
Keesokan harinya, Arkan uring-uringan karena tidak berhasil untuk bertemu dengan Tiara.
"Ini semua karena si brengsek itu,"geramnya.
Tapi hari ini ia harus benar-benar bisa bicara dan bertemu dengan Tiara.
Arkan berniat membawa Tiara pulang hari ini juga, meskipun harus dengan secara paksa.
Tiba-tiba ia teringat dengan ucapan Jay yang mengatakan jika Tiara tidak bahagia bersamanya.
"Apa mungkin dia tidak bahagia bersamaku!"gumam Arkan sedih," dan itu yang menjadi alasannya untuk berpisah dengan ku. Tidak! tidak mungkin! Tiara menggugat Cerai ku, karna Berlian dan Merlin, dan ini semua ia lakukan untuk menolong adiknya."Yakin Arkan.
Tapi Arkan tetap termenung dalam pikirannya, ia mengingat kembali semua peristiwa yang ia alami bersama Tiara selama 8 bulan terakhir ini.
*
*
Setelah merenung cukup lama,
Ia menyunggingkan senyum di ujung bibirnya.
"Baiklah aku akan memaksamu agar tetap bersamaku, dan menjauh dari si brengsek Jay."
Sepertinya Arkan memiliki rencana tersendiri untuk mempertahankan pernikahannya bersama Tiara.
Ia beranjak dari kasurnya dan melangkahkan kaki menuju meja yang terdapat sebuah telepon di sana.
"Halo! Bisa antarkan saya sarapan!"
*
*
*
ππ
Tiara yang tengah sibuk dengan urusan menu sarapan untuk para tamu VIP dipanggil oleh atasannya.
"Selamat pagi Chef, Chef Rayon memanggil saya?"tanya Tiara yang memasuki ruangan atasannya yang biasa dipanggil Chef Rayon.
"Iya, Saya ingin meminta Kau untuk mengantarkan sarapan di kamar 2014 sekarang."
"Tapi Chef, Kenapa harus saya?"
"Para pelayan yang lain tengah sibuk membersihkan beberapa kamar Hotel, karena akan ada banyak tamu hari ini, kenapa! Apa kau tidak bersedia hanya untuk mengantarkan makanan saja?"
"Saya bersedia Chef, saya akan segera mengantarkan sarapan untuk tamu VIP yang ada di kamar nomor 2014,"sahut Tiara cepat, agar sang atasan tidak marah.
"Bagus!"
"Kalau begitu saya permisi dulu Chef."
Meskipun itu bukan menjadi tugasnya Tapi Tiara tetap melakukannya.
"Lebih baik aku turuti saja permintaan Chef Rayon, meskipun ini bukan tugas ku, dari pada aku di pecat! hanya karna tak mau mengantarkan sarapan untuk tamu VIP, itu menyediakan bukan!" gumam Tiara dalam hatinya.
"Tiara tunggu!"
Cegah Chef Rayon, menghentikan langkah Tiara.
"Iya Chef!"
"Kau langsung masuk saja ke kamar itu, karena pintunya tidak dikunci, tamu VIP kita itu tengah keluar sebentar."
"Tapi Chef!"
"Sudah, cepat antarkan sana, jangan sampai membuat tamu VIP kita menunggu lama."
"Baik Chef."
__ADS_1
"Minta cepat di antarkan makanan tapi ia malah pergi!"
*
*
*
πππ
Setelah sarapan siap.
Tiara segera membawanya ke kamar yang dimaksud Chef Rayon.
Dengan melewati lorong yang di kanan kirinya terdapat barisan kamar Hotel,
Tiara mendorong Food Trolley menuju kamar 2014, yang meminta sarapannya cepat diantar.
Mungkin Tamu VIP yang ada di kamar itu sedang kelaparan.
Kamar nomor 2014 berada di lantai 2 dan Tiara harus melewati Lift untuk menuju ke sana.
TING!
Lift berbunyi menandakan Jika ia sudah sampai di lantai yang dituju.
Tiara kembali mendorong Food Trolley, dan saat ini ia sudah berdiri di depan Kamar dengan nomor 2014.
Tiara ragu untuk langsung masuk ke dalam, matanya beredar menatap sekeliling.
"Kenapa sepi sekali,"gumam Tiara.
Tiara menjadi teringat kejadian beberapa bulan yang lalu, di saat ia dijebak di kamar Hotel bersama Arkan dan karena peristiwa itu ia harus mengubah semua jalan hidupnya.
