Suami Antagonis

Suami Antagonis
Bab 29. Berlian Tau.


__ADS_3

Tiara masih tak bergeming, ia Tengah terheran-heran dengan sikap Arkan yang tiba-tiba aneh, menurutnya.


Sementara orang-orang yang ada di sana tengah Baper dengan kelakuan Arkan terutama para Ciwi-ciwi.


"Ya ampun, Tuan Arkan manja banget ya sama Tiara,"bisik rekan kerja Tiara pada temannya ketika melihat Arkan merengek meminta digulungkan lengan kemejanya.


"Iya benar, aku jadi gemes melihatnya,"sahut temannya sambil mencubit pipinya sendiri.


Astaga! apa Arkan tersambar mbak Kunti sampai dia berkelakuan aneh seperti ini.


Agar tidak terus menjadi pusat perhatian, Tiara pun bergerak untuk melakukan apa yang Arkan minta.


"Biar aku saja,"kata Jay bersemangat dan langsung mendekat pada Arkan.


"Apa kau ini istriku?"tanya Arkan sambil melebarkan matanya, dan dijawab gelengan kepala oleh Jay.


"Kalau begitu minggir lah, Aku meminta istriku yang melakukannya,"usir Arkan.


"Arkan! Kan kau sendiri yang bilang jika Tiara sedang sibuk, dan aku mempunyai dua tangan jadi aku bisa membantumu,"kata Jay dengan senyum balas dendam.


"Tidak usah! Aku tidak butuh bantuanmu,"tolak Arkan dan menjauhkan tangannya dari Jay.


"Sudahlah Ar, Kau tidak perlu sungkan padaku,"Jay menarik paksa tangan Arkan dan langsung menggulung kemeja putih itu dengan kasar.


"Kau mengotori bajuku Jay,"ucap sedikit berteriak, karena melihat kemeja putihnya yang kotor setelah disentuh Jay.


"Astaga! Maaf tuan Arkan, tapi aku sengaja,"sahut Jay Sambil tersenyum tipis, tapi tertawa senang di dalam hatinya.


Ia tau jika Arkan paling tidak suka dan tidak nyaman jika bajunya kotor atau terkena noda bahkan hanya sedikit, dengan begitu lelaki itu pasti akan pergi untuk mengganti bajunya.


"Lihat Jay, aku akan membalas perbuatanmu ini,"ancam Arkan.


Dan Jay hanya mengedikan bahunya.


Namun lelaki itu tetap bertahan tak mau pergi untuk mengganti baju nya, membuat rencana Jay gagal.


πŸ‚


Setelah 2 jam lamanya, acara pun selesai dan akan disambung pada esok hari.


Para donatur sudah mulai meninggalkan tempat Setelah berbincang dengan pengelola acara tersebut.


Arkan, ia Tengah duduk di kursi dengan wajah lelah dan terlihat sangat kesal.


Bahkan kini, kemeja yang berwarna putih itu sudah bagaikan kanvas yang diwarnai secara bebas dan sesuka hati oleh anak-anak yang dikomandani Jay, sampai membuat kemeja Arkan berubah menjadi Rainbow.


Tapi ia sama sekali tidak marah atau keberatan sedikitpun dengan anak-anak di sana,


ia justru merasakan damai dan bahagia di hatinya ketika melihat anak-anak yang kurang beruntung itu bisa tertawa lepas hanya karena mencoret-coret bajunya dengan Whip cream warna-warni.


Arkan bukanlah seseorang yang peduli dengan orang lain, Ia juga tidak menyukai anak-anak,


itu jugalah sebabnya akan menjadi anak tunggal karena ia menolak untuk mempunyai seorang adik.


Dan Ini pertama kalinya Arkan mengikuti kegiatan amal seperti ini.


Meskipun ia tidak marah, tapi Arkan tetap merasa kesal!


tentu saja pada Jay yang sepertinya terang-terangan ingin merebut Tiara darinya.


"Apa dia menyukai Tiara? Dia selalu menyukai apa yang aku miliki dan tentu aku tidak akan membiarkan si brengsek itu mendapatkannya,"gumam Arkan dalam hati.


