
Denna dijelaskan jika kue yang dia pesan telah dibeli oleh Pria yang berdiri di sebelahnya, dan semua itu adalah kesalahan dari salah satu pegawai di sana yang tidak tau jika kue itu sudah dibeli oleh Denna lebih dulu dan malah dijual oleh pegawai satunya.
"Aku akan membayarnya dua kali lipat untuk kue itu."
"Apa-apaan kamu. Aku sudah membayar kue itu dan aku tinggal menunggu kue itu diberikan padaku. Kamu cari saja kue yang lain." Denna menatap pria itu kesal.
"Kalau begitu aku beli kue itu dari kamu lima kali lipat dari harganya."
"Aku tidak mau, dan jangan memaksa lagi." Denna berjalan menuju tempat kasir dan meminta kuenya. Denna kemudian melewati pria itu.
"Tunggu!" Tangan pria itu mencekal tangan Denna.
"Lepaskan tanganku."
"Hari ini pertama kali aku akan bertemu dengan putraku setelah beberapa bulan aku pergi meninggalkannya, dan kue itu adalah kesukaannya. Aku ingin memberikan kue itu untuknya."
Denna melihat pria itu dari atas ke bawah. "Aku juga membelikan kue ini untuk putraku karena ini juga kue kesukaannya."
Pria itu tampak terdiam sejenak. "Bagaimana jika kita bagi saja kue itu. Jadi, kita sama-sama tidak mengecewakan putra kita."
Denna gantian yang terdiam memikirkan tawaran pria itu. Denna merasa kasihan juga dengan pria itu, apa lagi pria itu mengatakan jika kue itu untuk putranya dan dia baru bertemu lagi setelah lama mereka tidak bertemu.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membaginya denganmu."
"Aku akan mengganti uangmu."
"Kenapa kamu selalu mengandalkan uangmu? Aku bukan orang yang gila akan uang."
Denna membuka box kuenya dan dia mengeluarkan tiga buah cup cake. Denna meminta box kue pada pegawai di sana.
"Apa kamu yakin aku tidak perlu membayarnya?"
"Tidak perlu! Berikan saja kue itu pada putraku, dan kalau bisa jangan suka meninggalkan putramu terlalu lama, walaupun aku tidak tau alasannya."
Denna berjalan pergi dari sana, dan saat hendak keluar dari sana, Fabio masuk dan bicara dengan Denna. Pria itu masih berdiri di tempatnya dan masih memperhatikan Denna dan Fabio.
__ADS_1
Denna dengan Fabio menuju ke sekolah Nio. Denna dan Fabio menunggu sebentar di depan kelas Nio.
"Sekolahnya bagus sekali, banyak hiasan dari kerajinan tangan yang sangat kreatif."
"Iya, sekolahnya juga sangat nyaman dan tertata rapi." Tidak lama Denna melihat Nio yang baru saja keluar dari dalam kelasnya. Nio yang melihat Denna segera berlari menuju ke arah Denna.
"Tante Dokter, aku senang Tante Dokter menjemputku, aku kira Tante Dokter tidak bisa menjemputku karena sedang berkencan dengan Paman Fabio."
"Kita tidak berkencan Nio, kita hanya jalan-jalan saja karena ingin melihat pertunjukan kesenian."
"Jadi, kalian bukan sepasang kekasih?"
Denna melihat pada Fabio. Fabio hanya memberikan senyum kecilnya. "Kita ini berteman Nio," jawab Denna.
"Memangnya kenapa kalau aku dan Tante Denna berpacaran, Nio?"
"Kalian tidak cocok kalau berpacaran," jawab polos Nio.
"Tidak cocok? Apa paman jelek, ya, sehingga paman tidak cocok sama tante Denna."
Denna terkejut mendengar apa yang baru saja bocah kecil itu katakan. Ternyata Nio masih menginginkan daddynya bisa bersama dengan dirinya.
"Memangnya daddy kamu tampan, Nio?"
"Tentu saja!" Nio berseru dengan semangat. Namun, tiba-tiba bocah kecil itu terdiam karena melihat seseorang yang sedang berjalan ke arahnya. "Daddy...!" teriak Nio dengan keras.
