Stay Beside You

Stay Beside You
Mommy Pura-pura part 2


__ADS_3

Denna sampai di rumah sakit dan langsung menuju lantai tiga di mana dia biasa bekerja.


"Dokter Denna, saya ibunya Kinan. Kinan sakit lagi pada perutnya."


"Silakan masuk ke ruangan periksa." Nio pun ikut masuk dan dia duduk di pojokan.


Nio melihat gadis bernama Kinan sedang memegang perutnya dan dia tampak membungkuk menahan sakit.


Perawat bernama Dilla menutup tirai ruang periksa dan Denna masuk ke dalamnya.


"Kinan, mana yang sakit?"


"Sini, Dok." Kinan menunjukkan perut bagian bawah sebelah kanan. Tampak wajah Kinan pucat dan mengeluarkan keringat dingin.


"Kamu coba tekuk kedua kaki kamu." Gadis itu menurut dan tangan Denna menekan bagian perut yang sakit. "Sakit?"


"Iya, sakit sekali seluruh tubuhku, Dok. Aku tidak kuat."


"Kinan, kamu tahan ya, Nak."


"Ini sakit sekali, Bu. Dia harus segera dioperasi seperti apa yang aku katakan. Usus buntunya sudah patah, mungkin sudah hampir membusuk di dalam. Kalau dibiarkan terlalu lama, nanti dia pecah dan kotoran yang bercampur Nana bisa menyebar ke seluruh tubuh, dan hal itu bisa berakibat sangat fatal untuk Kinan."


Ibu itu menangis mendengarkan penjelasan Denna. "Tapi kalau operasi sekarang saya tidak ada biaya, Dok. Ayah Kinan sebulan yang lalu meninggal dunia karena bunuh diri." Wanita itu pun tidak dapat lagi menahan tangis kerasnya. Dia sampai menutup mulutnya dengan tangan.


"Oh Tuhan!" Denna terkejut mendengar hal itu.


"Dia ditipu oleh sahabatnya dan akhirnya perusahaannya bangkrut. Dia tidak kuat dengan semua utang yang harus ditanggungnya. Ayah Kinan memilih jalan lain dan dia mengakhiri hidupnya, tanpa memikirkan aku dan Kinan."


Nio yang berada di luar kamar periksa yang tertutup tirai tampak kasihan, apa lagi dia mendengar suara rintih kesakitan dari gadis bernama Kinan itu.


Tirai itu di buka oleh Dilla. Sang ibu disuruh duduk depan meja kerja Denna.


"Kita akan tetap melakukan operasi untuk Kinan, dan biayanya biar aku yang menanggungnya."


"Apa, Dok?" Sang Ibu itu sekali lagi sangat terkejut.


"Iya, Ibu, aku akan menanggung semua biaya operasi Kinan. Ruangan dan dokter bedah pun sudah aku suruh siapkan, juga dokter bedah yang akan menangani Kinan sudah aku hubungi. Sekarang Ibu tidak perlu khawatir lagi."


"Terima kasih, Dok! Terima kasih sekali lagi." Ibu itu menangis memeluk Denna.


"Saya ikhlas menolong Ibu dan Kinan. Sekarang kita berdoa saja semoga setelah ini Kinan tidak ada tersiksa merasakan sakit lagi."


Mereka menuju ruang operasi di mana Kinan akan melakukan operasi pemotongan usus buntunya.


"Dokter Cantik dan Baik, apa Dokter juga ikut masuk ke ruang operasi?"

__ADS_1


"Iya, Nio. Aku ingin memastikan dengan baik keadaan Kinan. Eh, tapi kenapa kamu memanggilnya sekarang panjang sekali? Panggil saja aku Tante Dokter. Okay!"


"Okay!"


"Nio sekarang tunggu di sini dengan ibunya Kinan, atau kalau Nio tidak takut boleh tidur di kamar periksa."


Nio menggeleng. "Aku tidak mengantuk karena aku sudah tidur siang. Aku mau di sini saja ikut mendoakan semoga operasi gadis itu berhasil dan dia bisa sembuh."


Denna mengacak-acak rambut di kecil Nio. "Anak yang baik."


Denna yang ada di dalam berusaha mengajak Kinan bicara. Kinan yang terlihat ketakutan itu agak sedikit lega karena Denna sangat bisa membuatnya merasa nyaman.


"Setelah sembuh, kamu akan bisa beraktifitas lagi seperti biasanya dan tiap tiga bulan sekali tidak akan merasakan sakit lagi pada perutnya."


"Iya, Dok, aku ingin sembuh karena setiap kambuh sangat sakit sekali."


"Iya, kamu santai saja karena operasinya akan berjalan dengan lancar. Aku yakin kamu juga adalah gadis yang kuat dan pemberani."


