
Saat ini Arkan tengah berada di Bandara.
Ia tengah duduk sambil memikirkan sesuatu.
"Tuan, ayo kita berangkat!"
Arkan bangkit dari duduknya.
"Ken! Sepertinya aku tidak bisa meninggalkan Tiara sendiri di sini,"kata Arkan tiba-tiba.
"Kenapa?"
"Jangan bilang jika anda tidak sanggup jika harus jauh dari Nona Tiara."
"Aku tidak bisa jika harus jauh darinya walau hanya satu hari saja, aku mencemaskannya,"kata Arkan dengan wajah sedu, berharap agar Sekretarisnya itu mengerti perasaannya.
Ken menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu ia mengangkat wajahnya ke langit-langit Bandara sambil menahan geram dan kesal di hatinya.
"Astaga! alasan macam apa itu, dan kenapa baru bilang sekarang, setelah saya sudah dengan repot-repot menyiapkan kepulangan anda."
Beberapa detik kemudian Ken mengulas senyum terbaiknya, namun yang paksakan pada Bosnya itu.
"Jadi maksud anda, anda tidak jadi pulang ke tanah air?"
Arkan mengangguk perlahan.
"Sepertinya begitu Ken, Aku khawatir jika harus meninggalkan Tiara di sini sendirian, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengannya!"kata Arkan memberi alasan.
"Anda khawatir, atau anda memang tidak mau jauh dari Istri anda Tuan."
"Ada Bulan yang menemani Nona Tiara di sini Tuan, dan bukankah kita sudah mengutus beberapa pengawal untuk menjaga dan mengawasi Nona Tiara selama di sini, jadi saya rasa anda tidak perlu khawatir soal Nona Tiara."
"Apakah itu masih belum membuat anda bisa membiarkan Nona Tiara di sini."
"Tidak bisa seperti itu Ken! Aku tetap khawatir padanya, bagaimana kalau dia merindukanku?"
"Anda yang jelas akan merindukannya Tuan."
Ken benar-benar tengah menahan emosinya pada Arkan.
Jika memang ia tidak niat kembali pulang untuk apa dia mengulur-ngulur waktu.
Bilang saja dari kemarin Jika dia tidak mau kembali pulang dan ingin tetap bersama istrinya di sini.
Jadi Ken tidak membuang-buang waktu untuk meladeni semua Ke bucinan Tuannya, dengan berbagai Drama perpisahan. Yang benar-benar membuat Ken kesal karena harus menunggunya yang mengulur-ulur waktu.
"Jadi anda benar-benar tidak mau pulang?"
"Benar Ken, aku memutuskan untuk tetap di sini menemani Tiara,"yakin Arkan.
"Baiklah! Jika Itu memang mau anda, saya tidak bisa berbuat apa-apa, saya hanya menyarankan anda untuk tidak mengganggu Nona Tiara karena saat ini ia harus fokus dengan Kompetisi yang ia ikuti."
__ADS_1
"Tentu saja aku tidak akan mengganggunya, malah aku akan memberi dia semangat!"
"Dan anda juga harus ingat! Jangan mengajak Nona Tiara bergadang setiap malam kalau tiada artinya, karena itu akan mengganggu konsentrasi Nona Tiara di pagi hari ketika mengikuti Kompetisi."
"Kau lupa sesuatu Ken, kalau begadang itu boleh saja jika ada perlunya, dan keperluanku itu untuk masa depan kita semua, aku mengajaknya begadang setiap malam, karena kami tengah menjalankan satu misi untuk melahirkan generasi penerus Arkan yang sangat berbobot dan kompeten,"kata Arkan.
"Rasanya kepala saya akan pecah jika harus berlama-lama meladeni anda, yang sudah sangat tergila-gila dengan Nona Tiara."
"Baiklah kalau begitu, selamat begadang setiap malam untuk meraih misi anda melahirkan generasi penerus Arkan. Saya permisi karena banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan di Kantor."
"Pergilah! Karena kau memang harus menyelesaikan semua pekerjaanmu di sana,"kata Arkan,"tapi tunggu Ken, Aku minta kau urus semua persiapan untuk persidangan antara Bu lastri dan si Tua Herman, minggu depan aku akan pulang untuk menghadiri persidangan itu."
"Anda jangan khawatir tuan! Saya dan Tina tentu akan melakukan yang terbaik untuk itu."
