
Tiara dan Arkan kembali pulang ke Rumah berdua saja, dan mereka meninggalkan Bulan dan Ken di sana.
π
π
π
Dua porsi makanan sudah disajikan di meja untuk Bulan dan Ken.
"Terimakasih Mas Wisnu!"ucap Bulan dengan sangat ramah sambil tersenyum manis pada lelaki itu.
"Sama-sama Mbak,"sahutnya tak kalah Ramah pula.
Karena sejak tadi mereka sudah sangat kelaparan, Ken dan Bulan pun segera menyantap makanan yang tersaji di meja.
"Apa kau menyukai lelaki itu?"tanya Ken di sela-sela makannya.
"Tentu saja. Dia Lelaki baik tampan dan menawan, tentu semua wanita pasti akan suka padanya,"sahut Bulan tanpa melihat.
"Kau berlebihan sekali, padahal wajahnya biasa-biasa saja,"kata Ken.
Namun sudah tak di tanggapi lagi oleh Bulan, ia hanya menganggap jika lelaki yang ada di hadapannya itu tengah mengigau atau matanya tengah rabun, hingga tak bisa melihat ketampanan Wisnu.
"Cepat habiskan makananmu lalu pulang ke Rumah!"titah Bulan kesal.
"Tanpa kau suruh pu saya akan menghabiskan makanan ini dan segera pulang ke Rumah. Memangnya kau pikir saya mau berlama-lama di sini, kalau bukan karena makanan di sini enak tentu saya sudah pulang sejak tadi,"sahut Ken.
"Ingat ya, urusan kita tempo hari belum selesai. Kau harus bertanggung jawab karena ulahmu itu aku harus putus dengan kekasihku Rio,"kata bulan kembali mengingatkan peristiwa yang lalu.
Ken menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kau masih saja penasaran dengan hal itu. Sudah kubilang kekasihmu saja yang Brengsek. Bahkan dia yang menelponku untuk datang ke Hotel itu, dan dia juga kan yang membuatmu mabuk."
"Itu karena kau mengancamnya!"
"Mengancam? Ahh..! Apakah lelaki pengecut itu mengarang sebuah cerita padamu, padahal dia menerima beberapa sejumlah uang dari saya. Dan dia juga yang menyarankan untuk membuatmu mabuk karena jika kau mabuk, kau bisa membuka semua rahasia apapun yang telah kau simpan selama ini."
"Kau yang pengecut! Menghalalkan segala cara demi kepentingan sendiri dengan cara mengancam dan menindas orang lain,"kesal Bulan tak terima.
Kejadian tempo hari, Bulan memang tidak mengetahui hal sebenarnya.
Kekasihnya berkata jika Ken mengancamnya. Untuk membuat Bulan mabuk dan membawanya ke Hotel.
Padahal kejadian sebenarnya
bukanlah seperti itu, justru Rio yang menawarkan untuk membuat Bulan mabuk agar gadis itu tanpa sadar menceritakan apa yang menjadi Rahasianya selama ini, dan itu di ucapkan Rio ketika Ken mendatanginya.
Dan ia pun meminta sejumlah uang pada Ken untuk idenya itu, dan tanpa rasa khawatir jika terjadi sesuatu pada kekasihnya, Rio dengan sangat yakin membawa Bulan ke Hotel yang dalam kondisi sudah mabuk parah dan meninggalkannya berdua saja bersama lelaki lain.
Dan setelah kejadian itulah Bulan dan Rio putus, sampai sekarang Bulan masih menyalahkan Ken.
"Terserah kau saja! Yang jelas, saya sudah memberi tahu semuanya, dan saya juga menyimpan semua rahasia besar yang selama ini kau tutupi, karena kau telah menceritakan semuanya pada saya,"kata Ken. Dengan senyum puas karena memegang kartu As Bulan.
Bulan terbelalak mendengar itu.
Ya! Karena selama ini ia banyak menyimpan rahasia baik yang kecil maupun yang besar yang tidak satu orang pun tahu, tapi dengan bodohnya, karena ia mau menuruti apa yang dikatakan Rio, hingga membuat ia mabuk lalu tanpa sadar Ia menceritakan semua itu pada Ken.
Lelaki yang belum ia kenal dengan baik, bahkan ia menganggap lelaki itu lelaki yang tak baik.
"Apa aku bicara banyak pada malam itu?"tanya Bulan dengan hati-hati.
"Tentu saja! Karena saking banyaknya kau sampai menghabiskan waktu berjam-jam untuk menceritakannya."
__ADS_1
"Astaga! apa itu benar! jika benar, ini gawat dan pasti akan menjadi masalah besar! untuk ku."
Bulan tersenyum, sepertinya ia harus merubah image-nya di depan lelaki ini, dan ia harus bersikap baik pada lelaki ini agar Ken tidak menceritakan pada siapapun.
"Ya, sepertinya mulai dari sekarang aku harus bersikap baik padanya, meskipun itu hanya berpura-pura."
πππππππ
Tiara dan Arkan masih dalam perjalanan menuju ke Rumah dan sebentar lagi akan sampai.
Tapi yang namanya perkampungan sudah pasti jalannya sepi jika di malam hari seperti ini, apalagi di kampung tempat tinggal Tiara masih sedikit penduduk yang tinggal di sana.
Hingga masih terdapat beberapa lahan kosong yang dipenuhi pepohonan besar.
Dan saat ini Tiara dan Arkan tengah melewati tempat itu.
"Apa tadi kita lewat sini?"tanya Arkan yang menatap di sekelilingnya yang gelap gulita.
"Iya!"sahut Tiara.
