Suami Antagonis

Suami Antagonis
BAB 70. Pulang Kampung


__ADS_3

"Kenapa!"tanya Tiara yang berbisik pada Arkan.


"Aku tidak suka siapapun yang memelukmu terkecuali ibu, mamah dan adikmu, dan selebihnya aku tidak mengizinkannya, tapi karena dia temanmu, aku ijinkan sebentar saja,"sahut Arkan.


"Peraturan macam apa itu!"


"Tiara!"panggil bulan.


"Iya!"Tiara segera menghambur memeluk Bulan, tapi, seperti yang Arkan katakan Ia hanya boleh sebentar saja memeluk sahabatnya itu dan secepat mungkin Tiara melepaskan pelukan mereka.


Bu Lastri mengajak mereka masuk dan saat ini mereka tengah berkumpul di Ruang keluarga.


Intan bercerita banyak pada kakaknya dan Gadis kecil itu mengutarakan keinginannya untuk mengunjungi makam almarhumah Ibu Rossa.


"Tapi bukankah Dokter menyuruhmu untuk banyak beristirahat?"Kata Tiara.


"Aku sudah sehat Kak, ayolah aku ingin ke makam Ibu, aku ingin menyampaikan pada Ibu jika aku sudah sehat,"kata Gadis kecil itu penuh dengan semangat.


Tiara melirik Ibunya dan bulan secara bergantian meminta pendapat apa ia harus mengizinkan Intan berkunjung ke kampung halaman mereka, karena makam Rossa ada di sana.


"Ayolah Kak!"rengek Intan sambil menarik-narik lengan kakaknya.


Setelah mendapat anggukan dari Lastri, Tiara pun mengiyakan keinginan adiknya.


"Baiklah, tapi hanya untuk dua hari saja ya setelah itu kita kembali ke Kota."


"Kenapa harus kembali lagi ke Kota?"tanya Lastri, padahal niatnya ingin pulang ke kampung saja dan menetap di sana, karena sesungguhnya Lastri tidak betah tinggal di Kota.


Lalu


Tiara menceritakan pada ibunya Jika ia akan kembali ke luar Negeri, dan selamaTiara ada di sana ia meminta Ibunya dan Intan untuk tinggal di rumahnya dan Arkan, agar Ken dan Mamah Tri bisa mengawasi Intan.


"Ibu, mau ya tinggal di Rumah Arkan, di sana akan banyak orang yang membantu Ibu menjaga dan mengawasi Intan. Di sana juga ada Bi Imah yang akan menemani Ibu dan Intan, dan ada Mamah Tri juga,"pinta Tiara dengan membujuk.


"Baiklah! Jika kau yang meminta ibu tidak bisa berbuat apa-apa,"kata Lastri pasrah.


"Terima kasih Bu!"


Usul untuk meminta Bu Lastri dan Intan tinggal di Rumah arkan adalah Ken,


tapi Arkan takut untuk menyampaikannya secara langsung karena ia tahu jika Lastri masih sangat marah padanya,


lihat saja tatapannya sungguh seperti tatapan pada seorang musuh, bahkan ia sama sekali tak mau membalas sapa hangat dari Menantunya itu.


"Sepertinya Ken benar, aku harus bisa mengambil hati ibu mertuaku ini."


Bukan cuma Arkan yang dapat tatapan tak bersahabat, tapi Ken juga diacuhkan oleh Wanita paruh baya itu, entah apa sebabnya mungkin karena dia Sekretaris Arkan jadi terkena imbasnya.


Sebenarnya Lastri tidaklah membenci Arkan Ia hanya kecewa pada lelaki itu.


Tapi setelah Tri menceritakan semua masa Lalu Arkan, Lastri jadi mengerti dan memaafkan lelaki itu.


Tapi kali ini Lastri ingin sedikit memberi pelajaran pada Menantunya itu.


*


*


Tiara mengantar Intan ke Kamarnya Karena setelah meminum obat anak itu jadi mengantuk.


"Aku temani Intan dulu ya Bu,"pamit Tiara pada Ibunya dan juga Arkan.


Ia berlalu ke Kamar Intan dan di ikuti dengan Bulan di belakangnya.


Selepas kepergian ke 3 Gadis itu,


tinggallah Arkan, Ken dan Bu lastri.


Mereka duduk saling berhadapan,


Lastri nampak duduk dengan sangat tenang tapi tidak dengan matanya yang mendelik sempurna menatap Arkan yang sedari tadi tertunduk tak berani menatap Ibu Mertuanya.


Lelaki itu mencoba melirik wajah Lastri apakah masih menyeramkan seperti tadi ketika ia menyambut di depan pintu, tapi ia tak berhasil melihat wajah Mertuanya.


Arkan meraih tangan Ken yang duduk persis di sebelahnya.


"Ken, apa dia masih menatapku seperti tadi?"tanya Arkan dengan suara berbisik di telinga Ken.


"Saya tidak tahu Tuan!"


"Kenapa bisa tidak tahu?"


