Suami Antagonis

Suami Antagonis
Bab 30. Arkan Marah!


__ADS_3

Setelah 30 menit lamanya, Arkan pun memutuskan panggilannya, ia sangat penasaran dengan kejutan yang akan diberikan Berlian.


Setelah menebak-nebak kejutan apa dari Berlian.


Arkan mengedarkan pandangannya dan Ia baru menyadari jika tidak ada Tiara di dalam kamar itu.


"Tiara!"panggilnya,"apa dia keluar!"


Arkan bangun dan membuka pintu kamar mandi.


"Tidak ada!"


Bertepatan dengan itu, pintu kamar ada yang mengetuk dan ternyata itu supirnya yang membawakan pakaian untuk Arkan.


"Ini Tuan pakaian yang anda minta!"pria paruh baya itu menyerahkan paper bag pada Arkan.


"Apa anda mau langsung kembali ke Hotel?"tanya Pak sopir.


"Tidak! Berikan kunci mobilku,"pinta Arkan.


Dan bapak supir itu langsung berpamitan setelah menyerahkan kunci di tangan Arkan.


Arkan segera mengenakan pakaiannya, ia berniat mencari Tiara yang keluar dari kamar tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


Sebelum langkah kaki membawanya keluar dari kamar Arkan kembali dihentikan dengan dering ponsel yang ternyata dari Ken.


Ken mengabarkan, jika Wina sudah memberikan kesaksiannya, tentu saja kesaksian yang berbeda dengan apa yang ia katakan pada Arkan.


Wina bersaksi pada Ken, jika Tiara tidak tahu apa-apa.


Ia hanya diminta dengan seseorang untuk membawa Tiara ke Hotel itu. Tentu dengan sebuah imbalan yang bernilai dan Wina pun menyetujuinya Karena pada saat itu ia sangat membutuhkan uang.


Ia memancing sahabatnya itu agar pergi dengan sendirinya ke Hotel yang dimaksud, setelah Tiara sampai di Hotel, Wina sudah tidak tahu apa-apa lagi karena ia menonaktifkan ponselnya.


Wina pun tidak tahu jika ada Arkan di kamar itu, Wina tidak tahu jika Tiara akan dijebak bersama Arkan.


Iya baru mengetahui kebenarannya setelah menonton berita heboh di pagi hari.


Dan karena takut, Wina pun memutuskan untuk menghilangkan diri selama beberapa bulan.


Tapi naas! orang-orang Berlian menemukannya.


"Apa kesaksiannya bisa dipercaya?"tanya Arkan.


("Sepertinya bisa tuan, tapi ada satu hal yang mengganjal di pikiran saya.")


"Apa itu?"


("Gadis itu bilang, dia tidak mengenal dan mengetahui orang yang menyuruhnya, dan saya rasa itu tidak mungkin!")


"Kalau begitu kau cari tahu saja sendiri, tapi tetap awasi gadis itu aku yakin dia pasti akan bertemu dengan orang yang menyuruhnya."


("Baik Tuan")


Setelah mendapat laporan dari Ken Arkan pun melanjutkan langkahnya untuk mencari Tiara.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Apa kau tidak merasa lapar?"tanya Jay di sela-sela obrolan mereka yang membahas soal hubungan Tiara dengan Arkan.


Jay meminta Tiara untuk menjaga jarak dengan Arkan, agar ia tidak merasa kecewa nantinya.


Dan Jay juga menegaskan jika Arkan tidak akan mungkin bisa lepas dari Berlian, karena sebuah masa lalu yang membuat Arkan terikat dan berjanji, akan selalu menjaga dan bersama Berlian.


Tapi ketika Tiara bertanya masa lalu apa? Jay enggan untuk menjawabnya.


Ia berkata! Jika ia tidak mempunyai hak untuk mengatakannya, biar Arkan yang kelak menceritakannya.


"Tentu saja aku lapar!"sahut Tiara.


"Kau ingin makan apa?"


"Bagaimana kalau itu!"


Tunjuk Tiara pada barisan gerobak Yang mangkal di depan Hotel.


"Baiklah! Kau tunggu di sini aku yang akan membelikannya untukmu,"Jay bergegas menuju barisan pedagang di sana.

__ADS_1


πŸ‚πŸ‚


Arkan!


Ia masih berkeliling mencari istrinya itu di setiap sudut Hotel.


"Di mana dia? Apa dia keluar Hotel!"gumam Arkan, dan langsung menuju pintu keluar.


πŸ‚πŸ‚


Beberapa menit kemudian.


Jay kembali dengan beberapa kantong plastik di tangannya, dengan antusias dan senang lelaki itu menjabarkan semua makanan yang ia beli.


"Bagaimana! Apa kau suka?"


"Kenapa kau membeli begitu banyak!" Heran Tiara ketika melihat beberapa kantong plastik di tangan Jay.


"Ini spesial aku belikan untukmu!"sahut Jay.


"Waaaah... Trimakasih!"


Dan mereka berdua pun menyantap makanan ringan yang dominan memiliki rasa pedas itu.


"Ini enak sekali!" Kata Tiara setelah menyantap cireng dengan bumbu pedas.


"Kau coba yang ini, ini juga sangat enak,"Jay menyodorkan cilok super pedas pada Tiara.


"Ini makanan kesukaanku!"antusias Tiara dan segera meraih cilok dari tangan Jay.


"Aku juga sangat menyukai ini,"balas Jay.


Uhuk... Uhuk.. Uhuk..


Tiba-tiba Tiara sampai terbatuk-batuk! mungkin karena rasa pedas yang membuat tenggorokannya seperti tersengat.


Dengan cepat Jay memberikannya minum.


"Apa ini terlalu pedas!"ujarnya sambil menepuk-nepuk punggung Tiara.


Dari kejauhan sana, Arkan dengan tangan mengepal memandang keduanya.


"Berani sekali dia meninggalkanku di kamar sendirian untuk bertemu dengan lelaki lain!"


Dengan langkah panjang Arkan menghampiri kedua insan yang sedang Mukbang itu.


"Aku tidak apa-apa,"kata Tiara setelah menormalkan kembali nafasnya, dan melanjutkan makannya.


Jay pun lega melihat itu.


"Tiara, apa besok kau punya waktu?" Tanya Jay di sela-sela makan mereka.


"Besok kan kita masih mengikuti kegiatan amal di sini."


"Maksudku setelah acara amal itu usai, apa Kau mempunyai waktu senggang Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, pasti kau sangat suka!"


"Tentu saja tidak bisa!"


Suara Arkan yang tiba-tiba muncul dari belakang sudah seperti suara Gludug yang mengagetkan!


"Arkan!" Kejut Tiara dan Jay secara bersamaan.


"Kenapa kalian terkejut seperti itu?"Arkan sudah mulai meninggikan suaranya dan menajamkan tatapan layaknya sebuah Belati, ketika melihat Jay dan Tiara secara bergantian.


Jay bangun dari duduknya.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Seharusnya aku yang bertanya, Apa yang kau lakukan di sini bersama istriku?"


"Istri! Hahaha,"Jay tertawa mendengar sebutan itu,"sejak kapan kau menganggap Tiara sebagai istrimu?"


"Jaga ucapanmu Jay!"


"Aku yang harus menjaga ucapanku! Atau kau yang harus menjaga sikapmu!"tantang Jay.


Arkan semakin geram dengan perkataan yang keluar dari Jay.

__ADS_1


Kedua lelaki itu saling menatap dengan bola mata yang membulat sempurna, dan seperti memunculkan kilatan petir.


Melihat tanda-tanda buruk akan terjadi dari Kedua lelaki itu.


Tiara dengan cepat menengahi perdebatan Jay dan Arkan.


"Arkan, Aku di sini bersama Jay hanya sedang mengobrol saja."


"Kau meninggalkanku di kamar sendirian hanya untuk mengobrol dengan lelaki ini!"jawabnya sambil menunjuk wajah Jay dengan marah.


Dan Jay pun langsung menepis tangan itu.


"Arkan, kau jangan egois, kau melarang Tiara untuk bersama denganku tapi kau sendiri asik berbincang dengan kekasihmu itu."


Arkan semakin marah, iya melirik pada Tiara.


Apa dia menceritakannya pada Jay!


Dan sedetik kemudian tatapannya kembali pada Jay.


"Jay, Jangan pernah ikut campur dengan urusanku."


"Kau salah Ar, jika mengenai Berlian Aku tidak akan pernah ikut campur bahkan aku sudah mengalah denganmu, tapi untuk saat ini aku tidak akan tinggal diam."tegas Jay.


Arkan menatap lekat Jay.


"Apa kau menyukai Tiara?"


Pertanyaan tak terduga keluar dari bibir Arkan.


Dan jawaban, yang jauh lebih tak terduga keluar dari bibir Jay.


"Iya! Aku menyukai Tiara."


Tiara terkejut dengan jawaban dari Jay.


Apa dia bicara begitu hanya untuk memancing Arkan?


Tentukan tidak akan terpancing bukan!


Karena Arkan tidaklah menyukaiku.


"Kau sangat berterus terang mengungkapkan perasaanmu pada wanita yang kau sukai, bahkan di depan suaminya."kata Arkan.


"Suami! Apa kau pantas disebut suami?"


"JAY!"


Arkan mencekram kerah kemeja Jay dengan kuat, matanya sudah seperti bola api dan rahangnya sudah sangat mengeras ketika berhadapan dengan Jay.


Sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan Tiara segera menghentikannya.


"Cukup! Kenapa kalian seperti anak kecil? Jika kalian ingin bertarung silakan pergi ke Ring tinju, bukan di tempat seperti ini,"kesal Tiara yang menyadari jika saat ini mereka menjadi pusat perhatian orang-orang di sana.


Arkan mendorong kuat Jay sampai lelaki itu tersungkur.


"ARKAN! Apa yang kau lakukan!"marah Tiara, dan ia segera membantu Jay.


Namun Arkan menahannya.


"Arkan lepaskan! Kau tidak boleh seperti ini,"Tiara mencoba melepaskan tangan Arkan yang mencekal lengannya.


Tanpa merespon perkataan Tiara, Arkan menarik tangan Tiara dan menjauhkan istrinya itu dari Jay yang saat ini sudah bangun kembali.


Lalu Jay bicara dengan lembut pada Tiara.


"Aku tidak apa-apa jangan khawatir!"


Namun ucapan itu semakin menyulut kobaran api di dada Arkan.


πŸ‚πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ‚


Terimakasih sudah mau membaca cerita iniπŸ™πŸ€—


Mohon dukungannya ya πŸ™πŸ€—.


Love banyak-banyak untuk semuanya ❀️😘

__ADS_1


__ADS_2