"Aku percayakan semuanya padamu Ken,"kata Arkan sambil menepuk pundak Sekretarisnya itu.
...****************...
Dengan wajah yang riang gembira,
Arkan Kembali menuju Hotel tempat di mana Tiara menginap.
Sebelum ia kembali ke Hotel, lelaki itu mampir ke toko bunga untuk membeli buket bunga yang berukuran besar.
"Dia pasti senang, dan langsung memeluk lalu menciumku, karena aku memberikan kejutan yang istimewa seperti ini,"gumam Arkan, sambil menatap buket bunga yang ada di tangannya, dan membayangkan segala Ekspresi yang ada di kepalanya.
...****************...
"Siapa itu! Ah pasti itu Bulan."
Dengan cepat Tiara membuka pintu Kamarnya.
Tiara nampak terkejut karena yang datang bukanlah Bulan.
Sosok yang hanya terlihat setengah tubuhnya saja, karena setengahnya lagi tertutup oleh buket bunga Mawar yang berukuran besar.
Tiara memiringkan wajahnya untuk melihat siapa gerangan yang membawa buket bunga sebesar Gaban itu.
"Aku Kembaliiii!"
Seru Arkan, seraya memperlihatkan wajahnya pada Tiara.
Tiara terbelalak!
Dia sangat terkejut karena baru beberapa menit yang lalu suaminya itu meninggalkan Hotel dan berpamitan akan pulang ke tanah air, tapi kenapa saat ini ia malah ada di depan matanya.
Apa Tiara tengah mengigau! karena ia merindukan suaminya itu.
Aahh.. Tentu saja tidak mungkin, karena hanya baru beberapa menit mereka berpisah masa iya sudah merindu!
Tapi itu bukanlah khayalan Tiara, karena lelaki yang tengah berdiri di hadapannya dengan buket mawar merah benar-benar suaminya.
__ADS_1
Arkan mengulas senyum sempurna karena melihat Tiara yang terkejut sampai membulatkan matanya.
"Ia pasti sangat senang! sampai membuatnya terkesima seperti itu."Batin Arkan.
Arkan maju beberapa langkah dan lebih mendekati istrinya, lalu menyodorkan Bunga yang berukuran besar itu di hadapan istrinya yang masih terkejut!
"Apa Kau terlalu senang, sampai membuatmu terkesima seperti itu! ambilah! ini untukmu,"kata Arkan.
Tiara yang masih belum mengeluarkan sepatah kata pun meraih bunga dari tangan Arkan.
Namun ia tak cukup kuat jika harus memegang bunga itu sendiri.
"Kenapa dia membeli bunga sebesar ini? kenapa tidak sekalian bawa karangan bunganya saja! "
Arkan terkekeh, lalu ia membantu Tiara untuk memegang bunga itu.
"Sepertinya aku harus memberikan bunga yang jauh lebih besar dari ini,"gumam Arkan.
Tiara sudah kembali sadar dari keterkejutannya, lalu ia berkata.
"Kenapa kau kembali lagi?"
"Karena aku tidak bisa meninggalkanmu di sini, aku khawatir Jika kau tiba-tiba merindukanku, ingin bertemu denganku dan ingin memeluk ku, memikirkan semua itu jadi membuatku berubah pikiran untuk kembali pulang ke Rumah, lalu aku memutuskan untuk menemanimu di sini sampai Kompetisi itu selesai,"kata Arkan sambil tersenyum manis pada istrinya.
"Astaga!"
"Apa kau senang aku kembali! tentu Kau senang kan, karena aku akan menemani mu di sini, jadi jika kau merindukanku kau bisa langsung memelukku."
Tiara hanya bisa mengulas senyum, lalu ia kembali berkata.
"Bukankah pekerjaanmu banyak sekali di Kantor. Jadi kau tidak perlu membuang-buang waktumu untuk menemaniku di sini, aku bisa sendiri di sini, lagipula aku di sini tidak sendiri ada Bulan yang menemaniku."
Arkan memeluk Tiara.
"Aku tidak bisa mempercayakanmu pada siapapun termasuk temanmu itu."
Tiara sudah tidak bisa berkata apapun lagi.
Jika itu memang sudah menjadi kemauannya, ya harus seperti itu.
Dengan cara apapun ia dibujuk, lelaki itu akan tetap pada kemauannya.
πππππππ
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini π
Mohon dukungannya ya π
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya π€
Love banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈ
__ADS_1