"Kenapa sekarang tempatnya menyeramkan sekali," kata Arkan yang matanya tertuju pada pepohonan.
"Menyeramkan bagaimana! Itu hanya pepohonan yang tinggi dan besar tidak ada apa-apa di sana,"kata Tiara.
"Kau yakin tidak ada apa-apa di sana?"
Tiara mengangguk.
Tapi meskipun Tiara sudah meyakinkan jika tidak apa-apa di lahan kosong yang dipenuhi pepohonan besar itu, Arkan tetap saja merasa takut setengah mati.
Ia sama sekali tidak melepaskan rangkulan tangannya dari lengan Tiara sambil berkomat-kamit membaca doa.
"Apa itu! apa itu manusia! atau hantu! jika manusia kenapa harus berdiri di pepohonan seperti itu!"
"Tentu saja tidak!"sahutnya dengan cepat. Namun dengan dada yang berdebar-debar karna takut, setelah menangkap sosok aneh di pepohonan sana.
"Lebih baik aku berhadapan dengan perampok, dari pada berhadapan di hantu."
"Tapi kenapa kau menempel begini, aku jadi sulit berjalan!"
"Itu karena aku tengah menjagamu dari marabahaya yang mungkin saja muncul dari balik pepohonan itu."
"Terserah kau saja!" batin Tiara.
πππππππ
Beberapa menit kemudian.
Tiara dan Arkan sampai ke Rumah, dan sangat jelas terlihat dari wajah Arkan jika ia sangat lega, ketika sudah sampai Rumah.
Tiara mendapati Intan sudah tertidur dengan pulas.
"Kenapa Intan tidur Bu! Bukankah dia belum makan!"tanya Tiara pada ibunya, yang tengah menyiapkan beberapa piring di meja makan.
"Intan sudah makan, tadi bu RT membawakan makan malam khusus untuk Intan, ia langsung tidur setelah meminum obat,"sahut Bu lastri.
"Di mana Bulan dan Ken?"Tanya Bu Lastri, yang tak melihat keberadaan dua manusia itu.
"Bulan memutuskan untuk makan di sana Bu, katanya dia sangat lapar jadi tidak sanggup jika harus berjalan pulang ke Rumah lagi, jadi Ken menemaninya di sana,"kata Tiara.
"Bulan memang hobi sekali makan!"kata Bu Lastri.
Dan malam itu mereka bertiga Makan malam dengan suasana yang hangat, dengan berbagai cerita dari Bu lastri tentang masa lalu ibu Rossa dan Mamah Tri.
__ADS_1
"Jadi Ibu dan mama Tri itu dulu bersahabat?"
"Benar nak! Dan ibu tidak menyangka jika pada akhirnya anak Mereka ternyata berjodoh."
ππ
Setelah selesai makan malam Bu lastri pamit ke Kamarnya untuk beristirahat karena esok pagi mereka harus menuju makam Rossa untuk berziarah di sana.
"Selamat malam Bu!"ucap Arkan dan Tiara secara bersamaan, dan ibu Lastri masuk ke dalam kamar yang sama dengan Intan.
*
*
"Di sini masih ada dua Kamar lagi, kamu bisa tidur di kamar yang depan bersama Ken. Biar aku di Kamar yang berada di sebelah kamar ibu bersama Bulan,"kata Tiara sambil merapikan meja.
"Apa! Aku tidur bersama Ken? Dan kau tidur bersama gadis itu!"sahut Arkan yang tercengang mendengar perkataan Istrinya, jika ia harus tidur bersama Ken.
"Iya! Kenapa kau terkejut seperti itu?"
"Membuat ku kaget saja."
"Tidak bisa! Masa aku harus tidur bersama Ken sedangkan Istriku tidur bersama orang lain,"protes Arkan tak terima.
"Lalu!"
"Ya aku harus tidur bersamamu, masa aku harus tidur bersama pria lain."
"Bagaimana jika Ken berbuat macam-macam dengan ku."
"Jika kau tidur denganku, di Kamar satunya dipakai Bulan, lalu Ken tidur di mana?"
Arkan langsung bangkit dari duduknya.
"Wah-wah.. sepertinya aku benar-benar harus mengirim Ken, ke hutan Amazon sana, Karena istriku ini sudah dua kali memberi perhatian pada lelaki itu,"kata Arkan sambil melangkah mendekati Tiara.
"Memberi perhatian! Aku hanya bertanya."
"Tapi aku tidak suka kau selalu bertanya tentang Ken, atau lelaki manapun, biarkan saja dia mau tidur di mana, karena dia sudah terbiasa tidur di beberapa tempat, dan aku juga tidak akan membiarkan kau tidur dengan Gadis yang bernama Bulan itu,"kata Arkan.
"Memangnya kenapa!"
"Bagaimana kalau dia macam-macam denganmu."
"Macam-macam bagaimana? Bulan kan wanita."
"Apa kau tidak melihat atau menonton beberapa berita yang beredar, jika di zaman sekarang banyak wanita yang menyukai sesama wanita."
"Astaga!"Tiara menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tak habis pikir jika Arkan berpikir sejauh itu tentang Bulan.
"Itu tidak mungkin! Bulan wanita Normal dia juga punya kekasih dan selalu berkencan dengan lelaki."
"Tapi aku harus tetep waspada, bisa jadi dia diam-diam tertarik padamu, dan pokonya kau tidak boleh berdekatan dengan siapapun baik wanita apalagi pria."Tegas Arkan.
"Baiklah, terserah kau saja!"kesal Tiara.
β€οΈβ€οΈππππβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini π
Mohon dukungannya ya π
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya π
__ADS_1
Love Banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