Iya, dan Kakek masih ingat aku pernah memanggil nama seseorang yang tidak aku kenali dan nama itu adalah Denna?"


"Iya, kenapa memangnya?"


"Kenapa kakek tidak bilang jika kakek mengenal seseorang bernama Denna?"


"Nama Denna itu banyak, Dane. Kakek tidak pernah berpikir Denna yang itu. Sebaiknya kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Pikirkan saja apa yang setelah ini ingin kamu lakukan."


Dane menatap kakeknya datar. "Aku mau menyelesaikan urusanku dengan seseorang."


"Nak, sebaiknya kamu jangan mengurusi hal yang terlalu berbahaya dulu. Sebaiknya biarkan dulu semuanya diurus oleh anak buahmu."


"Aku yang harus turun tangan sendiri, Kek."


"Habiskan waktumu dengan Nio. Kalau kamu tidak ada waktu dengan putramu, carikan dia ibu untuk menemaninya."


"Kenapa masalah itu dibahas lagi? Aku sedang tidak ingin membahas hal tidak penting seperti itu, Kek."


"Kamu butuh seorang pendamping, Dane. Kamu bukan pria yang sangat kuat bisa hidup hanya berdua dengan anakmu, mungkin saja kamu bisa, tapi Nio pasti merindukan sosok ibu dalam hidupnya." Kedua mata kakek Rayhan melihat ke arah Nio.


Nio berjalan ke arah kedua pria yang dari tadi sedang bicara.


"Kakek buyut, apa kakek buyut sudah bicara dengan Daddy tentang acara di sekolahku?"


"Acara?" Pria tua itu tampak berpikir.


"Aduh!" Nio menepuk jidatnya. "Kakek buyut pasti lupa."

__ADS_1


__ADS_2