Suami Antagonis

Suami Antagonis
BAB 91. Mendatangi Tiara Lagi


__ADS_3

"Tapi Berlian seperti itu karena ulah Arkan Tiara, lelaki itu yang membuat saudarimu sampai nekat melakukan tindakan bodoh seperti itu."


"Selain menyalahkanku anda juga menyalahkan Arkan?"


"Tiara, Ayah bukan menyalahkan Arkan tapi ini memang kenyataannya. Lelaki itulah yang membuat Berlian frustasi sampai ingin mengakhiri hidupnya."


"Katakan apa yang anda inginkan?"


karena Tiara sangat yakin kedatangan pria itu pasti ada maunya.


"Ayah tidak menginginkan apapun darimu. Ayah hanya ingin kedua Putri ayah hidup rukun tanpa merebutkan seorang lelaki."


Tiara masih setia mendengar omongan dari Herman, kata-kata merebutkan seorang lelaki membuat Tiara sedikit kesal.


Karena dia merasa, bahwa selama ini dia tidak pernah merebut Arkan.


Bukankah pernikahanku dan Arkan terjadi karena ulah Berlian, seandainya saat itu ia tidak mempunyai niat jahat padaku, mungkin aku tidak akan pernah menikah dengan Arkan, ini semua ulahnya kenapa dia harus merasa frustasi ketika Arkan meninggalkannya. Batin Tiara


"Tiara tolong jenguk saudaramu di rumah sakit!"


"Sudah ku duga, kau kesini pasti karena Berlian kan!"


"Ayah tau kau marah dengan tindakan Berlian selama ini padamu, tapi kau juga harus ingat Tiara. Berlian melakukan semua itu semata-mata hanya karena dia merasa kecewa dengan semua situasi yang selalu menyudutkannya."


"Bukankah itu salah ibunya kenapa dia harus melampiaskan pada orang lain!"


"Tiara Ayah tidak ingin berdebat denganmu."


"Aku juga tentu malas berdebat dengan anda tuan Herman. Jadi! jika anda datang ke sini hanya untuk membahas Putri dan istri anda lebih baik anda tinggalkan Rumah saya."


"Kau mengusir ayahmu ini?"


"Sama sekali tidak! Tapi jika anda menganggap saya mengusir anda tidak masalah."


"Tiara! Ayah dan ibumu tidak pernah mengajarimu untuk bersikap, tidak sopan seperti ini pada orangtua."


"Kapan kau pernah mengajariku agar aku berkelakuan baik dan bersikap sopan pada orangtua?"


Pertanyaan Tiara bagai batu besar yang menghantam dada Herman, ya.. Selama ini Pria itu tidak pernah mengajari apapun pada putrinya itu.


Ia sibuk dengan dunianya sendiri, ia sibuk dengan kekasihnya, dan ia sibuk dengan keluarga barunya hingga ia sudah tidak perduli lagi dengan Tiara dan pendidikan seperti apa yang didapat oleh anaknya itu.


"Tiara. Ayah hanya memintamu untuk datang ke rumah sakit dan menjenguk Berlian sebagai saudarimu."


"Kenapa kau memaksa?"


"Ayah tidak memaksa, Ayah hanya memintamu menunjukkan rasa kesaudaraanmu terhadap Berlian karena dia sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya agar dia tidak melakukan tindakan yang sama."


Tiara menghela nafas berat ia benar-benar tidak habis pikir jika Herman bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu, sejak kapan ia pernah dekat dengan Berlian.


"Aku akan meminta izin pada suamiku dulu, Jika ia tidak mengizinkanku untuk pergi menjenguk anakmu tentu aku tidak akan pergi."


"Tiara kau jangan terpengaruh oleh Arkan."


Tiara tersenyum miring.

__ADS_1


"Terpengaruh oleh Arkan! Aku juga ingin mengatakan sesuatu pada anda Tuan Herman. Sebaiknya anda juga tidak terpengaruh oleh istri anda itu."


"Tiara Sudah berapa kali ayah bilang Merlin itu adalah mamahmu sama seperti ibumu Rossa."


Tiara benar-benar terpancing emosinya.


Sudah sekuat tenaga ia menahan tidak ingin marah, dan saat ini ia ingin memuntahkan semua emosinya.


Tapi lagi-lagi Tiara harus bisa menahan semuanya karena ia masih menghormati Herman sebagai orangtuanya.


Tapi untuk saat ini saja ia benar-benar tidak bisa diam. Ia sungguh tidak terima ketika Herman menyamakan ibunya Rossa dengan wanita kejam bernama Merlin itu.


"Tidak ada satu orang pun yang bisa menyamai Ibuku Rossa, apalagi jika disamakan dengan istrimu itu. Bahkan seujung kukunya pun sungguh tidak pantas kau menyamakan ibuku dengan istrimu itu."


"Jaga ucapanmu Tiara!"bentak Herman.


Tiara malah tersenyum kecut mendengar bentakan Herman.


Bentakan Herman menarik perhatian penjaga dan Bi Imah.


Ketika Bu Imah melirik tajam Herman.


Herman yang menyadari itu segera meluluhkan hatinya.


