Stay Beside You

Stay Beside You
Bertiga part 1


__ADS_3

Nio masih terlihat seperti kecewa karena Denna tidak mungkin hadir di acara itu.


"Tante Dokter, nanti Nio tunjukkan saja video acara di sekolah Nio."


"Tidak perlu, Nio, nanti aku datang ke sana, jadi, tidak perlu di video."


"Apa?" Seketika wajah bocah kecil itu tampak terkejut bahagia.


"Denna, tapi kaki kamu bagaimana?" tanya Nara cemas.


"Aku, kan, bisa memakai kursi roda."


"Tapi apa tidak apa-apa, Denna?" tanya Dane.


Denna melihat ke arah pria yang berdiri di depannya.


"Aku mau datang ke acara itu, Dane. Bukan untuk menggantikan posisi istri kamu, tapi ingin menepati janjiku pada Nio."


Dane agak kaget dengan ucapan Denna. Sepertinya Denna salah paham pada maksud Dane yang tidak ingin Denna datang.


"Aku sebenarnya senang kalau kamu bisa datang, tapi aku tidak mau kalau sampai membuat kaki kamu tambah sakit."


"Percayalah, kalau aku akan baik-baik saja."


Nara melihat pada nenek Miranti dan nenek memberi isyarat agar membiarkan saja hal itu.


"Dane, kamu nanti ikut makan malam di sini sekalian, ya? Mamanya Denna hari ini akan membuat masakan spesial. Jadi, kamu dan Nio makan di sini saja."


"Masakan spesial?" Nara melihat bingung pada nenek Miranti.


"Iya, nanti nenek bantu kamu, Nara. Kalau begitu kita ke dapur saja dan kamu Denna, kamu dan Dane serat Nio berjalan-jalan saja di taman. Bukannya kamu bilang kalau kamu bosan di rumah."


"Kita ke taman saja, Tante Dokter, nanti biar daddyku yang membelikan kita ice cream. Aku juga mau bercerita sama Tante Dokter, tadi temanku si gembul itu bertanya tentang mommyku. Dia tidak tau kalau Tante Dokter mommy pura-puraku."


Denna langsung melihat pada Dane dengan wajah yang tidak enak. Dane malah memberikannya senyumannya.


"Kalau begitu kita berjalan-jalan ke taman saja." Denna mencoba meraih kursi rodanya yang ada di sebelah tempat duduknya.


"Sebentar, biar mama panggilkan salah satu penjaga untuk menolong kamu, Denna."


"Dane, boleh minta tolong untuk membantu Dena duduk di kursi roda," ucap Nenek cepat.

__ADS_1


Nara dan Dane agak terkejut. Denna langsung merasa tidak enak.


"Nek, tidak perlu menyusahkan Dane."


"Tidak apa-apa, biar aku saja yang membantu Denna." Dane berjalan mendekati Denna dan menggendong tubuh Denna ala bridal style.


Denna mengalungkan salah satu tangannya pada leher Dane. Kedua mata mereka saling memandang dengan lekat.


Nenek yang melihat tampak tersenyum, dan Nara yang melihatnya tampak bingung dengan senyum nenek itu.


"Terima kasih, Dane." Dane menanggapi dengan anggukan kecil.


"Yeah! Kita jalan-jalan sekarang!" Nio berseru kegirangan.


Dane berjalan sambil mendorong kursi roda Denna dan Nio berjalan di samping Denna.


Nio tidak hentinya bercerita tentang apa saja yang dia lakukan di sekolah hari ini.


"Daddy, aku mau beli ice cream.".


"Kalau begitu kamu tunggu di sini dan biar Daddy yang membelikan."


"Tidak perlu, Daddy saja yang di sini dengan Tante Dokter, dan biarkan aku yang membeli sendiri. Aku berani membeli sendiri, lagi pula jaraknya juga tidak terlalu jauh."


"Siap, Daddy."


Nio berjalan menuju orang yang menjual ice cream. Denna duduk di bangku taman dan ada Denna di sebelahnya.


"Arsen tidak pernah banyak bicara seperti saat bersama dengan kamu."


Denna melihat pada Dane. Pun Dane juga melihat pada Denna.


