
"Tiara menyingkir lah jangan kau halangi jalanku."
namun Tiara masih tidak beranjak dari posisinya semula ia masih tetap menghalangi Berlian untuk menghampiri Arkan yang tengah membuka pintu di Kamar Intan.
"AKU BILANG MENYINGKIRLAH!"teriak Berlian yang sontak menyadarkan Herman dan Merlin yang tengah beradu mulut.
"Sayang kau kenapa berteriak seperti itu, apa yang terjadi? apa Tiara mengganggumu?"Merlin segera menghampiri Putri kesayangannya itu.
"Tiara! Apa yang kau lakukan pada Berlian?"Herman pun membentak Tiara.
"Mana aku tahu, kenapa kalian tidak bertanya saja pada anak kalian itu kenapa dia berteriak."
Nafas Berlian memburu ia benar-benar marah pada Tiara.
Tanpa menghiraukan perkataan kedua orangtuanya Berlian segera mencengkram baju Tiara dan menghimpit saudarinya itu ke tembok.
"Berlian apa yang kau lakukan! kau tidak boleh seperti itu pada Tiara dia saudarimu,"cegah Herman berusaha ingin memisahkan Tiara dan Berlian.
Tapi tentu saja Merlin mencegahnya.
"Sudah biarkan saja pah."
"Tapi mah!"
"Mamah bilang papah diam saja di sini, apa papah mau membela Tiara?"
Herman diam ia tidak berani membela Tiara di depan Istrinya itu.
Berlian semakin menghimpit Tiara. Dia tidak perduli meskipun Tiara sudah meringis karena sakit di tubuhnya.
"Ini semua karena kau, kau yang membuat Arkan pergi dari sisiku, jika saja kau tidak muncul di kehidupan Arkan tentu aku akan tetap bersama Arkan,"kata Berlian yang semakin kuat mendorong tubuh Tiara.
"Lepaskan aku Berlian."Pinta Tiara, namun matanya melirik pada Herman. Sebenarnya Tiara bukan tidak mampu melawan Berlian, tapi ia ingin tahu apa Ayahnya akan menolongnya dan sedikit saja membelanya.
Meskipun Tiara membenci Pria itu sampai ke urat nadinya, tapi tentu sebagai seorang anak Tiara pun menginginkan ayahnya itu membela dan menolongnya.
Ia ingin tahu apa Ayahnya menyayanginya atau tidak.
Selama ini Herman tidaklah perduli pada Tiara, tapi entah kenapa kali ini Tiara ingin mematahkan dugaan itu, ia masih mempunyai sedikit keyakinan jika ayahnya itu menyayanginya.
Ia mengorbankan dirinya di sakiti Berlian seperti ini semata-mata hanya untuk menguji Herman apa Pria itu akan menolongnya sebagai seorang Ayah.
Dia pasti akan menolongku kan?
Dia pasti akan membelaku sedikit saja kan?
Dia pasti menyayangiku, dia tidak mungkin membiarkan putrinya kesakitan di tangan putri satunya kan?
Itulah yang ada di dalam hati Tiara.
Tiara masih sangat berharap jika ayahnya itu menyayanginya dan peduli padanya.
Tapi yang namanya harapan, tetap akan menjadi harapan.
Karena Herman masih diam membisu di tempat tanpa melakukan apapun untuk putrinya.
Mata Herman hanya menatap Tiara yang meringis kesakitan karena Berlian benar-benar menghimpitnya bahkan Berlian mencekik leher Tiara sampai Tiara kesulitan untuk bernafas.
"Apa dia benar-benar tidak perduli padaku!"
Sakit!
Bukan sakit karena cengkraman dan cekikan dari Berlian. Tapi sakit yang Tiara rasakan adalah hatinya.
__ADS_1
Dia sakit melihat ayahnya tak melakukan apapun padahal Berlian akan membunuhnya.
Tiara tersenyum getir dalam hati sampai matanya berkaca-kaca, sungguh! pria itu benar-benar tidak akan peduli padanya.
"Dia bukan Ayahku, dia benar-benar bukan Ayahku!"
"Kenapa kau menangis! Apa kau takut kalau kau akan mati di tanganku?"kata Berlian yang mencengkram leher Tiara semakin kuat.
Tiara masih menyempatkan diri untuk tersenyum di hadapan saudarinya itu.
Dia menangis bukan karena cengkraman dari Gadis itu, tapi ia menangis karena ia kecewa dengan ayahnya.
Mendengar suara langkah kaki dari ruangan lain Tiara mulai bertindak, ia tahu kalau itu suara langkah kaki Arkan.
jika lelaki itu tahu kalau Berlian memperlakukan dia seperti ini sudah pasti lelaki itu akan murka.
Dan Tiara yang masih menganggap Berlian sebagai saudarinya memutuskan untuk melawan Berlian.
lebih baik ia yang memberi pelajaran pada Gadis itu daripada Arkan yang melakukannya.
Berlian yang masih mencengkram leher Tiara, tiba-tiba mengadu meringis kesakitan sambil memegangi perutnya karena baru saja Tiara menghantam perut Berlian menggunakan kakinya sampai Gadis itu terpental ke belakang.
"Tiaraaaa apa yang kau lakukan pada putriku!"teriak Merlin yang melihat Berlian terpental.
Dan di saat yang bersamaan Arkan beserta Bu lastri datang dengan Intan yang tengah digenggam erat oleh Bu lastri.
Bu lastri dan Arkan cukup terkejut!
