
Tiara Azahra
Arkan Argani
...****************...
Karna ketahuan tengah mengintip dan menguping.
Arkan pun keluar dari kamar mandi.
"Apa kau yang mengirimkan uang pada ibu ku?" Tanya Tiara dengan mata tajam menatap Arkan.
"Tidak!"
"Arkan!"
"Ibu mu bilang Ken yang mengirimnya uang, jadi kau tanya saja pada Ken, karna dia yang melakukannya." Kilah Arkan.
"Ken, tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa perintah dari mu."
"Tiara!"
"Arkan! Aku sudah pernah bilang padamu, tolong jangan ganggu keluarga ku dengan alasan apapun dan aku tidak menginginkan uang mu apa lagi untuk keluargaku."
Arkan kesal.
"Baiklah jika itu yang kau mau, aku tidak akan perduli dengan mu atau keluarga mu."
Setelah mengatakan itu Arkan keluar dari kamar.
Tiara termenung.
Ia bukan tidak berterimakasih pada Arkan yang diam-diam memperhatikan keluarganya.
Tapi Tiara mengingat kata-kata Jay.
Jika ia harus benar-benar menjaga jarak dari Arkan dan jangan bergantung pada lelaki itu.
Agar ia tidak terluka di kemudian hari.
Tiara membenarkan apa yang di katakan Jay.
Dia harus menjauhkan dirinya dan keluarganya dari Arkan, agar pada saatnya tiba.
Saat mereka berpisah nanti tidak ada kenangan apapun yang harus di ingat dari lelaki itu.
πππ
Arkan keluar entah kemana.
Lelaki itu tengah kesal karena kebaikannya malah tidak di terima oleh Tiara.
ππ
Hari pun sudah larut.
Dan Berlian baru sampai di kota tujuannya.
Saat ini ia tengah berada di Hotel mewah tempat Arkan menginap, namun gadis itu tidak menemukan kekasihnya di sana.
"Arkan kemana, apa dia di Hotel tempat Tiara menginap." Berlian sudah gusar.
Tanpa ragu gadis itu menghubungi Tiara karna ia tidak bisa menghubungi Arkan.
("Kenapa kau bertanya padaku? Bukankah dia kekasih mu? Jadi aku tidak tau di mana kekasihmu itu berada")
Dan itulah jawaban dari Tiara.
"Dia tidak sedang berbohong kan!" Ragu Berlian.
Namun setelah ia pikir-pikir, ia yakin jika Tiara tidak berbohong. Arkan memang tidak sedang bersamanya.
"Baiklah karna ini sudah larut malam, aku menunggu saja di kamarnya."
Tapi niat Berlian untuk menunggu di kamar Arkan gagal, karna pihak Hotel tidak mengijinkan ia masuk ke dalam kamar Arkan dan menolak dengan tegas untuk memberikan kunci cadangan pada Berlian.
Meskipun gadis itu bersikeras mengatakan jika ia kekasih Arkan dan akan segera menikah.
Namun pihak Hotel enggan untuk memenuhi keinginannya.
Dan dengan terpaksa, Berlian pun menyewa kamar yang letaknya persis di sebelah kamar Arkan.
Inilah kejutan yang ingin ia berikan pada kekasihnya.
ππππ
Matahari pagi sudah menampakkan diri di langit yang indah.
Namun lelaki yang bernama Arkan masih belum menampakkan diri.
Entah kemana lelaki itu berada karna semalam ia tidak kembali ke kamarnya atau ke kamar Tiara.
Berlian semakin gelisah!
__ADS_1
Ia sudah berpikir macam-macam tentang Arkan.
Puluhan kali ia menghubungi Arkan dan mengecek kamarnya.
Namun lelaki itu masih belum bisa di temui.
ππππ
Tiara tengah bersiap-siap untuk kembali menghadiri acara Amal.
"Jay!" Tiara terkejut, mendapati Jay yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Selamat pagi!" Senyum merekah Jay berikan untuk Taira.