Operasi berjalan hampir tiga jam. Kinan yang baru keluar dari rumah sakit dibawa ke tempat pemulihan. Dia akan dirawat di sana hingga satu Minggu.


"Dok, bagaimana keadaan Kinan?"


"Kinan baik-baik saja dan dia akan segera pulih." Denna mengusap lengan tangan wanita yang terlihat matanya sembab.


"Dokter, terima kasih, aku tidak tau bagaimana cara membalas budi baik Dokter pada kami."


Denna izin pulang ke rumahnya karena hari juga sudah malam dan Nio besok harus masuk sekolah pagi.


"Nio tidur dulu saja, aku mau menyelesaikan pekerjaanku sebentar."


"Iya, Tante Dokter." Nio naik ke atas tempat tidur dan melihat Denna sedang duduk di depan laptopnya.


Beberapa menit kemudian, Denna melihat ke arah belakangnya, dan ternyata Nio belum tidur. Denna menutup laptopnya dan naik ke atas tempat tidur.


"Nio kenapa belum tidur?"


"Aku tidak bisa tidur, Tante Dokter. Apa Tante Dokter bisa bercerita?"


"Tapi aku tidak memiliki buku cerita, Nio."


"Aku sudah dibacakan cerita sebelum tidur."


Denna tampak berpikir sebentar. Di menarik tubuh Nio mendekat ke arahnya dan tangan Denna memeluk kepala Nio. Mereka berdua berada di dalam satu selimut.


"Aku memang tidak mempunyai buku cerita, tapi aku punya cerita yang semoga kamu menyukainya."

__ADS_1


"Ceritakan padaku, Tante Dokter."


"Ini kisah persahabatan antara dua orang manusia yaitu, Rhein dan Hazel. Di mana Hazel memiliki wajah yang cantik dan kehidupan yang sangat cukup. Dia bertemu dengan Rhein yang sangat tampan dan pemberani. Rhein saat itu bekerja menjadi bodyguard untuk Hazel."


Denna menceritakan tentang kisahnya dengan Dimas. Sampai akhirnya Nio tertidur.


"Syukurlah, dia sudah tertidur, aku takutnya Nio akan sakit kepala mendengar ceritaku?"


Denna tidur dengan memeluk tubuh kecil Nio.


Pagi itu Denna yang sudah bangun tidur segera berlari ke dapur karena takut terlambat membuat makanan untuk Nio.


Dia membuat sandwich untuk sarapan dan bekal Nio. Denna kemudian membangunkan Nio dan membantu Nio bersiap-siap. Dia sudah seperti ibu bagi Nio.


"Ayo, Nio! Nanti kamu terlambat." Denna memasukkan bekal makanan Nio ke dalam tasnya.


"Aku masih mau nambah makan sandwichnya, Tante Dokter."


"Di dalam tas kamu, sudah aku buatkan sebagai bekal. Nanti kalau terlambat bagaimana?"


Denna sampai menggendong Nio dan masuk ke dalam mobil.


"Tante Dokter tidak perlu khawatir, meskipun aku terlambat, guruku tidak akan memarahiku karena mereka kenal baik dengan kakekku," ucapnya santai.


Denna agak paham. Kakek Rayhan pasti orang yang dianggap penting untuk sekolah Nio. Jadi, Nio seolah menjadi murid yang diprioritaskan di sekolahnya.


Denna sampai di dalam parkiran mobil dan dia turun dengan menggandeng tangan Nio.


Denna mengantar Nio masuk sampai ke dalam kelasnya. Denna meletakkan tas Nio di bangkunya.


Terlihat ada beberapa orang tua yang berbisik dan Denna tau jika mereka sedang membicarakannya dan Nio.


"Nio sekolah yang pintar, kalau pintar nanti mau jadi apa?"


"Mau jadi seorang pilot pesawat terbang. Nanti aku ajak, Tante Dokter keliling dunia."


"Anak pintar." Denna mengecup pipi Nio.


Ada salah satu teman Nio menghampiri meja Nio dan dia melihat ke arah Denna terus Nio.


Denna bingung kenapa bocah gembul di depannya ini melihat Denna dengan aneh?


"Kalian mirip. Nio apa dia mommy kamu?"


"Iya, dia mommy baruku. Sekarang aku sudah punya mommy. Jadi, jangan hina aku lagi tidak punya mommy."

__ADS_1


"Maaf, Nio. Mommy kamu cantik, ya," puji bocah gembul ini.


Denna senang melihat Nio sepertinya baikan sama teman gembulnya ini dan teman-teman lainnya. Denna sebenaranya juga tidak enak, dia merasa bersalah karena mengajari Nio berbohong, tapi karena kebohongan ini, Nio akur lagi dengan temannya dan dia tidak menjadi bahan olokan lagi di sekolah.


__ADS_2