Niatnya datang ke sini bukanlah untuk berdebat dengan Tiara dia benar-benar ingin meminta putrinya untuk menjenguk saudarinya agar terciptalah kasih sayang di antara kedua anak itu.


"Tiara!"panggil Herman dengan suara yang sangat lembut selembut sutra namun itu terdengar miris di telinga Tiara karena ia tahu suara lembut yang dikeluarkan oleh Herman semata-mata hanya ingin membujuknya saja dan itu semua tentu untuk kepentingan Berlian.


"Tolong jenguk Berlian di rumah sakit, jika kau tidak mau menjenguknya karena semua kesalahan yang telah dilakukan Berlian padamu, jenguklah dia sebagai sesama manusia yang mempunyai rasa kepedulian."


"Ayah hanya ingin menyampaikan itu padamu dan ayah sangat berharap jika kau mau menjenguk Berlian karena dia sangat membutuhkan support dan dukungan dari saudarinya. Ayah yakin kalian bisa hidup rukun sama seperti 3 bersaudara di luar sana."


Setelah mengatakan itu Herman beranjak Pergi meninggalkan Tiara.


Tiara menatap punggung lelaki yang sudah tak muda lagi sampai ia hilang ditelan pintu gerbang.


Tiara tersenyum miris menatap kepergian pria itu.


"Dia ke sini hanya untuk memintaku menjenguk Berlian? Bahkan ia tidak menanyakan kabarku sama sekali? Dia tidak pernah menanyakan apakah aku selama ini baik-baik saja!"gumam Tiara yang merasakan sesak di dadanya.


Melihat Tiara yang masih mematung menatap pintu gerbang padahal Herman sudah tidak ada di sana Bi Imah menghampirinya.


"Nona Tiara baik-baik saja?"


"Bahkan orang lain jauh lebih peduli padaku."


"Aku baik-baik saja Bi Imah tidak perlu khawatir, terimakasih."


"Kalau begitu anda beristirahatlah, Tuan Arkan menyampaikan jika siang nanti tuan akan menjemput anda karena ingin mengajak anda makan siang bersama."


"Kenapa dia tidak menghubungiku?"


"Tuan Arkan sudah menghubungi anda, tapi Tuan Arkan bilang anda tidak menjawab teleponnya."


"Astaga! Aku lupa meninggalkan ponselku di kamar, Ya sudah kalau begitu aku mau ke kamar dulu ya Bi terimakasih."

__ADS_1


"Iya Non jika butuh sesuatu panggil saja bibi.'


Tiara kembali masuk ke dalam kamarnya.


Ia membuka ponselnya dan benar saja sudah ada tiga panggilan yang tidak terjawab dari suaminya dan ada satu pesan untuknya yang juga dari Arkan.


Dengan cepat Tiara membalas pesan teks itu.


❤️❤️❤️❤️❤️


Di Kantor.


Arkan yang tengah senyum-senyum sendiri, menerima balasan dari Tiara dikejutkan oleh Ken.


"Astaga! Kau mengagetkan ku Ken, bagaimana kalau jantungku tiba-tiba copot karena ulahmu ini?"kata Arkan yang sangat terkejut.


Karena Ken menyodorkan wajahnya menggantikan layar ponsel yang tengah ditatap oleh Arkan.


Hingga bukan pesan teks dari istrinya yang Arkan baca malah ia memandang wajah Ken.


"Maafkan saya tuan. Saya hanya ingin memastikan jika anda dalam keadaan baik-baik saja karena sejak beberapa detik yang lalu saya melihat anda senyum-senyum sendiri sambil menatap ponsel saya takut jika anda....!"


"Jika aku gila! Itu kan yang mau kau katakan,"potong Arkan.


Ken hanya mengulas senyum. Ia tidak berani mengiyakan apa yang diucapkan oleh Tuannya karena itu benar adanya.


"Ada apa?"tanya Arkan.


"Saya sudah menyiapkan apa yang anda minta, dan kejutan untuk Nona Tiara sudah siap 100% Anda tinggal membawa Nona Tiara saja ke lokasi."


"Bagus! Aku sendiri yang akan menjemput Tiara di rumah pukul 11.00 nanti."


"Tuan boleh saya mengatakan sesuatu?"


"Tumben sekali kau meminta ijin hanya ingin mengatakan sesuatu, biasanya kau menanyakan sesuatu tanpa bertanya terlebih dahulu denganku. Ada apa?"tanya Arkan.


"Saya meminta cuti untuk dua minggu ke depan Tuan."


"Apa cuti! Dan selama itu?"


"Selama ini saya belum pernah mendapatkan libur dari anda tuan. Saya bekerja satu kali 24 jam bukan hanya urusan Kantor saja yang saya selesaikan, tapi urusan pribadi anda pun saya selesaikan jadi saat ini saya meminta cuti selama 2 minggu."


Arkan berfikir sejenak lalu ia berkata.


"Bagaimana kalau 1 minggu saja?"tawar Arkan.


"Apa saya juga melakukan penawaran ketika anda meminta saya untuk menyelesaikan semua urusan pribadi anda?"tanya Ken, mulai kesal.


❤️❤️❤️❤️❤️


Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏🙏


Mohon dukungannya ya 🙏


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya 🙏

__ADS_1


Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️❤️❤️.


__ADS_2