
Setelah hampir dua jam. Jalanan mulai bisa berjalan lancar. Denna tampak lega karena dia bisa segera pulang.
Dane mendapat telepon dari putranya yang ternyata menunggu dia datang.
"Daddy sebentar lagi akan pulang, tadi hujan deras dan jalanan sempat macet sebentar. Ini Daddy sedang perjalanan pulang, kamu tunggu sebentar, ya?"
"Ya sudah kalau begitu, Daddy. Aku hanya takut jika Daddy akan pergi lagi seperti waktu itu dan akan lama kembalinya."
"Tidak Arsen, Daddy tidak akan pergi lagi seperti dulu. Daddy bukannya sudah berjanji sama kamu."
"Kalau begitu aku akan menunggu Daddy di rumah."
Dane mematikan panggilan teleponnya. "Apa itu Nio?" Dane mengangguk. "Kalau kamu tidak ingin dia marah, sebaiknya kita berhenti dulu ke toko roti kesukaannya dan belikan dia kue di sana."
"Ide yang bagus. Aku juga ingin membelikan kamu salad sayur."
"Kamu tau kalau aku suka salad sayur?"
"Arsen yang memberitahuku. Dia penggemar beratmu."
Denna seketika tertawa dengan lepas mendengar apa yang baru saja Dane katakan.
"Dia itu lucu sekali."
Dane melihat pada Denna yang masih tertawa. "Kamu lebih cantik jika tertawa seperti itu daripada harus menangis."
Denna perlahan-lahan mulai berhenti tertawa. "Sejak Dimas pergi, aku lupa rasanya tertawa. Dia bisa membuatku merasa hidup ini masih sangat indah."
"Dia memang seperti suatu keajaiban bagiku. Saat dokter mengatakan jika Tiara akan sangat sulit memiliki keturunan karena suatu hal, padahal aku mengira jika aku yang akan sangat sulit memberikan dia keturunan karena penyakit jantung bawaan yang aku alami. Namun, keajaiban terjadi dan Arsenio hadir di dalam rahim istriku."
"Mungkin ini alasan Nio hadir di dalam hidupmu, agar kamu memiliki semangat untuk terus hidup."
Dane menatap datar pada Denna. Tidak lama ponsel Denna berbunyi dan dia melihat ada nama yang sangat dia kenal. "V!" serunya bahagia.
"Halo, kakak iparku yang cantik."
"V, apa kabar? Kamu lama sekali tidak menghubungiku."
"Maaf, aku di sini banyak sekali pekerjaan. Pasienku semua manja denganku, terutama pasien para wanita dan ibu-ibu muda."
"Salah sendiri, kenapa jadi dokter idola di sana. Mereka yang tidak sakit jadi sakit setelah melihat kamu."
"Huft! Mereka memang istimewah."
__ADS_1
"V, kapan kamu datang ke sini?"
"Apa kamu merindukanku?"
"Tentu saja aku merindukanmu. Aku merindukan kue buatanmu, V."
"Dasar! Denna, apa bulan depan kamu bisa mengambil cuti bekerja?"
"Bulan depan? Memangnya ada apa?"
"Aku bulan depan ingin mengajak kamu pergi ke suatu tempat yang pastinya kamu akan senang sekali di sana."
"Sepertinya tidak bisa, V. Aku sudah mengambil cuti bulan ini karena aku mengalami suatu insiden dan kakiku tidak boleh digunakan untuk berjalan dulu. Ini saja aku memakai kursi roda dan aku tidak bekerja di rumah sakit selama beberapa hari."
"Apa yang terjadi denganmu, Denna?"
Denna melihat pada Dane yang sedang mengemudi. Dane pun melihat pada Denna. "Rumahku didatangi beberapa pencuri. Mereka tidak hanya ingin mencuri, tapi juga melecehkan aku."
"Apa? Kamu serius?"
"Iya, tapi aku baik-baik saja karena ada orang yang menolongku."
"Brengsek mereka! Andai aku berada di sana, aku habisi mereka. Denna, sekarang kamu tinggal di rumah orang tuamu?"
"Iya, untuk sementara aku tinggal di sana sampai keadaanku benar-benar baik. V, nanti kita bicara lagi, ya? Aku sedang dalam perjalanan pulang dari makan Dimas."
