Stay Beside You

Stay Beside You
Sosok Dane yang Lain


__ADS_3

Nara benar-benar bingung dengan suaminya ini. Dia sepertinya selalu takut jika putrinya akan menikah dengan seseorang.


Jaden takut karena dia memang terlalu menyayangi Denna. Dia takut Denna malah akan hidup menderita jika pilihannya salah. Apa lagi Denna adalah putri semata wayangnya, dia ingin agar putri satu-satunya itu bisa hidup bahagia. Jadi, saat dia meninggal suatu hari nanti, dia dapat meninggal dengan tenang.


Ayah yang melankolis. Dia mafia, tapi hati seperti kapas kalau soal anak.


"Aku dulu sempat meragukan Dimas, tapi ternyata dia pria yang bisa diandalkan, hanya saja nasibnya yang memang kita semua juga tidak bisa menduganya."


"Aku berharap cicitku itu mendapat pria yang baik untuknya. Pria yang seperti Dimas."


Nara beranjak dari tempatnya dan memeluk nenek Miranti. "Nara juga berharap seperti itu, Nek."


"Apa kalian tidak coba saja meneruskan perjodohan ini?"


"Meneruskan bagaimana, Mas Leo?"


"Meneruskan dengan sedikit paksaan."


"Paksaan? Leo, Denna dan Dane itu sama-sama sudah dewasa dan mereka juga sama-sama pernah menikah. Kalau Denna masih anak sekolah apa kuliah, pantas, jika aku paksa."


"Mau bagaimana lagi, Tuan? Kalau Denna sampai tidak mau menikah lagi sama sekali, kasihan juga dia."


"Jangan bicara hal menakutkan seperti itu, Leo."


"Bukan menakutkan, Tuan, tapi bisa saja hal itu terjadi karena Denna memang tidak mau menikah lagi. Dia bisa saja tidak mau menikah karena takut akan kehilangan lagi atau karena dia masih sangat mencintai Dimas."


"Aku buat lagi saja anak dengan Nara."


"Tidak mau, kamu saja yang hamil." Nara melengos pergi.


Leo dan nenek lagi-lagi terkekeh mendengar apa yang Jaden katakan.


"Tuan kalau hamil pasti lucu."


"Mana ada lelaki hamil? Aku cari saja wanita yang mau melahirkan anakku."


"Apa kamu bilang?" teriak Nara dari dalam.


"Tuan bilang kalau dia mau mencari wanita yang mau melahirkan anaknya," jawab Leo.


"Leo! Kamu memang dari dulu masih berharap aku dan Nara ada masalah, ya?" Leo malah berlari keluar dan Jaden mengejarnya.


Nenek sampai menggelengkan kepala tidak percaya melihat tingkah cucunya yang memang seharusnya dia sudah memiliki cucu agar tidak seperti anak kecil.

__ADS_1


Di dalam kamarnya, Denna yang ternyata belum tidur memikirkan saat tadi dia kesal pada Dane. "Dia itu benar-benar mencurigakan. Apa yang sedang dia sembunyikan?"


Di tempat lain. Di mana Danne yang baru saja menidurkan anaknya. Dia di depan pintu kamar Nio disambut oleh kakeknya yang baru saja datang entah dari mana.


"Dane, kakek ingin bicara sesuatu sama kamu."


"Ada apa, Kek? Aku mau pergi ke tempat Bimo."


"Ke tempat Bimo? Apa ada masalah?"


"Aku belum tau, dan ini aku mau ke sana untuk mencari tau ada apa. Kakek ada perlu apa denganku?"


"Kita bicara di ruang tengah saja, dan paman Sam juga sudah menyiapkan minuman hangat untuk kita berdua."


Dane mengangguk dan dia berjalan mengikuti pria tua yang jalan lebih dulu di depannya.


Sesampai di ruang tengah, Dane menyalakan perapian sehingga suasana di sana yang memang dingin karena hujan lebat, sekarang berubah menjadi suasana yang lebih hangat.


"Dane, apa kamu tidak mau menikah lagi?"


Pria yang memasukkan kayu bakar pada perapian itu tersenyum miring mendengar apa yang baru saja kakeknya katakan.


