
Setelah menunggu beberapa jam.
Akhirnya final di kompetisi itu telah mendapatkan siapa juaranya.
Dia seorang Koki muda yang berasal dari Negara itu sendiri.
Sedangkan Tiara menduduki posisi 2 dan disusul oleh Bulan di peringkat 3.
Sungguh ini hasil yang sangat memuaskan bagi kedua wanita itu.
Karena perjuangan mereka selama ini tidak sia-sia.
Semua orang mengenalinya, semua orang menerima mereka dengan baik dan mengakui bahwa mereka adalah Koki terbaik bukan amatir lagi.
"Selamat!"
"Selamat!"
"Selamat!"
Beberapa ucapan selamat menghampiri Tiara dan Bulan.
"Terimakasih!"
Dan Tira pun harus memasang senyum terbaiknya untuk menyambut ucapan selamat dari rekan-rekannya.
Setelah selesai dengan rekan-rekannya.
Kini ia harus memasang senyum terbaiknya kembali pada semua juri yang memberi selamat pada ke 3 juara.
Dan itu membuat Lelaki yang bernama Arkan kesal melihatnya, ia tidak tahan jika Tiara harus menebar senyum semanis itu pada orang-orang yang ada di sana.
"Apa ada yang salah Tuan?"tanya Ken, yang menyadari kekesalan Tuannya itu.
"Diam! aku tidak mau bicara denganmu Ken!"
"Bagaimana jika Nona Tiara membuka sebuah Restoran besar dengan ratusan pengunjung di setiap harinya, dan Nona Tiara akan langsung menyapa pelanggan-pelanggan pertamanya yang di dominasi lelaki tampan, dengan sebuah senyuman dan sambutan yang sangat ramah!"gumam Ken dalam hatinya, sambil membayangkan reaksi Tuannya.
"Dan aku akan meracuni semua lelaki yang ada di sana!"Sahut Arkan, tepat di telinga Ken.
Yang sontak membuat Ken terkejut!
"Anda mendengarnya Tuan, padahal saya tidak sedang melakukan Transfer batin pada anda, saya kira anda tidak akan mendengarnya,"kata Ken, sambil menggaruk kepalanya.
Arkan tidak menjawab, karena matanya masih tertuju pada Tiara.
Yang saat itu tengah menerima ucapan selamat dari Jay.
Lelaki itu mengulurkan tangan pada Tiara.
Dan mau tidak mau, Tiara pun harus menyambut uluran tangan dari Jurinya itu meskipun ia ditatap tajam oleh Arkan yang tengah duduk di bangku yang tidak jauh dari posisinya saat ini, sambil mencengkram kuat lengan Ken.
Ia tengah menuangkan emosinya pada Sekretarisnya, dan Ken hanya bisa menahan nyeri, tanpa bisa mengaduh dan meringis, takut jika Tuannya Murka.
"Selamat! Kau sungguh hebat!"kata Jay.
"Terimakasih Tuan Jay,"sahut Tiara.
Setelah saling mengucapkan selamat, kini saatnya melakukan foto bersama dengan para peserta dan Juri.
Beberapa pose di ambil oleh fotografer, dan ada kalanya fotografer meminta para juara berfoto dengan masing-masing Juri. Dan saat itu Tiara di sandingkan persis di sebelah Jay oleh si fotografer.
Membuat lelaki yang tengah menyaksikan proses itu, mendidihkan darah yang mengalir di tubuhnya, dan siap untuk ia siramkan pada si fotografer.
"Tuan! dinginkan tubuh anda, sabarlah! memang seperti itu prosesnya, anda harus kuat dan terbiasa."
Arkan melototi Ken.
"Apa! harus terbiasa!"
"Tidak-tidak! bukan seperti itu. Maksud saya untuk hari ini saja anda harus kuat."
Arkan mengatur ritme nafasnya, untuk meredakan emosi. Tapi di saat ia mulai tenang tiba-tiba kata Kramat keluar dari bibirnya.
"Ken. Cari tahu di mana fotografer itu tinggal dan bekerja!"
Ken tersentak!
Sungguh ini Kramat! Tuannya tidak mungkinkan menanyakan tempat tinggal dan pekerjaan si fotografer karna Tuannya itu perhatian atau bersimpati pada si fotografer! Pasti ada Harimau yang tengah memantau di balik pertanyaan Arkan.
