Suami Antagonis

Suami Antagonis
Bab 53. Menantu Dan Mertua.


__ADS_3

Arkan sudah sampai di rumah Ibu Lastri.


Dia tidak mendapati ada siapapun di sana apalagi wanita yang ia cari.


Arkan menggedor-gedor pintu Rumah itu, meskipun ia sudah tahu jika tidak ada orang di dalam sana.


Ken yang sejak tadi membuntutinya segera menenangkan Arkan.


"Di mana dia! Kenapa tidak ada di sini!"maki Arkan pada Ken.


"Mungkin Nona Tiara sedang keluar tuan."


"Baiklah, ayo kita cari,"ucap Arkan, dengan suara yang di buat setenang mungkin.


Namun sudah beberapa jam mereka berkeliling di lingkungan Rumah Bu Lastri, tidak mendapatkan apapun.


Secara bersamaan Tri menghubungi Putra semata wayangnya itu.


Wanita itu murka dengan apa yang terjadi saat ini.


Terutama soal Tiara yang menggugat Cerai Arkan, dan Tri yakin ini semua disebabkan oleh Putranya itu.


("Cepat pulang sekarang juga! Mamah tunggu di Rumah!")


Itulah beberapa penggal kata yang Tri ucapkan, dengan penuh penekanan dan sejuta emosi lewat sambungan telepon pada Putra kesayangannya.


"Tuan, lebih baik kita pulang dulu, mungkin Nona Tiara sudah kembali ke Kota."


Mau tidak mau, Arkan pun Kembali Pulang karena jika tidak! itu akan semakin membuat Tri marah.


Arkan masih coba berpikir positif, mungkin Tiara sedang berpergian ke Rumah sanak saudaranya, makanya dia tidak ada di Rumah Lastri.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Arkan sudah sampai di Rumahnya


Dan sesuai dugaan, wanita yang telah melahirkannya itu marah besar.


Apalagi ketika Tri mengetahui soal kontrak pernikahan yang dilakukan Arkan dan Tiara.


"Apa kau pikir menikah itu main-main? Apa kau melakukan kontrak ini karena Berlian!"maki Tri tepat di wajah anaknya.


"Tapi aku berniat untuk mengakhiri itu Mah, dan memulainya dari awal."


"Jika kau berniat mengakhiri dan ingin memulai dari awal, kenapa Tiara sampai menggugat Cerai, Kau pasti melakukan kesalahan besar padanya kan!"


"Sudah Mah, kenapa Mama menyalahkan ku terus,"protes Arkan.


Karena malas mendengar ocehan dan amukan Ibunya, lantas ia langsung keluar dari Ruang keluarga itu.


"Arkan! Kau mau ke mana? Mamah belum selesai bicara?"


"Mencari Tiara,"teriaknya tanpa menoleh dan langsung keluar dari Rumah itu.


"Mencari Tiara!"Tri melirik pada Ken,"Memangnya di mana Tiara? Apa dia tidak ada di rumah ibunya?"


"Maaf nyonya, saya dan Tuan Arkan baru dari sana, tapi kami tidak menemukan Nona Tiara di sana dan sepertinya Rumah itu kosong."


Tri menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi.


Karena lemas mendengar perkataan yang diucapkan Ken.


"Nyonya tenangkan diri anda!" Ucap Tina menenangkan sang Nyonya.


"Apa kau sudah mencari atau bertanya pada keluarganya yang lain?"tanya Wilson.


"Sudah tuan! Tapi mereka hanya bilang jika Nyonya Lastri tengah membawa berobat Intan ke Rumah sakit, tapi saya sudah mengecek seluruh Rumah sakit yang ada di Kota itu dan tidak ada pasien yang bernama Intan adiknya Nona Tiara, tapi anda jangan khawatir Saya sudah meminta beberapa orang untuk melakukan pengecekan di setiap Rumah Sakit yang ada di Negara ini."


