Stay Beside You

Stay Beside You
Jatuh Cinta part 2


__ADS_3

Denna yang baru selesai mandi segera berganti baju dan dia melihat ada pesan masuk dari grup di rumah sakitnya.


"Mereka ini tidak mengantuk apa? Masih ramai saja." Denna menguap dan dia akhirnya berbaring nyaman di atas tempat tidur empuknya.


Denna sudah memejamkan kedua matanya karena memang dia mengantuk sekali.


Beberapa menit kemudian, suara ponsel Denna berbunyi. Denna yang sudah sangat mengantuk tidak mendengar bunyi ponselnya .


Ada sekitar tiga kali ponsel itu sudah berbunyi dan si pemiliknya masih belum sadar ponselnya berbunyi.


"Apa dia sudah tidur?" Dane akhirnya mengakhiri panggilannya. "Aku tulis pesan saja padanya." Dane mengetikkan sesuatu dan kemudian meletakkan ponselnya.


Pintu ruangan di mana Dane berada dibuka oleh seseorang. Wajah pria tua itu tersenyum melihat cucunya duduk dengan menatap layar laptop di depannya.


"Nak, apa kakek bisa bicara sebentar sama kamu?"


"Tentu saja, Kek."


Pria tua itu berjalan dengan menggunakan tongkatnya karena beberapa hari ini kakinya memang sedikit sakit.


Sekarang dua orang itu saling berhadapan. Pria tua itu tersenyum pada cucunya.


"Kek, apa kakinya masih sakit?"


"Ini sudah mendingan, kemarin dokter mengatakan agar aku tidak telat minum obatnya."


"Nanti akan aku ingatkan Paman Sam."


"Sam sudah bekerja sangat baik, sampai dia sendiri tidak memikirkan dirinya."


"Paman Sam memang sangat menyayangi kita. Oh ya! Ada apa, Kek?"


"Nak, kakek sangat senang mengetahui jika kamu sudah melamar Denna untuk menjadi istrimu."


"Pasti nenek Miranti yang memberitahu."


"Iya, wanita cantikku itu terlihat sangat senang saat menceritakan hal ini, tapi kenapa hanya kakek yang tidak mengetahui hal ini?"

__ADS_1


"Sebenarnya tidak ada yang tau, Kek. Bahkan Denna juga sebenarnya tidak ingin mengatakan hal ini dulu, tapi karena mamanya melihat aku mencium Denna malam itu, jadi akhirnya dia mengatakannya." Dane tersenyum kecil seolah dia malu mengatakan hal itu.


Pria tua di hadapannya itu pun tertular senyum Dane. "Kakek senang melihat dirimu yang sekarang, Nak. Kamu seperti lebih banyak senyum dan menikmati hidupnya dengan baik, dan itu karena Denna."


"Aku sendiri kadang belum bisa memahami ada apa denganku? Tapi aku tau jika aku memang sudah jatuh cinta pada wanita itu, Kek."


"Lalu, apa Denna belum menjawabnya?"


"Belum, aku mengatakan jika jawaban dari pertanyaanku, aku tunggu saat kita semua pergi ke villa. Di sana nanti jika dia menerima atau menolakku aku akan katakan pada semuanya agar semua menjadi jelas, dan aku tidak akan marah pada Denna karena aku akan menghormati semua keputusannya."


Kakek tua itu berdiri dari tempatnya. "Semoga kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan, Nak. Kakek hanya bisa berdoa untukmu."


"Terima kasih, Kek."


Dane melihat kakeknya berjalan keluar dari ruangannya. Dane tidak mau membantu bukan karena malas, tapi dia tau kakeknya.


Pria tua itu tidak suka diperlakukan seperti orang yang merepotkan orang lain. Selama dia masih bisa melakukan sesuatu sendiri. Kakek Rayhan akan melakukannya.


"Aku ingin menikahi Denna karena aku juga harus melindungi wanita yang aku cintai itu dari Troy, Kek. Beberapa hari ini Troy selalu mengawasinya. Aku juga tidak bisa jauh dari Denna," Dane berdialog sendiri.


Tidak lama ponsel Dane berbunyi dan dia melihat nama seseorang di sana.