Dengan apa yang terjadi di sana.
Nafas Tiara masih memburu karena ia merasakan sesak di dadanya karena baru saja Berlian benar-benar hampir membunuhnya.
Tapi ia tidak berani menampilkan reaksi kesakitan di depan Arkan dan Ibunya karena ia takut jika lelaki itu pasti akan marah pada ayahnya dan saudarinya itu.
"Kau kenapa! kau Baik-baik saja? Apa yang mereka lakukan padamu?"tanya Arkan khawatir.
"Aku tidak apa-apa."SahutTiara, tapi terlihat jelas sekali, jika wajahnya memerah dan nafasnya masih tersenggal membuat Arkan menyadari jika sesuatu terjadi pada istrinya itu.
Arkan menatap kedua orang yang tengah membantu Berlian yang baru saja terpental sambil mengadu memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Apa yang kalian lakukan pada istriku?"kata Arkan menatap tajam pada Herman, Berlian serta Merlin secara bergantian.
"Apa aku tidak salah dengar, harusnya kau bertanya pada istrimu itu, apa dia seorang preman yang berani memukul anakku seperti ini!"kata Merlin tak terima.
Namun Arkan tak memperdulikan omongan wanita itu.
"Ar! Arkan!"panggil Berlian yang terlihat lemah sambil merintih.
"Lihatlah ini perbuatan istrimu yang barbar itu, ia sudah seperti preman jalanan."
"Jaga ucapan Merlin!"bentak Bu Lastri yang tak terima.
"Tiara kenapa kau sekasar itu pada saudarimu?"kata Herman dengan suara tinggi.
Tiara tersenyum getir mendengar pertanyaan pria itu.
Berapa menit yang lalu pria itu hanya diam saja ketika putrinya mengintimidasi bahkan hampir saja membunuh Tiara.
Tapi kenapa dia seperti kebakaran jenggot ketika Tiara melawan Putri kesayangannya itu.
"Jangan kau berani-berani membentak istriku!"Arkan tak terima.
"Arkan!" Berlian kembali memanggil lelaki itu, sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Dirasa Arkan harus menyelesaikan persoalannya dengan Berlian.
Ia juga sudah tidak tahan ingin memaki Gadis itu dengan apa yang ia lakukan beberapa bulan yang lalu.
Akan meminta Ibu Lastri untuk pergi ke mobil terlebih dahulu.
Bu lastri paham, ia tahu jika ada sesuatu yang harus Arkan selesaikan dengan keluarga itu.
Tampa berlama-lama Bu lastri mengajak Intan keluar dari Rumah itu dan menunggu anak dan menantunya di mobil.
Awalnya Tiara ingin segera mengajak Arkan pulang karena ia pun sudah tidak tahan berada di Rumah itu, namun Arkan mencegahnya.
Lelaki itu mengatakan jika ada sesuatu yang harus ia selesaikan di sini.
"Arkan!"panggil berlian kembali dengan suara merintih penuh iba.
Namun Arkan sama sekali tidak memperdulikan rintihan itu ia malah muak melihat Berlian yang bersikap seperti itu.
"Cukup Berlian! Kau jangan bersandiwara lagi seperti ini, itu hanya akan membuatku tambah membencimu seumur hidupku."
Berlian tersentak mendengar perkataan Arkan begitupun juga dengan Herman dan Merlin.
"Aku sudah mengatakan kalau aku tidak pernah mencintaimu kan aku hanya terpaksa selama ini bersamamu karena rasa bersalahku kepada Vino, tapi aku sedikit merasa tak tega dan bersalah padamu, karena aku harus meninggalkanmu. Tapi rasa tak tegaku itu kini berubah menjadi rasa benci padamu Berlian, bahkan ingin rasanya aku melenyapkanmu."
"Apa maksudmu Ar? Aku tahu kau tidak pernah membenciku meskipun kau tidak mencintaiku."
"Siapa bilang aku tidak membencimu!"
"Kau tidaklah membenciku Ar, kau membenciku setelah kehadiran wanita itu kan dia yang menghasutmu agar kau membenciku iya kan Ar?"
Akan melengos.
"Aku selalu saja menyalahkan orang."
"Ar!"
"Apa yang kau lakukan beberapa bulan yang lalu?"
"Apa maksudmu Ar?"tanya Berlian bingung.
"Kau seolah-olah korban di malam kejadian itu dan kau menangis di depan publik mempermalukan aku dan keluargaku, karena penggerebekan di Hotel yang mendapati aku yang bermalam dengan Tiara, kau membuat cerita jika aku yang mengkhianatimu dan kau mengklaim jika Tiara dan Mamah yang merencanakan itu semua, tapi ternyata, itu semua ulahmu sendiri Berlian."
Berlian tersentak mendengar penuturan Arkan, ia berpikir, dari mana Arkan mengetahui hal itu. Apakah dari Wina?
Tidak! Berlian sudah lama sekali menyingkirkan Gadis itu.
Bukan hanya Berlian, Tiara, Merlin dan Herman pun terkejut!
"Apa maksudmu Ar!"
"Sudah cukup Ber! kau jangan berpura-pura lagi membuatku semakin muak saja padamu."
Berlian gugup ia bingung harus menjelaskannya dari mana.
"Ar, dengarkan aku dulu aku bisa menjelaskannya padamu, aku tidak benar-benar menjebak mu, itu semua ulah Jay."
πβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈπ
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini ππ
Mohon dukungannya ya.
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya π
__ADS_1
Love banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