
Mobil Dane berhenti di dalam halaman besar rumah Jaden. Denna yang melihatnya malah masuk ke dalam rumah. Nara dan Jaden seketika berjalan keluar untuk menentukan Dane.
"Nak, kenapa kamu malah masuk rumah?"
"Sudah tidak mood makan malam." Denna masuk ke dalam ruangan tengah.
Jaden menemui Dane yang sudah berada di depan pintu utama.
"Selamat malam, Om."
"Selamat malam, Dane. Kenapa kamu baru datang? putriku dari tadi menunggu kamu dan sekarang mungkin dia sedang ngambek sama kamu."
Tidak lama Nara mendekat ke arah mereka dan Dane pun menyapanya dengan ramah. Dane meminta izin ingin bicara dengan Denna.
"Nara sedang ada di ruang tengah, sebaiknya kamu menemuinya dan jelaskan kenapa kamu datang terlambat, Dane."
"Iya, Tante, kalau begitu saya permisi dulu."
Nara dan Jaden saling melihat. "Kenapa dia seperti kamu dulu? Wanita itu sukanya langsung marah saja tanpa mengetahui alasannya."
"Meskipun begitu aku dan Denna itu sangat perhatian pada pasangannya.
Pria itu berjalan menuju ruang tengah dengan perapian yang menyala. Denna berdiri membelakangi Dane tepat di samping perapian.
"Apa aku sangat terlambat?"
Wanita dengan gaun hitamnya itu menoleh melihat pada pria gagah yang memakai kemeja dengan warna senada.
"Berikan alasan yang tepat kenapa kamu sampai datang terlambat?"
Dane terdiam dan berjalan mendekat perlahan pada wanita yang terlihat cantik dengan gaun pemberiannya.
"Kamu cantik sekali memakai gaun itu."
"Dane, aku memintamu untuk menjelaskan kenapa kamu datang terlambat, bukan untuk merayuku. Asal kamu tau saja jika aku sudah tidak mood pergi makan malam sama kamu."
"Tadi, saat aku mau ke rumahmu, Zia datang ke rumahku."
"Apa? Zia?" Denna terkejut mendengarnya.
"Iya, dia ke rumah karena ingin minta maaf dan mengatakan jika dia menyukaiku dan maaf atas kata-katanya yang pernah kamu dengar."
"Oh," jawab Denna lirih.
"Aku katakan sudah memaafkannya, tapi tetap saja aku tidak bisa menerima cintanya karena aku sudah punya wanita yang aku cintai." Dane menatap Denna lekat.
__ADS_1
Denna tidak kuat ditatap terus Sepertu itu oleh Dane, nanti bisa-bisa Denna memeluk pria di depannya itu.
"Dane, kita makan malam sekarang saja sebelum hari semakin malam." Denna mencoba membuyarkan tatapan pria itu.
"Kamu sudah memaafkan aku?"
"Iya, aku menerima alasannya."
Dane berjalan beriringan menuju ruang tamu untuk izin pada kedua orang tua Denna.
Mereka menuju restoran yang sudah Dane siapkan untuk acara makan malam mereka berdua.
Mereka duduk di belakang saling berdampingan karena hari ini Dane membawa supir. Bagaimanapun tangannya masih nyeri gegara kemarin dan dia tidak ingin Denna mengetahui hal itu.
Dane membawa Denna masuk ke dalam restoran yang cukup mewah. Dekorasi tempat itu juga terlihat sangat cantik dengan banyak ukiran yang cukup rumit jika dilihat.
"Indah sekali restoran ini?"
"Kamu menyukainya?"
"Iya, aku menyukainya." Denna melihat sekelilingnya dan benar-benar dekorasi di sana sangat apik seperti dibuat oleh orang yang benar-benar ahli.
Restoran itu juga ada live musiknya dan panggung yang tidak terlalu besar. Suasana di sana terkesan romantis, bahkan sangat romantis karena ada penyanyi yang memiliki auara emas, dan dia menyanyikan lagu dengan tempo pelan.
"Silakan duduk di sini Tuan Dane."
Mereka duduk di meja yang hanya ada dua kursi, tepat berada di tengah meja tamu lainnya.
"Dane, restoran ini indah, tapi kenapa sangat sepi pengunjung, bahkan hanya ada kita berdua?"
