
Arkan keluar dari kamar Tiara dengan wajah puas!
Bi Imah nampak memperhatikan Arkan dari jauh, setelah Arkan tak terlihat lagi karena ia berlalu menuju kamarnya di lantai atas, bi Imah melangkah maju untuk melihat apa yang telah Arkan lakukan di dalam kamar Tiara.
Tapi Bi Imah tidak bisa masuk ke dalam kamar itu karena ternyata pintunya terkunci, dan sudah pasti Arkan yang melakukannya.
Tapi Bi Imah tersenyum, mengira jika maksud dari Arkan mengunci pintu kamar Tiara, karena ia menginginkan Tiara tidur di kamarnya.
"Sepertinya Nyonya Tri berhasil,"gumam Bi Ima.
πππππ
Waktu yang ditunggu-tunggu Arkan tiba, Tiara pulang di jam 05.00 sore, ia memarkirkan motornya dan segera masuk ke dalam rumah.
"Selamat datang Nona Tiara!"sambut Bi Imah yang sudah berdiri di depan pintu."
"Terimakasih Bi, tapi Lain kali, tolong jangan menyambutku seperti ini, aku bisa masuk sendiri!"pinta Tiara.
"Ini sudah menjadi tugas dan tanggung jawab bibi, Nona silakan masuk."
Meskipun merasa tidak enak hati Tiara mengikuti Bi Imah yang menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah.
Sungguh luar biasa hidupku berubah 180 derajat dalam tempo sesingkat ini, tapi aku sangat tidak menyukai dan menginginkan ini semua, batin Tiara
Tiara sudah berada di ruang tengah atau ruang keluarga rumah besar itu, terlihat Arkan Tengah menonton televisi di sana yang tanpa menoleh sedikitpun pada Tiara, tapi dalam hatinya, Arkan sangat antusias dengan kedatangan Tiara.
Karena sudah berjanji akan menjadi istri yang baik dan selalu menghormati suami, meskipun pernikahan ini hanya kontrak Tiara memutuskan untuk tetap menghormati Arkan sebagai suami sementaranya demi janjinya kepada sang ibu.
"Kau sudah pulang?"siapa Tiara pada Arkan yang sama sekali tidak meliriknya.
"Eeeem,"sahut Arkan singkat.
Karena sepertinya Arkan enggan untuk berbicara dengannya, Tiara memutuskan untuk kembali menuju kamarnya yang terpenting ia sudah menyapa suaminya itu.
"Kenapa tidak bisa dibuka seingatku aku tidak mengunci pintu ini!"gumam Tiara.
Karena tak dapat membuka pintu kamarnya, Tiara memutuskan untuk menemui Bi Imah mungkin saja Bi Imah yang mengunci pintu kamarnya.
"Tuan Arkan yang menguncinya nona,"dan itulah jawaban dari Bi Imah.
"Apa maksudnya mengunci pintu kamarku?"
"Lebih baik anda bertanya langsung pada Tuan Arkan!"
__ADS_1
Dan Tiara pun kembali menemui lelaki yang masih setia dengan Tontonan yang sebenarnya enggan ia Tonton.
"Kenapa kau mengunci pintu kamarku?"tanya Tiara tanpa basa-basi, dan Arkan seolah tidak mendengar pertanyaan itu.
"Kenapa kau mengunci pintu kamarku?"Tiara mengulangi pertanyaannya namun sedikit lebih keras agar akan mendengarnya.
"Kamarmu?"sahut Arkan sambil melirik ke arah Tiara, "Ini rumahku jadi itu adalah kamarku,"sambungnya," tapi aku akan sedikit berbaik hati padamu dengan memberikan kunci kamarku padamu,"Arkan kembali berucap, kali ini sambil menunjukkan kunci yang ada di tangannya.
Tiara mengulurkan tangan untuk meraih kunci itu,
tapi Arkan malah menarik jauh tangannya.
"Aku tidak suka bermain-main,"ucap Tiara.
"Kau pikir aku juga mau bermain-main denganmu, membuang-buang waktuku saja,"balas Arkan.
"Kalau begitu cepat berikan kuncinya!"
"Aku akan memberikan kunci ini tapi dengan satu syarat!"
"Kalau begitu lebih baik tidak usah kau berikan kuncinya, aku bisa pulang ke kontrakanku dan tidur di sana."Balas Tiara.
"Lakukan jika kau berani, karena dengan melakukan itu artinya kau melanggar surat perjanjian kita!"ancam Arkan.
