
"Lihatlah dia, bukankah sangat menyedihkan. Ia terbaring di sini karena sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan, tapi keadaan yang membuat Berlian melakukan ini semua,"kata Herman seraya menatap Berlian.
Dan Tiara hanya diam, ia pun merasakan kesedihan ayahnya.
"Tiara, sebenarnya usia mu dan Berlian sama, kalian di lahirkan pada tahun yang sama, hanya bulannya saja yang membedakan, kau 2 bulan lebih tua dari Berlian jadi bisa dipastikan jika kau kakaknya Berlian."
Tiara masih setia mendengarkan penjelasan dari Herman.
Hingga tiba-tiba Herman meraih Tangan Tiara.
"Tiara, sebagai seorang kakak yang baik apa yang akan kau lakukan jika melihat adikmu terbaring lemah seperti ini?"
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa kepada Tuhan agar adikku bisa segera diberi kesembuhan."
"Ayah tahu kau gadis yang baik dan rela melakukan apapun demi adikmu, terbukti dengan pengorbananmu untuk Intan. Kau sangat menyayangi Intan dan memperjuangkan apapun demi kesembuhan adik bungsumu itu, dan apakah kau akan melakukan hal yang sama untuk Berlian?"
Pertanyaan aneh dari Herman seketika membuat Tiara merasa ada sesuatu yang lain dari ayahnya itu.
"Apa maksud Ayah?"
"Sama seperti apa yang kau lakukan pada Intan, kau rela melakukan dan mengorbankan apapun untuk adik bungsumu itu, dan sekarang apakah kau mau berkorban untuk Berlian?"
Tiara mulai paham arah pembicaraan Herman tapi ia masih tetap berpikir positif pada ayahnya itu.
"Apa yang sebenarnya ingin Ayah katakan padaku, tentu saja aku akan berjuang demi adikku Intan."
"Maukah kau merelakan suamimu untuk adikmu Berlian?"
DUUAAARRR....
Permintaan gila dari Herman bagaimana ledakan Bom dahsyat yang langsung menghancurkan kebahagiaan yang sudah Tiara rancang dan susun beberapa menit yang lalu.
"Apa yang ayah katakan?"nada suara Tiara sudah mulai bergetar.
"Tiara, Ayah rasa kau sudah mendengar permintaan Ayah tadi. Tapi tidak apa-apa ayah akan mengulanginya lagi. Tiara maukah kau merelakan suamimu untuk Berlian adikmu?"
Tiara tersenyum getir sesak dan sakit dia rasakan dalam waktu yang bersamaan karena permintaan Herman bagaikan seribu jarum yang menusuk hatinya.
"Apa Ayah memintaku untuk merelakan suamiku pada Berlian?"
Herman mengangguk.
"Iya."
"Kenapa! Kenapa aku harus melakukan itu?"
"Tiara, Berlian itu adikmu sama seperti Intan kau juga harus berkorban apapun untuknya. Berlian menjadi seperti ini karena ulah suamimu itu dia frustasi benar-benar frustasi, tapi ayah tidak bisa berbuat apa-apa karena Berlian sungguh mencintai suamimu itu. Dan Dokter bilang Berlian pasti akan melakukan tindakan yang sama ketika sadar nanti jika ia masih mendapati kenyataan bahwa Arkan benar-benar sudah tidak bersamanya lagi, jadi ayah minta tolong padamu, relakan Arkan untuk Berlian. Ini semua demi kesembuhan Berlian. Tolong kau tinggalkan Arkan, biarkan Arkan menemani Berlian hingga ketika Berlian membuka mata nanti ia melihat kalau Arkan menemaninya masih menemani dan bersamanya, dan Berlian tidak akan melakukan perbuatan yang sama sampai membuatnya kritis seperti ini."
Lagi-lagi Tiara hanya mengulas senyum getir.
Benar saja! pria ini tidak akan pernah tulus dan perduli dengan Tiara.
Dia hanya akan tulus dan perduli kepada Berlian. Semuanya untuk Berlian.
Betapa kecewa dan sakit hatinya Tiara ketika mendengar permohonan dari Herman padanya agar dia meninggalkan suaminya untuk adiknya.
Adik yang tidak ia inginkan, adik yang terlahir dari seorang wanita yang sudah merenggut kebahagiaan keluarganya bahkan menyebabkan ibunya meninggal dunia.
