
Pagi berikutnya, Denna yang tertidur lagi di ruangan Dimas dirawat dibangunkan oleh salah satu perawat di sana.
Denna diminta keluar dulu karena para perawat itu akan mengurus dan memeriksa Dimas.
"Denna, ada telepon dari rumah sakit. Katanya ada pasien anak-anak yang harus kamu periksa karena dokter pengganti kamu tidak bisa datang hari ini. Ibunya tadi pagi meninggal dunia."
"Oh Tuhan! Tapi apa tidak ada dokter yang bisa menggantikan aku dulu, Ma? Aku benar-benar belum siap masuk kerja."
"Sayang, kamu itu seorang dokter, apa lagi pasien kamu anak-anak yang membutuhkan bantuanmu. Kasihan kalau mereka sakit sampai berlanjut, dan tidak mendapatkan perawatan secepatnya."
Denna ingat akan janjinya sebagai dokter waktu itu. Dia juga ingin mendedikasikan apa yang dia pelajari selama ini untuk membantu anak-anak kecil yang masih sangat polos, apa lagi senyum mereka yang bisa membuat dunia lebih indah.
Denna dan Dimas sangat menyukai anak-anak dan berharap mereka kelak akan memiliki banyak anak.
"Kalau begitu aku berangkat ke rumah sakit dulu, Ma. Mama, kalau nanti ada perkembangan tentang Dimas, jangan lupa Mama langsung memberitahuku."
"Pasti, Sayang."
Denna berjalan ke depan dan dia bertemu dengan uncle Leo dan ayahnya yang baru saja tiba di rumah sakit.
"Kamu mau ke mana, Nak?"
"Aku mau ke rumah sakit di mana aku bekerja, Yah."
"Jadi, kamu sudah siap masuk kerja lagi?" Denna mengangguk. "Bagaimanapun juga aku harus bertanggung jawab dengan pekerjaanku, Yah."
Jaden seketika memeluk putrinya. "Ayah yakin jika putriku ini adalah wanita yang kuat."
"Denna, mau Uncle antarkan ke rumah sakit?"
"Iya, Uncle." Denna memeluk lengan tangan pamannya itu dan mereka menuju rumah sakit di mana Denna bekerja.
Di sana sudah ada beberapa pasien anak-anak, dan mereka selalu bertanya ke mana dokter Denna.
Denna memeriksa mereka sesuai antrian. Denna sedikit terhibur dengan bertemu dan berbicara dengan anak-anak itu.
Denna yang sudah selesai memeriksa dan memberi resep obat ingin segera naik ke lantai atas karena dia ada jadwal visit dokter.
"Dok, tolong Tuan Muda saya, badannya panas." Tiba-tiba ada yang membawa seorang bocah laki-laki yang kedua matanya terpejam, tapi badannya sangat panas. Denna segera menyuruh meletakkan di atas tempat tidur dan dia memeriksanya.
__ADS_1
"Daddy, Nio Ingin bertemu dengan Daddy. Daddy pulang," bocah kecil itu meracau tidak sadar.
"Sejak kapan dia seperti ini?"
"Tadi pagi waktu saya mau bangunan, saya buka pintu dan sudah melihat Tuan Muda Kecil seperti ini karena saya takut terjadi apa-apa, saya langsung bawa ke sini."
"Kamu siapanya?"
"Saya salah satu kepala pelayan di rumah tuan muda kecil."
"Orang tua anak ini mana?"
"Mommy tuan muda kecil sudah meninggal dan daddynya sedang sakit di rumah sakit."
"Oh Tuhan!" Denna segera mengambil obat dan memasukkannya ke dalam ***** anak itu dan Denna menyuruh agar anak itu beristirahat di ruangannya dulu untuk menunggu reaksi obatnya.
"Dok, apa tuan muda kecil saya tidak apa-apa?" tanyanya dengan wajah cemas.
"Kita tunggu dulu reaksi obatnya, kalau sampai nanti dia belum turun panasnya, akan aku periksa lagi lebih lanjut. Apa tidak ada keluarga anak ini yang bisa bertanggung jawab dengannya?"
