Stay Beside You

Stay Beside You
Mommy Pura-Pura part 1


__ADS_3

"Dokter Cantik, apa itu foto mendiang suami, Dokter Cantik?" Nio melihat ke arah nakas yang ada di dekat meja makannya mereka.


"Iya, namanya Om Dimas. Dia seorang penjaga yang sangat pemberani dan tidak takut apapun selama dia merasa benar."


"Dia tampan sekali. Dia sekarang berada di surga? Kalau mommyku ke surga karena dia sakit dan tidak bisa pulang lagi, kalau pulang nanti mommyku sakit dan aku tidak mau melihat mommyku sakit."


"Sayang, walaupun mommyku jarang memperhatikan aku. Mommy selalu sibuk dengan kegiatannya dan sering marah padaku jika aku meminta memakaikan piyama tidurku, tapi Dokter Cantik jangan bilang sama Daddy dan kakek buyut, nanti di surga mommyku tau. Kata Daddy, mommy memang tidak ada di sini, tapi Mommy bisa melihatku." Nio menyuapkan satu sendok sup ke dalam mulutnya.


Denna mengusap perlahan kepala Nio. Denna sekali lagi tidak percaya apa yang selama ini Nio rasakan. Dia sangat menyayangi mommynya, tapi mommynya sepertinya tidak terlalu memperhatikan dirinya. Namun, bocah ini menyembunyikan hal itu dari kakek buyut dan daddynya.


"Nio, apapun yang mommy Nio sudah lakukan pada Nio. Nio yan pintar tidak boleh membenci atau marah pada mommy Nio. Nio paham, kan?"


Nio mengangguk beberapa kali. "Kata bu guru, kita harus menyayangi kedua orang tua."


"Anak pintar. Sekarang selesaikan makanan kamu dulu dan kemudian Nio boleh menonton televisi."


Nio melihat televisi di ruang tengah dengan menikmati puding susu buatnya dan Denna.


Denna seperti biasa membersihkan dapur dan rumahnya. Denna sangat menyukai kebersihan.


"Sudah selesai semuanya. Aku akan menemui Nio di ruang tengah dulu." Denna berjalan menuju ruang tengah dengan membawa sepiring puding susu lagi untuk Nio.


"Nio, apa mau lagi pu--." Denna tidak meneruskan kata-katanya karena melihat Nio yang ternyata sudah tidur di atas sofa panjang di sana.


"Kasihan, dia pasti lelah hari ini. Dia anak yang aktif sekali."


Denna meletakkan piringnya dan menggendong Nio membawanya ke dalam kamarnya.


Denna menyelimuti Nio dan tidak lupa mengecup dahi Nio.


Denna berjalan keluar dan dia gantian duduk bersantai di sofa panjang sambil menikmati puding susu yang dingin.

__ADS_1


"Ini, kan, kertas milik Nio, pasti dia lupa memasukkan ke dalam tasnya." Denna membaca isi dari kertas yang Nio bilang dia itu adalah cerita yang dia bawakan.


Seketika Denna menitikan air mata setelah selesai membaca isi cerita Nio. Denna bahkan mendekap kertas itu dengan erat.


"Dia anak yang kuat, padahal hatinya sebenarnya tidak baik-baik saja. Nio, kenapa bisa kamu sepintar ini?"


Tidak lama Denna mendengar bel pintu rumahnya, dan dia segera beranjak untuk membuka pintunya.


"Selamat siang, Denna," sapa pria tua yang tak lain adalah kakek Rayhan.


"Siang, Kek. Silakan masuk kalau begitu."


"Maaf, Denna, kakek ke sini karena untuk menjemput Nio pulang. Dia pasti merepotkan kamu seharian di sini."


"Kakek masuklah dulu karena Nio baru saja tidur. Dia aku tidurkan di dalam kamarku."


"Nio tidur?"


Kakek Rayhan bicara sambil berjalan masuk ke rumah Denna. Mereka duduk berhadapan di ruang tamu.


"Tapi di rumah, Nio tidak pernah tidur siang. Kalau disuruh tidur siang dia malah bermain di dalam kamarnya saat orang-orang pergi ke lantai bawah, tapi di sini dia malah tidur siang."


