
Berlian ikut berdiri dan menatap tajam Arkan.
Namun Arkan tidak memperdulikannya.
Ia segera berjalan meninggalkan Jay dan Berlian begitu saja.
Dan mau tidak mau Tiara pun harus mengikutinya karna kini mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung Restoran, ia tidak mau jika kembali menciptakan keributan di tempat umum.
"Arkan!" Teriak Berlian.
Arkan berhenti.
"Ada apa?" Sahutnya dengan santai.
"Aku bagaimana?"
Arkan melirik Jay.
"Kau bisa kembali di antar Jay."
"Tapi Ar!"
"Sudah Ber, aku harus pergi sekarang!"
Berlian mengepalkan tangannya menatap punggung Arkan dan Tiara yang berlalu meninggalkannya.
"Ini semua gara-gara kau Jay!" Maki Berlian.
"Kenapa kau malah menyalahkan ku?" Jay tidak terima.
"Lalu aku harus menyalakan siapa lagi? Kenapa kau membawa Tiara ke Restoran ini?"
Jay maju beberapa langkah mendekati Berlian.
"Lalu kenapa kau juga bisa ada di Restoran ini?"
Perdebatan terjadi di antara Berlian dan Jay, mereka sama-sama saling menyalahkan karna memilih makan malam di Restoran itu.
"CUKUP!"
Pemilik Restoran menghampiri mereka dan menyudahi perdebatan itu.
Karna beberapa pengunjung merasa terganggu dengan perang suara antara Berlian dan Jay.
"Jika kalian datang ke sini hanya ingin membuat keributan, silahkan keluar dari Restoran ini!"
Berlian tak terima, ia kembali memaki pemilik Restoran.
Namun Jay yang masih waras, menarik Berlian keluar dari Restoran.
"Maafkan kami yang sudah membuat keributan di tempat anda." Jay menundukkan kepalanya dan segera pergi sambil menarik paksa tangan Berlian.
Sampai di depan parkiran berlian menepis tangan Jay.
"Ini semua salahmu Jay,"Berlian masih juga menyalahkan lelaki itu.
"Kau jauh-jauh menyusul Arkan kenapa tidak langsung mengajaknya pulang!"
Berlian diam bahkan ia tidak mendengar apa yang dikatakan Jay.
Sampai di sini Berlian menyadari, jika Arkan benar-benar memiliki perasaan pada Tiara.
Dan tentu ia tidak akan membiarkannya begitu saja.
"Berlian!"sentak Jay dan langsung membuat gadis berusia 23 tahun itu terkejut!
"Jay, kau menyukai Tiara kan?"tiba-tiba Berlian bertanya yang dia sendiri sudah tahu jawabannya.
"Tentu!"
"Kau pasti ingin memiliki Tiara kan?"
"Tentu, tapi aku akan memiliki hati Tiara, bukan hanya raganya dan itu akan aku lakukan dengan cara bersih tanpa ada paksaan apapun."kata Jay, bermaksud menegaskan Berlian, jika ia tidak akan mengikuti cara Gadis itu.
"Padahal aku belum mengatakan apapun, tapi dia sudah bisa membaca pikiran ku."
"Jay, kau selalu seperti ini, Kau harus tahu! kadang kita harus sedikit memaksa untuk mendapatkan apa yang kita inginkan."
"Seperti kau yang memaksa dan mengikat Arkan, agar terus bersamamu dengan semua masa lalu dan kesalahan Arkan pada Vino?"
DEG!
__ADS_1
"Jay! Tolong jangan mengungkit nama itu."
"Kenapa? Apa sekarang kau sadar Jika semua itu memang bukan salah Arkan!"
"Cukup Jay!"
"Berlian sadarlah! jika selama ini,
sebenarnya Arkan tidaklah mencintaimu dia hanya memposisikan dirinya sebagai Vino karena rasa bersalahnya atas kematian Vino."
"Aku bilang cukup Jay!"bentak Berlian.
Tapi sama sekali tidak digubris oleh Jay, ia bahkan tambah gencar untuk mengungkit masa lalu di antara mereka.
Padahal dulu Jay, pun sangat menyayangi bahkan mencintai Berlian.
Tapi entah mengapa, dengan seiring berjalannya waktu perasaannya sudah sangat luntur pada gadis itu, malah sekarang ia terkesan membenci Berlian.
"Berlian, Arkan bukan penyebab dari kematian Vino, dan kau sangat mengetahui itu bukan?"
Berlian semakin tidak nyaman.
Wajahnya seketika berubah pias.
"Jay, jika kau banyak bicara seperti ini hanya untuk membahas soal itu, aku tidak mau mendengarnya lagi."
Berlian tidak mau mendengar lebih banyak lagi kata-kata yang keluar dari Jay, karena itu hanya akan membuatnya kembali mengingat masa lalunya yang kelam.
Iya melangkah dan meninggalkan Jay.
"Aku akan mengantarmu sampai Hotel!"tawar Jay yang mulai melemah karena merasa kasihan pada gadis itu.
"Tidak perlu! Aku bisa sendiri,"sahut Berlian ketus, dan bergegas meninggalkan Jay.
Namun karena khawatir Jay mengikuti Berlian dari belakang.