Bocah kecil itu langsung berlari ke arah pria yang membawa box kue. Denna yang mengenali pria itu terkejut saat tau jika pria yang sempat berdebat dengannya karena masalah kue adalah Dane--daddynya Nio.
"Hai, Jagoan." Dane memeluk erat putra kecilnya itu. Pun dengan Nio memeluk erat kepada orang yang selama ini dia rindukan kedatangannya.
"Daddy, aku merindukan kamu. Kenapa daddy lama sekali tidak pulang? Apa daddy tidak merindukan aku?"
"Tentu saja aku sangat merindukan kamu, Jagoan. Sekarang daddy ada di sini dan daddy janji tidak akan pernah pergi lagi darimu."
"Daddy janji, ya?"
__ADS_1
"Iya, Jagoan."
Denna dengan Fabio berjalan ke arah mereka berdua. Nio yang sudah melepaskan perlukannya pada daddynya dan Dane yang sudah berdiri dengan tangan menggandeng Nio melihat pada Denna.
"Tante Dokter, ini daddyku." Nio memperkenalkan Denna dengan Dane.
Untuk beberapa saat dua orang itu saling berpandangan. Denna melihat Danne memiliki bentuk wajah yang hampir sama dengan Dimas, mereka berdua juga memiliki sorot mata yang tajam dan terkesan dingin. Lalu, Denna melihat pada bagian dada Dane. Ada sesuatu hal yang seketika membuatnya ingin menangis, tapi dia tahan.
"A-ku Denna, dokter yang waktu itu menangani saat Nio sakit." Denna mengulurkan tangannya.
Dane perlahan menjabat tangan Denna, dan entah perasaan ini? Tiba-tiba ada hal yang membuat Dane seolah mengenal sangat baik wanita di depannya. Dane juga seolah memiliki perasaan sangat dekat dengan Denna, bahkan ingin sekali memeluk Denna.
"Dane. Tunggu! Nama kamu, Denna?" Dane seolah teringat akan satu hal.
"Paman Fabio, daddy aku tampan, bukan?" celetuk Nio.
"Ya, daddy kamu sangat tampan, dia sama sepertimu."
Denna segera melepaskan jabatan tangannya. Dia lantas memberikan box kue yang dia beli pada Nio. "Nio, ini aku tadi membelikan kamu kue kesukaan kamu."
"Wah! Terima kasih, Tante Dokter. Eh, tapi kenapa box kue dan isi kuenya sama seperti yang dibawa oleh daddyku?" Nio melihat pada box kue yang dibawa oleh daddynya.
"Ini tadi daddy bertemu dengan tante doktermu di toko kue yang sama." Dane melihat datar pada Denna. "Jadi, ini putramu?" tanya Dane lirih pada Denna.
Denna seketika mendongak melirik pada Dane. "Nio, karena kamu sudah dijemput oleh daddymu, aku permisi pulang dulu, ya?"
"Kenapa Tante Dokter tidak pulang bersamaku dan daddy saja?"
"Tante Dokter harus mengantar Paman Fabio dulu. Jadi, kamu pulang saja sana daddymu, bukannya kamu bilang sangat merindukan daddy kamu? Sekarang dia ada di sini. Jadi, habiskan waktu kalian berdua. Tante Dokter pulang dulu." Denna menunduk dan mengecup perlahan pucuk kepala Nio. Bye Nio." Denna kemudian melihat pada Dane. "Aku permisi dulu."
"Terima kasih, Denna."
Denna berjalan pergi dan sana dan Fabio berjalan di sampingnya. Dane sekali lagi masih berdiri di tempat melihat punggung wanita yang baru dia kenal, tapi seolah dia sudah mengenal sudah lama.
"Daddy, kita pulang sekarang saja, aku ingin segera mengajak daddy bermain denganku. Aku juga mau menunjukkan piala kemenanganku waktu aku mengikuti lomba di sekolah.
__ADS_1
"Iya, Jagoan. Daddy juga sangat merindukan ingin bermain denganmu." Dane menggandeng tangan pria kecilnya. Nio sangat senang hari ini.