"Baiklah, saya percayakan semuanya padamu,"sahut Wilson.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Arkan pergi ke Restoran tempat Tiara bekerja dan dia mengintrogasi semua yang ada di sana termasuk Bulan.

__ADS_1


Tapi mereka semua mengatakan tidak tahu, termasuk Pak Gandi, ia mengatakan pada Arkan Jika ia hanya menerima satu pesan dari Tiara kalau dirinya sudah tidak bisa bekerja lagi di Restoran milik Pak Gandi tanpa memberi alasan apapun.


Arkan melirik bulan.


Dan Gadis itu terlihat santai tak merasa gugup sedikitpun ketika dilirik Arkan.


"Kau temannya bukan? Dan Kau pasti tahu di mana Tiara sekarang?"


"Bukan hanya saya, tapi kami semua di sini adalah teman Tiara, dan jika anda bertanya di mana Tiara sekarang jawaban saya adalah sama. Tidak tahu."


Arkan merasa jika omongan orang-orang yang ada di Resto ini adalah benar, mereka tidak mengetahui di mana keberadaan Tiara.


Tapi, tidak untuk Bulan.


Arkan dapat menangkap sinyal kebohongan dari Gadis itu.


Dan Arkan tidak mau mendesaknya saat ini,


ia akan menggunakan cara lain agar Gadis itu mau mengatakan di mana Tiara berada.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Satu Minggu sudah.


Dan Arkan masih belum mendapatkan kabar di mana Tiara berada.


Bulan,


gadis itu sungguh sangat berhati-hati dalam bertindak.


Ia tahu jika Ken membuntutinya selama Satu Minggu ini.


Tapi sepertinya, Bulan jauh lebih pintar daripada Ken,


sehingga Lelaki itu masih belum bisa mendapatkan Informasi apapun dari Bulan.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Tuan, ada Nyonya Merlin yang ingin bertemu dengan anda?"


Saat ini ia tengah berada di kantor untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang sudah ia abaikan selama satu minggu.


Meskipun ia berada di Kantor, tapi pikirannya selalu tertuju pada Tiara, sehingga membuatnya tidak konsentrasi dalam bekerja.


"Katakan padanya, saya sedang sibuk! tidak menerima tamu,"sahut Arkan tanpa mengalihkan pandangannya, karena saat ini matanya fokus pada Laptop yang ada di mejanya.


"Begini Kah kelakuanmu pada calon Ibu mertuamu?"Merlin langsung masuk tanpa izin dan berdiri tepat di hadapan Arkan.


Arkan melirik, menatap wanita Sosialita yang terkenal itu, lalu kembali pada Laptopnya.


"Untuk apa anda ke sini, dan Kenapa Anda menyebutkan diri anda sebagai calon mertua! apakah Berlian tidak mengatakan sesuatu pada anda?"


"Arkan! Kau jangan kurang ajar! Kau berani sekali melakukan itu pada putriku setelah apa yang putriku lakukan untukmu selama ini?"


"Memangnya apa yang dia lakukan?"sahut Arkan malas, dan tangannya masih terus mengotak-atik Laptopnya.


"Saya minta, segera nikahi Berlian!"ucap Merlin blak-blakan,


dan sontak membuat Arkan mendongak lalu tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Nyonya! apa anda kehilangan ingatan anda! Karena usia anda yang semakin tua? Anda tahu kan jika saya sudah menikah, apa anda melamar saya untuk menjadikan anak anda istri kedua saya?"


BRAK!


Merlin menggebrak meja Arkan.


Tapi Arkan hanya mendengus kesal tak bereaksi apapun.


Arkan meraih Telepon yang ada di mejanya dan menghubungi seseorang.


Tak berapa lama seorang Security masuk ke ruangan Arkan.


"Bawa wanita ini keluar dari Ruanganku dan jangan ijinkan dia menginjakkan kaki lagi di sini,"titah Arkan yang sontak membuat Merlin murka.

__ADS_1


"Arkan! Apa kau sudah Gila! dan apa kau juga tidak mempunyai rasa berterima kasih, karena saya sudah mencabut laporan atas penganiayaan yang telah kau lakukan pada suami saya!"


