
Dane pergi ke rumah Denna dan wanita itu menyambut dengan senyumannya yang manis.
"Aku tadi sebenarnya ingin mengajak kamu makan pagi di restoran dekat dengan rumah sakitmu, tapi ternyata kamu mengajak makan pagi di rumahmu."
"Aku lebih senang memasak sendiri daripada harus membeli atau makan di luar. Sambil belajar memasak untuk calon suami dan anakku kelak." Denna melirik pada Dane.
"Aku tidak akan menuntut calon istriku bisa memasak atau pandai mengerjakan pekerjaan rumah. Cukup dia bisa merawat dan mendidik anak-anakku dengan baik karena istri adalah ratu di rumahnya."
"Terima kasih jika nanti kamu menganggap aku sebagai ratu di rumahmu, tapi tetap saja aku berkewajiban melakukan semua tugas Istri seperti memasak untuk kamu dan Nio."
Dane memegang tangan Denna dengan lembut. "Lakukan yang menurutmu baik dan tidak membebanimu."
"Terima kasih, Dane." Denna memeluk calon suaminya itu.
"Huft! Aku jadi ingin secepatnya menikah dan memiliki anak darimu. Nio pasti akan sangat bahagia."
"Dane!" Denna langsung menarik tubuhnya dari pelukan Dane, memukulnya dengan pelan.
Setelah makan pagi mereka selesai. Dane mengajak Denna berangkat lebih awal karena Dane harus mampir sebentar ke suatu tempat.
"Memangnya kamu mau ke mana?"
"Nanti kamu juga akan tau sendiri."
Dane fokus mengemudikan jalanan yang agak padat pagi ini. Tidak lama mobilnya berhenti di sebuah toko bunga yang tidak terlalu besar. Dane menyuruh Denna menunggu sebentar di dalam mobil, lalu dia keluar dan masuk ke dalam toko bunga itu.
Beberapa menit kemudian, Denna melihat pria yang sekarang menempati hatinya itu berjalan ke arahnya dengan sebuket bunga mawar merah dan putih yang dihias sangat cantik.
"Untuk kamu."
"Apa? Untukku?" Kedua mata Denna berbinar menunjukkan dia terlihat sangat senang dengan bunga pemberian Dane.
"Ini sebagai ucapan terima kasih karena sudah menerimaku menjadi calon suamimu."
Denna yang menerima bunga itu tersenyum kecil. "Aku juga berterima kasih sudah memilihku menjadi calon istri dan ibu bagi anakmu."
Dane membawa Denna pergi ke rumah sakit. Dane pun setelah itu berangkat ke kantornya. Kegiatan tampak berjalan begitu normal.
Siang harinya Denna yang menghubungi Dane bahwa dia sudah selesai dengan pekerjaannya, meminta Dane agar membawanya untuk menjemput Nio.
"Daddy dan Tante Denna? Kenapa kalian berdua bisa berada di sini?"
"Apa kamu ingin mengetahui sebuah kejutan, Sayang?" tanya Denna yang mensejajarkan tubuhnya dengan Nio.
__ADS_1
"Kejutan apa?"
"Ayo ikut kita kalau begitu." Denna menggandeng tangan Nio dan mereka bertiga berjalan menuju mobil. Di dalam mobil Denna yang duduk belakang tampak serius mendengarkan semua cerita Nio tentang sekolahnya hari ini.
Dane yang melihat tampak senang dengan kedekatan Denna dengan Nio, mereka benar-benar seperti ibu dan anak.
Sesampai di depan rumah Denna. Nio tampak terkejut.
"Kita main ke rumah Tante Denna, Daddy?"
"Tentu saja. Arsen, Tante Denna ingin membuatkan makan siang untuk kita."
"Wow! Kalau begitu aku juga mau menginap di sini juga ya, Daddy?"
"Kamu tidak perlu menginap karena kita akan tinggal di sebelah rumah Tante Denna."
"Maksudnya?"
"Daddy sudah membeli rumah yang berada di sebelah rumah Tante Denna, dan selama tante Denna belum sah menjadi ibu kamu, maka kita akan tinggal dekat dengannya. Arsen paham dengan apa yang Daddy sampaikan?"
Kepala bocah laki-laki itu langsung mengangguk beberapa kali. "Aku paham, Daddy. Kalau begitu aku tidur di sini saja, nanti ganti baju dan mandinya di rumah kita sendiri."