Denna tersenyum. "Nio hanya butuh perhatian yang lebih, Kek. Apa Nio pernah bercerita jika dia merasa kesepian di rumah? Pernah bercerita sering diejek temannya di sekolah?"


Kakek Rayhan terdiam sejenak. Lalu, kemudian pria itu menggelengkan kepalanya.


"Dulu sejak kepergian Tiara, Dane lebih sering menyibukkan diri di kantornya, dan aku juga sering keluar kota, tapi sejak Dane mulai sakit aku jadi sadar akan semuanya. Dane pun merasa bersalah pada Nio. Dane sebenarnya sangat menyayangi Nio, hanya saja dia masih tidak bisa menerima kehilangan istrinya dalam suatu kecelakaan."


Denna teringat akan dirinya yang sebenarnya juga hancur di dalam hatinya sejak kepergian Dimas.


"Aku bisa paham apa yang dirasakan Dane waktu itu."

__ADS_1


"Kalau soal bertengkar dengan temannya di sekolah, kenapa Nio tidak bercerita? Dan gurunya juga tidak mengatakan apa-apa."


"Dia dihina oleh temannya karena tidak memiliki mommy. Nio yang kesal karena sering dihina akhirnya memukul salah satu temannya itu, tapi kemudian dia dikeroyok oleh beberapa teman lainnya. Mungkin hal itu diselesaikan secara damai oleh gurunya dan tidak perlu kedua orang tua tau, apa lagi ini urusan anak yang masih kecil."


"Oh Tuhan!"


Tangan Denna mengusap perlahan lengan tangan kakek Rayhan. "Kakek jangan khawatir. Aku lihat Nio anak yang kuat dan dia bisa menyelesaikan masalahnya walaupun dia masih kecil, hanya saja tetap aku katakan, dia sangat butuh perhatian keluarganya."


"Terima kasih, Denna. Jika kamu tidak memberitahu semua ini, pasti aku tidak akan pernah tau."


"Sama-sama, Kek. Oh ya, Kek, apa Dane memiliki senjata seperti pistol?" tanya Denna penasaran.


Kakek Rayhan yang mendengar pertanyaan Denna agak terkejut. "Dane punya pistol, tapi itu hanya untuk menjaga dirinya. Memangnya kenapa Denna? Dan darimana kamu tau?"


"Nio mengatakan pernah melihat daddynya menodongkan senjata pada seseorang. Kek, apa hal itu tidak bisa dilakukan tanpa sepengetahuan Nio? Aku tidak mau tau kenapa Dane melakukan hal itu, tapi sebaiknya jangan di depan anak sekecil Nio." Wajah Denna agak kesal saat menjelaskan hal itu."


"Aku minta maaf, nanti aku akan beritahu pada Dane. Dane mungkin bulan depan sudah diperbolehkan pulang. Nio pasti sangat senang melihat siapa yang akan datang menemuinya."


"Syukurlah kalau begitu. Kek, apa boleh Nio menginap di sini saja dulu. Minta tolong supir Kakek untuk mengantar seragam sekolah Nio. Aku mau mengantar Nio ke sekolahnya sebelum aku pergi ke rumah sakit."


Kakek Rayhan mendelik mendengar apa yang Denna katakan. "Kamu mau mengantar Nio ke sekolah? Apa ini permintaan Nio?"


Denna menggeleng pelan. "Bukan Nio yang memintanya, tapi aku sendiri yang ingin mengantarkan Nio ke sekolah karena aku mau menjadi mommy pura-pura bagi Nio agar dia tidak lagi dihina oleh teman-temannya di sekolah, Kek."


"Apa? Mommy pura-pura?"


Denna tersenyum. "Aku hanya ingin membantu Nio, mungkin hanya itu yang bisa aku lakukan karena aku tidak akan mungkin bisa menjadi mommy Nio sebenarnya."


"Kenapa, Nak Dena? Cucuku Dane pria yang baik dan dia pasti akan menyukaimu, begitupun sebaliknya."


"Maaf, Kek. Tadi Nio juga berharap aku bisa menjadi mommynya, tapi aku sudah menjelaskan jika hal itu tidak mungkin terjadi. Bagiku, cintaku hanya untuk Dimas."

__ADS_1


__ADS_2