Stay Beside You

Stay Beside You
Sosok Dokter Denna


__ADS_3

Dane berada di dalam mobil dan melihat dengan tenang ke luar jendela. Dia teringat akan wajah wanita yang tadi baru saja dia ajak menikah. "Aku minta maaf jika harus membuat kamu bingung dengan semua ini, tapi jujur saja kedatangan V seolah membuat aku takut akan suatu hal, Denna," lagi-lagi dia berdialog sendiri.


Dane malam itu pergi ke suatu tempat. Dia akan menggunakan pesawat pribadinya ke sana. "Tuan Dane, apa Anda yakin akan menemui mereka?"


"Aku akan menemui mereka dan membuat kesepakatan yang tidak akan merugikan kedua belah pihak."


"Tapi bagaimana jika mereka tidak mau menerima tawaran kita?"


Dane menatap pria yang selalu ikut dengannya jika ada urusan tentang pekerjaan dunia hitamnya.


"Kita gunakan cara biasanya. Mereka juga perlu diberi pelajaran karena mereka sangat membuatku muak."


"Baik Tuan." Pria itupun tersenyum devil.


Pagi itu Denna sudah bersiap-siap karena dia pagi ini mau pergi ke rumah sakit khusus anak-anak penderita kanker.


Denna makan bersama kedua orang tuanya. Tidak lama ponsel Denna berdering dan dia tampak tersenyum melihat nama yang ada pada layar ponselnya.


"Kalau begitu tunggu aku di sana. Aku akan segera datang.


"Memangnya kamu mau ke mana? kamu ada janji sama siapa? Seorang pria?"


"Bukan, Ma. Aku ada acara di rumah sakit anak-anak penderita kanker. Aku mau membuat acara kecil-kecil di sana karena kemarin adalah hari ulang tahunku, dan hari ini aku mau merayakannya dengan mereka sekaligus aku ada jadwal memeriksa keadaan mereka."


"Lalu, tadi siapa yang kamu hubungi?"


"Aku meminta bantuan dari salah satu pengawal ayah untuk membelikan dan mengirim semua yang aku butuhkan di rumah sakit kanker anak-anak."


"Kamu minta bantuan pengawal ayah? Kenapa ayah tidak tau?"


"Memang aku menyuruh tidak mengatakan pada ayah, nanti ayah malah ikut mengatur acara ini. Aku tidak mau membuat ayah repot."


"Hm! Coba kamu bilang pada ayah, pasti ayah akan membuat acara yang meriah di sana."

__ADS_1


"Benarkan? Aku sudah menduga jika hal itu pasti ayah lakukan. Aku tidak mau membuat pesta meriah, lebih baik yang sederhana, tapi berkesan."


Jaden melihat ke arah istrinya yang hanya tersenyum kecil. "Mirip sekali denganmu," celetuk Nara.


"Ya sudah, kalau begitu aku mau pergi dulu, Ma, Ayah." Denna beranjak dari tempatnya mengecup pipi kedua orang tuanya.


"Nak, nanti pulang jangan malam-malam, ya?"


"Iya, Ma. Aku pergi dulu." Denna pergi mengendarai mobilnya sendiri.


Denna sampai di rumah sakit dan berjalan menuju tempat yang sudah disiapkan oleh beberapa orang suruhan Denna dan dibantu para suster di sana.


Denna bersama dengan anak-anak di sana tampak bahagia merayakan hari ulang tahun Denna, bahkan ada orang tua dari salah satu pasien di sana memberikan hadiah untuk Denna.


"Baju ini saya buat sendiri, sebenarnya ini untuk putriku yang seumuran dengan Dokter Denna, tapi sebelum saya bisa berikan Tuhan sudah mengambilnya, tapi saya bersyukur dia pergi sehingga tidak lagi merasakan rasa sakit dari penyakit leukemia yang dia derita."


Denna memeluk ibu itu. Ibu itu sangat kuat karena sangat tabah dengan apa yang sekarang sedang menimpanya. Dua anaknya sakit kanker Leukemia, sekarang anaknya yang berusia lima tahun harus berjuang untuk sembuh dari sakit itu dan Denna dengan sangat baik mau menjadi dokter di rumah sakit khusus itu tanpa meminta biaya.