"Ini!"


Tiara menyodorkan satu gelas air untuk Arkan, dan lelaki itu langsung meraih dan meminumnya sampai tandas.


Rasa panas di dalam dada tentu tidak akan cukup, jika disiram dengan satu gelas air saja, dan Arkan pun memintanya lagi.


"Apa kau mau langsung pulang ke kota?"tanya Tiara setelah memberikan gelas ketiga pada Arkan.


"Pertanyaanmu itu terdengar seperti mengusirku kembali,"sahut Arkan.


"Aku hanya bertanya? bukan mengusir."


"Dan jawabannya adalah! Tidak, aku masih ada urusan sampai beberapa hari lagi di sini."


"Di mana kau menginap?"tanya Tiara kembali.


"Tentu saja di hotel bintang 5 dengan kamar VIP,"sahutnya dengan bangga.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, segeralah kembali ke kamar VIP mu untuk mengganti pakaianmu yang kotor, Aku mau kembali ke kamarku dulu."kata Tiara dan langsung meninggalkan Arkan.


"Hai tunggu!"Arkan langsung bangun dari duduknya dan mengejar Tiara.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Sementara di tempat lain.


Berlian kembali nekat untuk mendatangi kantor Arkan karena sejak pagi lelaki itu tidak dapat dihubungi.


"Apa! Keluar kota?"


"Iya Nona."


"Di kota mana?" Tanya Berlian pada seorang wanita yang berada di meja informasi.


"Maaf Nona saya tidak tau, karna tuan Ken hanya bilang jika tuan Arkan sedang keluar kota."


Berlian sudah nampak sangat emosi, karena Arkan keluar kota tanpa memberi kabar padanya bahkan lelaki itu malah mematikan ponselnya.


TING!


Di tengah kekesalan dan kegersangan hatinya, Berlian mendapatkan sebuah pesan yang sudah bagaikan angin segar baginya.


"Jadi kau ada di sana, bersama Tiara, lihat saja aku tidak akan membiarkan kalian semakin dekat, terutama pada mu Tiara, Aku tidak akan membiarkanmu untuk merebut Arkan dariku,"gumam Berlian sambil mencekram kuat ponselnya.


Dia mendapatkan pesan dari salah satu temannya yang berada di kota tempat Tiara dan Arkan berada.


Temannya mengirimkan sebuah foto, Arkan dan Tiara yang tengah membuat kue bersama anak-anak.


Dan tanpa pikir panjang lagi Berlian segera tancap gas menuju kota tersebut.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Arkan masih mengikuti Tiara sampai di depan kamar hotelnya.


"Kenapa kau mengikutiku?"tanya Tiara.


"Aku ingin membersihkan bajuku, tidak mungkin kan aku kembali ke Hotelku dengan penampilan seperti ini."


"Kau cari kamar lain saja jangan di kamarku."


"Iya!"jawab Tiara cepat.


Sebisa mungkin Tiara harus bisa menghindari Arkan.


"Baiklah! Jika kau tidak mengizinkan aku masuk, aku juga tidak akan memberikan kunci kamar ini padamu,"kata Arkan sambil menunjukkan kunci yang menggelantung di jarinya.


Aku lupa jika ia yang terakhir kali keluar dari kamar ku.


"Baiklah! Aku mengizinkanmu masuk, sekarang cepat buka pintunya,"pinta Tiara, dengan pasrah.


Dengan senyum kemenangan Arkan membuka pintu dan langsung masuk ke dalam kamar Tiara disusul dengan Tiara yang ada di belakangnya.


Tanpa tahu malu Arkan segera mempreteli kancing kemejanya di depan Tiara.


"Apa yang kau lakukan?"kata Tiara dengan suara meninggi.


"Apalagi aku ingin membuka bajuku yang kotor ini,"sahutnya dengan polos.


"Tapi tidak di sini, kau bisa menggantinya di dalam kamar mandi."


"Ini badanku, jadi terserah aku mau mengganti di mana."


Astaga!