"Karena saya juga tidak melihatnya!"Kata Ken, yang ternyata menundukkan kepalanya juga.


"Kalau begitu cepat lihat!"


"Maaf Tuan saya tidak berani."


Ken pun sama seperti Arkan dan Jay, sama-sama takut pada Ibu mereka.

__ADS_1


Dan ketika melihat sorot mata yang bagai semburan api dari kedua bola mata Lastri Kedua lelaki itu jadi mengingat Ibunya yang tengah murka.


"Apa yang harus aku lakukan Ken?"tanya Arkan masih dengan menunduk.


"Anda harus cepat minta maaf pada Nyonya Lastri tuan,"sahut Ken, dengan posisi wajah yang sama seperti Arkan.


"Tapi aku harus memulainya dari mana? Dan kau juga, kenapa tidak menyiapkan sesuatu! Seperti Tas mahal, Sepatu atau Mobil sebagai ucapan permintaan maaf dariku."


Ken menghembus kasar nafasnya.


"Tuan, Nyonya Lastri bukanlah seperti Nona Berlian atau nyonya Merlin, yang harus menggunakan benda-benda seperti itu jika ingin mendapatkan maaf darinya. Anda hanya harus meminta maaf dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati lalu berjanji tidak akan mengulangi kesalahan anda yang menjalin kasih dengan wanita lain padahal anda sudah mempunyai Istri."


PLAK!


Arkan menepuk kuat bahu Ken.


"Aaww.. Sakit Tuan, kenapa anda memukul saya?"Protes Ken.


"Kau boleh memberi saran, tapi kau tidak perlu menjelaskan dengan rinci semua kesalahanku," Arkan juga protes.


Sementara Lastri hanya menatap dua lelaki yang tengah berdebat dalam bisikan itu.


"Ehem..!" Suara dehem dari Lastri mampu menghentikan dan menyadarkan Arkan dan Ken, bahwa ada sesuatu yang jauh lebih gawat dari perdebatan mereka berdua.


Dengan cepat 2 lelaki itu merapikan posisi duduknya.


"Ayo Tuan cepat katakan sesuatu, saya sudah tidak kuat jika ditatap seperti ini, saya jadi benar-benar teringat dengan Ibu saya yang sedang marah besar."


"Sial! Memangnya kau pikir aku sanggup!"


"ARKAN!"


Panggil Bu lastri dengan sedikit keras yang sontak membuat Arkan terkejut dan secara Refleks ia mengangkat tubuhnya dari duduk.


"Maaf! Maafkan semua kesalahan saya bu, saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dan saya juga berjanji akan menjadi suami yang baik untuk Ibu, maksud saya! menjadi Menantu yang baik untuk Tiara, tidak-tidak! bukan seperti itu, maksud saya menjadi menantu yang baik untuk ibu dan menjadi suami yang baik untuk Tiara,"Crocos Arkan dengan gugup sambil menundukkan kepalanya secara berulang-ulang di hadapan Lastri.


Melihat kelakuan dan kegugupan Arkan Lastri mengulas senyum, kemudian ia ikut bangun dari duduknya.


Dan karena terkejut Ken pun ikut bangun.


"Apa kau berjanji untuk itu?"tanya Lastri.


Arkan mengangkat kepalanya, ia sedikit lega dan senang karena melihat raut wajah Lastri yang sudah sedikit bersahabat, lalu ia mengangguk dengan mantap.


"Tentu saja, saya akan berjanji untuk itu Bu,"sahut Arkan sambil mengulurkan jari kelingkingnya.


Dan Ken segera bertindak.


Ia dengan cepat menurunkan tangan Arkan dan berbisik.


"Tuan, memangnya anda pikir Nyonya Lastri ini Nona Intan yang mengucapkan janji dengan menggunakan simbol jari kelingking!"


"Apa! aku salah lagi!" batin Arkan.


Arkan kembali menunduk, dan sebelum ia benar-benar menurunkan tangannya. Lastri terlebih dahulu mengulurkan jari kelingkingnya.


"Janji!"ucapnya.


Akan tersenyum senang.


"Aku tidak salah Ken!"


"Janji!"


Mereka saling menautkan kelingking seperti Bocah yang tengah mengikat janji, dan mereka pun sama-sama tersenyum bahagia, begitupun dengan Ken yang merasa lega di hatinya.


"Akhirnya, raut wajah yang seperti ingin menerkam itu, sudah pudar!" gumam Ken dalam hatinya.


"Terimakasih Bu sudah memaafkan saya!"


"Ya! untuk kali ini saya harus memaafkan mu, selain kau terlihat berjanji dengan sungguh-sungguh, kau juga anak dari Tri sahabat Rossa Ibu Almarhumah Tiara, itu yang membuat Ibu memaafkan mu."


"Apa, Ibunya Tiara sahabat Mamah?"


"Iya!


Dan Lastri pun mengulang kembali cerita persahabatan adiknya dan Mamah Tri, yang membuat Arkan menyadari.


