
Denna mengatakan dia sangat senang dengan kedatangan Nio di rumahnya dan sama sekali tidak merasa direpotkan.
"Kakek silakan masuk dulu, aku akan membuatkan teh hangat untuk kakek."
"Kakekku tidak suka tea hangat Dokter Cantik, daddyku yang sukanya teh hangat," celetuk bocah kecil itu.
"Terima kasih, Denna, tapi bukannya aku tidak suka teh hangat, hanya saja sekarang aku lebih banyak minum air putih untuk menjaga kesehatanku juga, bagaimanapun usiaku juga sudah tua."
"Iya, mungkin karena kakek menjaga pola makan, makannya kakek terlihat sangat sehat seperti nenek buyutku."
Kakek Rayhan tersenyum kecil. "Nenek buyut kamu tidak hanya sehat, tapi dia masih terlihat sangat cantik."
Denna yang gantian tersenyum. "Aku sudah mengetahui cerita tentang kalian berdua, sungguh sangat manis, walaupun tidak berakhir dengan happy ending."
"Kakek jadi malu." Mereka berdua malah tertawa.
Nio melihat sikut Denna yang dibalut plester dan dia memegangnya sehingga Denna terkejut karena merasakan sakit.
"Maaf, itu kenapa Dokter Cantik?"
"Ini kemarin terjatuh saat aku lari pagi di taman dekat rumah, Nio."
"Kenapa bisa terjatuh?"
__ADS_1
"Ada orang yang mau berbuat jahat padaku dan aku mencoba melawannya, tapi karena dia pria, jadi kekuatannya lebih besar dan akhirnya dia mendorongku."
"Hah? Jahat sekali, seharusnya seorang pria harus melindungi wanita. Itu yang daddyku selalu katakan padaku."
"Tapi kamu baik-baik saja, kan, Denna?"
"Iya, Kek, aku tidak apa-apa karena kebetulan ada orang yang melihatnya dan mereka menolongku, pria itu dibawa pergi ke pos pengamanan karena dia juga terpengaruh minuman keras."
Nio menggandeng tangan Denna. "Dokter Cantik lain kali jangan pergi sendirian, kalau mau lari pagi bersamaku atau dengan daddyku saja kalau nanti daddyku sudah pulang. Kalau dia berani jahat, biar ayahku yang menghajarnya."
Denna menunduk dan mengusap rambut Nio. "Terima kasih atas perhatiannya Nio. Bagaimana kalau kita membuat masakan sekarang. Nio sudah makan belum?"
Nio menggeleng. "Aku belum makan pagi, tadi langsung ke sini."
"Maaf, Denna, tapi aku masih ada urusan sedikit ke tempat kerjaku, dan aku juga belum ke rumah sakit melihat Dane," ucap kakek pelan pada kalimat terakhir.
"Ya sudah kalau begitu. Aku dan Nio akan sarapan pagi berdua, tapi sebelum itu aku mau menyelesaikan menyiram tanaman dulu."
"Aku boleh membantu, Dokter Cantik?"
"Tentu saja."
Kakek Rayhan izin pulang, dan dari dalam mobilnya dia melihat Denna dan Nio tampak sangat akrab dan seperti seorang ibu dan anak.
__ADS_1
"Dia benar-benar sangat pantas menjadi cucu menantuku menggantikan wanita ****** itu yang tidak pantas menjadi istri Dane ataupun ibu untuk Nio," dialognya sendiri.
Kakek Rayhan menuju rumah sakit terlebih dahulu untuk memastikan keadaan Dane masih tetap baik-baik saja.
"Tuan Muda masih tertidur, sepertinya dia semalam tidur larut saat aku menyuruhnya untuk tidur dia malah menyuruhku tidur lebih dulu."
"Apa ada yang sedang dia pikirkan?"
Paman Sam mengangguk dengan cepat. "Dia memikirkan untuk mencari tau siapa yang sudah mentransplantasikan jantung untuknya. Tuan Muda Dane benar-benar keras kepala ingin mengetahuinya dan aku minta maaf, Kek karena sudah menuruti keinginannya untuk membawakan ponsel dan laptop miliknya ke sini."
"Kamu memang selalu menuruti apa keinginannya, tapi biar saja dia mencari sendiri siapa yang sudah membuatnya bisa hidup kembali ke dunia ini."
"Tuan Muda memang tidak bisa dicegah. Dia seperti kakek."
Pria tua itu tersenyum tipis. "Sam, apa aku bisa minta tolong sama kamu?"
"Tentu saja, apa yang kakek ingin aku bantu?"
"Sam cari pria yang sudah berani membuat Denna terluka kemarin di taman dekat rumahnya."
"Apa? Nona Denna dilukai oleh seseorang? Kurang ajar sekali dia."
"Iya, pria itu membuat sikut Denna terluka, tapi Denna masih bisa selamat karena ditolong oleh orang-orang di taman itu. Kamu cari dia dan beri dia pelajaran agar tidak berbuat jahat lagi dengan seorang wanita."
__ADS_1
"Baik kalau begitu, Kek. Aku jadi geram dengan orang seperti itu."