"Apa yang kau lakukan di sini? Membuatku terkejut saja!"
"Maaf jika aku mengagetkan mu, aku hanya ingin memastikan jika pagi ini kau baik-baik saja."
"Tentu aku akan baik-baik saja."
"Arkan tidak menyakitimu kan? Dia tidak melakukan apapun padamu kan? Lalu dimana dia sekarang?"
Tiara mengingat kejadian semalam, saat Arkan menciumnya secara paksa.
"Tidak-tidak! kau tidak boleh mengingat kejadian itu Tiara, tidak boleh!"
Tiara menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kau kenapa?" Panik Jay,"apa Arkan benar-benar menyakiti mu?"
"Tidak Jay, aku tidak apa-apa, dan Arkan pun tidak melakukan apapun dia pergi setelah mengantarkan aku ke kamar."
"Syukurlah! Jika si brengsek itu menyakiti mu, katakan padaku aku akan menghajarnya tanpa ampun."
"Terimakasih Jay, tapi kau tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja."
π
Di tengah-tengah acara, Berlian muncul di sana.
Ia mencari Arkan, mungkin saja Lelaki itu ada di acara tersebut.
Namun Berlian tidak menemukan apapun di sana selain keakraban Tiara dan Jay yang berhasil membuatnya tersenyum simpul.
Berlian merogoh tas Merah yang menyempurnakan penampilan Cetarnya untuk mencari benda pipih di dalam sana.
CKREK!
CKREK!
CKREK!
Setelah mengabadikan tiga gambar yang ia rasa bagus, Berlian kembali memasukkan ponselnya ke dalam Tas mahal miliknya.
Ia sangat puas dengan temuan yang ia dapatkan.
π
Malam hari.
Arkan baru kembali ke kamarnya, entah dari mana Lelaki itu sampai malam seperti ini ia baru menampakkan diri.
"Arkan!" Seru Berlian dan langsung menghambur memeluk Arkan yang baru sampai di depan pintu kamarnya.
"Berlian! Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku kan sudah bilang akan memberikan kejutan untuk mu, dan ini kejutannya, apa kau menyukainya?"
Arkan mengangguk pasrah dan perlahan mengurai pelukan Berlian.
"Ber, tapi kau tidak harus menyusul ku ke sini kan, besok aku akan kembali ke Kota."
"Tidak masalah, besok kita akan kembali ke Kota bersama, Arkan!" Fokus Berlian teralihkan pada bibir Arkan.
"Bibirmu kenapa bisa terluka seperti ini?"
"Tidak apa-apa, ini hanya terbentur tembok."
"Terbentur tembok sampai seperti ini? Astaga! Apa itu sakit!" Berlian menyentuh bibir Arkan.
"Tidak, ini tidak apa-apa,"Arkan menurunkan tangan Berlian.
"Apa kau ingin ini cepat sembuh? Aku bisa menyembuhkannya dengan cepat!"
Arkan mengerutkan keningnya.
Dan pada saat itu pula Berlian mendekatkan wajahnya.
Arkan mengerti apa yang akan Berlian lakukan.
"Tidak perlu Ber ini tidak sakit,"kata Arkan dan segera menjauhkan diri dari Berlian yang ingin menerkamnya.
Berlian kesal dan merasa ada yang aneh dengan Arkan.
Beberapa menit kemudian Arkan memilih mengajak Berlian makan di Restoran tidak jauh dari Hotel, karna gadis itu terus saja merengek meminta masuk kedalam kamarnya.
Arkan memutuskan untuk pulang di esok hari, tanpa menunggu Tiara terlebih dahulu, karena ia tengah kecewa dengan istrinya itu.
"Arkan, kau lihat ini!" Di tengah makan malam mereka Berlian menunjukkan hasil jepretan yang ia dapat tadi siang.