"Tenang Tiara, ini hanya tamu yang minta di antarkan sarapan, tidak akan terjadi apa-apa."
Karena ragu untuk langsung masuk,
Namun seperti yang dikatakan Chef Rayon, tamu di kamar VIP itu tengah keluar jadi tentu tidak akan ada yang membuka pintu.
"Baiklah! Sepertinya aku memang harus benar-benar langsung masuk ke dalam."
Dengan meyakinkan segenap hatinya, perlahan Tiara mendorong pintu yang memang sedikit terbuka itu.
"Permisi! Selamat pagi! Nona, tuan, saya datang mengantarkan sarapan untuk anda."
Tentu tidak ada sahutan apapun dari dalam dan Tiara kembali membuka lebar pintu kamar agar Food Trolley yang ia dorong bisa masuk dengan sempurna.
Tap
Tap
Tiara maju beberapa langkah sampai berada di tengah-tengah kamar menuju meja untuk meletakkan beberapa menu sarapan di sana.
Tiba-tiba.
KLIK!
Suara pintu dikunci mengejutkan Tiara.
Dan.
PRANK!
Tiara sampai menjatuhkan gelas yang berisi susu karena terkejut melihat sosok yang ada di pintu
"Arkan!"
Ya!
Sosok itu adalah Arkan, ia sudah memancing Tiara agar masuk ke dalam kamarnya dengan bantuan Chef Rayon yang memintanya untuk mengantarkan sarapan.
__ADS_1
Akan berjalan cepat menghampiri Tiara.
"Jangan bergerak dari sana, jika tidak, kakimu akan terkena pecahan gelas itu,"kata Arkan.
Dan setelah ia sampai di hadapan Tiara, Arkan segera menjauhkan tubuh gadis itu secara perlahan,
agar terhindar dari pecahan gelas yang berserakan di lantai.
"Kau tidak apa-apa?"tanya Arkan penuh dengan kekhawatiran.
Tiara segera menetralkan keterkejutannya.
"Aku tidak apa-apa,"dia berkata sambil menepis tangan Arkan yang tengah menyentuh pundaknya,
Lalu berjalan menuju pintu.
"Kau mau ke mana?"
"Arkan Tolong buka pintunya!"pinta Tiara masih dengan cara baik-baik.
"Untuk apa?"
"Untuk apa! Tentu saja untuk keluar dari sini, kau sengaja kan melakukan ini semua agar aku masuk ke dalam kamarmu?"
"Iya,"jawab Arkan terus terang.
"Kenapa?"Tiara sudah mulai kesal.
"Tentu saja untuk bertemu dan bicara denganmu."
"Tapi tidak dengan cara seperti ini kan!"
"Lalu dengan cara seperti apa lagi, kau susah sekali untuk diajak bertemu, bahkan aku sudah menghubungi dan mengirimmu pesan sampai puluhan kali tapi tidak ada satupun yang kau respon, aku ingin bicara denganmu Tiara,"keluh Arkan.
"Arkan, sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, dan jika memang harus ada yang kita bicarakan aku hanya minta padamu. Tolong segera tanda tangani surat permohonan Cerai dariku."
PRANK!
Arkan membanting piring yang berisi sarapan sampai membuatnya berhamburan dan berserakan di lantai.
Dan dengan langkah yang sengaja ia hentakan, Arkan menghampiri Tiara menginjak semua pecahan gelas dan piring dengan kaki telanjangnya.
Sampai membuat kakinya terluka dan berdarah.
Tapi itu sepertinya tidak ada rasa bagi Arkan, mungkin sakit di hatinya jauh lebih perih daripada sakit di kakinya yang terluka, ketika mendengar kata permohonan Cerai dari Tiara.
Tiara menatap Arkan yang wajahnya sudah sangat memerah,
tapi Ia juga tak tega karena melihat kaki Arkan yang terluka.
"Arkan! Apa yang kau lakukan, lihatlah kakimu terluka."
Arkan tak peduli ia tetap menginjak pecahan beling itu.
Dan kini ia sudah berada tepat di depan Tiara.
"Apa kau perduli dengan kakiku yang terluka ini! Lalu bagaimana dengan hatiku?"
"Apa maksudmu,"sahut Tiara, tapi ia membuang pandangannya karena tak mampu menatap Arkan yang ada di hadapannya.
"Lihat aku!"Arkan meraih dagu Tiara, agar Gadis itu menatap matanya.
ππππππππ
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini ππ
Mohon dukungannya ya ππ€
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya π€π€
Love banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈ
__ADS_1