"Aku masih tidak mau memikirkan hal itu." Dane melihat pada kakeknya yang duduk dengan salah satu kaki menyilang dan tangannya memegang cangkir teh hangat melihat pada Dane. "Apa kakek sudah memilih lagi wanita yang akan dikenalkan padaku? Aku menolaknya."


Danne perlahan berdiri tegap melihat serius pada kakeknya. "Denna?"


"Iya, Denna. Mommy pura-puranya Arsenio."


"Bukannya aku sudah mengenal Denna?"


"Memang, kamu memang mengenal Denna. Jadi, akan lebih mudah jika kalian nanti menikah."


Dane mengambil teh hangatnya dan meminumnya perlahan. "Justru aku dan Denna sudah mengenal, jadi kami sudah tau sedikit banyaknya apakah kita cocok atau tidak."


"Lalu?"


"Kami tidak cocok, Kek. Denna juga tidak ingin memikirkan tentang pernikahan."


"Apa benar kamu merasa Denna tidak cocok untuk menjadi istrimu dan ibu untuk Nio?" Kakek Rayhan melirik pada Dane.


Dane beranjak dari tempatnya. "Kek, aku pergi dulu untuk menyelesaikan masalah dengan Bimo."


"Apa pembicaraan ini tidak akan dilanjut?"

__ADS_1


Dane melihat pada kakeknya. "Nanti kita lanjutkan."


Dane berjalan pergi dari sana. Terlukis senyum dari bibir kakek Rayhan setelah mendengar ucapan Dane. "Kakek tidak bisa dibohongi, cucuku."


Dane berjalan pergi dari sana. Dia pergi ke suatu tempat yang tempatnya cukup tersembunyi dan Dane tampak waspada masuk ke dalam sebuah rumah yang cukup besar dengan suasana agak gelap.


"Tuan, Bimo mengunggu di dalam gua."


"Iya, aku akan ke sana."


Mobil Dane masuk ke dalam halaman yang cukup besar dan terus menuju ke tempat di belakang rumah itu.


Pria itu turun dan berjalan dengan melepas jas yang dia pakai. Dane berjalan masuk ke dalam tempat yang memang mirip seperti gua, dan di sana gelap hanya ada sedikit cahaya.


Dane semakin ke dalam dan mulai terlihat beberapa pria berpakaian hitam dan ada seseorang duduk di sebuah kursi dengan tangan terikat ke belakang serta kepalanya ditutup kain hitam.


"Tuan Dane."


"Siapa dia?"


"Dia pria yang sudah berani berkhianat dengan menjadi mata-mata seseorang untuk membuat Tuan Dane tidak bisa mendapatkan wilayah yang sedang kita incar.".


"Apa wilayah itu tidak jadi aku miliki?"


"Iya, Tuan. Wilayah itu sudah dimiliki oleh orang lain dan semua itu karena pria ini."


Pria dengan badan kekarnya itu membuka penutup kepala dari orang yang sedang mereka sandra.


Dane menatap wajah pria yang duduk dengan lemas karena dia baru saja dipukuli oleh anak buah Bimo.


"Kenapa kamu berani berkhianat denganku? Apa yang membuatmu berani melakukannya?"


"Saya minta maaf, Tuan Dane. Saya melakukan hal itu karena saya membutuhkan banyak uang untuk pengobatan putriku yang sedang sakit parah."


"Di mana putrimu sekarang?"


"Dia di rumah sakit sedang berjuang untuk hidup."


"Bimo, apa kamu sudah mencari tau tentang keadaan putrinya?"


"Belum, Tuan, tapi Tuan jangan percaya begitu saja. Dia sudah membawa kerugian yang banyak untuk Tuan Dane. Andai kita bisa mendapatkan wilayah itu, maka, Tuan akan bisa memperluas kekuasaan kita."


"Kamu cari informasi apa yang dia katakan benar atau malah dia mencoba membohongiku. Kalau dia sampai membohongiku, dia akan menjadi makanan harimau milikku yang lapar."

__ADS_1


Wajah Bimo tampak kesal, tapi dia harus melakukan perintah Dane. Bimo menyuruh orangnya segera mencari tau.


__ADS_2