Denna memang tidak melihat siapapun di sana kecuali dirinya dan beberapa pelayan di sana.
"Memang aku sengaja menutup restoran ini untuk pengunjung lainnya karena aku ingin memiliki waktu pribadi hanya dengan kamu, Denna."
"Apa? Kamu menyewa tempat ini hanya untuk kita berdua?"
Tersungging senyum miring dari bibir pria itu. "Restoran ini milikku, Denna, dan aku berhak melakukan apapun di sini."
Denna seketika mendelik kaget. "Jadi, restoran indah ini milikmu?" Sekali lagi Denna mempertegas.
"Iya."
Denna sebenaranya tidak kaget juga jika Dane bisa memiliki restoran semewah ini karena dia memang pemegang salah satu perusahaan terbesar di kota itu.
Para pelayan membawakan beberapa makanan yang Dane yakin jika wanita yang dia ajak kencan malam ini menyukainya.
__ADS_1
"Dane, kenapa kamu membangun sebuah restoran? Sebenarnya apa saja bisnis yang kamu jalankan?"
"Banyak, Denna. Aku eksport-import bahan pertanian yang bisa digunakan para petani di luar negeri yang tinggal di dataran tinggi. Aku juga menjual beberapa apartemen, dan sekarang entah kenapa aku ingin memiliki sebuah restoran. Jadi, jika nanti aku berhenti di dunia bisnisku, aku mau menjadi chef di restoranku sendiri karena sebenarnya itu cita-citaku."
"Apa? Jadi, kamu ingin menjadi seorang Chef? Aku benar-benar tidak percaya." Denna memang menunjukan wajah tidak percayanya.
"Ayahku dulu adalah chef terbaik bagiku. Ayahku setiap hari Sabtu selalu membuatkan masakan dengan resep baru yang dia baru pelajari, dan aku orang pertama yang selain mencobanya terlebih dahulu."
"Sepertinya aku harus belajar dari kamu cara memasak. Kamu ternyata pria yang penuh dengan kejutan. Apa lagi keahlianmu selain itu?"
Dane melirik wanita di depannya dengan tatapan yang siapapun akan betah jika ditatap seperti itu.
"Jika kita menikah, aku pastikan akan banyak kejutan yang akan kamu ketahui." Dane mengajak Denna bersulang. Denna pun menyambutnya dengan senang.
"Setelah ini aku ingin mengajakmu berdansa di atas panggung itu."
"Apa?" Kedua mata Denna membulat indah. "Apa tidak ada hal lainnya yang bisa kita lakukan selain melakukan hal itu?"
"Tidak ada," ucap Dane santai.
Dane pun menepati apa yang dia katakan, yaitu berdansa setelah dua orang itu selesai dengan makan malamnya dan menunggu hidangan penutupnya.
"Apa cara berdansaku sangat baik?" tanya Denna yang agak menyombongkan.diri karena dia bisa berdansa mengikuti langkah Dane."
"Lumayan." Tangan Dane mengeratkan. pelukannya pada pinggang Denna.
"Denna," Dane menatap lekat Denna sekali lagi."
"Ada apa?" tanya Denna lirih.
"Apa kamu mencintaiku?"
Denna agak kaget dengan pertanyaan pria yang sedang bergerak berdansa dengannya itu.
"A-aku--."
Belum selesai Denna menjawab, bibir Dane sudah mendarat lagi dengan lembut pada bibir Denna. Bahkan gerakan dansa itupun terlihat terhenti dan kedua tangan Dane berpindah tugas, yaitu sekarang menangkup kedua pipi Denna agar ciuman mereka lebih dalam dan tidak terlepas.
Wanita itu sadar jika mereka ada di tempat umum, walaupun tempat itu hanya ada mereka berdua, tamu restoran lain tidak ada, tapi Denna juga tidak bisa mengabaikan jika di sana ada para pelayan dan penyanyi juga yang malah jaraknya sangat dekat dengan mereka.
"Dane, kamu membuat aku malu saja."
Dane tersenyum melihat sikap Denna yang tampak mencoba menyembunyikan rasa malunya.
Tangan pria itu kembali menarik pinggang Denna mendekat ke arahnya.
__ADS_1
Denna kembali mendelik saat tubuhnya sangat dekat sekali lagi dengan tubuh Dane.