"Nyonya Merlin, Jika anda ingin kembali melaporkan saya kepada Polisi silakan!"


"Sepertinya Tiara benar-benar sukses meracuni pikiranmu, bahkan dia sudah tidak ada pun masih bisa mempengaruhi mu."


Arkan menatap Merlin, dia bertanya-tanya dari mana Merlin tahu jika Tiara tidak ada!


Padahal tidak ada satu orang pun yang diberitahu atas kepergian Tiara selain orang-orang terdekatnya.


Apa mungkin dia ada hubungannya dengan kepergian Tiara, itulah yang ada di pikiran Arkan.


"Baiklah! aku akan mencari tahu nya sendiri!"


Arkan tetap menyuruh Security untuk membawa Merlin keluar dari Ruangannya.


Dan setelah itu Arkan menyuruh orang untuk menyelidiki Merlin.


πŸ‚


Tidak butuh waktu lama orang suruhan Arkan berhasil memberi Informasi yang cukup memuaskan.


Jika Merlin beberapa kali mengunjungi Rumah Sakit besar yang berada di Kota xxx.


Alasan Merlin di sana adalah, untuk menjenguk suaminya Herman, yang satu Minggu lalu melakukan pendonoran pada seorang anak.


Tanpa membuang-buang waktu, setelah mendapatkan kabar itu,


Arkan segera pergi ke Rumah sakit yang disebut.


Ia sangat yakin jika ini akan menjadi petunjuk untuk dia menemukan Tiara.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Arkan sudah sampai di Rumah sakit tujuan dan Arkan segera mencari Kamar di mana Herman dirawat.


Tidak sulit bagi Arkan.


Dan saat ini dia sudah berada di Kamar rawat Herman.


Pria itu masih terbaring di ranjang dengan wajah yang sangat pucat.


Karena seperti dugaan Berlian, Herman akan terganggu kesehatannya jika melakukan pendonoran itu


Benar saja! pasca Operasi, kondisi Herman Kian menurun, bahkan hanya untuk turun dari Ranjang pun ia harus dibantu dengan beberapa suster.


" Selamat malam Ayah mertua! Tidak- tidak! saya rasa sebutan itu terlalu indah untuk anda," sapa Arkan yang tiba-tiba masuk, tanpa mengetuk pintu kamar Herman,


yang kebetulan tidak ada siapapun yang menunggunya di sana.


Herman yang masih merasa kesal dengan Arkan, terkejut sekaligus geram dengan menantunya itu.


Ia membuang wajahnya dan mendengus kesal, ketika Arkan duduk di kursi yang berada di sisi Ranjangnya.


" Kenapa wajah Ayah Mertuaku begitu kesal melihat menantu hebatnya ini, apa anda masih mengenang peristiwa bersejarah itu? sayang sekali, si Brengsek Ken itu menghalangi ku, jika tidak! mungkin saat ini anda tengah berbaring di dalam Kubur."


Herman yang Kondisinya masih sangat lemah hanya bisa mendengus dan memaki di dalam hati tanpa bisa mengungkapkannya,


rasanya ingin sekali ia menendang wajah Menantu yang sudah membuatnya babak belur itu.


"Untuk apa kau ke sini! Apa kau datang ke sini hanya untuk menghina saya?"


" Tentu saja tidak! karena saya ke sini ingin menjenguk ayah Mertua, tapi sepertinya, ayah mertua saya ini tidak menyambut Menantunya dengan baik, apa karena saya tidak Membawa buah-buahan dan Bunga Kamboja untuk anda!"


"Cepat katakan, mau apa kau ke sini Berengsek!"Kesal Herman.


πŸ‚πŸ‚πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ‚πŸ‚


Terimakasih sudah mau membaca cerita ini πŸ™


Mohon dukungannya ya πŸ™


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya πŸ€—

__ADS_1


Love banyak-banyak untuk semuanya ❀️


__ADS_2