"Terima kasihku, baju ini sangat indah dan pasti akan aku pakai nanti. Ibu harus tetap percaya jika Lila pasti akan sembuh dari sakitnya. Dia anak yang kuat sekuat ibunya." Denna memeluk erat wanita paruh baya itu.


"Capeknya, tapi aku bahagia!" seru Denna sembari merentangkan kedua tangannya dengan duduk di kursi kerjanya.


Denna sudah berada di rumah sakit di mana dia biasa bertugas. Dia sedang duduk berhadapan dengan Diaz di ruang kerjanya karena sekarang mereka sedang beristirahat.


"Bagaimana caranya tadi? Aku sebenarnya ingin ikut, tapi kamu tau sendiri tugasku di sini masih banyak."


"Andai tadi kamu ikut, pasti senang sekali dirimu melihat anak-anak yang tengah berjuang untuk hidup itu tersenyum bahagia." Wajah Denna bersemangat bercerita tentang kejadian membahagiakan hari ini.


"Kapan-kapan aku mau ikut boleh, kan?"


"Tentu saja boleh. Eh, Diaz, ini kan hari ulang tahunku. Kenapa kamu tidak memberiku kado? Biasanya kamu selalu memberiku kado tiap tahun. Jangan bilang kamu tidak punya uang. Suamimu saja kaya raya."


"Aku bingung mau memberimu kado apa. Mau aku kado pria tampan buat dijadikan suami kamu, tapi pasti kamu tolak."

__ADS_1


"Memang begitu bisa dibungkus memakai kertas kado? Kalau bisa aku mau bungkus lima terus aku kirim ke para jomblo dan satu buat Zia," ucapnya kesal.


"Cie ... aku mencium aroma persaingan buat merebutkan si mas duda ganteng bernama Dane ini."


Denna menghela napas. "Sebenarnya bukan persaingan. Aku juga tidak mau merebutkan seseorang. Kalau dia suka denganku, apa itu salahku? Aku sebal sama kata-katanya."


"Iya, sih! Dia kata-katanya juga membuat aku kesal saja. Aku tau siapa sahabatku. Dia tidak perlu mengejar seseorang, pria itu sendiri yang akan mendekat denganmu."


"Dane juga membuat aku tambah bingung dan merasa bersalah."


"Memangnya apa yang sudah dibuat oleh si mas duda itu?" Diaz melihat penasaran pada Denna.


Denna tidak mengatakan sesuatu, tapi dia malah menunjukan kotak berisi cincin yang Dane berikan pada Denna.


Diaz mendelik melihatnya dan sekarang dia pindah posisi duduk di sebelah Denna.


"Ini pemberian Dane? Boleh lihat, kan?"


"Tentu saja boleh, tapi hati-hati jangan sampai merusaknya."


"Cincin ini indah sekali. Eh, tunggu! Maksud dia apa memberimu cincin ini? Bukannya kamu bilang tidak ada hubungan apa-apa. Malahan kamu mau menghindarinya gara-gara ucapan si Zia itu."


"Katanya sebagai hadiah ulang tahun dan dia--." Denna menjeda kata-katanya melirik pada Diaz.


"Dia apa? Jangan bercerita diputus-putus, Denna! Bikin orang kesal saja."


"Kami semalam berciuman lagi dan dia mengajakku menikah."


"Ha ...! Apa?" suara Diaz malah menggelegar di seluruh ruangan.


"Diaz! Jangan heboh begitu!" Denna menepuk jidatnya karena tidak percaya dengan ekspresi berlebihan sahabatnya ini.


"Maaf-maaf. Jadi, kalian semalam berciuman? Eh, tunggu! Lagi? Jadi, sudah dua kali atau lima kali?"

__ADS_1


"Aku tidak mau bercerita kalau kamu heboh begitu." Denna beranjak dari tempatnya, tapi dengan cepat dia ditarik duduk kembali oleh Diaz.


"Baiklah, aku tidak akan heboh. Aku tahan, tapi apa yang kamu katakan hari ini benar-benar membuatku sangat tidak percaya, Denna. Kok bisa kalian malah saling berciuman, bahkan sampai Dane mengajak kamu menikah?"


__ADS_2