ππππ
Arkan memaksa Tiara untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Aku mau kembali ke kamarku saja,"tolak Tiara yang masih berpegangan pada daun pintu enggan untuk masuk meskipun Arkan memaksa.
"Cepat masuk!"Arkan mendorong dan membuka paksa cengkraman tangan Tiara dari daun pintu.
Setelah memastikan Tiara benar-benar masuk Arkan mengunci pintu.
"Arkan buka!"pekik Tiara.
"Untuk apa? Apa kau ingin menemui si brengsek itu?"
"Arkan, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan malam ini, jadi Tolong buka pintunya."
"Kau tidak perlu repot-repot lagi mengerjakan itu karena besok pagi kita akan pulang."sahut Arkan.
"Apa pulang! Jika kau ingin pulang, pulang saja sendiri."
"Kau juga harus ikut pulang."
"Tidak bisa, masih ada beberapa hari lagi sampai acara itu selesai."
"Tujuan acara itu mencari Donatur untuk Yayasan dan Panti-panti yang ada di kota ini kan! Jadi kau tidak perlu khawatir aku akan menjadi Donatur tetap untuk semua Panti dan Yayasan yang ada di kota ini, dan aku akan menyumbangkan 10 kali lipat dari Donatur yang lain setiap bulannya."
"Dia selalu mengaitkan segala sesuatunya dengan uang."
"Tapi!"
"Tidak ada tapi-tapian, besok kita kembali ke Rumah."
Arkan keluar dari kamarnya.
Tapi ia mengunci pintu dari Luar.
Membuat Tiara semakin Stres dengan kelakuan dan sikap lelaki itu.
"Dari pada aku pusing memikirkan si Antagonis itu, lebih aku beristirahat saja."
Dan Tiara memilih keputusan yang tepat! ia harus cukup istirahat malam ini karena kita tidak tau apa lagi yang Arkan lekukan esok hari.
Bisa jadi lelaki itu semakin membuat Tiara menguras habis Emosi dan tenaganya.
ππππππ
__ADS_1
Pagi hari.
Arkan membuka pintu.
Entah dari mana lagi ia semalaman.
Hanya dia dan tuhan yang tau.
Ia mengemasi semua barang-barangnya dan pak Supir membawanya ke Mobil.
Begitupun dengan barang-barang milik Tiara, ia sudah mengangkutnya dari Kamar Hotel Tiara.
Tiara tengah duduk tak melakukan apapun sambil memperhatikan Gerak-gerik Arkan.
"Apa kau sudah siap?" Tanya Arkan setelah memastikan semua barang-barangnya terkemas.
"Sudah,"jawab Tiara malas.
Ia sudah pasrah!
"Ayo cepat kita ke Mobil sekarang,"ajak Arkan.
Dan mau tidak mau Tiara pun kembali mengikuti kemauan lelaki itu, dan ia membuntut di belakang Arkan.
πππππ
Beberapa hari berlalu.
"Tiara kau lihat ini!"
Teman Tiara menyerahkan Brosur pada Gadis yang tengah termenung di kursi sambil menatap jalan dari balik kaca Restoran tempatnya bekerja.
"Apa ini?" Tiara melirik dan meraih Brosur itu.
Ia antusias dengan wajah berbinar.
Tapi tiba-tiba wajah berbinar itu meredup.
"Apa aku bisa pergi ke sana!"
"Tiara kenapa kau malah melamun? ini kan yang kau tunggu-tunggu selama ini, mengikuti kompetisi Koki terbaik dan terbesar di seluruh Dunia! dan acaranya akan di selenggarakan 5 bulan lagi, kita harus bersiap-siap dan berlatih mulai dari sekarang!"
Tiara diam!
"Taira, kenapa kau diam? kita akan pergi keluar Negeri kan? apa suamimu tidak mengijinkan mu pergi?"tanya gadis yang bernama Bulan itu.
"Aku akan pergi!" jawab Tiara dengan yakin, meski ada sedikit keraguan di dalam hatinya.
Dengan Antusias mereka pun membicarakannya.
TING!
Pesan masuk di ponsel milik Tiara dan itu mengakhiri diskusi Tiara bersama Bulan tentang kompetensi itu.
(Sayang! tolong antarkan makan malam untuk Arkan di kantor ya! Ken bilang jika Arkan malam ini lembur, dia tidak biasa makan di luar ketika malam hari.) Pesan dari Mamah mertua.
(Baik mah!)
(Terimakasih sayang!)
ππππππ
BRAK!
Berlian mendorong kuat pintu ruangan kerja Arkan.
Dengan langkah yang ia hentakan, Berlian menghampiri Arkan yang tengah duduk di kursinya sambil menatapnya heran.
"Berlian, kenapa kau masih datang ke Kantor?"
Berlian tidak menggubris keberatan Arkan atas kedatangannya.
Ia memutari kursi Arkan dan langsung memeluk Lelaki itu.
πππππππππππππ
Terimakasih sudah mau membaca cerita ini π
Mohon dukungannya ya ππ
Tolong Koreksi dan segera beri tau Ntor jika ada kesalahan dalam tulisan ini, agar Ntor bisa segera memperbaikinya π€
__ADS_1
Love banyak-banyak untuk semuanya β€οΈβ€οΈπ