Tiara sudah bertekad untuk melupakan masa lalu buruk itu, namun sepertinya! masa lalu itu akan terus menjadi sahabat terbaik Tiara agar ia terus mengingat jika lelaki itu bukan ayahnya lagi.
"Tiara, kau mau kan melepaskan Arkan untuk adikmu Berlian, Ayah takut jika nanti Berlian bangun ia mendapati Arkan tidak bersamanya, dia pasti akan histeris dan melakukan percobaan bunuh diri lagi."
Bahkan Herman sampai mengatupkan kedua tangannya memohon pada putrinya itu.
"Apakah ayah akan melakukan hal seperti ini jika aku yang berada di posisi Berlian?"
"Tentu saja, ayah akan melakukan apapun demi putri-putri ayah."
"Bagaimana kalau aku tidak mau merelakan suamiku untuk dia?"
"Ku jangan egois Tiara.Apa kau tidak merasa kasihan melihat adikmu terbaring lemah seperti ini hanya karena seorang lelaki dan apa kau juga tidak merasa iba melihat Mama Merlin terus-terusan menangis bersedih seperti ini?"
__ADS_1
Tiara membuang wajahnya.
Hatinya sudah hancur berkeping-keping.
Baru beberapa menit yang lalu Herman membuat dia bahagia tapi dalam hitungan menit juga pria itu menghancurkan harapan Tiara.
Tiara melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, ia sudah tidak mau lagi mendengar apapun yang dikatakan oleh pria itu.
Ia kembali menyadari kebodohannya yang meyakini bahwa Herman akan menyayanginya. Tapi nyatanya tidak! di hati dan hidup Herman hanya akan ada Berlian dan Merlin sedangkan ia, Rossa dan Intan sudah lama Herman buang tepatnya 10 tahun yang lalu.
"Tiara tunggu!"Herman mencegah langkah putrinya itu.
Tiara berbalik menatap Herman dengan tatapan kosong.
"Kau mau kan menuruti permintaan Ayah kali ini, kau tahu kan selama ini ayah tidak meminta apapun padamu. Dan sebagai seorang ayah ayah memohon satu hal pada Putri pertama ayah. Tiara..!"
Tiara mengangkat tangannya dan itu menghentikan perkataan Herman seketika.
"Apa aku pernah meminta sesuatu padamu? apa di sepanjang usiaku ini aku pernah memohon sesuatu padamu, selain dulu waktu kau pergi meninggalkan Ibu. Aku memohon dan bersujud di kakimu untuk tidak meninggalkan ibu, aku memohon kepadamu untuk membawa Ibu ke Rumah sakit. Apa saat itu kau memenuhi permohonanku?"
"Tiara itu masa lalu jangan pernah kau sangkut pautkan dengan masa sekarang."
"Bahkan kau tidak pernah minta maaf untuk itu."
"Tiara!"
"Jika kau mengharapkan Arkan kembali pada Berlian, Kenapa kau tidak memintanya langsung pada Arkan. Jika kau meminta padaku tentu aku tidak akan merelakan suamiku untuk dia."
"TIARA!"Herman sudah meninggikan suaranya.
Dan disaat yang bersamaan Arkan membuka pintu kamar rawat Berlian dengan sangat kuat hingga menimbulkan suara.
BRAAAK!!!!
Sampai membuat ketiga orang yang ada di dalam kamar itu terkejut.
Raut wajah Arkan sudah seperti serigala lapar dengan mata merah menyala menatap Herman sambil mengepalkan kedua tangannya.
BUG!
Herman tersungkur di lantai, Dan inilah untuk kedua kalinya Arkan memukul pria itu.
Tidak puas dengan itu Arkan kembali meraih pria itu dengan mencengkram kemejanya dan.
BUG!
Uhuk....
Uhuk....
Herman sampai terbatuk-batuk karena pukulan yang Arkan layangkan kali ini mengenai perutnya.
"Dasar brengsek!"umpat Arkan,"apa pria sepertimu masih pantas disebut seorang ayah!"
Ya..
Diam-diam Arkan mendengar semua percakapan antara Tiara dan Herman di balik pintu.
"Lepaskan anak kurang ajar!"umpat Herman Sambil mencoba melepaskan cengkraman Arkan dari lehernya.
Namun, bukannya Arkan melepaskan cengkraman itu ia malah menghimpit tubuh Herman di tembok.
Dan ingin kembali melayangkan pukulan di wajah pria itu.