"Hahaha..., Ternyata Kau melupakan sesuatu, lihat ini!"Arkan menunjukkan satu lembar kertas yang yang berisi syarat perjanjian darinya, yang harus dipatuhi oleh Tiara, dan poin melarang Tiara untuk keluar dari rumah atau tinggal di tempat lain, beranda di poin pertama syarat dari Arkan.
"Kenapa kau menulis syaratnya banyak sekali?"protes Tiara, yang melihat penuhnya isi catatan di lembar kertas itu.
"Tidak ada yang menyuruh atau melarang kita untuk nulis hanya satu, atau berpuluh-puluh kan?"
Sial! Sepertinya aku di jebak, umpat Tiara, dalam hati.
"Kalau begitu, aku juga ingin menambah isi dari lembar kertas milikku."
"Tidak bisa, karena kau sudah menandatanganinya jadi tidak bisa dirubah lagi,"elak Arakan.
"Bahkan kau menandatanganinya sebelum kau menulis di lembar kertas itu, Apa kau berniat menipuku?"
"Memangnya Apa yang kau punya sampai aku harus menipumu?"ejek Arkan.
Dia benar juga.
Tiara sudah sangat geram dengan kelicikan Arkan.
__ADS_1
"Jadi bagaimana? Apa kau berniat memilih melanggar perjanjian, atau kau turuti satu syarat dariku, agar kunci ini kembali ke tanganmu, dan kau harus lihat poin ke 2 ini, kau juga dilarang untuk tidur di kamar lain, sofa, kamar Bi Imah, Gudang, bahkan lantai dan teras Rumah sekalipun."
Kurang ajar! Tiara sudah mengepalkan tangannya siap untuk melawan Arkan, tapi ia masih bisa berpikir jernih untuk tidak melanggar perjanjian, karena lelaki itu akan bisa seenaknya menambahkan 3 poin di kertas perjanjiannya yang sudah berpuluh-puluh itu.
Dan yang lebih parahnya Arkan berhak menghapus tiga poin penting yang ada di kertas perjanjian Tiara, dan tentunya itu akan sangat berbahaya bagi Tiara.
"Baiklah! Apa syaratnya?"akhirnya Tiara mengalah, dan itu sukses menghadirkan senyum puas di ujung bibir Arkan.
Arkan yang tadi sempat bangun kini kembali duduk dan meselonjorkan kakinya di atas meja, semakin menampakkan keangkuhannya saja.
"Bukankah kau seorang koki? Meskipun kau koki di restoran kumuh yang ada di pinggir jalan dan...!"
"Tidak perlu mengejek tempat kerjaku, cepat katakan Apa syaratnya?"potong Tiara.
"Buatkan aku nasi goreng spesial, tanpa garam tanpa penyedap dan tanpa bumbu apapun, tapi harus mempunyai rasa yang sangat enak dan nikmat,"ucapkan sambil tersenyum miring.
Apa dia sudah gila!, umpat Tiara.
"Bagaimana? Apa kau sanggup?"
"Dalam waktu 10 menit nasi goreng spesial akan segera disajikan di meja makan, Tuan Arkan,"ucap Tiara dan segera berlalu menuju dapur.
"Dia percaya diri sekali, Apa mungkin dia bisa membuat nasi goreng yang enak jika tanpa ditambahin bumbu apapun,"gumam Arkan.
π
10 menit kemudian, nasi goreng benar-benar sudah tersaji di meja makan, dengan aroma dan warna yang menggoda lengkap dengan telur mata sapi di atasnya, membuat perut Arkan berlonjak ingin segera mencicipinya.
Arkan duduk, tapi ia ragu jika nasi goreng yang ada di hadapannya layak untuk di makan, dan memiliki rasa seperti nasi goreng pada umumnya.
Arkan sudah memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya dan ia sangat terkejut karena rasanya tidak kalah enak dengan nasi goreng yang ia makan dari restoran mewah, meskipun tidak ada rasa gurih di sana tapi nasi goreng itu masih sangat lezat untuk dinikmati, entah bagaimana cara Tiara membuat nasi goreng itu, hingga Arkan dengan lahap memakan nasi goreng itu tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
Padahal Tiara Tengah menyunggingkan senyum penuh arti ketika melihat Arkan menyantap lahap nasi goreng itu.
Sepertinya Arkan kelaparan, hingga ia tidak menyadari itu.
ππππππππππππ
Trimakasih sudah berkenan mampir ke Novel iniππ
Mohon dukungannya ya untuk Novel ke 2 iniπππ€
Love banyak-banyak untuk semuanya β€οΈπ
__ADS_1