"Awal bertemu denganku dia juga bocah yang menyebalkan, tapi setelah tau kenapa dia seperti itu, aku jadi kasihan melihatnya, dan setelah mengenalinya lebih jauh, dia bocah yang sangat menyenangkan. Kadang aku juga merindukan dia." Denna melihat pada Nio yang sedang mengantri ice cream dan melambaikan tangan pada Denna.


"Katakan padaku, kenapa suamimu meninggal?"


Denna langsung mendelik pada Dane. Dia tidak mau jika Dane tau jika suaminya adalah Dimas dan jantung Dimas ada padanya.


"Pesawat yang dia tumpangi mengalami kecelakaan dan dia terluka sangat parah. Istri kamu sendiri meninggal kenapa? Kakek Rayhan hanya bilang jika istrimu mengalami kecelakaan tunggal."


"Iya, dia mengalami kecelakaan, mobilnya jatuh ke jurang dan setelah beberapa hari tubuhnya ditemukan sudah tidak dikenal karen mobilnya terbakar." Wajah Dane tampak sedih.

__ADS_1


"Kamu pasti sangat mencintai istrimu. Buktinya sampai saat ini pun kamu tidak mau mencari penggantinya."


Dane menatap datar pada Denna. "Mencintai seseorang itu tidak mudah, Denna. Mungkin kamu juga merasakan hal itu."


"Iya, aku sangat mencintai mending suamiku dan aku tidak menyangka dia akan meninggalkan aku dengan cara seperti ini. Saat kejadian malam itu, aku terus memanggilnya, aku berharap dia datang menyelamatkan aku dari para pencuri itu, tapi aku sadar kalau hal itu tidak akan terjadi."


Dane agak kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Denna. Kenapa malam itu dia merasa ada sesuatu yang menyuruhnya untuk ke rumah Denna.


"Rasakan itu! Kamu jangan menghina mommyku!" teriak Nio dari kejauhan.


Dane dan Denna yang melihat dari tempatnya terkejut dan Dane segera berjalan menuju tempat Nio. Denna yang juga panik mendorong kursi rodanya dengan tangan memutar roda kursi itu.


"Arsen! Apa yang kamu lakukan?" Dane mengangkat tubuh Arsen dari atas tubuh anak laki-laki yang tubuhnya lebih besar dari Arsenio.


Anak itu menangis dan ibu anak itu terlihat marah. "Didik anakmu dengan baik, jangan seperti berandalan."


"Saya minta maaf, saya akan bertanggung jawab dengan putramu."


"Tidak perlu! Aku bisa mengobatinya sendiri." Ibu itu pergi dengan membawa anaknya yang menangis.


Dane melihat pada putranya dengan marah. "Siapa yang mengajarkan kamu seperti itu?" tanya Dane marah.


Arsenio malah menangis melihat daddynya yang marah di depannya.


"Arsen! Daddy bertanya sama kamu! Apa yang sudah kamu lakukan?"


"Dane, jangan memarahi dia seperti itu."


"Jangan ikut campur, Denna. Dia tidak boleh berbuat seperti hal tadi pada orang lain. Nio, jangan menangis! Jawab Daddy! Atau kamu mau ayah pukul." Dane sudah mengangkat tangannya.


"Jangan berani memukulnya, Dane! Jangan memukulnya!" Denna seketika menatap Dane dengan tajam.


Dane ini sebenarnya tidak akan memukul putranya, dia hanya mencoba menakutinya, tapi dia tidak menyangka jika reaksi Denna seperti itu.


"Tante Dokter." Nio menangis memeluk Denna.


"Nio, sekarang katakan padaku, kenapa kamu sampai memukul anak itu? Jujur saja, aku juga tidak suka dengan sikap Nio yang seperti itu." Denna menatap lekat wajah tampan pria kecil itu.


"Dia menghina mommyku dan menjahiliku tadi."


"Maksud kamu?" tanya Dane penasaran, tapi Dane langsung kena mata mendelik dari Denna. Dane seketika berubah tenang.

__ADS_1


"Ceritakan padaku, apa maksud dari ucapanmu?"


"Dia tadi bertanya apa yang duduk di kursi roda itu ibu kamu, aku bilang iya."


__ADS_2