"Ada, Dok. Saya akan menghubungi kakek buyutnya agar bisa datang ke sini karena beliau sedang ada di kita kota."
"Iya, Dok, silakan."
Wanita paruh baya yang masih lengkap dengan seragam pelayanannya itu segera menghubungi kakek buyut Nio. Siapa lagi kalau bukan kakek Rayhan.
"Apa? Lalu, bagaimana keadaan cicitku?"
"Sudah ditangani oleh Dokter itu, tapi saya harus menunggu reaksi obatnya dulu, Kek."
"Ya sudah kalau begitu, kamu jaga baik-baik Nio. Aku dan Sam akan segera pulang."
Wajah kakek Rayhan seketika tampak pucat. Dia lantas menyuruh supirnya untuk putar balik karena dia mau kembali pulang untuk melihat cicitnya. Kakek Rayhan langsung pulang sebelum dia sempat meeting dengan rekan bisnis Dane sebagai pengganti Dane yang tidak bisa datang.
Sam yang tau dari pembicaraan kakek tadi mencoba membuat kakek Rayhan lebih tenang.
"Cicit kakek akan baik-baik saja. Kita akan segera pulang dan bertemu dengannya."
Sekitar tiga jam perjalanan kakek Rayhan menuju ke arah rumah sakit yang tadi pelayan itu kirim .
__ADS_1
Kakek Rayhan segera naik ke lantai atas karena ternyata Nio harus dirawat di rumah sakit.
Pria tua itu membuka pintu kamar dengan tulisan VVIP. Saat pintu terbuka, kakek Rayhan agak terkejut melihat cicitnya sedang berbicara dengan seorang wanita dengan pakaian dokternya dan kakek Rayhan mengenali wanita itu adalah Denna.
Kakek Rayhan melihat Nio yang mau bicara bahkan tertawa dengan Denna, padahal Nio ini anak yang tidak mudah akrab dengan orang baru.
"Kakek buyut!" serunya saat melihat pria tua yang berdiri di depan pintu.
Denna pun agak terkejut melihat siapa yang di panggil Nio kakek buyut.
"Kakek Rayhan?"
"Selamat sore, Denna."
"Kakek buyut, Nio tadi dibawa bibi Yaya ke sini, katanya Nio demam tinggi dan memanggil nama Daddy terus."
"Kakek Rayhan, Nio cucu Kakek?"
"Dia putra dari Dane. Dia yang selalu menunggu Dane pulang ke rumah, Denna."
Kakek Rayhan berjalan dan mendekat pada cicitnya. "Kakek, apa Daddy tidak datang? Kakek bilang sama Daddy kalau aku sedang sakit."
"Iya, kakek sudah bilang sama Daddy Nio kalau Nio sedang sakit," suara pria itu tampak bergetar.
Seketika ada sesuatu di hati Denna yang terasa sangat menusuk melihat hal itu.
"Daddy kenapa lama sekali tidak pulang? Nanti seperti mommy tidak pernah pulang sampai lama karena mommy berada di surga, jadi tidak bisa pulang. Apa Daddy Nio juga ikut mommy ke surga, Kakek buyut?"
Pria tua itu tidak menjawab, dia malah pergi dengan berlinang air mata keluar dari kamar cicitnya.
"Kakek buyut kenapa?" Nio melihat ke arah Denna.
"Sayang, daddy kamu pasti pulang, tadi mata kakek buyut terkena debu jadi keluar air mata," jelas Denna yang dia sendiri bingung harus bicara apa pada bocah berusia sekitar tiga tahunan itu.
"Dokter cantik, kalau daddyku mengajak aku pulang, aku boleh pulang, kan?"
Denna mengangguk perlahan. "Kalau Nio sudah sembuh, Nio boleh pulang dengan Daddy Nio. Nio kalau mau sembuh harus banyak tertawa dan senyum, jangan bersedih, kalau bersedih terus nanti dokter cantik tidak memperbolehkan Nio pulang walaupun Daddy Nio menyusul ke sini."
Kedua tangan bocah kecil itu tiba-tiba merangkul leher Denna dan memeluknya. Hal itu tentu saja membuat Denna kaget.
__ADS_1
"