Mengapa selama ini Tri sangat menyayangi Tiara, karena Tiara Putri mendiang sahabatnya, Arkan menyesal karena dulu ia sempat berpikir buruk pada Tiara yang selalu disayang dan dibela Mamahnya.


*


*


*


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Sore itu juga mereka berangkat ke kampung halaman Tiara.

__ADS_1


Dan di malam hari mereka baru sampai di sana, Bulan pun ikut serta dengan mereka karena ia juga rindu dengan kampung halamannya dan rindu ingin bertemu orangtuanya.


Bulan Tiara dan Wina, bersahabat! mereka tinggal di Kota yang sama.


Dan mereka pun mengadu nasib ke Ibu Kota secara bersama-sama dan bekerja di Restoran yang sama pula.


Tapi sampai saat ini keberadaan Wina tidak diketahui tepatnya setelah ia ditangkap Ken dan lelaki itu melepaskannya namun ia malah kehilangan jejak Gadis itu.


*


*


"Akhirnya sampai juga!"seru Bulan, sambil merentangkan kedua tangannya.


"Ayo Om kita masuk!"ajak Intan yang menggandeng tangan Arkan dan Ken.


Setelah sampai di dalam mereka beristirahat sejenak di kursi panjang yang ada di Ruangan depan.


"Di sini tidak ada makanan atau bahan makanan mentah karena sudah lama Rumah ini kosong,"kata Lastri setelah ia kembali dari dapur.


"Bagaimana kalau kita makan nasi goreng atau pecel lele yang ada di ujung jalan sana?"usul Bulan dengan penuh semangat.


Dan dijawab anggukan kepala oleh Tiara.


"Kau benar, sudah lama kita tidak makan di sana dan aku sangat merindukan makanan itu."


"Iya aku juga sangat merindukan makanan di sana, dan aku juga sangat merindukan Mas-mas penjualnya! Aduuh..! Bagaimana ia sekarang pasti tambah ganteng saja,"kata Bulan sambil menatap langit-langit Rumah, membayangkan Mas-mas penjual nasi goreng dan pecel lele yang memiliki wajah tampan menurutnya.


Dan Tiara pun ikut senyum-senyum mungkin ia tengah membayangkan apa yang Bulan bayangkan juga.


Tanpa ia sadari lelaki yang tengah duduk di hadapannya mengepalkan tangan dengan kuat.


"Hei! Apa kau tidak pulang ke Rumah Orangtuamu? Kau bilang merindukan Ibu dan Ayahmu tapi kenapa tidak langsung pulang, kau bisa makan di sana kan!"kata Arkan dengan nada yang kesal pada Bulan, yang telah memancing-mancing Tiara membayangkan Mas-mas penjual nasi goreng.


"Aaahh... Itu, Ibu dan Ayahku tengah berada di Rumah bibi, Jadi mereka tidak ada di Rumah sekarang dan baru akan kembali esok pagi,"kata Bulan menjelaskan.


"Merepotkan sekali!"kesal Arkan.


"Tidak apa-apa, lagi pula Rumah Bulan sangat jauh dari sini, dia tidak bisa pulang sendiri di sana, jadi lebih baik Bulan menginap dulu di sini untuk satu malam,"kata Tiara.


Bulan tersenyum puas.


"Terimakasih. Jadi bagaimana! Apa kita jadi ke sana untuk membeli makan?"


"Tidak, kita makan di Rumah saja!"sahut Arkan dengan cepat.


"Kau ini, kan tadi Bu Lastri sudah bilang jika tidak ada makanan apapun di sini,"kesal Bulan.


"Iya nak,"sahut Bu lastri.


"Kalau begitu biar aku dan Ken saja yang membeli makanan."


"Tapi kau dan nak Ken tidak tahu tempatnya di mana! Dan kalian juga belum tahu jalan-jalan di kampung sini."


"Kalau begitu biar Ken dan dia saja yang membelinya,"kata Arkan sambil menunjuk Bulan dan Ken.


"Aku! Tidak-tidak! aku tidak mau."


"Tentu sangat berbahaya jika aku pergi berdua saja dengan lelaki aneh itu kan!"


"Kalau begitu biar aku dan Bulan saja yang membelinya,"sahut Tiara.


Dan Arkan langsung memicingkan matanya.


"Tidak boleh!"


"Kenapa tidak boleh apa kau tidak ingin makan?"kesel Bulan.


"Sudah! kalian berempat yang pergi membelinya,"kata Bu lastri mengambil keputusan di tengah perdebatan mereka.


Sementara Ken, sejak tadi tidak mengeluarkan suara apapun.


"Mau membeli makan saja kalian berdebat dulu, apa kalian tidak tahu jika saya sudah sangat kelaparan!"


*


*


*


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ‚πŸ‚πŸ‚


Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini πŸ™


Mohon dukungannya ya πŸ™πŸ™


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya πŸ€—


Love banyak-banyak untuk semuanya ❀️❀️❀️

__ADS_1


__ADS_2