"Bye, V."
Mereka mengakhiri panggilan teleponnya dan Denna kembali fokus pada suasana di depannya.
"Apa dia kekasihmu?"
"V? Bukan, dia adik iparku."
"Adiknya Dimas? Setahuku Dimas tidak mempunyai adik, dia hanya mempunyai kakak perempuan."
Denna memberitahu siapa V dan kenapa dia bisa menjadi adik Dimas. Dane sangat terkejut mendengar apa yang sudah dilakukan Dimas pada keluarga V.
"Dimas memang sosok yang baik."
"Iya, dia juga suami yang terbaik. Dane, jangan lupa kita membeli dulu kue untuk Nio."
Dane kemudian berhenti di sebuah toko kue dan menyuruh Denna menunggu di dalam mobil karena Dane yang akan masuk ke dalam toko kue itu. Dane berjalan masuk dan dia memesan kue yang disukai oleh putranya. Tidak lupa dia juga membeli salad sayur yang ada di sana untuk Denna.
__ADS_1
Dane sesekali melihat ke arah luar dari jendela kaca besar di sana. Entah kenapa hatinya terasa selalu khawatir saat meninggalkan Denna sendiri.
"Denna!" Dane mengambil box kue yang sudah dia bayar dan langsung berlari keluar. "Jangan ganggu dia."
"Aku hanya ingin berkenalan dengan wanitamu ini."
"Troy, aku sudah tidak ada urusan denganmu, dan wanita ini pun tidak ada urusan denganmu. Jadi, sebaiknya kamu pergi dari sini."
"Wanitamu cantik juga dan dia seorang dokter, kan? Aku menyukainya." Pria yang dikenal oleh Dane itu berjalan mendekati Dane. "Dane, bagaimana jika kita buat kesepakatan?"
"Aku tidak mau membuat kesepakatan apapun denganmu."
"Keputusan yang tidak baik. Apa kamu mau membuat wanitamu dalam bahaya?"
"Jangan coba-coba menyentuhnya, atau aku akan lupa jika kamu adalah kakak dari mending istriku."
"Justru itu. Aku senang kamu masih mengingat jika aku adalah kakak iparmu, tapi sekarang aku sangat membencimu karena gara-gara kamu, adikku meninggal kecelakaan. Apa yang sudah adikku lakukan sama kamu sehingga kamu menyakitinya?"
"Aku tidak pernah menyakitinya. Dia yang sudah salah paham dan percaya dengan mudah pada orang lain."
"Dia tidak salah paham. Kamu telah selingkuh dengan wanita murahan itu, dan adikku menderita karena hal itu."
"Aku tidak perlu banyak bicara sama kamu. Jangan ikut campur urusanku."
"Brengsek kamu, Dane!"
Tangan pria itu mencengkeram pundak Dane, tapi dengan cepat Dane memutar tangan pria itu, dan mendorongnya menjauh.
"Kita belum selesai, Danendra, dan salam untuk wanitamu yang cantik itu."
Dane menatap tajam pada pria itu dan pria bernama Troy itu pergi dari sana. Denna yang dari tadi di dalam mobil hanya bisa diam melihat kejadian di luar.
"Kita pulang sekarang, Denna."
"Dane, siapa dia?"
"Orang tidak penting. Aku akan mengantar kamu pulang."
"Kenapa tidak menjelaskan padaku? Pria itu tadi sangat menakutkan."
"Kamu tidak perlu tau tentangnya, dia juga tidak akan berani menyakitimu."
"Dane, sebenarnya siapa kamu? Kenapa aku merasa kamu seperti menyimpan sesuatu hal yang tidak ingin orang lain ketahui."
__ADS_1
Dane seketika menatap Denna dengan serius. "Lebih baik kamu tidak perlu banyak ingin tau akan sesuatu hal yang bukan menjadi urusanmu."
"Baiklah kalau begitu. Mungkin memang sebaiknya juga aku tidak perlu mengenal pria seperti kamu. Keputusan aku dari awal sudah benar dengan menyembunyikan siapa yang memberikan donor jantung itu agar kita tidak ada hubungan atau perasaan balas budi." Denna tampak kesal pada sikap Dane.