
Polisi sudah berhasil menemukan tempat dimana Herman bersembunyi selama ini.
Ternyata pria itu berada di kampung halamanya dulu, tempat ia membangun rumah tangga bersama orang yang ia cintai yaitu Rossa.
Dan polisi segera melakukan penangkapan terhadap Herman.
Ketika polisi melakukakan penangkapan, pria itu tengan berada di makan Rossa, dan ternyata Herman sudah beberapa hari ini tinggal di sana.
Di tempat peristirahatan terakhir mendiang istri yang ia campakan.
Berhari-hari pria itu memeluk dan menangis di pusara Rossa.
"Maaf. Maafkan aku Rossa. Maafkan semua kesalahan ku padamu, apa kau tau Rossa. Sesungguhnya aku tidak berniat meninggalkan mu, tapi itu semua karena
Merlin, Merlin yang memaksaku untuk meninggalkanmu. Tolong maafkan aku Rossa, aku sangat menyayangimu tapi keadaan yang membuatku meninggalkan mu, aku menyesal. Sungguh aku sangat menyesal."
Herman menyesal!
Ya... Dia sangat menyesal dengan apa yang ia perbuat, ia menyesal telah meninggalkan istri yang sangat mencintainya dengan sepenuh hati, ia juga menyesal karena telah menelantarkan anak-anaknya. Herman menyesali semua itu.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, menyesalpun sudah tidak ada gunanya lagi.
Herman harus menanggung semuanya. Ia harus bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan pada keluargganya.
Polisi segera menarik Herman dan membawa pria untuk di adili, ia harus mempertanggung jawabkan apa yang telah ia lakukakn pada Merlin.
Lelaki itu hanya bisa diam tanpa melakukan pembelaan apapun di persidangan.
Herman di jatuhi hukuman seumur hidup atas perbuatannya yang telah menghilangkan nyawa sang istri.
❤❤❤❤❤
Selama beberapa hari Herman di penjara pria itu hanya termenung dengan tatapan kosong.
"Pak Herman! Ada yang ingin bertemu dengan anda."Ucap salah satu petugas lapas.
Herman menoleh tidak bersemangat, karena ia mengira itu pasti keluarga atau rekan dari Merlin yang hanya ingin menghujat dan menyumpahinya saja.
Tapi siapa sangkan orang yang ingin membesuknya adalah, ke 3 putrinya. Tiara, Berlian dan Intan.
Tubuh Herman bergetar hebat melihat ke 3 anak perempuanya itu.
Tapi Herman malu dan cukup tau diri jika ia sudah tidak pantas lagi di sebut ayah oleh ke 3 putrinya itu.
Karena Herman sudah menggores luka yang teramat dalam di hati anak-anaknya.
"Ayah, bagaimana kabarmu?"yang pertama mengeluarkan suara adalah Tiara.
Herman tertegun mendengar Tiara memanggilnya ayah.
Perlahan Tiara mendekat,dan kembali mengulangi pertanyaanya.
Herman tidak mamapu menjawab pertanyaan putrinya itu, ia hanya bisa menunduk malu.
"Maafkan ayah Tiara, maafkan ayahmu yang jahat ini." Herman terisak tak kuasa menahan tangis.
Tiara mengangguk.
"Aku sudah memaafkan ayah. Dan aku sudah berusaha mengikhlaskan semuanya."
"Terimakasih nak. Tiara bolehkah ayah memeluk mu dan adik mu?"pinta Herman.
Tiara kembali mengangguk.
"Tentu."
Tiara yang lebih dulu berhambur memeluk Herman dan di susul dengan Intan.
Sementara Berlian.
Ia hanya mematung tak bergerak.
Mugkin Berlian masih menyimpan marah dan kecewa pada Herman.
Tentu saja.
Karena pria itu telah membunuh mamahnya.
"Berlian!"panggil Herman lirih.
Namun Berlian sama sekali tidak menghiraukan panggilan sang papah.
Berlian memilih pergi dari sana tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Membuat hati Herman semakin sedih dan merasa bersalah.
"Berikan Berlian waktu, tentu dia sangat terluka dan terpukul atas kematian ibunya, apa lagi ibunya meninggal di tangan ayahnya sendiri .Dan aku yakin ayah tau itu, karena akupun dulu pernah merasakan hal yang sama seperti Berlian."
"Ayah mengerti dan ayah tahu itu. Tolong sampaikan maaf ayah pada Berlian, sungguh ayah tidak senaja melakukan itu, tolong sampaikan maaf ayah pada Berlian."
❤❤❤❤❤
__ADS_1
Setelelah menjenguk Herman.
Tiara kembali pulang.
Berlian masih diam tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Mugkin Berlian masih memikirkan Herman dan mamahnya.
"Berlian, ayah mengharapkan maaf darimu."
"Aku sungguh tidak bisa memaafkannya, jika aku mampu aku ingin menghapus ingatanku kalau pria itu adalah papahku. Karena di saat aku mengingat dia sebagai papahku di saat itu juga aku mengingatnya sebagai pembunuh mamahku."
"Aku mengerti itu, dan itu adalah hak mu sepenuhnya ingin memaafkan ayah atau tidak, tapi satu hal yang harus kau tau. Ayah sangat menyayangimu lebih dari apapun."ujar Tiara.
❤❤❤❤❤
Beberapa bulan berlalu.
Herman tentu masih menjalani hari-harinya di dalam penjara.
Ia hidup tapi jiwanya mati.
Ia hidup dalam bayang-bayang rasa bersalahnya pada Merlin dan Rossa.
Dan ia pun tak mendapatkan maaf dari Berlian.
Sungguh itu membuat Herman seperti sudah mati, dan ia harus melewati itu di sisa hidupnya.
❤❤❤❤
Di tempat lain.
Tepatnya di rumah sakit.
Semua tengah heboh!
Tidak!
Tidak semua, karena yang heboh hanyalah satu orang saja, yaitu Arkan.
Ia mondar-mandir frustasi ketika Tiara tengah mengalami kontraksi.
Ya..
Hari ini adalah hari persalinan Tiara.
Semua berkumpul mendampingi Tiara.
"Ar, tenangkan dirimu, ini hal yang biasa. Mamah yakin Tiara pasti bisa melewati ini semua."
"Tapi mah, Tiara kesakitan. Kasihan dia, dan mamah lihat! Dokter hanya bisa menyuruh Tiara mengatur nafas tapi dia sendiri tidak melakukan apapun,"kesal Arkan.
Dan karena kekesalannya itu Arkan terpaksa di bawa keluar oleh Tri dari ruang bersalin, karena ia selalu mengganggu dan memaki dokter yang tengah menolong Tiara.
"Kau mau kemana Ar!"cegah Tri.
"Aku harus menemani Tiara mah."
"Kau di sini saja bersama mamah, sudah ada ibu Lastri dan Berlian yang menemani Tiara di dalam."
Tri bukan tidak mengijinkan, tapi ia takut kehadiran Arkan di dalam akan mengganggu konsentrasi para dokter.
"Aku harus menemani Tiara di dalam mah."
"Tidak nak, kau disini saja, temani mamah."
"Memangnya mamah mau melahirkan?."
"Tuan Arkan!"
Di saat yang bersamaan, suster keluar dari kamar bersalin dan memanggil Arkan.
Dengan gesit lelaki itu segera menghampiri suster.
"Ada apa sus?"wajah Arkan sudah sangat memerah karena di landa kepanikan yang luar biasa.
"Nona Tiara ingin di temani anda."
"Sudah ku bilang, dia pasti sangat membutuhkanku."
Arkan langsung nyelonong masuk ke dalam.
Dan karena sudah ada Arkan, Bu Lastri dan Berlian pun keluar agar tidak terlalu banyak orang di dalam, tapi sebelum keluar Berlian mengingatkan Arkan agar ia tenang dan tidak menggangu Dokter.
"Kau cukup memberi semangat dan menemani Tiara, tidak perlu memaki dokter."
"Aku tau itu, sudah kau keluar sana."
30 menit berlalu.
Keringat membanjiri wajah Arkan, kaki dan tangan lelaki itu bergetar dan hampir ambruk, ia seperti merasakan apa yang Tiara rasakan.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa,"kata Tiara yang menenangkan Arkan.
Namun kata-kata itu malah terdengar seperti sayatan di hati Arkan.
karena ia tahu, Tiara pasti merasakan sakit yang luar biasa, beberapa bulan yang lalu lelaki itu membaca buku proses persalinan, bukan hanya itu, ia dan Ken melakukan wawancara dengan ibu-ibu yang pernah melahirkan.
Dan hasil dari wawancara itu, semua ibu yang pernah melahirkan merasakan sakit dari ujung kaki sampai ujung kepalanya, mereka menggambarkan rasa sakit itu seperti, tulang-tulang yang di pisahkan dari dagingnya.
Sungguh sangat mengerikan.
Membuat Arkan dan Ken tidak bisa tidur membayangkan itu.
"Kau jangan berbohong padaku, itu pasti sakit kan!"sahut Arkan.
Tiara mengulas senyum.
"Tapi rasa sakit itu memudar saat kau menemaniku disini."
"Benarkah! aku bisa menghilangkan rasa sakit mu?"
Tiara mengangguk, dan Arkan terus saja menggenggam tangan dan menciumi puncak kepala Tiara.
"Kau pasti bisa sayang, aku sangat mencintaimu lebih dari apapun."
Oee.....
Oe...
Setelah mengejan cukup panjang sampai otot-otot di lengan dan leher Tiara menonjol.
Akhirnya suara tangisan bayi pecah memenuhi ruangan bersalin itu.
Ia dan Arkan tak kuasa menahan air mata bahagia begitu juga dengan keluarga yang tengah menunggu di luar.
Mereka bahagia atas kelahiran anggota baru di keluarga mereka.
"Sayang bayi kita sudah lahir!"kata Arkan dengan suara bergetar.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
"Ar, kau beri nama apa cucu kesayangan papah ini?"tanya Wilson.
Arkan yang sudah berhari-hari menempel pada bayinya hanya menoleh sebentar, seolah tidak perduli dengan kehadiran Papahnya.
"Sayang, papah bertanya."kata Tiara.
"Aah.. Papah menggangguku saja sayang, aku sedang Fokus dengan bayi kita."
"Ar!"panggil Tri.
Arkan pun mengalah dan menghampiri papahnya.
"Jadi kau berani nama apa cucu kesayangan papah?"
"Argen, dan itu nama depannya, untuk nama belakangnya papah yang akan memberikannya bukan?"
"Kenapa namanya mirip dengan mu?"
"Memangnya kenapa Pah, dia putraku dan wajahnya pun sangat mirip dengan ku, suatu saat nanti dia pasti bisa hebat sepertiku."
"Tadinya papah ingin memberi nama depannya Wiliam, agar sama dengan papah, tapi tak apa itu bisa jadi nama tengah cucu papah, dan nama belakangnya biar mamah mu yang memberikannya, karena dia pasti tidak mungkin diam saja untuk hal ini."
❤️❤️❤️
2 bulan berlalu.
Keluarga Tiara dan Arkan semakin hari semakin bahagia di tambah lagi dengan kehadiran Argen putra pertama mereka.
Dan kebahagiaan mereka juga bertambah, ketika Ken dan Bulan menyampaikan jika mereka akan melangsungkan pernikahan Minggu depan.
Dan itu tentu di sambut dengan suka cita oleh Tiara.
Tapi di saat yang bersamaan, Tiara harus merasakan kesedihan karna Berlian memutuskan untuk pergi ke luar Negeri
Gadis itu ingin memulai kehidupan yang baru di sana.
Tiara tidak bisa berbuat apa-apa dan mencegah adiknya itu, ia hanya bisa mendoakan agar adiknya bisa menemukan kebahagiaan di sana.
❤️ TAMAT ❤️
Terimakasih Author ucapkan yang sebesar-besarnya kepada para pembaca setia Novel Suami Antagonis 🙏🙏😊🤗
Tanpa kalian, yang berkenan menemani Tiara dan Arkan dari awal sampai akhir, Author tentu tidak akan bisa menyelesaikan Novel ini😘😘😘😘
Terimakasih bagi yang sudah memberi dukungan, berupa Like, Komentar, Saran dan Hadiah, semoga Rizkinya di lancarkan dan selalu di beri kesehatan 🤲🤲
Semoga para pembaca puas dengan Akhir dari cerita ini.
Mohon maaf jika ada Kesalahan dari Mak Author ini, dan maaf jika ada Komentar yang tidak sempat Author balas 🙏🙏😊😊
Jangan lupa mampir ke Novel Ntor lainnya ya 🤗
__ADS_1
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️❤️
Sampai bertemu lagi 🤗🤗🤗🤗