
Arkan masuk ke tempat tersembunyi yang ada di Ruang kerjanya.
Yaitu kamar!
Di Ruang kerja Arkan ada sebuah kamar yang tersembunyi di balik lemari besar berisi buku-buku.
Kamar itu dulu di ciptakan oleh Arkan sendiri untuk menghindar dari Wilson Ayahnya.
Dulu Arkan seorang pemalas, dia selalu ogah-ogahan jika di suruh melanjutkan Perusahaan milik Papahnya.
Dia Akan berangkat ke Kantor hanya untuk menghindari ocehan Wilson dan setelah sampai Kantor, Arkan tidur seharian di kamar tersembunyi itu tanpa di ketahui Wilson dan Ken lah yang mengerjakan semua tugas-tugas yang di berikan Wilson.
Tapi dengan seiring berjalannya waktu, Arkan berubah dan lebih menghargai apa yang Wilson berikan padanya
Lebih-lebih lagi, ketika ia menyadari jika uang adalah segalanya.
Dengan uang dan kekuasaan, semua akan berjalan dengan lancar.
Ia bisa mendapatkan Berlian dari persaingannya dengan Jay pun setelah ia resmi di angkat sebagai Presdir di Perusahaan itu.
Membuat Arkan menilai segala sesuatu akan mudah ia dapatkan dengan uang dan kekuasaan.
Dengan mudah Arkan menekan Lemari besar yang menjadi pintu masuk Kamarnya hanya dengan satu tangan
Seketika lemari berbalik dan Arkan masuk kedalam kamarnya.
Ia menyimpan beberapa barang pribadinya di sana.
Beberapa menit kemudian ia keluar dengan kemeja berwarna biru muda di tangannya.
"Tuan, untuk apa kemeja itu?" tanya Ken yang semakin bingung dengan tingkah Arkan.
"Bukankah kita akan Lembur! jadi penampilan ku harus maksimal bukan, kemeja yang aku pakai ini sudah dari pagi jadi aku harus menggantinya," sahut Arkan dan segera berganti pakaian.
"Kita hanya lembur tuan, bukan ingin bertemu tamu penting, jadi anda tidak perlu mengganti kemeja anda."
"Biasanya anda paling sulit jika di suruh berganti pakaian."
"Kau ini bagaimana Ken? Biasanya kau yang selalu sibuk agar aku selalu menjaga penampilan dengan baik, karna aku selalu menjadi pusat perhatian orang, tapi kenapa sekarang kau malah begini!"Protesnya.
"Iya anda benar! Maafkan saya."
"Terserah pada anda saja tuan."
Arkan melirik Jam di pergelangan tangannya.
"Ken, kau lihat ini sudah Jam berapa?"
"18:00, anda jangan cemas tuan, masih ada 30 menit lagi untuk kita memulai kerja."
"Bukan itu yang aku maksud Ken!"
"Lalu?"
"Ini sudah berlalu 10 menit, dari waktu 20 menit yang kau katakan tadi," Arkan mengingatkan Ken.
Dan si lelaki yang super peka itu mengerti apa yang di maksud Arkan.
"Benar, masih ada waktu 10 menit lagi untuk Nona Tiara sampai Kantor."
"Cepat kau tunggu di pintu masuk!" titah Arkan, yang membuat Ken terkejut!
"Apa! Anda meminta saya untuk menyambut Nona Tiara?"
"Buka menyambut, memangnya siapa dia harus di sambut, aku hanya menyuruh mu mengantar dia ke sini, karena aku hanya butuh makanan yang ia bawa," kilah Arkan.
"Baik, hanya makanannya saja kan!"
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, saya hanya akan mengambil Makan malam anda saja, lalu meminta Nona Tiara kembali."
"Bukan seperti itu Ken! Dia yang harus mengantarkan sendiri ke sini."
"Tinggal bilang saja jika anda ingin bertemu Nona Tiara, kenapa sulit sekali."
"Baiklah saya akan segera turun dan menyambut ke datang Nyonya Arkan Argani," ucap Ken dengan menegaskan sebutan Nyonya Arkan Argani.
Ken keluar dan segera turun ke lantai dasar untuk menyambut Tiara.
"Kenapa dia terlihat kesal seperti itu!" Gumam Arkan, menatap kepergian Ken.
Selepas Ken keluar!
Tinggallah Arkan seorang diri.
Ia semakin salah tingkah setelah mengganti kemeja dengan warna biru.
Sepertinya Arkan kurang puas!
Ia merasa jika penampilannya belum sempurna dan lelaki itu memutuskan untuk masuk kembali kedalam Kamar dan memilah kemeja dengan warna yang lain.
Setelah 3 menit.
Akhirnya Arkan bisa memutuskan warna apa yang akan ia gunakan.
Dan pilihan Arkan jatuh pada kemeja putih yang selalu menjadi Andalannya.