Jari-jari tangan Arkan terkepal sempurna di bawah meja sana, rahangnya sudah sangat mengeras dan darah di tubuhnya sudah mendidih!
__ADS_1
Ketika melihat foto-foto kedekatan Tiara dan Jay di ponsel itu.
Bahkan ada satu foto yang sangat membuat Arkan murka dalam hatinya.
Jay menyentuh pundaknya Tiara dengan kedua tangannya.
"Akan ku patahkan kedua tangannya!"
"Bagaimana mereka sangat serasi bukan! Ternyata Tiara hebat juga bisa menaklukkan lelaki seperti Jay." Kata Berlian, tanpa menyadari jika Arkan sedang gusar karena Foto itu.
Tak di sangka di waktu yang bersamaan.
Tiara dan Jay juga tiba di Restoran itu.
"Kau lihat itu Ar!" Antusias Berlian yang menunjuk Jay dan Tiara.
Arkan mengarahkan pandangannya pada Tiara dan Jay.
"Dia masih berani menemui si berengsek itu! dan apa ini? mereka ke sini hanya berdua!"
Tiara terkejut melihat Suaminya ada di sana.
"Astaga kenapa harus ada Arkan di sini!"
Sementara Jay tersenyum miring ketika melihat Arkan dan Berlian, dan ia melangkahkan kakinya menuju meja Arkan dan Berlian.
"Jay, kita tidak perlu kesana kan! Kau berjanji padaku hanya sekedar makan dan langsung kembali." Bisik Tiara yang masih enggan untuk bertemu dengan Arkan lebih-lebih lagi ada Berlian di sana.
"Hanya sebentar saja."
Dan beberapa saat kemudian Jay sudah duduk di samping Berlian, tapi sebelum itu ia menarik kursi terlebih dahulu untuk Tiara.
Tiara sungguh tidak nyaman duduk di antara ke tiga orang ini, terlebih lagi Arkan.
Ia sungguh ingin melarikan diri dari tempat itu.
Karena Lelaki itu terus menatap dan memperhatikan.
"Apa kalian tengah berkencan?" Jay membuka suara dengan pertanyaan untuk pasangan itu.
"Tentu saja!" Sahut Berlian.
"Dan, apa kalian juga berkencan?"
Tiara langsung menggelengkan kepalanya.
"Tapi kalian sangat cocok! Kenapa tidak berkencan saja!"
Jay tersenyum.
"Aku tengah menunggu jawaban dari Tiara."
Sementara Arkan.
Ia benar-benar tengah menahan emosinya.
"Jawaban dari Tiara?"
Emosi Arkan semakin meningkat!
Melihat Jay yang tak mengalihkan sedikitpun pandangan pada Tiara, dan memperlakukan Gadis itu layaknya seorang kekasih.
Kenapa Arkan marah?
Apa Arkan cemburu?
Kenapa dia harus cemburu?
"Tiara, apa kau ingin makan ini? Aku akan ambilkan untuk mu! Dan aku...!"
TENG!
Ucapan Jay terhenti karena suara denting sendok yang nyaring dari piring Arkan.
Semua menatapnya heran.
Dan Arkan berdiri.
"Aku sudah selesai, ayo kita kembali."
Namun ajakan itu bukan di tunjukkan pada Berlian.
Melainkan Tiara.
Arkan menarik tangan Tiara agar mengikutinya.
"Arkan apa yang kau lakukan!" Protes Jay.
"Apa lagi! aku hanya ingin mengajak istri ku kembali,"sahut Arkan dengan suara tinggi.
Sampai membuat beberapa orang yang ada di Restoran melihat ke arahnya.
ππππππππππ
Terimakasih sudah berkenan membaca cerita ini π
Mohon dukungannya ya ππ€
Tolong Koreksi dan beri tahu Ntor jika ada kesalahan dalam tulisan ini, agar Ntor bisa segera memperbaikinya π€
Trimakasih π
__ADS_1
Love banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈπