
"Ber, apa yang kau lakukan!" Arkan melepas tangan Berlian yang memeluknya dari samping.
"Apa lagi, tentu saja memeluk mu!" Berlian masih menunduk dan enggan untuk melepaskan tangan.
ππ
"Tuan Ken!" Asisten wanita terpogoh-pogoh menghampiri Ken yang sedang memeriksa beberapa Berkas di Ruang Meeting.
30 Menit yang lalu mereka baru saja melakukan Meeting penting, tapi Ken masih tetap tinggal untuk memeriksa semua Berkas yang masuk, sedangkan Arkan langsung kembali ke Ruangannya.
"Ada apa?" Sahut Ken tanpa mengalihkan pandangannya dari Berkas yang ada di meja.
"Nona Berlian... Maksud saya, tadi ada Nona Berlian datang."
Ken langsung menghentikan pergerakan tangannya dan melirik ke arah Asistennya ketika mendengar nama Berlian.
Asisten menjadi gugup dan takut, ia tau pasti atasannya ini akan marah besar padanya.
"Di mana dia sekarang?"
"Di Ruangan tuan Arkan."
Ken beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati Asistennya yang ketakutan.
"Kenapa kau membiarkannya masuk?"
"Maaf tuan, Nona Berlian memaksa bahkan dia mendorong dan melukai Sekuriti yang menghalanginya di pintu masuk!"
"Kalian mengatasi satu orang saja tidak becus!"
Ken segera menuju ruangan Arkan di ikuti dengan Asistennya yang mengekor di belakang.
BRAK!
Ken mendorong kuat pintu ruangan Arkan tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Tapi posisi Arkan dan Berlian saat ini sudah berubah dari yang sebelumnya.
Mereka tengah duduk di sofa, dengan posisi yang sedikit berjauhan.
"Nona Berlian, bukankah tuan Arkan sudah mengingatkan anda untuk tidak datang lagi ke kantor?"
"Kau ini kenapa Ken? Aku hanya mengunjungi Arkan tidak melakukan apapun." Kilah Berlian.
"Tidak melakukan apapun? Lalu kenapa Sekuriti yang berjaga di pintu masuk terluka?"
Arkan melirik Berlian.
"Ber, katakan! Apa yang di katakan Ken itu benar?"
"Aku... Aku terpaksa Melakukannya Ar, dia bersikeras melarangku masuk, padahal aku hanya ingin bertemu dengan mu sebentar saja, jadi aku terpaksa mendorongnya sampai tersungkur, tapi aku tidak tau kalau dia sampai terluka."
Arkan bangkit.
Dia sudah mengeraskan rahangnya.
"Kau jangan marah pada ku Ar, ini semua salah mu!"
"Nona, anda lancang sekali berani menyalahkan tuan Arkan?" Bentak Ken tak terima, jika sang tuan harus di salahkan.
"Memang Arkan yang salah, dia sulit sekali untuk di hubungi apa lagi untuk bertemu, itu sebabnya aku nekad datang ke sini." Bela Berlian, dan kini ia hampir meneteskan air matanya di hadapan Arkan.
"Lagi-lagi dia menggunakan air matanya."
Gumam Ken dalam hatinya.
__ADS_1
Dan seperti biasa, Arkan tentu tidak bisa jika melihat Berlian bersedih seperti itu.
"Baiklah! Kali ini aku maafkan, tapi lain kali jangan pernah kau ulangi lagi, dan sekarang cepatlah pulang."
"Anda lemah sekali tuan."
Berlian tersenyum.
Gadis itu sangat tau jika Arkan tidak akan pernah bisa marah padanya.
"Baik, aku akan pulang, tapi kau harus berjanji untuk datang ke acara ulang tahun Mamah ku?"
Arkan hanya mengangguk.
Selepas kepergian Berlian, Ken mengintrogasi Arkan.
"Memangnya kau pikir aku bisa apa lagi?"kata Arkan sambil mendudukkan diri di kursi kebesarannya.
"Tentu saja anda harus tegas dengan Nona Berlian."
"Aku tidak bisa Ken."
"Tuan, jangan menatap Nona Berlian dengan semua masa lalu kalian, anda harus bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu itu, agar anda tidak selalu terpaku dengan Nona Berlian."
"Andai aku bisa melakukan itu, tentu aku sudah melakukannya sejak dulu, kau tidak tau Ken, jika bayangan-bayang Vino terus menghantui ku."
"Sudahlah tidak usah di bahas, siapkan saja kado untuk Nyonya Merlin."
"Anda akan datang?"
"Iya."
Ken pun meminta Asistennya untuk mencarikan kado mahal untuk Nyonya Merlin, ibu dari Berlian yang akan mengadakan pesta pengurangan umur besok malam.