Setelah mengganti kemeja untuk yang kesekian kalinya, Arkan puas dengan penampilannya saat ini.
Sambil berkaca ia pun berdecak kagum pada bayangannya sendiri.
"Kau memang sungguh sempurna dan sangat mengagumkan."
Setelah semua Perfek!
Bagai seorang Brand Ambassador!
Arkan menyemprotkannya dengan penuh gaya dan penghayatan.
Padahal ia hanya mau lembur, tapi kenapa harus hebohnya seperti itu.
Apakah benar alasannya hanya karena lembur?
πππππ
Sesuai perkiraan Ken.
Tiara pun tiba di Kantor di menit ke 20.
"Selamat malam Nona!" Ken menundukan kepalanya.
"Selamat malam juga Ken," Tiara mendekat dan berbisik pada Ken,"tolong jangan bersikap seperti itu, aku jadi malu dan tidak nyaman."
Tentu Tiara tidak nyaman karena banyak pasang mata yang memperhatikannya.
"Maaf jika sikap saya membuat anda tidak merasa nyaman Nona, tapi ini semua sudah menjadi tugas saya dan contoh bagi pekerjaan yang lainya agar bisa menghormati anda sebagai Nyonya Arkan di kantor ini."
" Kau berlebihan sekali Ken,"
Tiara menyerahkan Paper Bag pada Ken.
"Ini makan malam untuk Arkan dan juga untuk mu, tolong berikan padanya," pinta Tiara.
"Lebih baik anda sendiri saja yang memberikannya pada tuan Arkan."
"Ini sudah hampir malam, aku harus segera pulang ke Kontrakan ku karena ada beberapa barang yang harus aku ambil di sana."
__ADS_1
"Itu bisa di lakukan esok hari Nona, yang terpenting sekarang, anda harus mengantarkan dulu makan malam itu pada tuan Arkan, agar saya tidak terkena dampak buruknya."
"Dampak buruk! Maksudnya?"
"Suatu hari nanti anda akan mengerti itu, sekarang! silahkan Nona masuk Lift khusus untuk menuju ke Ruangan tuan Arkan!" Ken mempersilahkan tapi sedikit memaksa, agar Tiara cepat naik ke lantai atas tempat Ruangan Arkan berada.
Setelah keluar dari lift khusus
Ken segera mendorong Tiara agar masuk ke ruangan Arkan.
"Ken, bagaimana kalau kau saja yang membawakan ini ke dalam,"Tiara kembali meminta Ken untuk membawa makanan itu.
"Nona, tolong permudah urusan saya hari ini."
"Apa!"Tiara bingung.
"Sudahlah! anda masuk saja ke dalam dan berikan itu pada tuan Arkan, itu sudah sangat membantu saya hari ini."
Tanpa mengetuk Ken mendorong pintu.
"Tuan, Nona Tiara datang membawakan makan malam untuk anda!"
Si tuan yang tengah duduk bersandar di kursinya hanya melirik Ken sebentar.
Karena penampilan Arkan yang sangat-sangat berbeda dari biasanya membuat
Ken terpesona dengan sosok sempurna itu.
Ia bagai cahaya yang sangat menyilaukan di mata Ken.
Ken melangkahkan kakinya lebih masuk ke dalam
dan sesuatu yang sangat menyengat menusuk Indra penciumannya sampai menelisik ke otak dan hatinya.
"Aroma ini? ini Aroma Parfum milikku!"
Ken menatap Arkan tajam dan menegur lelaki itu dalam hati.
"Tuan, apa yang anda lakukan dengan Parfum saya?"
Bagai dua raga satu jiwa, Arkan pun menjawab pertanyaan batin Ken.
"Aku hanya menggunakan sedikit Parfum mu untuk menyegarkan Ruangan ini Ken."
"Sedikit! bahkan 10 botol pun tidak akan cukup untuk membuat Ruangan ini seperti Toko Parfum."
"Kau tidak boleh pelit seperti itu pada ku Ken, aku akan menggantinya 1000x lipat."
Ken membuang wajahnya bertanda mengakhiri perdebatan batin mereka.
Tiara yang mengekor di belakang Ken pun merasakan Aroma Vanila yang maskulin sangat menyengat di hidungnya.
"Kenapa di sini wangi sekali, aku seperti masuk di Toko bunga."
Saking wanginya ruangan itu sampai membuat Tiara hampir tersedak.
"Suruh dia masuk dan letakkan makanan itu di atas meja, Ken,"titah Arkan yang masih setia dengan posisi duduknya seperti acuh dan tak perduli dengan kedatangan Tiara, padahal dalam hatinya tengah girang setengah mati.
πππππππππππππ
Terimakasih sudah mau membaca cerita ini ππ€
Mohon dukungannya ya ππ€
Jika ada kesalahan dalam tulisan ini, tolong segera beri tau Ntor, agar Ntor bisa segera memperbaikinya π€
Love banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈ
__ADS_1