Dane melihat pada Denna, dan Denna dengan cepat memperbolehkan hal itu.
Setelah malam siang, Denna mengajak Nio mengerjakan pekerjaan rumahnya agar nanti malam Nio memiliki waktu bermain bersama dengan Daddy dan calon ibunya.
"Daddy, bagaimana kalau nanti malam kita ajak Tante Denna nonton bioskop?"
"Kita tunggu lusa saja, Nio. Lusa kamu libur sekolah dan kita bisa menonton pada sing hari saja, agar malam kamu bisa beristirahat."
"Memangnya lusa kamu tidak ada jadwal praktek?"
"Aku bisa tukar shif dengan Diaz nantinya dan Diaz juga tidak akan keberatan."
"Asik ...! Aku senang sekali memiliki keluarga yang sempurna seperti ini. Daddy yang tampan dan ibu yang baik."
"Aku juga senang akan memilik anak yang lucu dan pintar seperti kamu." Denna mengusap kepala Nio.
"Daddy, kenapa tidak menikahi Tante Denna besok saja?" celetuknya.
"Tidak bisa seperti itu, Nio. Segala sesuatu itu ada prosesnya, kamu sabar saja menunggunya. Daddy kamu saja sangat sabar menunggu Tante Denna mengatakan iya mau menikah dengannya." Denna melirik pada Dane.
"Sebenarnya aku juga ingin kita segera menikah, Denna."
__ADS_1
"Dane." Denna mendelik pada pria di depannya yang wajahnya tampak datar. "Nio, sekarang sudah siang dan kamu harus tidur siang supaya tidak mudah sakit." Denna beranjak dari tempatnya dan menggendong bocah kecil itu.
"Aku mau tidur di sini, Tante Denna."
"Iya, Tante Denna akan menidurkan kamu di kamar Tante. Mau, kan?"
"Sambil baca cerita 'kan?"
Denna mengangguk dan tangan bocah kecil itu langsung merangkul pada leher Denna.
Denna menidurkan Nio di dalam kamarnya sembari membacakan dongeng untuk Nio.
Beberapa menit kemudian, Denna keluar dari dalam kamarnya dan saat dia melihat pada dapurnya. Denna terkejut melihat pria yang sebentar lagi akan menikah dengannya sedang mencuci peralatan dapur yang kotor di depan wastafel.
"Dane? Kenapa kamu malah yang mencuci piringnya? Sini biar aku saja!" Denna mencoba mengambil piring dari tangan Dane dan melanjutkan mencuci piringnya.
"Aku juga bisa mencuci piring, Denna, dan kamu jangan khawatir karena aku tidak akan memecahkan piringmu."
"Tapi ini bukan tugasmu, Dane."
"Lalu, tugasku apa kalau begitu?" Tiba-tiba Dane menelusupkan kedua tangannya dan memeluk Denna dari belakang.
"Dane!" Denna tampak terkejut, tapi dia tidak menolak pelukan calon suaminya.
"Aku tidak suka jika nanti kita menikah dan kamu disibukkan dengan pekerjaan rumah dan lainnya."
"Apa kamu ingin aku berhenti bekerja di rumah sakit?"
Dane membalikkan tubuh Denna agar dapat bicara dengan saling melihat. "Kamu tidak perlu berhenti karena aku tau itu pekerjaan yang sangat mulia dan kamu memang sangat menginginkan pekerjaan itu.
"Tapi jika untuk keluargaku, aku tidak apa-apa jika harus berhenti."
Dane menatap sangat lekat wajah wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta itu. "Apa kamu mencintaiku, Denna?"
"Em ...!" Denna tampak berpikir. "Aku tidak mencintaimu, tapi sangat mencintaimu, Tuan Dane." Denna malah mencipratkan air di tangannya pada wajah Danne.
Mereka akhirnya tampak saling berkejaran sampai di rumah tengah. "Dane, nanti kalau dilihat Nio bagaimana?" Mereka ini sedang dalam posisi yang nyaman. Denna terjatuh di atas sofa panjang di ruang tengah dan Dane tepat berada di atasnya.
"Apa kamu sudah mengunci pintunya?"
"Sudah, sih, tapi ...."
Belum sempat Denna bicara, Dane sudah menciumnya saja. Denna pun akhirnya membalas ciuman Danne.
__ADS_1