Tiara benar-benar hampir kehabisan rasa sabar, untuk menghadapi lelaki yang ada di hadapannya itu.


Jika saja ia mampu, mungkin Tiara sudah memasukkan Arkan dalam kantong plastik besar dan membuangnya ke tengah laut.


Selain tidak mampu tentu Tiara juga tidak berani melakukan itu.


Dan iapun memilih untuk mengalah dan masuk ke dalam kamar mandi.


Untuk menghindari pemandangan yang mungkin bisa membuat matanya yang polos dan suci ternodai, Tiara juga membawa serta kopernya masuk ke dalam kamar mandi.


πŸ‚


Beberapa menit berlalu Tiara keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Ia melihat Arkan yang berbalut selimut tengah bersandar di ranjangnya sambil memainkan ponsel, Arkan Tengah membalas puluhan pesan dari Berlian.


"Kenapa kau masih ada di sini?"tanya Tiara.


Arkan langsung menoleh.


"Aku sedang menunggu sopir yang membawakan pakaian untukku,"sahut Arkan dan kembali fokus pada ponselnya.


Beberapa detik kemudian.


KRING.....


Suara dering ponsel Arkan memenuhi seisi kamar, dan Ia pun segera menjawab panggilan itu.


"Iya Ber!"


Dan ternyata sang kekasih menghubunginya.


DEG!


Berlian!


"Aku minta maaf Ber! Apa kejutan!"


Suara Arkan membuat Tiara pusing mendengarnya, dan ia pun memutuskan untuk keluar dari kamar dan berharap lelaki itu sudah tidak ada di kamarnya ketika ia kembali.


Sedangkan Arkan dia masih sibuk bicara dengan Berlian yang katanya ingin memberi kejutan padanya.


Tiara memutuskan untuk keluar dari Hotel.


"Sepertinya menghirup angin di sore hari seperti ini segar juga,"gumam Tiara, dan ia pun mulai berjalan-jalan di sekitaran Hotel yang kebetulan ada taman tidak jauh dari sana, Tiara berniat untuk menenangkan diri di taman itu.


"Tiara!"


Jay memanggilnya dari kejauhan, dan laki-laki itu segera berlari menghampiri Tiara.


"Apa yang kau lakukan di sini? Kota ini terkenal dengan udaranya yang dingin kau bisa sakit jika berada di luar di sore hari seperti ini,"kata Jay, yang saat ini tengah mengimbangi langkah kaki Tiara yang terus berjalan menuju taman.


"Tidak apa-apa Jay, Aku ingin menghirup udara segar."


"Lalu, di mana Arkan?"


"Di kamar."


"Apa dia di kamarmu? Apa yang dia lakukan di kamarmu?"


"Kenapa kau panik seperti itu! Iya dia di kamarku, tapi dia tidak mungkin bermalam di sana, ia hanya tengah menunggu supir menjemputnya."


"Syukurlah!"lega Jay, tapi dengan suara sangat pelan tanpa bisa didengar oleh Tiara.


"Apa kau ke sini untuk menghindari Arkan?"


Tiara menggeleng.


"Bukan menghindari tapi aku tidak ingin mengganggunya."


"Memangnya Apa yang sedang dia lakukan?"


"Dia tengah menerima panggilan dari kekasihnya,"ucap Tiara dengan suara lesu.


Jay melihat ada raut kecewa di wajah Tiara ketika menyebut kekasihnya!


"Tiara, duduklah di sini,"pinta Jay sambil menepuk bangku taman berwarna putih.


"Terima kasih!" Dan Tiara pun duduk di sana.


"Kita bisa menghirup udara segar bersama-sama di sini,"kata Jay lalu mendudukkan diri di sebelah Tiara.


"Ide yang bagus,"sahut Tiara.


Dan mereka pun duduk berdua di kursi taman yang di kelilingi bunga-bunga beraneka warna.


Sementara Arkan dia masih berbincang dengan kekasihnya lewat sambungan telepon.


πŸ‚πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ‚


Terimakasih sudah mau membaca cerita ini πŸ™πŸ™


Mohon dukungannya ya πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2