"Anda mau apa Tuan?"
Arkan melirik pada Ken.
Dan, dari lirikan mata itu, Ken sudah tahu jawabannya.
__ADS_1
Di saat yang bersamaan.
Tiara menghampiri Arkan. yang dari tadi memasang wajah kesal tak bersahabat.
Melihat si pawang sudah datang, Ken segera melipir meninggalkan tempat itu.
"Apa kau tidak mau memberi selamat padaku?"tanya Tiara sambil merentangkan kedua tangannya.
Arkan bangun dari duduknya.
Meskipun wajahnya kusut seperti tumpukan pakaian di Keranjang baju Author.
Tapi lelaki itu tetap menyambut istrinya, dengan cara memberikan pelukan terhangat.
"Selamat! Kau memang hebat! kau lebih hebat dari lelaki itu, tapi kenapa dia yang menjadi juara 1."kata Arkan.
"Dia jauh lebih hebat dariku, itu sebabnya dia yang menjadi juaranya. Tapi tidak apa-apa aku cukup senang sekali, karena bisa mengikuti kompetisi ini saja aku sudah sangat senang."
"Kau memang luar biasa. Kalau begitu ayo kita segera kembali ke Hotel karena ada sesuatu yang harus aku tanyakan padamu."
"Apa?"
"Kita bicarakan nanti di Hotel."
Tiara mengangguk dan mengikuti langkah Arkan yang menuntunnya menuju ke mobil.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Di sudut lain.
Ken tengah menyodorkan sekuntum Mawar merah yang sudah sedikit layu karena ia membelinya sejak kemarin, kepada Bulan.
"Selamat! Ini untukmu sebagai ucapan selamat karena kau sudah melakukan yang terbaik di kompetisi ini."
Bulan bingung, bukan ucapan selamat yang membuat Bulan bingung. Tapi kenapa laki-laki itu mengucapkan selamat sambil memberinya Bunga! mana sudah layu pula apa tidak ada bunga yang segar! Begitulah kira-kira isi hati Bulan.
"Kenapa kau tidak segera mengambilnya? Apa kau tidak mau menerimanya! karena kau tidak suka bunga?"tanya Ken yang melihat ekspresi Bulan malah diam saja tanpa menyambut pemberiannya itu.
"Ahh. Bukan seperti itu, aku suka kok dan aku menerimanya, aku hanya sedikit terkejut saja kenapa kau memberiku bunga,"kata bulan sambil meraih bunga Mawar merah yang ada di tangan Ken.
Tapi!
Di saat Mawar itu sudah berpindah ke tangan Bulan, justru sesuatu yang tak terduga terjadi.
Bulan menatap bunga itu sambil tersenyum getir.
"Sungguh tidak seperti adegan yang ada di Drama atau Novel."
Ken, tersenyum canggung.
"Kau simpan saja dulu tangkainya, besok aku akan mengganti dengan bunga yang lebih segar, atau aku menggantinya dengan bunga sintetis saja, agar tidak akan pernah layu apalagi gugur seperti ini."
Bulan mengangguk.
"Iya, terimakasih!"
"Terserah kau saja, asal jangan bunga Kamboja yang kau bawa padaku."
"Mari kita kembali ke Hotel,"ajak Ken memberikan jalan pada Bulan.
Bulan yang bingung dengan sikap lelaki itu ingin sekali melontarkan pertanyaan apa yang terjadi!
Tapi niat itu ia urungkan.
Biar saja lelaki itu bersikap baik dan manis padanya, bukankah itu menguntungkan bagi Bulan, karena Ken akan tetap menjaga rahasia besarnya.
***
"Kau ke mana saja kenapa lama sekali?"kata Arkan kesal yang melihat Ken baru datang ke mobil.
"Maaf tuan!"
"Ya sudah ayo cepat! Kita segera kembali ke Hotel, dan setelah itu kau urus tiket untuk kita pulang ke Rumah."
"Baik Tuan!"
Dan mereka berempat pun menuju ke Hotel dengan menggunakan mobil yang sama.
❤️❤️❤️❤️❤️
"Kenapa kau tidak bilang padaku jika Jay yang menjadi juri di sana?"tanya Arkan.