Dan sang Asisten pun melakukannya dengan senang hati, ia bersyukur karna atasnya tidak marah padanya, hanya menyuruh untuk mencarikan kado saja tentu itu jauh lebih baik.
Sore hari.
Tiara tengah bersiap-siap untuk pulang, tapi ia tidak langsung pulang melainkan mampir dulu ke kantor Arkan untuk mengantarkan makan malam.
Setelah semua makanan yang ia masak di Resto terkemas dengan rapih.
Tiara berpamitan pada teman-temannya dan langsung menuju parkiran dan melajukan Motornya.
Sebenarnya.
Restoran itu tutup di jam 23:00, tapi Tiara bekerja hanya sampai sore saja.
πππ
Di kantor!
"Ken, apa tidak bisa malam ini tidak usah lembur,"pinta Arkan yang enggan untuk lembur malam ini, karna ia ingin segera pulang.
"Tidak bisa tuan, besok pagi semua harus sudah selesai, sudah tidak ada waktu lagi untuk bersantai." Sahut Ken.
"Aku ini Bos kalian kan!" Protes Arkan.
"Justru karena anda Bos besar di Kantor ini jadi anda harus memberi contoh yang baik bagi karyawan di sini."
"Menyebalkan sekali, padahal uangku sudah sangat banyak dan tidak akan pernah habis meskipun aku tidak bekerja selama seumur hidup." Grutu Arkan.
Ken meletakkan Berkas di atas meja, dan menatap Arkan.
"Tuan jika anda tidak mau lembur malam ini, pulanglah."
__ADS_1
"Benarkah!" Wajah Arkan yang berbinar.
"Tentu saja! Anda pemilik perusahaan ini, tentu anda bebas melakukan apa saja."
"Itu jawaban yang tepat Ken!" Arkan segara bangkit dari duduknya dan cepat-cepat memaknai Jas, ia bahagia karena tidak harus lembur malam ini dan bisa langsung pulang.
"Tunggu sebentar tuan, sebelum saya mengantar anda pulang, ijinkan saya menghubungi Nona Tiara terlebih dahulu."
"Untuk apa kau mengirim pesan padanya?"
"Saya hanya ingin memberi tahu Nona Tiara, jika anda tidak jadi lembur malam ini, jadi Nona Tiara tidak perlu mengantarkan makan malam anda di Kantor."
"Apa Tiara berniat mengantarkan makan malam?" Tanya Arkan antusias.
"Iya, Nyonya Tri meminta Nona Tiara untuk mengantarkan makan malam anda, dan mungkin saat ini Nona Tiara tengah dalam perjalanan menuju Kantor, tapi karena anda tidak jadi lembur saya akan meminta Nona Tiara untuk pulang saja."
Ken sudah mengeluarkan ponselnya dan mencari Nomor Tiara.
"Jangan Ken!" Cegah Arkan.
Ken menghentikan gerakan tangannya yang mencari Nomor ponsel Tiara.
"Malam ini aku akan lembur!" Kata Arkan, kembali melepaskan Jas nya dan mendudukkan diri di Kursi.
"Anda yakin?"
"Sangat yakin."
"Saya tidak akan menawarkan kebaikan ini untuk kedua kalinya tuan?"
"Aku tau, sudah kau siapkan saja semuanya."
"Sekarang saya tau cara menjinakkan anda."
"Baiklah, kalau begitu aku tidak jadi menghubungi Nona Tiara."
"Kapan dia akan sampai?"
Ken melirik mesin waktu di pergelangan tangannya.
"Mungkin sekitar 20 menit lagi Nona Tiara sampai di Kantor."
"20 menit!" Arkan bangkit kembali dari kursinya.
Ia gelisah dan Mondar-mandir sembari meletakkan telunjuk di kepalanya.
Ken mengerutkan keningnya, ia tengah heran apa yang di lakukan Arkan.
"Tuan apa yang anda lakukan?" Karna penasaran ia pun bertanya.
Arkan menyentuh wajahnya.
"Ken, bagaimana dengan penampilan ku saat ini?"
Dengan yakin dan bangga Ken pun menjawab.
"Tentu penampilan anda selalu sempurna, di manapun dan kapanpun, itu sudah tidak perlu di ragukan lagi tuan, bahkan langit dan bumi pun mengakui itu semua."
"Kau benar Ken," Sahut Arkan, dengan senyum puas atas jawaban Ken.
ππππππππππ
Trimakasih sudah berkenan mampir ke cerita ini ππ
Mohon dukungannya π
__ADS_1
Jika ada kesalahan dalam tulisan ini, Segera beri tau Ntor ya, agar Ntor bisa segera memperbaikinya π€
Love banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