"Jangan!"
cegah Tiara yang meraih tangan Arkan yang sudah terkepal di udara siap untuk mendarat di wajah Herman.
"Kenapa! biar aku menghajar pria brengsek ini."
"Aku ingin pulang, Aku lelah ingin istirahat,"kata Tiara.
__ADS_1
Arkan melihat raut sedih tertahan dari wajah istrinya, dan ia melepaskan cengkramannya pada Herman.
"Baiklah ayo kita pulang, dan Aku pastikan ini terakhir kalinya kau bertemu dengan dia,"kata Arkan sambil menunjuk Herman."
Tiara keluar terlebih dahulu dari kamar rawat Berlian.
Arkan yang mengikuti langkah Tiara dari belakang menghentikan kakinya sebelum ia sampai ke ambang pintu.
Ia kembali berjalan mendekati Herman.
"Kau memohon pada Tiara agar aku kembali pada putrimu yang terbaring di ranjang itu kan! dan Tiara memintamu untuk langsung meminta padaku. Sayangnya sekalipun kalian bersujud memohon padaku, aku lebih senang melihat anakmu itu mati."Kata Arkan dengan kejam.
"Kau!"Herman mengepalkan tangannya, bisa-bisanya lelaki itu ber kata sekejam itu pada Putri kesayangannya Berlian.
"Kau jangan kurang ajar brengsek!"Herman ingin memukul wajah Arkan.
Tapi tentu kalah cepat dengan gerakan tangan lelaki yang lebih muda dan lebih bertenaga darinya.
Arkan menangkis tangan tua itu lalu menghempaskan dan ingin sekali rasanya ia kembali memukul pria yang ada di hadapannya itu.
Tapi untung saja akan bisa menguasai emosinya sehingga ia tidak melakukan apa yang menggebu-gebuh di hatinya.
"Jangan pernah menghubungi apalagi mendatangi Tiara, jika sampai kau melakukan itu, kau tahu apa yang bisa aku lakukan?"
Dengan senyuman mengerikan akan menunjukkan jarinya pada Berlian di ranjang sana.
"Dia, anak kesayanganmu itu yang akan menanggung semua akibatnya jika kau masih nekat menemui Tiara istriku."
Setelah memberi ancaman itu pada Herman akan melanjutkan langkah kakinya keluar dari kamar rawat Berlian.
Ia dengan cepat menyusul Tiara yang sudah terlebih dahulu berada di dalam mobil.
Arkan tak menanyakan apapun pada istrinya itu, ia tahu saat ini hati Tiara pasti sedang terluka parah jadi lelaki itu memilih untuk membiarkan Tiara tenang untuk beberapa saat.
Arkan hanya membawa istrinya itu ke dalam pelukannya tanpa mengatakan apapun.
Dan di saat itulah tangis Tiara pecah sejadi-jadinya, ia menangis tergugu-gugu sampai membuat punggungnya bergetar hebat.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Herman yang mendapati beberapa luka di wajahnya menghampiri Berlian, ia mengusap rambut putri kesayangannya itu.
Sementara Merlin ia sama sekali tidak bereaksi apapun, bahkan ketika Arkan memukuli suaminya wanita itu tidak beranjak dan bergerak sedikit pun dari kursinya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Satu minggu kemudian pasca kejadian itu.
Herman benar-benar sudah tidak menghubungi dan menemui Tiara kembali.
Entah bagaimana keadaan Berlian sekarang, apakah gadis itu sudah sembuh!
❤️
Arkan tengah menyelesaikan semua pekerjaannya yang menumpuk, karena sudah satu Minggu ini ia bekerja tanpa Ken, membuatnya kewalahan.
"Awas kau Ken, aku akan membalasmu, karena pekerjaanku yang menumpuk ini aku jadi jarang sekali makan siang di Resto istriku."gerutu Arkan sambil mengotak-atik layar laptopnya.
"Selamat siang pak! Ini sudah waktunya makan siang, apa pak Arkan ingin Saya pesankan makanan?"tanya seorang wanita berpakaian minim dan ia adalah asisten Ken.
"Tidak! aku akan keluar, kau selesaikan saja pekerjaanmu."sahur Arkan tanpa menoleh sedikitpun.
Membuat wanita itu kesal dan merasa kecewa padahal Ia sudah berdandan semaksimal mungkin hanya untuk menawari makan siang pada Bosnya.
🍂❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️🍂
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Mohon dukungannya ya 🙏
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya 🤗🤗
__ADS_1
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️❤️❤️