"Aku akan segera ke sana. Jangan sakiti dia, biar aku yang mengurusnya karena aku sudah lama tidak berlatih dengan samsak hidup."


Dane beranjak dari tempatnya. Dia menuju kamar putranya sebentar untuk melihat Nio sebelum dia pergi.


Mobil Dane sudah sampai di tempat biasa dia bertemu dengan musuh yang perlu dia beri pelajaran.


"Tuan, sesuai perintah Anda, dia aku jamu sangat baik." Tersungging senyum dari pria yang menjadi kaki tangan Dane selama ini.


Dane berjalan masuk ke dalam ruangan dan melihat pria yang sudah dibawa oleh Bimo duduk dengan wajah datarnya. Di depannya ada beberapa makanan dan kopi yang masih hangat.


"Kenapa tidak kamu makan makanan yang sudah susah payah anak buahku siapkan?"


"Aku sedang tidak lapar. Tuan, ada apa aku dibawa ke sini?"


"Aku membawamu ke sini karena aku ingin tau apa masalahmu denganku karena aku mengetahui jika kamu adalah orang yang selama ini berusaha mencari masalah denganku?"

__ADS_1


"Aku tidak suka saja dengan apa yang kamu kerjakan selama ini."


"Begitu. Lalu, kenapa juga kamu membututi terus wanita bernama Denna? Siapa yang menyuruhmu? Troy?


"Tidak ada yang menyuruhku, aku melakukanya karena memang aku tidak suka denganmu, Danendra." Tatap pria itu tajam.


"Apa kamu memiliki dendam denganku?" Danendra menatapnya datar dengan duduk bersandar pada tepi kursinya.


"Banyak, kamu sudah menghancurkan semua bisnisku karena dirimu mengambil lahan yang seharusnya menjadi milikku."


"Persaingan bisnis memang kejam dan kamu seharusnya mengetahui hal itu. Jika kamu tidak sanggup, sebaiknya kamu mundur."


"Tuan," Bimo mendekat pada Dane dan membisikan sesuatu."


"Apa?" Kedua mata Dane mendelik. Tangan Dane seketika menarik kra baju pria di depannya. "Kamu benar-benar menantangku"


"Kenapa? Apa kamu akan hancur kali ini, Tuan Dane? Kamu itu hanya seorang pengecut yang beraninya bersembunyi dibalik anak buahmu. Kamu bukan apa-apa jika tidak ada mereka karena kamu hanya orang lemah yang penyakitan."


Dane melepaskan tangannya dan dia berdiri di depan pria itu. Dane melepaskan suitnya dan menggulung kedua lengan kemejanya, sampai batas sikut.


"Kamu mengatakan aku lemah, dan seorang penyakitan." Dane menunduk mendekatkan wajahnya pada pria yang duduk dengan menatap datar pada Dane. "Bertarunglah dengan orang penyakitan ini. Jika aku kalah, kamu bisa pergi dari sini dengan keadaan baik-baik saja, dan kamu boleh mengambil semua milikku."


"Ide bagus. Aku ingin sekali wanitamu itu. Dia cantik sekali, apa lagi jika dia sedang tersenyum."


Dane mengeraskan rahangnya menahan marah. "Jika kamu kalah. Aku habisi kamu," ucap Dane menekankan.


"Tuan, Anda yakin tidak apa-apa?"


"Minggir Bimo, aku sudah lama tidak melakukan hal ini, dan si bodoh ini akan menjadi boneka mainan pertamaku." Dane menunjukkan seringainya.


Dane berdiri tegap dari tempatnya dan pria itu juga berdiri dari tempatnya.


Dane tampak tenang melihat pria itu. "Aku akan membuat kamu menangis darah Danendra."


Pukulan pria itu bisa ditangkis oleh Dane dan Dan dengan cepat membalasnya.


Pertarungan yang seimbang karena satu lawan satu. Dane pun sepertinya menikmati bisa menghajar pria itu karena kata-kata buruknya tentang Denna tadi yang sebenarnya membuat Dane darahnya semakin mendidih.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruhmu? Katakan padaku!" Leher pria itu dicekik dengan kuat oleh tangan Dane, bahkan wajah pria itu sudah babak belur terkena pukulan Dane yang seolah dia ingin sekali langsung menghabisi pria itu.


__ADS_2