"Aku baru mengetahuinya kemarin jika Jay menjadi Juri di babak final."sahut Tiara.
"Lalu! Kenapa kau tidak mengatakannya padaku semalam?"nada suara Arkan sudah berubah, tapi Tiara belum menyadari itu dia pikir Arkan hanya bertanya saja.
__ADS_1
"Aku lupa!"
"Lupa! Hal sepenting ini kau bisa lupa!"Arkan menggelengkan kepalanya.
Tiara sedikit terkejut.
"Kenapa! Aku memang benar-benar lupa, kenapa kau berekspresi seperti itu?"
Arkan menghela nafas berat.
"Baiklah lupakan,"dan lelaki itu beralih pada Ken,"Ken, bisa kau melajukan mobil ini lebih cepat lagi apa kau sudah tidak sanggup untuk menyetir mobil?"
"Maaf Tuan! Tapi saya mengendarai mobil selalu menggunakan kecepatan seperti ini."
"KEN!"
Kata Arkan dengan nada tinggi yang penuh penekanan.
Membuat Ken langsung mengangguk.
"baik Tuan, saya akan menambahkan kecepatan mobil ini agar kita segera sampai ke Hotel."
Sedangkan Tiara dan Bulan hanya bingung, ada apa sebenarnya dengan lelaki itu kenapa dia terlihat seperti sedang kesal.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Sampai di Hotel.
Keempat Orang itu segera masuk ke dalam Kamar masing-masing.
Ken segera melakukan tugasnya untuk memesan tiket pesawat agar mereka bisa kembali ke Tanah air hari ini juga.
❤️❤️❤️❤️❤️
"Kau kenapa?"tanya Tiara bingung yang melihat Arkan dari tadi hanya cemberut saja.
Dan Arkan hanya menggeleng menjawab pertanyaan istrinya itu.
"Apa kau tengah kesal atau tengah marah! Tapi kau marah pada siapa?"
"Ya Tuhan! kenapa Istriku ini tidak peka sekali, padahal aku sudah memasang wajah cemberut seperti ini, apa raut wajah ini kurang meyakinkan! hingga ia tidak membujuk dan merayuku!" Batin Arkan.
"Pada Ken!"
"Ken! Kenapa kau marah padanya! Apa karena dia mengendarai mobil kurang cepat?"
"Tidak!"
"Lalu!"
"Sudahlah jangan membahasnya kau tahu kan aku sedang kesal dengannya, jika sedang kesal seperti ini ingin rasanya aku mencabik-cabik wajah Lelaki itu,"kata Arkan yang menuangkan kekesalannya.
"Mencabik-cabik wajah Jay, dan si fotografer itu."
"Baiklah! aku tidak akan bertanya lagi, tapi kalau kau tengah bertengkar dengan Ken, sebaiknya jangan terlalu lama itu tidak baik." Kata Tiara, yang sedikit ngeri mendengar kata mencabik-cabik yang Arkan lontarkan.
Beberapa menit kemudian.
"Kita akan pulang hari ini kan?"tanya Tiara dengan hati-hati karena ia tahu suaminya itu masih kesal.
"Iya, Ken sedang mempersiapkan semuanya."
"Jika aku lama-lama membiarkanmu di sini, itu sama saja aku memberi peluang pada si brengsek Jay."
"Baiklah! kalau begitu aku mau mandi dulu setelah itu aku akan siap-siap mengemasi barang-barang ku."
Arkan mengangguk.
Meskipun ia sebenarnya kesal dengan Tiara karena tidak memberitahunya jika Jay yang menjadi juri di final, di tambah lagi dengan ulah si fotografer yang semakin membuatnya dongkol.
Tapi, tentu Arkan tidak cukup berani untuk menuangkan kekesalannya pada istrinya.
Biar ia tuangkan kesalahannya pada Ken saja.
Karena Arkan tidak pernah bisa marah pada istrinya, jangankan untuk marah, kesal dan ngambek. Untuk melayangkan secuil protes saja dia tidak bisa.
🍂❤️❤️❤️❤️❤️❤️🍂
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Mohon dukungannya ya 🙏
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya 🤗
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️❤️
__ADS_1